Connect with us

Pasar Modal

2019 IHSG Diprediksi Capai 6.500 – 6.700

Published

on


Finroll.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun depan diperkirakan tumbuh 5-9 persen. Pada perdagangan akhir 2018, IHSG ditutup di level 6.194 sehingga pada tahun depan diperkirakan mencapai level 6.500-6.700.

Senior Advisor CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, perkiraan tersebut berdasarkan sentimen-sentimen yang kemungkinan akan terjadi pada tahun depan. Pasalnya, sentimen-sentimen global yang terjadi tahun ini masih terus berlanjut ke tahun depan.

“Di tahun depan, dengan asumsi adanya pertumbuhan moderat 5-9 persen maka IHSG pun dimungkinkan akan mencapai level 6.500 hingga 6.700,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/12/2018).

Beberapa sentimen yang masih mengintai pada tahun depan seperti masih adanya potensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Pada pertemuan G20 kemarin keduanya hanya menunda untuk tidak saling mengenakan tarif impor sehingga potensi terjadinya perang dagang masih ada.

‘Gencatan senjata’ tersebut dilakukan karena industri dan manufaktur di kedua negara tersebut melemah sehingga berimbas pada melambatnya pertumbuhan ekonominya. Jika kondisi ini terus berulang, maka bukan tidak mungkin akan memengaruhi perkembangan ekonomi global termasuk Indonesia.

“Tidak hanya itu, persepsi akan kekhawatiran melambatnya ekonomi global akan memengaruhi secara psikologis pelaku pasar yang pada akhirnya membuat aksi jual kerap terjadi,” ucapnya.

Kemudian, suku bunga AS (Fed Funds Rate/FFR) masih ada kemungkinan naik 2-3 kali di tahun depan yang dapat diikuti oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. Jika suku bunga acuan naik terlalu tinggi justru berisiko menghambat laju ekonomi karena naiknya cost of borrowing pelaku usaha.

Kebijakan moneter AS yang terlalu ketat membuat Presiden Trump mengancam akan memecat Gubernur The Fed karena hal itu membuat pertumbuhan ekonomi AS melambat. “Di tahun 2019, akan menjadi penentuan apakah The Fed akan kembali menaikan suku bunganya sebanyak 2-3 kali atau masalah personal Presiden Trump dan Gubernur Powell yang lebih ditonjolkan,” kata dia.

Selain kondisi makroekonomi AS, kondisi Uni Eropa juga akan menjadi sorotan pasar karena jika nilai tukar euro melemah dapat membuat dolar AS menguat sehingga berimbas pada mata uang lainnya termasuk rupiah. Perlambatan ekonomi China juga menjadi sorotan mengingat China merupakan mitra dagang utama Indonesia.

Sementara sentimen dari dalam negeri seperti indikator utama makroekonomi terkait inflasi, pertumbuhan ekonomi, neraca dagang, nilai tukar rupiah, cadangan devisa, dan laporan kinerja keuangan emiten pasar modal juga diperhatikan pasar.

Menurut dia, dengan adanya sentimen-sentimen tersebut, tidak dapat dipastikan sektor maupun saham mana saja yang akan mengalami kenaikan. Semuanya akan tergantung dari sentimen yang ada.

Jika pada tahun depan, pergerakan harga komoditas kembali meningkat maka pilihlah saham-saham komoditas. Jika nantinya penyaluran kredit masih bertumbuh di tengah kenaikan suku bunga acuan BI maka pilihlah saham-saham perbankan. Jika semasa pemilu membuat belanja iklan meningkat maka bisa dipertimbangkan saham-saham media.

“Begitu pun dengan sektor-sektor lainnya. Bisa saja dimungkinkan, sektor properti dan konstruksi yang di tahun 2018 mengalami penurunan kemudian memiliki momentum kenaikan di tahun 2019,” tuturnya. (Inews)

Pasar Modal

Pada Akhir Perdagangan Sesi I Hari Ini, IHSG pertahankan penguatan ke level 4.639

Published

on

Finroll – Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 41,97 poin atau 0,91% ke 4.639,40 pada akhir perdagangan sesi I hari ini, Senin (11/5).

Sebanyak 224 saham naik, 138 saham turun dan 146 saham stagnan.

Hanya satu sektor saham yang berada di zona merah yakni sektor pertambangan yang turun 0,13%. Sedangkan sembilan sektor saham lainnya berhasil menjadi penopang penguatan IHSG.

Sektor-sektor saham dengan kenaikan tertinggi adalah sektor konstruksi yang naik 2,62%, sektor aneka industri naik 2,14% dan sektor perkebunan naik 1,34%.

Total volume perdagangan saham di bursa hingga sesi I hari ini mencapai 3,33 miliar saham dengan total nilai Rp 2,92 triliun.

Top gainers LQ45 hingga sesi I hari ini adalah:

  • PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) naik 19,20%
  • PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) naik 7,05%
  • PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) naik 5,88%

Top losers LQ45 hingga sesi I hari ini adalah:

  • PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 0,97%
  • PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) turun 0,63%
  • PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) turun 0,56%

Investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp 182,28 miliar di seluruh pasar.

Saham-saham dengan penjualan bersih terbesar asing adalah PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp 50,9 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 47,9 miliar dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) Rp 26,4 miliar.

 

Sumber : Kontan

Continue Reading

Keuangan

Rupiah Unjuk Gigi di Tengah Pelonggaran Aktivitas Masyarakat

Published

on

By

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.912 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pasar spot Senin (11/5). Mata uang Garuda ini menguat 7,5 poin atau 0,05 persen dari Rp14.912 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.

Rupiah terlihat bergerak menguat bersama beberapa mata uang lainnya di Asia. Tercatat, Won Korea Selatan menguat 0,37 persen, baht Thailand 0,21 persen, dan peso Filipina 0,23 persen.

Sementara, sejumlah mata uang Asia lain berada di teritori negatif. Misalnya, Ringgit Malaysia terkoreksi 0,24 persen dan yuan China 0,03 persen.

Kemudian, mata uang utama negara maju kompak menguat dari mata uang Negeri Paman Sam. Dolar Australia menguat 0,38 persen, rubel Rusia 0,25 persen, poundsterling Inggris 0,17 persen, dolar Kanada 0,14 persen, euro Eropa 0,08 persen, dan franc Swiss 0,1 persen.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memproyeksi rupiah bergerak di kisaran Rp14.800-Rp15.150 per dolar AS har ini.

Menurutnya, rupiah akan menguat lantaran pasar merespons positif kegiatan ekonomi yang kembali bergerak di sejumlah negara setelah kasus virus corona mulai melandai.

“Dengan aktifnya kembali perekonomian diharapkan kondisi ekonomi bisa segera membaik,” tutur Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Walaupun begitu, bukan berarti situasi ini akan berlangsung permanen. Ariston menilai pasar masih terus mewaspadai perkembangan kasus penyebaran virus corona di global.

“Pasar juga melihat dampak buruknya terhadap kondisi ekonomi yang bisa kembali menekan harga aset berisiko,” pungkas Ariston.

Continue Reading

Pasar Modal

Lion Air Tunda IPO $500 Juta Gara-Gara Bursa Global Anjlok

Published

on

By

Lion Air Indonesia telah menunda rencana penawaran umum perdana (IPO) lantaran terjadi pelemahan tajam bursa global, sumber mengatakan pada Jumat (28/02), di kala penyebaran virus covid-19 memicu kekhawatiran pandemi global.

FINROLL.COM —Dilansir Reuters Jumat (28/02) petang, keputusan IPO senilai $500 juta dari salah satu maskapai bertarif rendah terbesar di Asia ini diharapkan bakal diketahui nasibnya pada akhir Februari setelah bank-bank terkait menyelesaikan pemaparan rencana kepada investor di pusat keuangan global awal bulan ini.

Dua sumber mengatakan Lion Air, yang akan meluncurkan IPO pada awal Maret, akan mempertimbangkannya kembali hanya ketika pasar dalam keadaan stabil.

Maskapai penerbangan ini telah merencanakan IPO selama sekitar lima tahun.

Minggu ini, harga saham global anjlok parah di tengah kekhawatiran dampak ekonomi global yang berkelanjutan ketika virus covid-19 menyebar ke luar Cina. Sekitar 12 negara melaporkan kasus virus pertama dalam 24 jam terakhir.

Maskapai ini telah memangkas kapasitas penerbangan karena lemahnya permintaan diterpa gangguan virus pada pembatasan perjalanan internasional yang menghambat sektor ini.

Lion Air adalah bagian dari Lion Air Group, yang memiliki perusahaan patungan maskapai penerbangan di Malaysia dan Thailand, fasilitas pemeliharaan pesawat dan bisnis pengiriman. (INVENSTING.COM)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending