Connect with us

Ragam

7 Suku Tertua Di Indonesia

Published

on


Finroll.com – Indonesia Memiliki Beraneka Ragam Suku. Dengan Adanya Keragaman Di Bangsa Ini Juga Akan Menambah Kekayaan Indonesia Di Mata Dunia. Yang Perlu Kita Ketahui Bahwa Indonesia Juga Mempunyai Suku-Suku Tertua.

Inilah 7 suku tertua di Indonesia:

1. Suku Wajak

Suku Wajak menduduki posisi pertama dalam urutan suku tertua di Indonesia. Suku ini menduduki kota Tulungagung yang berada di Jawa Timur. Sayangnya keberadaan suku ini telah hilang dan tidak ada yang megetahui suku ini dengan jelas.

Sejarah dari suku ini juga tidak jelas. Tetapi, bukti-bukti keberadaan Suku Wajak ini hanya bisa diwujudkan dengan adanya fosil yang tergolong dalam jenis manusia purba bernama Homo Wajakensis. Keberadaan suku ini memang menghilang secara misterius hingga saat ini sehingga menjadi sebuah legenda di wilayah Tulungagung.

2. Suku Kerinci

Suku yang kedua ini juga merupakan suku tertua di dunia yang hidup hingga saat ini. Pasalnya, dari berbagai penelitian, dikatakan suku yang mendiami wilayah Sumatra Selatan di wilayah dataran tinggi Gunung Kerinci ini sudah ada sebelum Suku Inka dan Indian mendiami Benua Amerika.

Sejak sepuluh ribu tahun yang lalu, suku ini seudah ada. Suku ini masih menjaga peradabannya dengan baik hingga saat ini dengan tradisinya yang masih sangat kental.

3. Suku Baduy

Suku Baduy merupakan suku mendiami wilayah yang ada di Jawa Barat. Menurut cerita yang menyebar di sekitar masyarakat, suku ini wajib menjaga alam sekitar dan lingkungannya.

Sehari-harinya, Suku Baduy tidak pernah mengenakan alas kaki saat beraktivitas di luar rumah. Hingga saat ini, Suku Baduy memiliki keturunan yang masih hidup di wilayah Lebak tepatnya di Banten. Suku ini tersebar secara meluas dan suku ini juga mendiami di hampir semua wilayah di Indonesia.

4. Suku Melayu

Suku ini sudah ada sejak abad kesebelas di Indonesia dan terkenal sampai ke beberapa negara bahkan suku ini juga sudah tersebar sampai ke Benua Eropa.

Suku Melayu merupakan satuan kelompok etnis yang berasal dari orang-orang Austronesia yang sampai sekarang menghuni wilayah Semenanjung Malaysia, wilayah timur bagian Sumatra dan wilayah-wilayah lain di sekitar Pulau Sumatra.

Nama Malayu berasal dari kerajaan yang menjadi bawahan kerajaan Sriwijaya. Dahulu kala, banyak pedagang Melayu yang mengikuti jalur perdagangan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Suku Melayu masih menjaga tradisinya hingga saat ini.

5. Suku Dani

Suku Dani yang berada di Papua ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu di Lembah Baliem. Mata pencaharian suku ini dikenal dengan cara bercocok tanam.

Pada masa itu, suku Dani sudah mulai mengenal peralatan teknologi yang terbuat dari bahan-bahan alam seperti kapak batu, pisau yang terbuat dari tulang binatang, bambu dan juga alat-alat tombak yang terbuat dari kayu. Alat-alat ini dikenal sangat kuat dan berat.

6. Suku Dayak

Suku Dayak sudah ada sejak 2000 tahun sebelum masehi. Namun, asal-usul Suku Dayak ini juga masih belum pasti karena muncul berbagai macam pendapat tentang suku ini. Wilayah kediaman Suku Dayak biasanya berada di pedalaman Pulau Kalimantan khususnya di Kalimantan Barat. Tapi jangan main-main dengan Suku Dayak ya! Pasalnya, Suku Dayak dikenal dengan suku yang memiliki ilmu hitam dengan efek yang sangat tinggi.

Ilmu hitam tersebut bermacam-macam bahkan ada yang sampai bisa memakan nyawa orang lain. Suku Dayak juga dikenal memiliki kesaktian seperti kebal terhadap benda tajam, peluru atau ilmu-ilmu yang lain.

7. Suku Jawa

Suku Jawa merupakan suku tertua di Indonesia juga. Suku ini mendiami Pulau Jawa sejak zaman kerajaan Hindhu-Buddha. Suku ini memiliki pengaruh besar di Indonesia karena hampir sebagian wilayah di Indonesia ini dihuni oleh Suku Jawa.

Tradisi dan upacara adat suku Jawa bermacam-macam sehingga banyak pula wisatawan asing dari luar negeri yang ingin belajar tembang Jawa, menjadi sinden, dalang atau tari-tarian Jawa. Bahkan, ada pula wisatawan asing yang rela mengganti statusnya menjadi penduduk Jawa demi menjadi bagian dari kebudayaan Jawa.

Ragam

ILO: 1 dari 6 Pemuda Jadi Pengangguran Gara-gara Covid-19

Published

on

Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyatakan satu dari enam kaum muda berhenti bekerja akibat merebaknya pandemi virus corona (covid-19). Sementara, bagi yang masih bekerja mengalami pemotongan jam kerja sebesar 23 persen.

Hal itu tercantum dalam laporan analisis terbaru dampak virus covid-19 terhadap pasar tenaga kerja “Monitor ILO: Covid-19 dan Dunia Kerja – edisi ke-4”.

ILO menyebut, pesatnya pengangguran muda baru sejak covid-19 merebak pada Februari lalu juga lebih banyak mempengaruhi perempuan dibandingkan laki-laki.

“Jika kita tidak mengambil aksi yang signifikan dan segera untuk memperbaiki situasi mereka, imbas virus ini dapat kita rasakan beberapa dasawarsa ke depan,” kata Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (28/5).

Pandemi covid-19, lanjutnya, tak hanya menghancurkan pekerjaan mereka. Namun, pandemi juga mengganggu pendidikan dan pelatihan serta memberikan hambatan besar bagi mereka yang sedang berupaya memasuki pasar kerja atau berpindah pekerjaan.

Tingkat pengangguran muda pada 2019 sendiri mencapai 13,6 persen dan terbilang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Artinya, ada sekitar 267 juta kaum muda yang tidak dalam pekerjaan, pendidikan atau pelatihan (NEET) di seluruh dunia.

Mereka yang berusia 15-24 tahun dan bekerja umumnya berada dalam bentuk pekerjaan rentan seperti pekerjaan berupah rendah, pekerjaan di sektor informal atau sebagai pekerja migran.

“Jika bakat dan energi mereka tidak termanfaatkan dengan baik akibat kurangnya peluang atau keterampilan ini akan membahayakan masa depan kita semua dan akan semakin sulit untuk membangun kembali perekonomian yang lebih baik pasca COVID,” jelas Ryder.

Lihat juga: Menaker Sebut 18 Persen Pekerja Formal DKI Terdampak Corona
ILO juga memperbarui perkiraan penurunan dalam jam kerja di kuartal pertama dan kedua pada 2020, dibandingkan dengan kuartal keempat 2019.

Diperkirakan ada 4,8 persen jam kerja hilang selama kuartal pertama 2020 (setara dengan perkiraan 135 juta pekerjaan penuh waktu, dengan asumsi 48 jam kerja per minggu).

Dari perspektif regional, Amerika (13,1 persen) serta Eropa dan Asia Tengah (12,9 persen) mewakili kehilangan terbesar dalam jadwal kerja dalam kuartal kedua.

Karenanya, ILO menyerukan diambilnya kebijakan besar untuk mendukung kaum muda, termasuk program yang memastikan lapangan kerja/pelatihan yang luas di negara-negara berkembang serta di negara dengan pendapatan ekonomi rendah dan menengah.

Continue Reading

Ragam

Ini yang Diwaspadai Jokowi Saat New Normal Pariwisata

Published

on

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai gencar mewacanakan hidup new normal kepada masyarakat. Khusus di sektor pariwisata, Jokowi pun telah menyampaikan sebuah standar baru yang nantinya akan menjadi landasan industri pariwisata menjalankan bisnisnya di tengah pandemi Covid-19.

“Betul-betul harus disiapkan sebuah standar baru menjadi sebuah kultur baru, kebiasaan baru di sektor pariwisata dan perlunya sosialisasi masif diikuti uji coba, simulasi dan pengawasan,” kata Jokowi, Kamis (28/5/2020).

Jokowi menegaskan protokol baru perlu diterapkan untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan. Jika tidak dijalankan, maka bukan tidak mungkin citra pariwisata di Indonesia menjadi buruk. Sehingga risiko ini harus benar-benar harus diwaspadai.

“Begitu ada imported case, kemudian ada dampak kesehatan maka citra pariwisata yang buruk itu akan bisa melekat dan akan menyulitkan kita untuk memperbaikinya lagi karena itu betul-betul harus dihitung, dikalkulasi betul, di lapangan manajemen pengawasannya dilaksanakan,” kata Jokowi.

Protokol kesehatan yang dimaksud Jokowi mulai dari sisi transportasi, penginapan atau hotel, restoran, hingga sejumlah area-area di lokasi pariwisata. Menurut Jokowi, sejumlah negara lain pun sudah melakukan hal serupa.

“Saya minta lihat benchmark di negara lain yang sudah saya lihat menyiapkan ini dengan kondisi new normal di sektor pariwisata,” katanya.

Continue Reading

Ragam

Imbas Corona, Pembangunan MRT Fase 2 Diundur Juni 2020

Published

on

By

PT MRT Jakarta menyatakan pembangunan proyek mass rapid transportation (MRT) Fase 2A dari Bundaran HI hingga Stasiun Kota ditunda hingga Juni 2020. Penundaan ini tak lepas dari wabah virus corona yang semakin meluas di Jakarta.

“Betul, ada penundaan,” kata Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta Muhammad Kamaludin saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Kamis (30/4).

Pembangunan proyek MRT Fase 2A sedianya dikerjakan pada Maret 2020 dan ditargetkan rampung pada Desember 2024. Namun, karena penundaan, proyek ini diperkirakan baru akan rampung sekitar Maret 2025.

Namun begitu, Kamaludin mengatakan saat ini beberapa pekerjaan masih ada yang berjalan dengan aturan physical distancing. Namun, akibat pandemi virus corona beberapa pekerjaan lainnya mesti ditunda.

Salah satu alasan penundaan pengerjaan MRT Fase 2A yakni karena sebagian tenaga kerja didatangkan dari Jepang. Sementara itu, Jakarta saat ini tengah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga tidak memungkinkan untuk mendatangkan pekerja dari Jepang.

Penundaan proyek MRT ini, lanjut Kamal, berimbas pada rencana operasional MRT. “Operasional fase 2A baru pada Maret 2026,” kata dia.

Fase 2A dimulai dari Stasiun Bundaran HI hingga Stasiun Kota dengan total panjang jalur 6 kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah, yakni Stasiun Thamrin, Stasiun Monas, Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, Stasiun Mangga Besar, Stasiun Glodok, dan Stasiun Kota.

Pembangunan Fase 2A dibagi ke dalam tiga paket kontrak sipil, terdiri dari paket kontrak CP 201, CP 202 dan CP 203. Periode konstruksi Fase 2A akan dimulai pada Maret 2020 dan direncanakan selesai pada Desember 2024.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending