Connect with us
[adrotate group="1"]

Ekonomi Global

Akibat Tarik Menarik Sentimen Harga Minyak Dunia Stabil

Published

on


Finroll – Jakarta, Harga minyak berjangka bergerak stabil pada akhir perdagangan Senin (1/6) waktu AS atau Selasa (2/6) pagi WIB akibat tarik menarik sentimen. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun tipis lima sen atau 0,1 persen ke US$35,44 per barel.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus naik tipis US$0,48 atau 1,3 persen ke US$38,32 dolar AS per barel.

Minyak pada awal pekan mendapatkan tekanan dari peningkatan ketegangan hubungan antara AS dengan China. Tekanan meningkat setelah China memperingatkan akan melakukan pembalasan atas langkah AS di Hong Kong.

China telah meminta perusahaan milik negara untuk menghentikan pembelian kedelai dan babi dari Amerika Serikat. Langkah itu mereka lakukan setelah Washington mengatakan akan menghilangkan perlakuan khusus AS bagi Hong Kong demi menghukum Beijing.

“Kemungkinan meningkatnya ketegangan memang menimbulkan risiko bagi kenaikan harga minyak baru-baru ini,” kata Harry Tchilinguirian, kepala penelitian komoditas di BNP Paribas seperti dikutip dari Antara, Selasa (2/6).

Namun, di tengah tekanan tersebut, minyak mendapatkan angin segar dari kabar bahwa OPEC dan Rusia hampir mencapai kesepakatan memperpanjang pemangkasan produksi.

Harga minyak mendapat dukungan setelah berita bahwa Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, bergerak lebih dekat ke kompromi pada perpanjangan pemotongan produksi minyak dan sedang membahas perpanjangan pembatasan satu hingga dua bulan.

Aljazair, yang memegang jabatan presiden OPEC telah mengusulkan agar OPEC+ memajukan pertemuan dari yang awalnya akan dilaksanakan pada 9-10 Juni menjadi 4 Juni.

OPEC+ sepakat pada April untuk memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari untuk Mei dan Juni karena pandemi COVID-19 merusak permintaan. Cadangan di Cushing, Oklahoma, turun menjadi 54,3 juta barel dalam seminggu yang berakhir 29 Mei, kata para pedagang, mengutip laporan Genscape pada Senin (1/6) kemarin.

Bank of America mengatakan pada Senin (1/6/2020) bahwa mereka percaya bahwa penutupan minyak Amerika Utara memuncak pada Mei. “Harga minyak telah menguat ke tingkat di mana penutupan tidak lagi masuk akal dan seharusnya benar-benar mendorong produsen untuk segera mengembalikan produksi,” menurut laporan BofA Global Research.

Sumber : CNN Indonesia

Ekonomi Global

Ekonomi China Bangkit ke 4,9 Persen pada Kuartal III 2020

Published

on

FINROLL.COM – Pertumbuhan ekonomi China berhasil melawan tekanan virus corona. Data resmi pemerintah setempat menunjukkan ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut berhasil berbalik arah ke level 4,9 persen pada kuartal III 2020 kemarin.

Pertumbuhan tersebut mulai mendekati kondisi ekonomi sebelum tertekan virus corona.

Biro Statistik Nasional China menyatakan pertumbuhan ekonomi tersebut masih sedikit di bawah ekspektasi. Oleh karena itulah, mereka memperingatkan agar pemerintah tetap berhati-hati walaupun ekonomi berhasil berbalik arah.

Peringatan mereka berikan karena kondisi ekonomi masih diselimuti ketidakpastian di masa yang akan datang.

“Karena kondisi ekonomi internasional masih rumit,” kata mereka seperti dikutip dari AFP, Senin (19/10).

Sebagai pengingat ekonomi China tertekan hebat hingga mengalami terkontraksi 6,8 persen pada kuartal I 2020 lalu akibat penyebaran wabah virus corona.

Namun tekanan itu tak berlangsung lama. Pada kuartal II, ekonomi mereka mulai bangkit.

Secara mengejutkan, di tengah ancaman resesi yang mulai melanda sejumlah negara akibat virus corona, ekonomi China malah berhasil menguat ke level 3,2 persen. (CNN INDONESIA)

Continue Reading

Ekonomi Global

Singapura Masih Resesi, Ekonomi Minus 7%

Published

on

FINROLL.COM – Perekonomian Singapura disebut masih berkontraksi di kuartal III 2020 secara tahunan (YoY). Di mana aktivitas ekonomi -7%, sebagaimana rilis yang dimuat Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura, Rabu (14/10/2020).

Angka ini lebih rendah dari prediksi yang sebelumnya diluncurkan sejumlah pihak, seperti Reuters, -6,8%. Namun ini lebih baik dari kuartal sebelumnya di mana ekonomi Singapura -13,3%.

Secara basis kuartalan (QtQ), ekonomi Singapura justru menunjukkan pencapaian positif. Di mana ekonomi tumbuh 7,9% di kuartal III ini.

Catatan ini merupakan yang terbaik setelah sebelumnya di basis yang sama ekonomi -42,9. Meski begitu, Singapura masih masuk ke dalam jurang resesi.

Sementara itu, dalam rilis terpisah, bank sentral Singapura (Otoritas Moneter Singapura) mengaku akan menahan kebijakan berbasis nilai tukar. Singapura sendiri melakukan semi lockdown di awal April, untuk menekan penyebaran Covid-19. (CNBC INDONESIA)

Continue Reading

Ekonomi Global

Utang AS Diprediksi 102 Persen dari PDB, Terburuk Sejak PD II

Published

on

FINROLL.COM – Badan Anggaran Kongres Amerika Serikat (AS) atau The Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan defisit anggaran AS tahun ini mencapai US$3,13 triliun. Defisit membengkak karena nominal belanja diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan dengan penerimaan negara.

Mengutip CNN Business, Jumat (9/10), perkiraan defisit itu setara dengan lebih dari 3 kali lipat dari defisit tahunan sepanjang 2019 lalu. Jika prediksi defisit benar terjadi, maka ini menjadi yang tertinggi sejak setelah perang dunia kedua.

Jumlah belanja pemerintah AS terus meningkat di masa pandemi. Mulai musim semi ini, pemerintah federal menghabiskan lebih dari US$4 triliun untuk membantu pekerja dan dunia usaha menghadapi tekanan ekonomi akibat corona.

Sebagian besar pihak pun setuju pemerintah AS perlu membelanjakan dana lebih banyak sampai Gedung Putih berhasil mengendalikan krisis di masa pandemi covid-19.

Hanya saja, Departemen Keuangan AS tidak akan mengeluarkan angka akhir untuk tahun fiskal 2020 sampai akhir bulan ini. Namun, jika perkiraan CBO tepat, maka total utang negara diperkirakan melampaui ukuran perekonomian yang mencapai hampir 102 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Utang AS sebelumnya belum pernah mencapai 102 persen dari PDB sejak 1946 silam. Pada 1946, utang Federal sebesar 106,1 persen dari PDB.

“Utang adalah ukuran ekonomi saat ini dan segera akan lebih besar dari waktu manapun dalam sejarah,” ungkap Presiden CRFB Maya MacGuineas.

Masalah utang AS akan membatasi pemerintah dalam memenuhi kebutuhan negara di masa mendatang. Sementara, belanja negara diproyeksi semakin meningkat dan jauh dari pendapatan negara.

Ini artinya, ada risiko gangguan keuangan AS di masa depan. Dengan demikian, risiko fiskal di AS juga kian membesar.

“Tidak ada titik kritis yang pasti di mana krisis fiskal menjadi mungkin atau akan segera terjadi, juga tidak ada titik yang dapat diidentifikasi di mana biaya bunga sebagai presentase dari PDB menjadi tidak berkelanjutan. Tapi saat utang tumbuh, risikonya menjadi lebih besar,” pungkas Direktur CBO Phillip Swagel. (CNN INDONESIA)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending