Connect with us
[adrotate group="1"]

china

Alasan China Selamat di Tengah Resesi Negara-negara Dunia

Published

on


FINROLL.COM – Pertumbuhan ekonomi China diproyeksi tembus 1,6 persen pada 2020. Kondisi ini berbanding terbalik dengan proyeksi PDB dunia yang diramal terkontraksi 5,2 persen.

Dikutip dari CNN Business, valuasi ekonomi China diperkirakan mencapai US$14,6 triliun pada akhir 2020. Nominal tersebut setara dengan 17,5 persen dari PDB global.

Kepala ekonom Macquarie Group China Larry Hu menilai pasar saham China pun akan meningkat tahun ini.

“Pemulihan di China jauh lebih kuat daripada negara lain,” jelas Hu, Minggu (11/10).

Pemulihan ekonomi China yang relatif cepat didukung berbagai langkah, termasuk kebijakan lockdown saat virus corona mulai menginfeksi Wuhan. Sistem pelacakan populasi untuk menahan virus pun dinilai berhasil membuat China cepat mengatasi pandemi.

Dari sisi kebijakan finansial, pemerintah telah menyisihkan anggaran hingga ratusan miliar dolar untuk proyek infrastruktur besar. China pun menawarkan insentif tunai untuk merangsang pengeluaran warganya.

Segala insentif dan anggaran yang dikeluarkan terbukti telah menyelamatkan perekonomian China. Sektor pariwisata China langsung melonjak saat periode Golden Week pekan lalu.

Golden Week merupakan periode libur tahunan di China untuk merayakan berdirinya China sekaligus Festival Bulan. Biasanya, Golden Week menjadi salah satu musim berlibur tersibuk China selain Imlek.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China mencatat ada sekitar 630 juta wisatawan domestik selama Golden Week tahun ini. Jumlah tersebut sekitar 80 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Sementara, dari sisi pengeluaran wisatawan mencapai 70 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tahun ini, pengeluaran wisatawan domestik mencapai US$70 miliar.

Bahkan, penjualan tiket bioskop pun sudah melampaui US$580 juta selama periode Golden Week. Angka tersebut hanya 12 persen lebih rendah dari rekor tertinggi tahun lalu.

“Kehidupan kembali normal di China, seperti konsumsi, terutama konsumsi jasa yang sedang dalam pemulihan,” kata Hu.

Selain pariwisata, aktivitas manufaktur China pun naik ke level tertinggi pada September. Bahkan, salah satu survei mengungkap periode September lalu menjadi salah satu periode ekspansi tercepat dalam beberapa dekade terakhir.

“Secara keseluruhan, ekonomi tetap dalam fase pemulihan pasca-pandemi. Namun, telah meningkat pada kecepatan yang lebih cepat dari proyeksi” kata Wang Zhe, Ekonom Senior Caixin Insight Group.

China pun mencatat belanja konsumen telah pulih. Namun, di sisi lain, Fitch Ratings mencatat pandemi telah berdampak besar pada penduduk miskin dan pedesaan China.

Fitch mencatat pendapatan bulanan pekerja migran pedesaan turun hampir 7 persen pada kuartal II 2020. Ratusan juta orang tersebut mayoritas bekerja di bidang konstruksi hingga manufaktur.

Selain itu, rumah tangga berpenghasilan rendah kurang dari US$7.350 di China pun mengalami penurunan paling parah.

“Ini menunjukkan pemulihan China dalam konsumsi kemungkinan agak condong ke kelompok berpenghasilan tinggi,” pungkas analis Fitch Ratings. (CNN INDONESIA.COM)

Iwan Hidayat Bergabung Dengan Finroll Media Group Tahun 2012

china

Xi Jinping: China Telah Lewati Cobaan Virus Corona yang Luar Biasa

Published

on

Presiden China Xi Jinping mengklaim, negaranya berhasil melewati “cobaan virus corona yang luar biasa dan bersejarah”.

BEIJING, FINROLL.com – Xi mengatakannya dalam upacara penganugerahan pengharagaan kepada tim medis yang diiringi dengan seruan terompet dan tepuk tangan meriah.

Dalam propagandanya, Beijing mengklaim sudah berhasil menangani Covid-19, di mana krisis kesehatan itu jadi bukti ketangkasan dan kepemimpinan partai Komunis.

Klaim itu dibuktikan dengan pemberian medali kepada “empat pahlawan” dari tenaga medis, di depan ratusan delegasi yang mengenakan masker dan pin bunga besar.

“Kita telah melewati cobaan yang luar biasa dan bersejarah,” kata Xi Jinping seraya memuji “perjuangan heroik” China melawan virus corona.

Presiden China berusia 67 tahun itu mengklaim, mereka adalah yang pertama menang melawan Covid-19 maupun dalam pemulihan ekonomi.

“Negeri Panda” sempat menjadi sorotan dunia pada awal 2020 atas penanganan mereka terhadap virus yang kini menginfeksi 27 juta orang di muka Bumi ini. Dua negara Barat, Amerika Serikat (AS) dan Australia, menuding Beijing sengaja menyembunyikan asal dan seberapa parah virus itu.

Dilansir AFP Selasa (8/9/2020), pengharagaan di Aula Agung Rakyat itu dibuka dengan mengheningkan cipta bagi korban meninggal virus.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pemnberian medali kepada empat orang tenaga kesehatan, salah satunya adalah Zhong Nangshan.

Dokter berusia 83 tahun itu dipandang sebagai wajah China dalam upaya mereka menangani virus bernama resmi SARS-Cov-2 tersebut.

“Kami akan segera bergandengan tangan dengan pekerja medis di seluruh dunia untuk melacak dari mana asal virus ini,” papar Zhong.

Selain Zhong, mereka yang menerima anugerah tertinggi itu adalah pakar biokimia Chen Wei, kepala rumah sakit di Wuhan, dan pakar pengobatan tradisional berusia 72 tahun.

Namun, acara tersebut sama sekali tak mengomentari Li Wenliang, dokter yang pertama kali mengungkapkan wabah itu ke hadapan publik.

Aksinya sempat berbuah ancaman dari polisi karena dia dianggap meresahkan publik. Pada akhirnya, dia meninggal karena wabah itu pada 7 Februari.

Berdasarkan jumlah resmi yang dipaparkan, terdapat 4.634 kematian karena virus corona, sejak wabah itu terdeteksi di Wuhan pada Desember 2019.

Pemerintah “Negeri Panda” selalu mengklaim bahwa mereka bisa menekan angka penyebarannya melalui lockdown dan larangan bepergian yang ketat.

Adapun mereka selalu bersikukuh bahwa SARS-Cov-2 yang saat ini telah membunuh hampir 900.000 orang di seluruh dunia itu masih belum diketahui asal usulnya.

Sumber Berita : Kompas.com

Continue Reading

china

PM Malaysia bertemu menhan China, bahas kerja sama bilateral

China berkomitmen memperkuat kerja sama pertahanan dengan Malaysia, dan terus memajukan hubungan antarmiliter guna mencapai hasil-hasil baru, kata Anggota Dewan Negara sekaligus Menteri Pertahanan China Wei Fenghe.

Published

on

FINROLL.COM — Perdana Menteri (PM) Malaysia Muhyiddin Yassin bertemu dengan Anggota Dewan Negara sekaligus Menteri Pertahanan (Menhan) China Wei Fenghe yang sedang berkunjung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Senin (7/9). Keduanya membahas tentang kerja sama bilateral kedua negara.

Muhyiddin menyampaikan ucapan selamat atas keberhasilan China dalam mengendalikan wabah COVID-19. Dengan dukungan yang sangat besar dari China, Malaysia menjadi salah satu negara pertama di dunia yang dapat meredam wabah tersebut, ujarnya, seraya menyampaikan penghargaan dan harapan bahwa kedua negara akan terus melanjutkan kerja sama dalam memerangi COVID-19.

Malaysia siap bekerja sama dengan China untuk memperkuat kerja sama bilateral di segala bidang antara lain termasuk pertahanan, ekonomi dan perdagangan, serta pendidikan, ujar Muhyiddin.

Sementara itu,Wei pada gilirannya mengatakan persahabatan antara China dan Malaysia memiliki sejarah yang panjang, dan hubungan bilateral telah senantiasa mencatatkan perkembangan yang sehat serta stabil.

China dan Malaysia telah saling memberikan bantuan selama wabah COVID-19, serta memimpin upaya untuk mendorong pemulihan ekonomi dan sosial seraya memajukan kerja sama pragmatis di segala bidang, kata Wei.

China, lanjutnya, berkomitmen untuk memperkuat kerja sama pertahanan antara kedua negara, dan terus memajukan hubungan antarmiliter guna mencapai hasil-hasil baru.

Wei juga menyampaikan bahwa pemeliharaan stabilitas di Laut China Selatan merupakan tanggung jawab bersama China dan Malaysia. Saat situasi keseluruhan di Laut China Selatan tetap stabil, China bersedia bekerja sama dengan negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) termasuk Malaysia untuk mencapai kompromi agar bisa menjaga perdamaian dan ketenangan di kawasan laut tersebut, paparnya.

Pada Senin yang sama, Wei mengadakan pertemuan resmi dengan Menteri Pertahanan Malaysia Ismail Sabri Yaakob. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak saling bertukar pandangan terkait berbagai isu, termasuk situasi internasional dan regional, hubungan antara militer kedua negara, serta Laut China Selatan.

Ismail Sabri menggelar upacara penyambutan bagi Wei menjelang pertemuan. Dalam upacara penyambutan itu, Wei menginspeksi pasukan kehormatan militer Malaysia. (Xinhua)

Continue Reading

Automotive

China akan kembali rajai pasar kendaraan listrik pada akhir 2020

Published

on

China akan kembali merajai pasar kendaraan listrik pada akhir tahun ini, menurut analisis pasar yang dirilis oleh Pusat Riset Otomotif Jerman (Center for Automotive Research/CAR) pada Senin (7/9).

FINROLL.COM – Penjualan mobil listrik di Eropa pada paruh pertama tahun ini naik tipis, namun “faktor (Elon) Musk” akan mendukung perkembangan pasar China yang tidak akan melepaskan posisi puncaknya di pasar mobil listrik untuk 50 tahun ke depan, menurut perkiraan CAR.

Secara total, hampir 400.000 mobil yang sepenuhnya ditenagai listrik (fully electric) dan hybrid plug-in terjual di Eropa pada paruh pertama tahun ini. Sementara di China, kendaraan listrik yang terjual pada periode yang sama hanya memiliki selisih 7.200 unit lebih sedikit dibandingkan Eropa, sebut CAR.

China membuat “lompatan besar” dalam kendaraan yang sepenuhnya menggunakan listrik bersama Tesla. Menurut CAR, gigafactory Tesla di Shanghai menyumbang penjualan hampir 50.000 mobil listrik di China pada paruh pertama tahun ini.

Berkat premi pembelian yang tinggi untuk mobil listrik di banyak negara Eropa, penjualan kendaraan fully electric dan hybrid plug-in di Eropa “meningkat secara signifikan,” ungkap CAR.

China dan Eropa “sangat menentukan terobosan global dalam mobilitas listrik,” kata Direktur CAR Ferdinant Dudenhoefer dalam sebuah pernyataan, menyebut bahwa kedua kawasan itu “secara signifikan mendukung mobilitas nol emisi.”

Sang direktur mengatakan kepada Xinhua bahwa 1,2 juta kendaraan listrik telah terjual di China pada 2019, terbanyak di dunia.

Dalam hal penjualan kendaraan fully electric pada paruh pertama tahun ini, China telah menjadi pemimpin pasar, sementara penjualan mobil hybrid plug-in di Eropa semakin meningkat, imbuh CAR. (Xinhua)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending