Connect with us
[adrotate group="1"]

Ekonomi Global

Bank Dunia Estimasi Pertumbuhan Asia Pasifik Bisa Anjok 0,5-3,5%

Published

on


Bank Dunia menyatakan pandemi Corona atau Covid-19 bakal memukul perekonomian Asia Timur dan Pasifik.
Bank Dunia menyatakan pandemi Corona atau Covid-19 bakal memukul perekonomian Asia Timur dan Pasifik. Estimasi pertumbuhan ekonomi regional Asia Timur dan Pasifik atau East Asia and Pacific (EAP) bakal anjlok di kisaran 2,1 persen dalam skenario normal atau baseline. Nilainya juga diperkirakan masih bisa lebih buruk hingga serendah minus 0,5 persen di tahun 2020.
Dengan demikian estimasinya semakin jauh di bawah capaian tahun 2019 yang tumbuh 5,8 persen. Di China sebagai tempat pandemi Corona bermula diestimasikan pertumbuhan ekonomi negara itu melambat di angka 1,3 persen sebagai baseline melambat dari pertumbuhan 2019 di angka 6,1 persen. Nilai itu masih bisa turun lagi dengan menyisakan pertumbuhan ekonomi Cina di angka 0,1 persen di tahun 2020.
Bagi negara EAP di luar Cina, Bank Dunia mengestimasi mereka akan melambat hingga angka 1,3 persen sebagai baseline dari pertumbuhan tahun 2019 di angka 4,7 persen. Kemungkinan terburuknya pertumbuhan ekonomi negara EAP selain Cina kontraksi atau minus 2,9 persen di tahun 2020. “Pertumbuhan ini diperkirakan akan pulih secara bertahap di tahun 2021 ketika efek virus telah diatasi,” ucap laporan Bank Dunia yang dikutip, Selasa (31/3/2020).
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Estimasi Bank Dunia bagi Indonesia masih akan tumbuh 2,1 persen dengan skenario baseline. Kemungkinan terburuknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa kontraksi di angka minus 3,5 persen. Dengan demikian jauh melambat dari capaian tahun 2019 di angka 5 persen.
Namun, skenario yang dimiliki Indonesia bisa jadi lebih baik dari estimasi bagi Malaysia yang memiliki baseline minus 0,1 persen dan terburuk di angka minus 4,6 persen. Lalu Thailand yang baseline-nya minus 3 persen dan skenario terburuk minus 5 persen. Bank Dunia pun mengingatkan agar keadaan ini harus cepat diatasi.
Lembaga itu merekomendasikan agar negara di EAP berinvestasi lebih pada sistem Kesehatan mereka. Lalu yang tidak kalah penting menerbitkan kebijakan fiscal terukur sperti subsidi bagi yang sakit dan biaya perawatan. Bank Dunia memperkirakan untuk estimasi pertumbuhan sesuai baseline saja, akan ada 24 juta orang lebih sedikit di regional EAP yang mampu keluar dari kemiskinan.
Jika keadaan berlarut-larut dan menyentuh skenario terburuk, maka kemiskinan di EAP dapat meningkat 11 juta orang. Di luar itu, Bank Dunia menyarankan agar tiap negara membuka seluas-luasnya Kerjasama internasional.
Terutama dalam menjaga pasokan alat Kesehatan dan menjaga stabilitas sektor keuangan selama krisis. Lalu yang tidak kalah penting Bank Dunia berpesan agar negara menjaga likuditas perusahaan agar dapat bertahan dan tetap membuka akses kredit demi menjaga konsumsi selama pandemi.
Sumber berita : Tirto.id

Ekonomi Global

Harga Emas Hari Ini 4 Agustus, Naik ke Rp1,029 Juta per Gram

Published

on

By

Finroll.com, Jakarta – Harga emas PT Aneka Tambang (Persero) atau Antam berada di level Rp1,029 juta per gram pada Selasa (4/8). Posisi itu naik Rp1.000 dari Rp1,028 juta per gram pada Senin (3/8).

Sementara harga pembelian kembali (buyback) naik Rp2.000 per gram dari Rp927 ribu menjadi Rp929 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp544,5 ribu, 2 gram Rp1,99 juta, 3 gram Rp2,97 juta, 5 gram Rp4,92 juta, 10 gram Rp9,78 juta, 25 gram Rp24,33 juta, dan 50 gram Rp48,59 juta. Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp97,11 juta, 250 gram Rp242,51 juta, 500 gram Rp484,82 juta, dan 1 kilogram Rp968,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.994,1 per troy ons atau naik 0,39 persen. Sedangkan harga emas di perdagangan spot justru terkoreksi 0,03 persen ke US$1.976,44 per troy ons pada pagi ini.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memperkirakan harga emas di pasar internasional bergerak di kisaran US$1.960 sampai US$1.990 per troy ons pada hari ini. Harga emas masih berpotensi meningkat, meski tren pemulihan ekonomi global mulai muncul.

Tren pemulihan berasal dari membaiknya indeks manufaktur di beberapa negara menurut survei Markit. Mulai dari AS, Jepang, China, Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Inggris, dan negara-negara kawasan Uni Eropa lainnya, serta Indonesia.

“Data indeks manufaktur beberapa negara mengalami perbaikan yang mengindikasikan pemulihan ekonomi. Tapi harga emas masih dalam tren penguatan karena kondisi pandemi covid-19 belum membaik,” ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com, Selasa (4/8).

Hal ini, sambungnya, masih memberi sentimen kekhawatiran bagi pelaku pasar keuangan. Selain itu, prospek stimulus fiskal senilai US$1 triliun dari pemerintah AS juga menambah dukungan bagi penguatan harga emas.

Pasalnya, investor masih gencar menempatkan dana ke instrumen investasi aman alias safe haven, seperti emas. Dengan begitu, harga emas masih bisa meningkat.

Sumber : CNN INdonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Ditopang Perbaikan Data Ekonomi Harga Minyak Menguat

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah global menguat tipis pada akhir perdagangan Jumat (24/7) lalu. Kenaikan harga minyak ditopang perbaikan data ekonomi.

Mengutip Antara, Senin (27/7), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September naik tiga sen menjadi US$43,34 per barel. Sedangkan, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan September bertambah 22 sen menjadi US$41,29 per barel.

Dalam sepekan, minyak Brent naik 0,5 persen, sedangkan minyak mentah AS, WTI naik 1,7 persen.

Berdasarkan Indeks Manajer Pembelian (PMI) IHS Markit, aktivitas bisnis di zona Euro tumbuh pada Juli untuk pertama kalinya sejak pandemi virus corona. Kondisi ini menjadi katalis positif di pasar.

“Data ekonomi di Eropa jauh lebih baik daripada yang diperkirakan, menunjukkan bahwa kehancuran permintaan dalam beberapa bulan terakhir karena Covid-19 mungkin tidak seburuk yang dipikirkan orang,” kata Analis Senior Price Futures Phil Flynn.

Sementara itu, aktivitas bisnis AS meningkat ke level tertinggi dalam enam bulan pada Juli. Namun, perusahaan-perusahaan AS melaporkan penurunan pesanan baru karena kasus baru Covid-19 masih meningkat.

Tambahan kasus baru telah membuat suram prospek ekonomi AS. Beberapa negara bagian memberlakukan kembali pembatasan sosial sehingga mengurangi konsumsi bahan bakar.

Di sisi lain, jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran mencapai 1,416 juta pada minggu lalu. Jumlah ini naik tidak terduga naik untuk pertama kalinya dalam hampir empat bulan.

Namun, penguatan harga minyak dibayangi sentimen perseteruan AS-China. Seperti diketahui, China memerintahkan AS untuk menutup konsulatnya di kota Chengdu, sebagai respons permintaan AS minggu bahwa bahwa China harus menutup konsulatnya di Houston.

Ketegangan terbaru dua konsumen minyak terbesar dunia itu memicu kekhawatiran tentang permintaan bahan bakar.

“Hubungan perdagangan internasional yang lancar diperlukan agar permintaan minyak tetap tidak terganggu dalam jangka panjang, sehingga ketegangan antara AS dan China bukan merupakan pertanda baik,” kata Kepala Pasar Minyak Rystad Energy Bjornar Tonhaugen.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Harga Minyak Dunia Melemah Akibat Lonjakan Kasus Baru Covid-19

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan akhir pekan lalu. Hal ini terjadi karena peningkatan jumlah kasus baru virus corona (covid-19) di dunia.

Dikutip dari Antara, Senin (20/7), minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus turun 26 sen menjadi US$40,59 per barel.

Sementara, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September turun 23 sen menjadi US$43,14 per barel.

Lonjakan jumlah kasus virus corona membuat pasar khawatir akan permintaan minyak dunia kembali turun. Pemerintah AS mencatatkan ada 75 ribu kasus penularan virus corona baru pada Kamis (16/7). Ini merupakan rekor baru di AS.

Sementara, Australia dan Spanyol melaporkan kenaikan penularan virus corona secara harian yang cukup signifikan. Peningkatan jumlah kasus corona juga terus terjadi di India dan Brazil.

Hal ini membuat pembelian bahan bakar kembali turun. Anggota parlemen di Amerika Serikat dan Uni Eropa akan membahas sejumlah stimulus lebih banyak dalam beberapa hari mendatang.

Sebelumnya, harga minyak mentah dunia turun satu persen pada perdagangan Kamis (16/7). Pelemahan terjadi setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu-sekutunya yang dikenal dengan OPEC+ memutuskan mengurangi pemangkasan pasokan mulai Agustus.

Tercatat, minyak mentah berjangka WTI untuk pengiriman Agustus turun 45 sen atau 1,1 persen ke US$40,75 per barel.

Sementara minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September turun 42 sen atau 1,0 persen ke US$43,37 per barel.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending