Connect with us

Business

Berbasis Teknologi Informasi, Finmas Gelar Diskusi Fintech Lending With Purpose, Unique Case Models

Published

on


Finroll.com — Finmas, sebuah perusahaan jasa pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi gelar Diskusi TechXchange Finmas bertajuk Fintech Lending With Purpose, Unique Case Models, bertempat di Jakarta, Jumat (13/12/2019).

Dalam TechXchange kali ini Finmas membahas tentang potensial target pasar para pelaku industri fintech lending. Dengan menghadirkan narasunber, Lutfia Aisya selaku Business Administration Lead di TaniFund, Wong Budi Setiawan selaku CEO Edufund, Tommy Yuwono sebagai co-founder Pintek, Annisa Fauzia merupakan Head of Communication & Business Partnership Mekar, serta Dani Lihardja, CEO Danamas, yang diwakili oleh Irma Darmastutik Brand Manager Danamas.

Rainer Emanuel, Head of PR & Corporate Communications Finmas mengatakan, kegiatan TechXchange ini dilaksanakan yang ke 6 (enam) kalinya. Ini merupakan tanggung jawab Finmas sebagai anggota Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) agar, dapat sinergi dan saling share informasi, bukan hanya antar member AFPI saja, namun juga bersama stagholder di luar,” ujar Rainer Emanuel ketika dijumpai usai diskusi TechXchange.

Dalam kegiatan ini lanjut Rainer, Finmas bukan hanya sekedar mengundang para Regulator dalam even sebelumnya, namun juga kali ini Finmas mengundang para komunitas yang kita sesuaikan dengan topik diskusinya,” tambahnya.

Diskusi yang sudah digelar ke- enam kali ini Finmas mengambil topik yang berbeda-beda. “Kalau topik sebelumnya mulai dari soal Human Capital Chalenger, soal regulasi, teknologi, namun kali ini adalah soal fintech dengan tujuan ( Fintech Lending With Purpose).

Mudah mudahan dengan adanya kegiatan ini pertama bisa membuat dunia fintech lending dapat lebih maju lagi. Sedangkan yang kedua supaya reputasi Fintech di industri ini positif dan membawa hal-hal yang progresif untuk perekonomian di Indonesia.

Kegiatan ini merupakan investasi jangka panjang Finmas yang bukan saja sebagai pemain di platfoarm tapi dengan acara TechXchange ini Finmas ingin menjadi semacam platfoam untuk top leadershif.

“Kita sebagai fasilitator untuk kepentingan bersama. Kedepan di tahun 2020 fintech juga akan menghadirkan topik yang lebih menarik, dan mengundang seluruh stageholder Fintech Landing, yang isu-isunya selalu kita gali yang baru, supaya stageholders yang kita undang juga lebih.

Untyk itu agar persiapan lebih matang dan outputnya lebih sukses maka kegiatan itu akan kita lakukan setiap 2 bulan sekali,” pungkasnya.(red)

Advertisement

Business

7 Keuntungan Yang Diperoleh Pemberi Pinjaman di Cashwagon

Published

on

Finroll.com — Cashwagon memberikan 7 (tujuh) Keuntungan yang dapat diperoleh pemberi pinjaman. Ketujuh keuntungan tersebut antara lain adalah, dapat memulai dengan uji coba (trial) hanya dengan Rp 500.000 selama 10 hari. Dapat meraih bunga sampai 30% per tahun. Jangka waktu pendanaan yang bervariasi dari 10 sampai 360 hari. Interface platform yang mudah digunakan. Selain itu Cashwagon juga memberikan Permohonan pinjaman hanya dapat diperoleh oleh peminjam yang sudah dievaluasi oleh sistem teknologi berbasis A.I (Artificial Intelligence).

Penyaluran dana dari pemberi pinjaman diatur secara cermat menjadi sejumlah besar pinjaman jangka pendek. Serta semua detail, syarat dan ketentuan dibuka secara transparan, sehingga tak ada biaya dan klausul yang merugikan.

Demikian hal tersebut diungkapkan CEO PT. Kas Wagon Indonesia, Asri Anjarsari dalam acara Talk Show Cashwagon The Rich Club, di The Maj, Senayan Jakarta, Senin (20/1/2020).

Asri menjelaskan, Cashwagon (Kas Wagon) Indonesia yang diluncurkan pada November 2017, muncul sebagai platform P2P (Peer-to-Peer) inovatif, yang mengubah cara orang memperoleh dana tambahan dan mengakses cicilan jangka pendek secara online.

Platform ini membantu menghubungkan para pemberi pinjaman, yang dapat meraih keuntungan minimal Rp 500.000, dengan para peminjam yang sudah diverifikasi oleh sebuah software peniliaian berbasis Artificial Intelligence yang dimiliki Cashwagon,” jelasnya.

Selain sebagai platfotm P2P yang inovatif lanjut Asri, Cashwagon juga ingin memberikan kontribusi positif dengan memberikan edukasi tentang pendanaan kepada semua pihak dalam ekosistemnya. Salah satu contohnya adalah dengan menggelar Cashwagon The Rich Club,” lanjutnya.

Masih kata Asri, Cashwagon telah mengalami pertumbuhan yang signifikan, hanya dalam waktu dua tahun sudah lebih dari 350.000 peminjam yang telah terverifikasi.

Cashwagon memang menjadi jawaban atas tantangan literasi keuangan dan keterbatasan institusi tradisional saat ini.

Selain itu Cashwagon juga membuka akses pinjaman jangka pendek untuk masyarakat Indonesia yang sangat membutuhkan dana. Sementara di sisi lain, para pemberi pinjaman juga dapat memperoleh keuntungan signifikan dari kesepakatan tersebut.

Para pemberi pinjaman dapat meraih Presentase Bunga Tahunan (APR) hingga 25% hanya dengan mendaftar, memilih strategi pendapatan, dan menyalurkan dananya.

Cashwagon juga sudah menyiapkan tawaran spesial di ulang tahun ke-2 nya, yaitu berupa tambahan bonus bunga 5 % APR. Penawaran spesial ini juga memungkinkan para pemberi pinjaman memilih produk dengan total bunga tahunan maksimal 30% per tahun. Tawaran ini berlaku dari 20 Januari sampai 31 Januari 2020.

Untuk pendanaan dengan tenor 180 hari atau lebih, Cashwagon membuat pilihan pembayaran bunga bulanan yang menjadikan pendanaan P2P platform ini terasa klasik.

Jika pemberi pinjaman memilih pendapatan dalam jangka pendek, ia akan mendapatkan semua bunga pada saat jatuh tempo. Dan tentunya, pemberi pinjaman dapat memilih untuk menarik uang serta pendapatannya, atau mempercayakannya lagi pada Cashwagon, untuk menghasikan lebih banyak lagi.

“Kami terus mengusahakan yang terbaik untuk para pemberi pinjaman dalam mencari tambahan penghasilan, dan para peminjam yang merasa terabaikan oleh lembaga keuangan tradisional,” ucap, Asri Anjarsari.

Ia juga menambahkan seputar keberhasilan Cashwagon sampai saat ini, “Sistem penilaian berbasis teknologi A.I (Artificial Intelligence) yang kami miliki, memungkinkan kami dengan cepat menentukan kemampuan seorang peminjam dalam membayar cicilan, untuk efisiensi dan keamanan,” pungkasnya.

Continue Reading

Ekonomi Global

Inilah Negara yang ‘Tenggelam’ Dalam Utang

Published

on

FINROLL.com, Jakarta — Beban utang negara-negara di dunia mencetak rekor baru. Bahkan, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia tercatat paling tinggi sebelum tahun 2019 berakhir.

Institut Keuangan Internasional (Institute of International Finance/IIF) mengungkap utang global tersebut terdiri dari kredit rumah tangga, pemerintah dan korporat, dan meningkat US$9 triliun hingga mencapai US$253 triliun pada September 2019.

Realisasi itu membuat rasio utang terhadap PDB dunia bengkak menjadi 322 persen atau melampaui level tertingginya pada 2016 lalu.

Lebih dari separuhnya disumbang oleh negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Eropa. Rasio utang terhadap PDB AS dan Eropa tercatat mencapai 383 persen.

Sementara, negara-negara berkembang mencatat utang mereka lebih rendah, yakni US$72 triliun. Tetapi, IIF menuturkan utang negara-negara berkembang tumbuh lebih cepat dalam beberapa tahun terakhir.

China, misalnya, rasio utang terhadap PDB negara dengan ekonomi kedua terbesar di dunia mendekati 310 persen. Pertumbuhan utang China tercepat di antara negara-negara berkembang lainnya.

Laporan IIF bertajuk Global Debt Monitor melansir, tingkat utang China naik pada 2019. Padahal, pemerintah sempat mendorong perusahaan-perusahaan di China mengurangi utang mereka pada 2017-2018 lalu.

Risiko Ekonomi Global

IIF menyatakan tumpukan utang dunia menjadi ancaman nyata bagi ekonomi global. “Didorong oleh suku bunga rendah dan moneter yang longgar, kami memperkirakan total utang dunia akan melampaui UD$257 triliun pada kuartal pertama 2020,” imbuh lembaga keuangan yang didirikan oleh 38 bank di negara-negara di dunia.

Diketahui, The Fed, bank sentral AS menurunkan suku bunga acuannya sebanyak tiga kali pada tahun lalu. Begitu pula dengan bank sentral Eropa yang masih memberikan kelonggaran moneter usai krisis keuangan 2008-2009 silam.

IIF menilai risiko pembiayaan kembali dari utang-utang dunia sangat besar pada tahun ini, mengingat lebih dari US$19 triliun kredit dan surat utang akan jatuh tempo pada 2020. “Tidak mungkin semua ini akan dibiayai kembali. Tidak mungkin juga untuk dilunasi,” tulis laporan tersebut.

Masalah lain yang muncul dalam laporan tersebut adalah kebutuhan mendesak untuk membiayai program perubahan iklim. Belum lagi, program pembangunan berkelanjutan Persekutuan Bangsa-bangsa (PBB) yang diperkirakan membutuhkan investasi US$42 triliun pada 2030 mendatang.

Continue Reading

Ekonomi Global

Harga Minyak Tertahan Perlambatan Ekonomi China

Published

on

Jakarta — Harga minyak mentah dunia naik tipis pada perdagangan Jumat (17/1). Penguatan tipis ini terjadi lantaran pertumbuhan ekonomi China yang melambat.

Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent menguat 23 sen menjadi US$64,85 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 2 sen ke level 58,54 per barel.

Data pemerintah China menunjukkan ekonomi negara tersebut hanya tumbuh 6,1 persen sepanjang 2019. Realisasi tersebut terendah sejak 1990 atau 29 tahun terakhir.

Sejumlah pihak khawatir situasi ekonomi di China mempengaruhi permintaan bahan bakar dan optimisme dari penandatanganan kesepakatan dagang Amerika Serikat (AS) dengan China.

“Meningkatnya tekanan ekonomi akan membatasi kenaikan (harga) minyak dalam jangka menengah hingga jangka panjang,” kata Analis Pasar di CMC Markets Margaret Yang, dikutip Senin (20/1).

Beruntung, masih ada berita menggembirakan di tengah perlambatan ekonomi China, sehingga harga minyak tidak berakhir di zona merah. Produksi kilang minyak milik China tercatat naik pada 2019.

Jumlah produksi kilang China mencapai rekor tertinggi atau naik 7,6 persen menjadi 651,98 juta ton minyak mentah pada tahun lalu. Hasil kilang Negeri Tirai Bambu itu juga mencatat rekor tertinggi secara bulanan pada Desember 2019.

“Peningkatan kapasitas kilang China membentuk kembali aliran perdagangan produk olahan, sedangkan peningkatan produksi minyak mentah AS membentuk kembali aliran perdagangan minyak mentah,” kata Konsultan Petromatrix Oliver Jakob.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia sepanjang pekan lalu tercatat melemah. Rinciannya, harga minyak mentah berjangka Brent terkoreksi 0,2 persen dan WTI 0,8 persen.

Pada perdagangan Kamis (16/1), harga minyak mentah dunia sebenarnya sempat naik lebih dari 1 persen. Harga minyak mentah berjangka Brent menguat 1 persen menjadi US$64,62 per barel dan WTI naik 1,2 persen menjadi 58,52 per barel.

Penguatan itu dipengaruhi kemajuan kesepakatan dagang antara AS dan China, serta AS-Meksiko-Kanada. AS dan China baru saja menandatangani perjanjian damai dagang fase pertama pada Rabu (15/1) waktu setempat.

Satu hari setelah penandatanganan tersebut, Senat AS juga menyetujui perubahan perjanjian perdagangan dengan Meksiko dan Kanada. (CNN)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending