Connect with us

Makro Ekonomi

BI: Cadangan Devisa Meningkat Jadi US$126,7 Miliar

Published

on


Finroll.com, Jakarta –Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2019 sebesar US$126,7 miliar atau meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu US$124,3 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

“Angka itu juga berada di atas standar kecukupan internasional, sekitar 3 bulan impor,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (7/11).

BI menilai cadangan devisa tersebut juga mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Peningkatan cadangan devisa pada Oktober 2019, terutama dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah, penerimaan devisa migas, dan penerimaan valuta asing lainnya.

“Ke depan, BI memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik,” jelas Onny.

Advertisement

Makro Ekonomi

BTP Akan Terima Gaji Rp.3.2M Jika Jadi Bos Pertamina

Published

on

Jakarta – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dikabarkan akan duduk sebagai pejabat tinggi di pelat merah raksasa RI. Kabar paling kuat sampai saat ini, Ahok diperkirakan akan menjadi komisaris utama atau bahkan direktur utama di PT Pertamina (Persero).

Belum ada keterangan eksplisit dari Menteri BUMN Erick Thohir maupun Presiden Joko Widodo soal BUMN yang akan dikawal oleh Ahok. Namun keduanya kompak dan memastikan bahwa Ahok pasti akan ditunjuk untuk memberesi salah satu BUMN strategis.

“Kita harapkan ada perwakilan yang memang punya track record pendobrak. Untuk mempercepat dari pada hal-hal yang sesuai diarahkan, yaitu satu bagaimana menekan daripada energi juga bersama membuka lapangan kerja dengan cara berpartner.”

Soal apakah itu tanda Ahok akan ditempatkan di sektor energi, Erick menjawab, “Belum tahu, nanti kita lihat.”

Ahok dipastikan akan bergabung ke BUMN pada Desember mendatang, jika benar akan masuk Pertamina. Berikut adalah kisaran gaji dan tunjangan yang akan diterima Ahok.

Mengutip laporan keuangan Pertamina untuk kinerja 2018, dapat diintip besaran gaji yang diberikan perusahaan migas terbesar ini ke jajaran direksi dan komisarisnya.

Dalam laporan keuangan tertulis kompensasi untuk manajemen yang berupa gaji dan imbalannya mencapai US$ 47,23 juta atau setara Rp 661 miliar dengan kurs atau nilai tukar saat ini.

Namun, besaran gaji direksi dan komisaris berbeda. Untuk gaji Direktur Utama ditetapkan dengan menggunakan pedoman internal yang ditetapkan oleh Menteri BUMN selaku RUPS PT Pertamina (Persero).

Sementara, gaji anggota Direksi lainnya ditetapkan dengan komposisi Faktor Jabatan, yaitu sebesar 85% dari gaji Direktur Utama. Honorarium Komisaris Utama adalah sebesar 45% dari gaji Direktur Utama. Honorarium Wakil Komisaris Utama adalah sebesar 42,5% dari Direktur Utama. Honorarium Anggota Dewan Komisaris adalah 90% dari honorarium Komisaris Utama.

Direksi dan komisaris Pertamina juga menerima tunjangan. Untuk direksi, tunjangan yang diterima meliputi tunjangan hari raya, tunjangan perumahan, dan asuransi purna jabatan.

Sedangkan untuk Dewan Komisaris, tunjangan yang diterima meliputi tunjangan hari raya, tunjangan transportasi, dan asuransi purna jabatan.

Terdapat juga fasilitas seperti fasilitas kendaraan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas bantuan hukum untuk direksi. Sedangkan untuk dewa komisaris adalah fasilitas kesehatan dan bantuan hukum.

Adapun susunan direksi Pertamina saat ini adalah 11 orang, sementara untuk komisaris di 2018 mencapai 6 orang. Artinya jika dibagi rata ke 17 orang, masing-masing bisa mengantongi hingga Rp 38 miliar setahun atau Rp 3,2 miliar per bulan!

Sumber Berita : CNBCIndonesia.com

Continue Reading

Makro Ekonomi

Industri Halal Dunia Bakal Sentuh US$ 1,8 T

Published

on

By

Finroll.com, Jakarta — Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo bercerita potensi ekonomi halal secara global akan meningkat signifikan. Pada 2023 industri makanan halal akan mencapai US$ 1,8 triliun.

Pasalnya, lanjut Perry penduduk muslim akan meningkat di seluruh dunia. Saat ini, kata Perry terdapat 1,8 miliar penduduk muslim di seluruh dunia. Pada 2030, penduduk muslim akan bertambah 2,2 miliar.

“Oleh karena itu permintaan barang dan jasa produk halal juga akan semakin meningkat dan besar di masa mendatang. Itu potensi yang harus kita lihat dan perbesar lagi,” ujar Perry saat menjadi pembicara INHALIFE Conference di JCC, Kamis (14/11/2019).

Lebih lanjut, Perry menjelaskan bahwa penduduk muslim yang semakin banyak akan meningkatkan produk makanan, fashion, dan jasa-jasa bersertifikat halal di seluruh dunia.

Ekonomi halal secara global akan berpotensi karena memiliki nilai jual yang tinggi dan dihasilkan dari ekonomi global dan tidak hanya muslim saja, tapi semua masyarakat dengan pemeluk kepercayaannya masing-masing.

“Berdasarkan Laporan Ekonomi Islam Global 2019-2020, di akhir 2023 industri makanan halal akan bernilai US$ 1,8 triliun. Bayangkan ada berapa besar nilainya,” ucapnya.

Oleh karenanya, Perry menekankan bahwa ekonomi halal tidak hanya berpusat pada agama saja, tapi juga nilai kualitas yang tinggi dalam menghasilkan produk halal. (CNBCindonesia)

 

Continue Reading

Batam

Ekonomi Batam Bangkit, Ini Pemicunya

Published

on

By

Finroll.com, Batam — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat pertumbuhan ekonomi Batam hingga triwulan akhir 2019 mencapai 4,72 persen.

Angka tersebut naik jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 4,5 persen.

Kepala BPS Kota Batam, Rahyuddin, menyampaikan hal ini membuktikan ekonomi Batam tidak terlalu terdampak resesi ekonomi global.

“Buktinya ekonomi Batam tumbuh,” ujar Rahyuddin, Rabu (13/11/2019).

Ia memaparkan, ekonomi Batam pernah terpuruk hingga di angka 2,19 persen pada 2017. Kemudian naik di 2018 hingga dua kali lipat yakni 4,5 persen.

“Secara nasional angkanya sekarang 5,01 persen. Kami berharap ekonomi Batam pertumbuhannya di atas nasional ini,” terangnya.

Lanjut Rahyuddin, Batam pernah mencatat sejarah manis dengan pertumbuhan ekonomi di atas nasional.

Sebut saja di 2014 sebesar 7,16 persen. Namun, turun menjadi 6,87 persen di 2015, lalu turun lagi menjadi 5,43 persen pada 2016. Kemudian merosot di 2017 dengan angka 2,19 persen.

“Memang tidak naik signifikan, namun yang terjadi sudah mulai merangkak naik,” ucapnya.

Ia menyebutkan, sektor pariwisata merupakan andalan baru perekonomian. Menurutnya, sumbangsih sektor tersebut sifatnya universal.

“Ini contohnya, kalau satu orang datang bawa uang ke Batam kan makan, minum, belanja juga bisa jadi uang untuk hiburan. Sektor transportasi juga dapat,” papar Rahyuddin.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam, Ardiwinata, mengaku pariwisata merupakan sektor andalan baru untuk mengerek naik pertumbuhan ekonomi nasional, tak terkecuali Batam.

Untuk itu, ke depan sektor pariwisata akan terus dikembangkan dengan meningkatkan desnitasi dan event.

“Tahun ini kita ada yang baru seperti Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah. Kami optimis wisata kita akan terus meningkat,” katanya.

Sumber Berita : BatamPost.co.id

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending