Connect with us

News

BNPB Sebut 40,9 Juta Warga Indonesia Tinggal di Daerah Rawan Longsor

Published

on


BNPB Menyebut 40,9 Juta Jiwa Warga Indonesia Tinggal di Daerah Rawan Longsor

Finroll.com – akhir-akhir ini Indonesia sedang diuji dengan datangnya musibah bencana alam yang silih berganti. Mulai dari Gempa, Tsunami, erupsi Gunung, angin puting beliung, hingga tanah longsor kerap kali terjadi di Indonesia.

Belum Lama terjadi Tsunami di selat sunda yang melanda daerah banten dan lampung, Indonesia kembali mendapat musibah bencanaTanah longsor di Sukabumi yang menyebabkan belasan orang meninggal dunia.

Tanah lonngsor adalah salah satu bencana yang sering terjadi di Indonesia, terutama di daerah perbukitan dan pegunungan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut 40,9 juta jiwa rakyat Indonesia tinggal di daerah rawan tanah longsor.

Kepala BNPB Sutopo purwo Nugroho menjelaskan dalam jumpa pers-nya, Rabu 2 Januari 2019,”daerah rawan bencana di Indonesia tersebar merata di seluruh Indonesia, terutama di dataran tinggi, perbukitan dan pegunungan.

“Total penduduk yang tinggal di daerah bahaya sedang sampai tinggi ini ada 40,9 juta jiwa. Tidak mungkin 40,9 juta jiwa kita pindahkan, kita relokasi, mereka sudah telanjur ada di situ,” Kata Sutopo.

Sutopo berharap di waktu depan tak semakin banyak warga yang tinggal di daerah rawan bencana. Dia menyebutkan daerah rawan bencana di Sumatera ada di sepanjang Bukit Barisan, dari Aceh sampai Lampung.

“Kemudian di Jawa, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Sulawesi adalah kebanyakan daerahnya rawan longsor. Ada juga Kalimantan, terutama di bagian Kalimantan sebelah utara,” tuturnya.

Dia mengatakan sudah ada peta perkiraan longsor yang bisa diakses masyarakat. Wilayah yang terdeteksi paling berpotensi terjadinya longsor ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten.

Namun, kata Sutopo, masyarakat masih minim mengakses peta potensi longsor ini. Diharapkan pemerintah daerah memperhatikan peta ini untuk meminimalkan timbulnya korban jika longsor terjadi mengingat wilayah Indonesia saat ini memasuki musim hujan.

“Kalau kita melihat peta ini, untuk Jawa Barat ancaman selama Januari 2019, daerah yang berpotensi longsor, mulai kabupaten Bogor, Purwakarta, Tasikmalaya, Bandung, Bandung Selatan, Bandung Barat, Sumedang, sampai Cianjur dan sebagainya,” sebutnya.

“Jawa Tengah juga sama, selama Januari 2019, potensi longsor ada di bagian tengah, mulai Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Tegal, Semarang, dan sebagainya,” sambungnya.

Menurutnya, jika pemda tidak melakukan pengaturan, ada potensi warga yang tinggal di daerah rawan longsor tersebut bertambah. Sutopo mengatakan longsor sulit diprediksi, sehingga mitigasi bencana yang paling efektif dilakukan adalah melakukan tata ruang wilayah.

“Meskipun dipasangi sistem dini rawan longsor, tapi nggak longsor-longsor, kasus di Banjarnegara juga sama, beberapa kali sudah bunyi sirene, masyarakat mengungsi, nggak jadi longsor. Terus balik lagi, begitu lagi, lama-lama jengkel, nggak percaya dengan alat itu. Akhirnya alat itu dipotong kabelnya, cuma bikin deg-degan saja, itu yang terjadi,” bebernya.

Dia mengatakan ada baiknya daerah rawan longsor tersebut ditanami pohon produktif yang memiliki akar panjang dan sifatnya mengikat, seperti sukun dan durian. Penanaman ini merupakan upaya sistem bio-engineering. Selain mengurangi risiko munculnya korban, didapatkan manfaat dari segi ekonomi.

“Bio-engineering ini memperkuat lereng dengan tanaman-tanaman, vegetasi-vegetasi yang satu memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan memberikan kesejahteraan pada masyarakat. Fungsinya juga bisa menahan longsor,” ujar dia.

Berikut delapan rekomendasi BNPB menangani daerah rawan longsor:

1. Implementasi penataan ruang dan pemanfaatan ruang merupakan kunci untuk mengurangi risiko bencana longsor.

2. Pengurangan risiko bencana harus menjadi pengarusutamaan dalam pembangunan nasional.

3. Perlu ditingkatkan budaya sadar bencana, baik yang bersifat struktural maupun nonstruktural.

4. Peringatan dini longsor, sosialisasi, penegakan hukum dan lainnya harus ditingkatkan.

5. Permukiman perlu ditempatkan pada daerah yang lebih aman dengan sistem klaster di berbagai lokasi. Pemilihan lokasi mempertimbangkan analisis risiko bencana dan tata ruang detail.

6. Konservasi berbasis biogeo-engineering. Pada lembah-lembah perbukitan perlu ditanami dengan pepohonan jenis kayu yang memiliki perakaran dalam yang berfungsi sebagai penahan longsor. Buffer zone antara kawasan perlindungan (kelerengan tinggi) dengan kawasan budi daya di bagian bawahnya dibuat dengan tanaman pohon yang kuat, ditanam rapat dan membentuk sabuk hijau yang tebal/berlapis. Jenis vegetasi yang perlu ditanam pada daerah-daerah lembah adalah jenis tanaman lokal yang sudah nyata terbukti tumbuh dengan baik di daerah tersebut. Beberapa jenis pohon yang dapat ditanam adalah: jenis pohon puspa (Schima walichii), rasmala (Altingia excelsa), huru (Litsia chinensis), surian (Toona sureni merr), bambu manggong (Gigantochloa manggang), kayu baros (Manglietia glauca bl), dan sukun.

7. Lahan dengan kelerengan lebih dari 40 derajat dipertahankan sebagai kawasan lindung berupa ekosistem hutan alam dengan kerapatan pohon yang tinggi. Satu hektare lahan ditanami 400 pohon.

8. Perlu dibangun sistem peringatan dini longsor berbasis kondisi geologi dengan aspek dinamis curah hujan.

(source: berbagai sumber)

News

Polri Akan Serahkan Buron Djoko Tjandra ke Kejagung Malam Ini

Published

on

By

Buronan kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Finroll.com, Jakarta – Bareskrim Mabes Polri akan mengeksekusi buron kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali, Djoko Tjandra ke Kejaksaan Agung pada Jumat (31/7) malam ini.

“Iya, malam ini [Polri akan eksekusi penyerahan Djoko Tjandra ke Kejaksaan],” kata Karopennas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Awi Setiono saat dikonfirmasi, Jumat (27/7).

Proses eksekusi Djoko Tjandra akan dilakukan tepat satu hari usai ditangkap polisi dan berada di Indonesia sejak Kamis (30/7) malam.

Perjalanan Djoko Tjandra sehingga bisa ditangkap oleh kepolisian berjalan panjang. Djoko sendiri menjadi buron polisi sekitar 11 tahun usai berhasil kabur dari jerat hukum pada 2009.

Djoko Tjandra divonis bebas karena perbuatannya dalam kasus Bank Bali bukan tindak pidana melainkan perdata pada 2000 silam. Meski demikian, Delapan tahun usai vonis bebas, Kejaksaan Agung mengajukan PK atas putusan bebas Djoko Tjandra ke Mahkamah Agung (MA) pada 2008 lalu.

MA lantas menerima PK yang diajukan oleh jaksa. Majelis hakim menyatakan Djoko dinyatakan bersalah dan menjatuhkan hukuman 2 tahun penjara. Selain itu, uang miliknya di Bank Bali sebesar Rp546,1 miliar dirampas untuk negara.

Akan tetapi, sehari sebelum vonis tersebut, Djoko Tjandra melarikan diri. Sejumlah pihak menduga Djoko Tjandra bersembunyi di Papua Nugini. Ia lantas masuk dalam pencarian orang (DPO) alias buron.

Setelah belasan tahun dalam pelarian, Djoko Tjandra menghebohkan publik. Dia diketahui berada di Jakarta pada bulan Juni 2020 lalu. Jaksa Agung ST Burhanuddin menyebut Djoko Tjandra datang ke PN Jakarta Selatan untuk mendaftarkan PK pada 8 Juni lalu.

Sebelum mendaftarkan PK, Djoko Tjandra sempat membuat e-KTP di Kelurahan Grogol Selatan, Jakarta Selatan. Meskipun demikian, keberadaan Djoko Tjandra kembali tak terdeteksi.

Koordinator MAKI Boyamin Saiman sempat mengungkapkan keberadaan surat jalan Polri untuk Djoko Tjandra. Dalam surat itu terungkap Djoko Tjandra melakukan perjalanan dari Jakarta ke Pontianak, Kalimantan Barat.

Alhasil, kepolisian menangkap Djoko Tjandra di Malaysia pada Kamis (31/7). Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit mengatakan ada kerja sama antara Polri dengan Kepolisian Malaysia sehingga Djoko berhasil ditangkap.

Kapolri Jendral Idham Aziz menjanjikan proses hukum terhadap Djoko Tjandra akan dilakukan secara transparan dan tak akan ditutupi kepada publik.

Ia memandang upaya tersebut merupakan komitmen kepolisian untuk selalu transparan dan objektif untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

“Proses hukum Djoko Tjandra akan terus dikawal. Terbuka dan transparan serta tidak akan ditutup-tutupi,” kata Idham.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

News

WHO Sebut Anak Muda Juga Berisiko Terinfeksi Virus Corona

Published

on

By

Kehidupan anak muda di Swiss di tengah pandemi Covid-19. (Foto: AP Photo/Andres Kudacki)

Finroll.com, Jakarta – 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa lonjakan penularan virus corona di sejumlah negara didorong oleh anak muda yang mulai bosan menjalani penguncian wilayah (lockdown).

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan sikap acuh anak muda justru membuat penularan virus corona semakin mudah. Selain orang tua, anak mudah sebenarnya juga berisiko terinfeksi Covid-19.

“Meskipun orang tua berisiki lebih tinggi terkena penyakit parah, orang yang lebih muda juga berisiko. Salah satu tantangan yang kami hadapi adalah meyakinkan anak muda tentang risiko ini (tertular virus corona),” ujar Tedros dalam pengarahan media di Jenewa, Swiss, Kamis (30/7) seperti mengutip AFP.

Ia mengatakan ucapannya itu mengacu pada fakta bahwa di beberapa negara lonjakan kasus dipicu oleh sikap acuh anak muda terhadap penularan virus di tempat publik.

Menurutnya, di beberapa negara anak muda mulai bepergian ke tempat publik untuk menghabiskan liburan musim panas dan mengacuhkan protokol kesehatan.

“Kami telah mengatakan sebelumnya dan kami akan mengatakannya lagi: anak muda juga tidak bisa luput dari virus. Anak muda juga bisa terinfeksi, bisa mati, dan bisa menularkan virus kepada orang lain,” ucapnya.

Pimpinan teknis WHO untuk Covid-19, Maria Van Kerkhove menegaskan bahwa anak muda harus melakukan pencegahan dan menghalau risiko dari diri sendiri.

Ia secara khusus menyesalkan pembukaan kembali klab malam di sejumlah negara yang justru memicu kemunculan klaster baru virus corona.

“Apa yang kita ketahui tentang anak muda adalah bahwa mereka dapat terinfeksi, dapat menularkan virus kepada orang lain, mayoritas anak muda yang terinfeksi cenderung memiliki gejala lebih ringan, tetapi itu tidak selalu konsisten,” ujar Kerkhove.

“Kami tahun kalau anak muda juga bisa mengidap penyakit yang lebih parah. Kami tahu bahwa anak muda dapat berakhir di ICU dan kami juga tahu bahwa anak muda bisa mati,” katanya menambahkan.

Kerkhove mengatakan tim WHO saat ini telah belajar lebih banyak tentang efek jangka panjang Covid-19, bahkan pada kelompok usia yang memiliki gejala ringan

Data statistik John Hopkins University mencatat hingga kini ada 17.116.702 kasus virus corona di seluruh dunia. Angka kematian akibat Covid-19 mencapai 668.949 jiwa.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Nasional

Update Corona 31 Juli: 108.376 Positif, 65.907 Orang Sembuh

Published

on

By

Finroll.com, Jakarta – Jumlah kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia secara kumulatif per Jumat (31/7) mencapai 108.376 kasus. Data tersebut diakses melalui situs covid19.go.id hingga pukul 15.00 WIB.

Dari jumlah kasus positif tersebut terdapat total 65.907 pasien dinyatakan sembuh dan sebanyak 5.131 orang meninggal dunia.

Jumlah tersebut diketahui bertambah dari laporan sehari sebelumnya. Pada Kamis (30/7), kasus positif tercatat sebanyak 106.336 kasus, dan 64.292 orang dinyatakan sembuh. Sementara 5.058 meninggal dunia.

Lonjakan kasus diketahui masih cukup dominan di DKI Jakarta. Lonjakan kasus tersebut diketahui membuat Gubernur DKI Jakarta memperpanjang masa PSBB Transisi.

“Kita memutuskan untuk kembali memperpanjang PSBB masa transisi di fase pertama untuk ketiga kalinya sampai dengan 13 Agustus 2020,” kata Anies di Balai Kota DKI, Kamis (30/7).

Anies mengatakan masyarakat harus tetap mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 selama masa perpanjangan PSBB transisi. Pihaknya akan menindak masyarakat yang tak mematuhi protokol kesehatan.

Selain DKI Jakarta, daerah yang mendominasi penambahan kasus virus corona juga terjadi di Jawa Timur hingga Sulawesi Selatan.

Sementara itu, pemerintah juga berharap masyarakat yang tengah melaksanakan rangkaian kegiatan Iduladha, salah satunya penyembelihan hewan kurban, untuk tetap dapat disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Wakil Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zaitun Rasmin mengimbau agar masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan mudik liburan Iduladha. Ia menilai kondisi penularan virus corona (Covid-19) masih sangat membahayakan.

“Memang seharusnya tetap tak ada kegiatan mudik, karena masih tinggi penyebarannya,” mata Zaitun kepada CNNIndonesia.com, Kamis (30/7).

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending