Connect with us

Nasional

Bus Listrik Transjakarta Uji Angkut Penumpang Mulai Besok

Published

on


Bus Listrik Transjakarta merek BYD. (Dok. Bakrie Autoparts)

Finroll.com, Jakarta – Pemegang merek BYD asal China, Bakrie Autoparts, bakal melakukan uji coba bus listrik untuk Transjakarta pada Rabu (1/7). Uji coba yang melibatkan dua unit bus listrik ini berbeda dari sebelumnya sebab dilakukan secara komersial.

“Uji cobanya dimulai besok. Di rute GR1 [nanti diubah jadi jalur EV1] Blok M – Balai Kota. Hari ini masih dilakukan tes jalur,” kata Presiden Direktur dan CEO Bakrie Autoparts Dino A Ryandi melalui pesan singkat, Selasa (30/6).

Dino menjelaskan uji coba ini akan melengkapi pengujian yang sudah dilakukan pada tahun lalu secara terbatas. Pada tahun lalu bus listrik BYD untuk Transjakarta belum mendapatkan STNK, memakai pelat nomor putih (uji coba), dan belum lolos uji KIR yang membuat pengujian hanya bisa dilakukan tanpa mengangkut penumpang.

Selama pengujian pada tahun lalu bus listrik BYD mengangkut kemasan air galon untuk menggantikan penumpang.

“Kalau kemarin-kemarin baru pre trial karena definisi trial resmi itu bus harus lolos semua proses homologasi, punya STNK dan pelat nomor, dan lolos KIR. Bus kami adalah bus elektrik pertama di Indonesia yang memenuhi semua persyaratan itu,” kata dia.

Pengujian pada besok dilakukan sambil mengangkut penumpang umum. Bus listrik disebut sudah dilengkapi alat tapping pembayaran Transjakarta.

Uji coba juga dikatakan akan melibatkan Transjakarta, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI, dan konsultan independen.

“Karena uji resmi ini harus bisa dilakukan secara komersial, mengangkut penumpang berbayar,” kata Dino.

Dino memaparkan pengujian bakal memakan waktu hingga tiga bulan, setelah itu hasilnya akan digunakan untuk menetapkan tarif, baru kemudian diverifikasi Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan Layanan Pelayanan Secara Elektrinik (LPSE).

“Jadi setelah trial tidak langsung digunakan operasional sama TJ. Hasil trial ini akan dipakai untuk penetapan tarif. Tarif Rp per km ini akan diverifikasi lagi oleh LKPP/LPSE,” katanya.(cnnindonesia.com)

Nasional

Sumsel Akui Telusur Tak Ideal, Jateng Duga Data Rancu

Published

on

Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan mengakui kurang dalam melakukan telusur alias tracing terkait peningkatan kasus Covid-19, termasuk kasus kematiannya. Sementara, Pemprov Jawa Tengah berdalih ada kerancuan data soal kenaikan kasus.

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, zona merah di Sumsel bertambah menjadi tiga daerah per Selasa (4/5). Yakni, Kota Prabumulih, Palembang, dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.

Seiring dengan itu, persentase angka kematian akibat Covid-19 di Sumsel pun tembus tiga besar se-Indonesia dengan 4,93 persen, atau 1.033 jiwa meninggal akibat Covid-19 dari total kasus kumulatif 20.494 orang.Kepala Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan angka kematian Sumsel berada di bawah Jawa Timur yang mencapai 7,24 persen dan Lampung dengan 5,04 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Lesty Nuraini mengakui ada peningkatan tingkat hunian di rumah sakit atau bed occupancy ratio (BOR) di Sumsel, dari 30 persen menjadi 57 persen dalam waktu dua pekan.

Yakni, sebelum Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) 6 April, hingga pertengahan April. Ia meyakini itu akibat mobilitas masyarakat yang meningkat pada bulan Ramadan.

“Dalam waktu dekat pemprov pun akan kembali mengaktifkan kembali Wisma Atlet Jakabaring apabila BOR ini terus bertambah agar tidak menyebabkan penuhnya pelayanan kesehatan bagi kasus positif disertai gejala,” ungkap Lesty, Rabu (5/5).

Selain itu, pihaknya pun mengakui bahwa jumlah telusur di Sumsel ini masih jauh dari ideal. Idealnya, dalam satu kasus konfirmasi 100 orang kontak terdekat yang harus dilakukan testing.

Saat ini Sumsel sudah mampu melakukan tracing dan testing kepada 30 kontak terdekat dari satu kasus konfirmasi positif. Prakteknya, pengetesan rata-rata paling banyak dilakukan pada 2-3 orang per satu orang terkonfirmasi positif.

“Ini tidak ideal karena banyak hal yang dihadapi. Jumlah testing ini lebih rendah dibandingkan seharusnya,” ungkap Lesty.

Terpisah, Epidemiolog Universitas Sriwijaya Iche Andriyani meminta Pemprov memaksimalkan kemampuan dalam tes dan telusur.

Tracing di daerah dijelaskan Kepala Dinkes tadi paling banyak hanya 2-3 orang dari satu orang kasus positif. Itu penyebabnya lebih ke pedoman revisi lima, kontak erat itu yang tidak bergejala tidak dites,” ujar dia.

“Padahal di revisi lima itu jelas, dikembalikan ke kemampuan daerah masing-masing. Nah kalau Sumsel mampu 30 orang testing untuk satu konfirmasi positif kenapa tidak,” imbuhnya.

Sementara itu, Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Prasetyo Aribowo mengklaim salah satu penyebab tingginya angka kematian warga di wilayahnya lantaran integrasi data pemerintah pusat dan daerah yang masih rancu.

Ia menduga pemerintah pusat terlambat dalam memasukkan data kematian Covid-19 Jawa Tengah dalam aplikasi New All Record (NAR) milik Kementerian Kesehatan.

“Kasus kematian Jateng kita trennya menurun, tapi masih tinggi kami akui masih sekitar 6 persen, dan kami sebagian karena komorbid. Dan juga karena rilis data yang tertunda. Kami di corona Jateng sudah merilis, tapi kelihatannya pusat yang belum merilisnya di NAR,” kata Prasetyo dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, Rabu (5/5).

Data Satgas Penanganan Covid-19 mencatat dalam periode 29 April-5 Mei 2021, Jawa Tengah menyumbang sebanyak 305 kasus kematian akibat covid-19. Jawa Tengah juga dalam beberapa pekan terakhir kerap berada di tiga provinsi teratas penyumbang kematian covid-19 di Indonesia.

Namun demikian, Prasetyo menyebut saat ini kondisi pandemi covid-19 di Jawa Tengah terpantau masih dalam keadaan aman. Sebab, kapasitas keterisian atau BOR masih di bawah 50 persen, baik perawatan isolasi inap covid-19 maupun Intensive Care Unit (ICU).

“BOR kita di ICU 38 persen, isolasi 35 persen. Saya kira sudah sangat baik kesiapan infrastruktur kesehatan di Jawa Tengah,” kata dia.

sumber :cnnindonesia.com

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Nekat Terobos Penyekatan, Pemudik Bisa Dijerat Sanksi Pidana

Published

on

Masyarakat yang nekat menerobos penyekatan dan tak mematuhi petugas di masa larangan mudik lebaran 2021 disebut bisa dijerat pidana. Namun, polisi mengaku mengedepankan upaya persuasi ketimbang sanksi.

Kapolda Banten Irjen Pol Rudy Heriyanto berharap penerapan sanksi pidana itu tidak sampai terjadi dan menginginkan masyarakat patuh demi menekan penyebaran Covid-19.

“Sebetulnya ada pasal pidana yang bisa diterapkan, kalau yang bersangkutan (pemudik) melawan petugas, seperti pasal 212, 214, dan pasal 216 KUHP, ada ancaman pidananya,” kata dia, di Pelabuhan Merak, Kamis (6/5).

“Harapan kami tidak menerapkan pasal tersebut. Yang penting bagi kami kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan mudik demi sama-sama mencegah penyebaran Covid-19,” lanjutnya.

Sejauh ini, harapan tersebut masih sesuai. Dalam pengecekan pos penyekatan di Gerbang Tol (GT) Merak, Gerem Bawah, dan di depan Pelabuhan Merak, Rudy mendapati jalanan sepi.

“Sudah berjalan dengan baik, penyekatan sudah dilakukan mulai pukul 00.00 WIB, 6 Mei 2021. Tadi saya amati, monitor, warga sudah sadar ya. Tadi pengendara sudah sepi, kendaraan pribadi tidak begitu banyak,” terangnya.

Terpisah, Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta mengaku akan menindak tegas masyarakat yang tetap bandel mudik meski tetap mengedepankan pendekatan lunak.

“Tentunya tetap memprioritaskan langkah-langkah preemtif dan preventif secara humanis, sehingga masyarakat betul-betul mematuhi protokol kesehatan,” ucapnya, Rabu (5/5).

Kebijakan ini diambil, kata Nico, sebab pemerintah mengantisipasi kembali meningkatnya kasua Covid-19, berkaca pengalaman kenaikan kasus usai libur panjang tahun sebelumnya.

Selain itu, berdasarkan survei kementerian perhubungan, jika larangan mudik ditiadakan, akan terjadi pergerakan 81 juta orang yang melakukan perjalanan. Ia juga menyebut masih terdapat 7 persen atau 17,5 juta orang yang diduga akan melaksanakan mudik.

Polda Jawa Timur sendiri menerjunkan 15.212 personel gabungan untuk menghalau pergerakan masyarakat, saat  larangan Mudik Lebaran 2021 resmi berlaku, 6-17 Mei 2021.

Rinciannya 1.065 dari Polda Jatim, 9. 381 dari Polres jajaran, 1.420 dari TNI, serta instansi terkait seperti Satpol PP, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Pramuka hingga Jasa Raharja sebanyak 3.346 orang.

“Ribuan personel akan di-plotting di sembilan titik perbatasan provinsi, 20 titik kabupaten/kota, dan 45 pintu tol di Jatim pada 6-17 Mei 2021,” kata Nico.

sumber : cnnindonesia.com

Continue Reading

Nasional

PT Delta Disebut Belum Sanggup Buyback Saham Bir Pemprov DKI

Published

on

Komisi B DPRD DKI Jakarta menyebut jajaran direksi PT. Delta Djakarta Tbk belum mampu membeli 26,25 persen saham milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di perusahaan yang memproduksi minuman beralkohol tersebut.

Hal itu disampaikan anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Nasdem Hasan Basri usai berkunjung ke kantor PT. Delta di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/5).

“Tadi kita cecar mereka, mereka sanggup enggak kalau kita buyback sahamnya Pemprov? Mereka bilang belum,” kata dia, kepada wartawan usai kunjungan.

Kepada Komisi B, kata Hasan, direksi PT. Delta mengaku akan terlebih dahulu berkoordinasi dengan pemilik saham mayoritas di Filipina.

Hasan menduga itu terkait aset perusahaan yang hanya Rp1,2 triliun yang dinilainya relatif kecil untuk perusahaan yang berdiri di atas lahan seluas 16 hektare.

“Menurut saya mereka belum sanggup untuk buyback itu karena saya lihat situasi tadi ketika kita tanya juga aset perusahaan ini berapa, Rp1,2 triliun,” katanya.

Komisi B mengaku belum menentukan sikap soal wacana Pemprov DKI melepas saham di PT Delta. Pihaknya masih akan menggelar rapat terbatas untuk membahas hal itu.

Kendati demikian, ia menilai keputusan Pemprov DKI menahan saham bir di PT Delta lebih menguntungkan.

“Tetapi menurut pribadi saya kalau diambil uang, misal kita terima Rp1 triliun dibandingkan uang, yang ditanam di sini kita tidur saja tiap tahun kita terima 100 miliar. Itu jauh lebih baik daripada kita terima Rp1 triliun tapi setelah itu enggak tahu uangnya ke mana,” jelas Hasan.

Sementara itu, Direktur Pemasaran PT Delta Ronny Titiheruw menyebut rencana pelepasan saham merupakan hak prerogatif Pemprov DKI. Pihaknya hingga kini belum berkomunikasi resmi dengan Pemprov terkait rencana tersebut.

“Selaku pemegang saham belum bisa comment. Sampai sejauh ini kita belum menerima komunikasi resmi dari Pemprov DKI Jakarta mengenai wacana pelepasan saham ini,” katanya.

Pemprov DKI sebelumnya berencana untuk melepas saham bir di Delta. Namun, itu belum terealisasi lantaran belum disetujui oleh DPRD. Dari sembilan fraksi, hanya lima fraksi yang mendukung, yakni PKS, PAN, Gerindra, Golkar, dan PKB-PPP.

Diketahui, saham Pemprov DKI di perusahaan bir itu mencapai 26,25 persen. Saham mayoritas dipegang oleh San Miguel Malaysia dengan porsi 58,33 persen.

Gubernur DKI Anies Baswedan pun sempat didorong oleh partai pendukung untuk menggunakan diskresinya menjual saham di luar jalur DPRD. Namun, Wagub DKI Riza Patria mengaku pihaknya tidak akan memakai kewenangan tersebut.

sumber :cnnindonesia.com

Continue Reading

Trending