Connect with us

International

Bus Masuk Danau China, 21 Orang Tewas

Published

on


Sedikitnya 21 orang tewas usai bus yang mereka tumpangi masuk ke danau di Kota Anshun, Provinsi Guizhou, China (Andhika Akbarayansyah)

Finroll.com, Jakarta – Sedikitnya 21 orang tewas usai bus yang mereka tumpangi masuk ke danau di Kota Anshun, Provinsi Guizhou, China, Selasa (7/7) waktu setempat.

Bus tersebut membawa siswa yang hendak mengikuti ujian masuk perguruan tinggi atau gaokao.

Seperti dikutip dari AFP, bus itu menabrak pagar pembatas lalu tercebur ke Danau Hongshan. Departemen Penanggulangan Keadaan Darurat mengatakan selain 21 korban tewas, 15 lainnya mengalami luka-luka.

Rekaman kamera yang dibagikan di media sosial oleh stasiun TV nasional CCTV menunjukkan bus membelok dan memotong lima jalur sebelum akhirnya menerobos pembatas yang berada di arah berlawanan.

Foto-foto dari tempat kejadian menunjukkan petugas tengah melakukan upaya penyelamatan para korban. Bus akhirnya dievakuasi dari danau beberapa jam setelah kejadian.

Departemen Penanggulangan Keadaan Darurat Guizhou mengatakan ratusan orang dikerahkan ke lokasi untuk membantu upaya penyelamatan, termasuk 55 penyelam profesional.

Sejumlah netizen menyampaikan belasungkawa lewat platform microblogging China, Weibo. “Saya berharap korban tewas tidak akan bertambah. 2020 benar-benar penuh dengan bencana dan kejadian,” tulis seorang pengguna.

Seluruh korban luka dalam kecelakaan itu telah dilarikan ke rumah sakit. Pihak berwenang setempat berjanji melakukan penyelidikan atas penyebab kecelakaan tersebut.

Sumber : CNN Indonesia

International

Trump Usul Tunda Pemilu karena Corona

Published

on

By

Presiden Donald Trump mengusulkan untuk menunda pemilihan umum presiden AS dengan dalih keamanan warga di tengah pandemi Covid-19. (AP/Alex Brandon)

Finroll.com, Jakarta – Presiden Donald Trump mengusulkan untuk menunda pemilihan umum presiden Amerika Serikat yang seharusnya digelar pada 3 November mendatang dengan dalih keamanan di tengah pandemi Covid-19.

“Tunda pemilu hingga semua orang dapat memilih secara layak dan aman???” kata Trump melalui kicauan di Twitter, Kamis (30/7).

Trump melontarkan usulan ini ketika berbagai pihak mulai membicarakan kemungkinan menggelar pemilu dengan sistem mail-in.

Dengan sistem ini, warga akan menerima kertas suara yang dikirimkan ke tempat tinggal masing-masing. Mereka kemudian mengisi surat suara tersebut dan mengirimkannya kembali ke pihak berwenang.

Menurut Trump, sistem tersebut berisiko membuat penghimpunan dan penghitungan suara dalam pemilu tidak akurat.

“Dengan pemilihan mail-in, 2020 akan menjadi pemilu paling tidak akurat dan curang sepanjang sejarah. Akan sangat memalukan bagi AS,” tulis Trump.

Gagasan Trump ini langsung menuai kecaman karena secara tradisi, AS selalu menggelar pemilu pada hari Selasa pertama setelah 1 November, yang pada tahun ini jatuh di tanggal 3 November.

Trump dikecam karena secara hukum, presiden AS tak dapat mengubah waktu pemilu. Dalam konferensi pers setelah kicauan tersebut, Trump lantas membela diri.

“Apakah saya ingin mengubah tanggalnya? Tidak. Namun, saya tidak mau melihat pemilu yang cacat. Pemilu ini akan menjadi yang paling curang sepanjang sejarah jika terjadi,” ucap Trump seperti dikutip AFP.

Meski Trump mengatasnamakan keselamatan warga AS, para lawan politik menganggap sang presiden mengutarakan gagasan tersebut karena popularitasnya saat ini kian turun.

Trump sendiri menuliskan kicauan di Twitter hanya berselang beberapa menit setelah data kuartal kedua 2020 menunjukkan ekonomi AS turun 32,9 persen.

Rival Trump menganggap kemerosotan ekonomi ini, ditambah dengan berbagai masalah lain, termasuk pengangguran massal dan ketidakmampuan manajemen krisis di tengah pandemi, membuat popularitas sang presiden terus turun.

Menurut mereka, penurunan popularitas inilah yang membuat Trump ingin menunda pemilu. Ia ingin meningkatkan kembali popularitasnya terlebih dulu.

“Ancaman Trump tak lebih dari sekadar upaya putus asa untuk mengalihkan perhatian. Trump bisa berkicau apa pun, tapi kenyataannya adalah dia tidak bisa menunda pemilu, dan pada November nanti, para pemilih akan membuat dia mempertanggungjawabkannya,” demikian pernyataan Komite Nasional Partai Demokrat.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

International

Deretan Negara yang Kembali Lockdown karena Lonjakan Corona

Published

on

By

Ilustrasi tenaga medis yang menangani virus corona. (AP/Rafiq Maqbool)

Finroll.com, Jakarta – Pandemi virus corona masih menjadi ancaman dunia meski tren penularan virus serupa SARS itu beranjak menurun di beberapa negara dan kawasan.

Banyak negara telah mulai melonggarkan kebijakan pembatasan pergerakan dan kembali membuka kegiatan perekonomian serta bisnis secara bertahap setelah tren penularan Covid-19 menurun.

Namun, beberapa negara justru harus kembali “menutup diri” dan menerapkan penguncian wilayah atau lockdown setelah kembali menemukan lonjakan penularan baru corona.

Berikut daftar negara yang kembali menerapkan lockdown dan serangkaian kebijakan pembatasan pergerakan akibat dihantui ancaman gelombang kedua corona.

China

Usai menerapkan lockdown nasional selama tiga bulan akibat Covid-19, pemerintah China kembali membuka kegiatan perekonomian dan bisnis, seperti sejumlah tempat wisata ikonik, hingga sekolah secara bertahap pada Mei lalu.

Tak lama, pejabat kesehatan readyviewed China mendeteksi lonjakan kasus corona baru yang ditemukan di Ibu Kota Beijing pada awal Juni lalu.

China lantas memutuskan menerapkan lockdown di sebagian wilayah Beijing setelah ratusan virus corona baru terdeteksi kembali muncul di area pasar tradisional ibu kota.

Lonjakan kasus baru itu berasal dari pasar grosir Xinfadi. Klaster di pasar itu terjadi setelah tiga pedagang dan dua pengunjung pasar dinyatakan positif corona.

Awal pekan ini, pihak berwenang China juga kembali melaporkan lonjakan kasus virus corona baru yakni 61 infeksi. Komisi Kesehatan Nasional mencatat sebanyak 57 kasus penularan lokal dan 4 imported case.

Ini merupakan penghitungan harian tertinggi kasus baru sejak 14 April, ketika negara itu mencatat 89 infeksi dalam sehari.

sebagian besar kasus penularan lokal ditemukan di Xinjiang yang merupakan tempat tinggal etnis minoritas Muslim Uighur. Penyebaran terjadi di ibu kota Xianjiang, Urumqi dan telah meluas hingga ke kota tetangga.

Selain di wilayah itu, sebanyak 14 kasus juga dicatat di Kota Dalian, Provinsi Liaoning. Kemudian dua kasus lokal ditemukan di Provinsi Jilin yang berada dekat perbatasan Korea Utara.

Berdasarkan statistik Worldometer per Rabu (29/7), China tercatat memiliki 84.060 kasus Covid-19 dengan 4.634 kematian.

Australia

Serupa dengan China, Australia memutuskan mengisolasi negara bagian Victoria setelah menemukan lonjakan kasus corona baru hingga mencapai tiga digit infeksi per hari pada awal Juli lalu.

Dalam dua pekan sejak diberlakukan lockdown, Victoria beberapa kali juga mencatat rekor kasus harian sebanyak 217, 363, dan 275.

Australia juga menerapkan lockdown terhadap Ibu Kota Victoria, Melbourne, selama enam pekan demi mengendalikan virus corona yang melonjak lagi di wilayah tersebut.

Pemerintahan Perdana Menteri Scott Morisson bahkan mengerahkan personel militer dan polisi untuk menjaga perbatasan negara bagian Victoria dan memastikan warga tetap tinggal di rumah selama masa isolasi.

Australia bahkan melaporkan rekor infeksi corona baru sebanyak 502 kasus dalam sehari pada Rabu (22/7). Sebanyak 484 kasus dari total 502 infeksi corona baru itu terdapat di Victoria.

Dengan begitu saat in ada lebih dari 3.408 kasus corona aktif dan 44 kematian di Victoria.

Berdasarkan statistik Worldometer per hari ini, Australia tercatat memiliki 15.580 kasus corona dengan 176 kematian.

Spanyol

Spanyol kembali memberlakukan lockdown di wilayah Catalonia setelah kasus penularan corona baru kembali melonjak di daerah tersebut sejak pertengahan Juli lalu.

Pemerintah wilayah Catalonia mengatakan kepada sekitar 140 ribu penduduknya terutama di dan sekitar kota Lerida di timur laut untuk kembali melakukan isolasi dan hanya boleh meninggalkan rumah untuk bekerja atau melakukan aktivitas penting saja.

Seminggu sebelumnya, pemerintah Catalan telah membatasi warga untuk bepergian dari dan ke negara bagian El Segria. Sebab, wilayah dengan populasi 210 ribu itu telah mengalami penambahan penularan Covid-19.

Otoritas kesehatan Catalan juga terus memantau wabah di Hospitalet, sebuah kota padat penduduk di wilayah metropolitan Barcelona yang lebih besar. Secara total, timur laut Catalonia melaporkan lebih dari 800 kasus baru pada Minggu.

Spanyol baru membuka lockdown nasional pada pertengahan Juni lalu setelah tiga bulan berada dalam penguncian wilayah demi mengendalikan virus yang telah secara resmi merenggut lebih dari 28.300 jiwa.

Per hari ini, berdasarkan statistik Worldometer, Spanyol tercatat memiliki 327.690 kasus dengan 28.436 kematian.

Malaysia

Pemerintah Malaysia berencana menerapkan kembali kebijakan penguncian wilayah jika kasus baru virus corona melonjak hingga 100 pasien per hari.

Malaysia saat ini tengah berada dalam tahap pemulihan dan sudah tak menerapkan perintah pengawasan pergerakan (MCO) ketat. Hampir seluruh kegiatan bisnis dan ekonomi telah berjalan kembali dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat.

Namun, pihak berwenang Malaysia kembali mendeteksi lonjakan kasus corona baru dalam beberapa pekan terakhir.

Pada Selasa (28/7), Malaysia mencatat 39 kasus corona baru, di mana 28 infeksi di antaranya merupakan penularan lokal. Puluhan kasus baru corona juga ditemukan setiap harinya dalam sepekan terakhir.

Penemuan kasus baru ini muncul setelah Kementerian Kesehatan sempat mengumumkan nol kasus corona baru pada 1 Juli lalu untuk pertama kalinya sejak Maret.

Vietnam

Pemerintah Vietnam memutuskan menutup (lockdown) kota ketiga terbesar di negara itu, Da Nang, selama dua pekan setelah terjadi penularan virus corona (Covid-19) terhadap 15 orang.

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (28/7), kasus infeksi Covid-19 di Da Nang dilaporkan terjadi secara lokal. Penyebaran itu terdeteksi setelah selama tiga bulan tidak ada penambahan kasus di Vietnam.

Menurut data, 15 orang yang positif Covid-19 adalah pasien dan petugas kesehatan di rumah sakit Da Nang.

Pemerintah Vietnam menutup sementara seluruh tempat usaha di Da Nang dan menerapkan kebijakan jaga jarak.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

International

Demo Antirasisme di Portland Kembali Berakhir Ricuh

Published

on

By

Kepulan asap gas air mata yang ditembakkan agen federal untuk membubarkan massa demonstran di Portland, Oregon, Amerika Serikat. (AP/Noah Berger)

Finroll.com, Jakarta – Aksi unjuk rasa antirasisme di Portland, Oregon, Amerika Serikat kembali berakhir bentrok antara demonstran dan sejumlah agen federal yang dikirim oleh pemerintah pusat.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (27/7), penduduk Oregon kembali berdemo pada Minggu kemarin. Unjuk rasa yang mulanya berjalan damai hingga malam hari berubah menjadi bentrokan.

Sejumlah demonstran berkerumun dan menyalakan kembang api di sekitar gedung pengadilan di pusat kota.

Para agen federal kemudian membalas dengan menembakkan gas air mata dan granat cahaya. Hal itu membuat para demonstran mundur.

Selain itu, kepolisian Portland dilaporkan menangkap dua orang yang diduga melepaskan tembakan dari Alun-alun Lownsdale. Mereka menyita empat magasin berisi peluru tajam dan dua bom molotov di lokasi.

Seseorang yang menjadi korban penembakan dilarikan ke rumah sakit. Namun, dia tidak mengalami cedera yang membahayakan.

Belum diketahui apakah insiden itu terkait dengan unjuk rasa atau tidak.

Aksi unjuk rasa itu berlangsung hingga Senin dini hari. Demonstran mendesak supaya para agen federal segera ditarik dari kota itu.

Sejak kasus pembunuhan dan kekerasan polisi yang menewaskan seorang lelaki kulit hitam, George Floyd, di Minneapolis, Minnesota pada Mei lalu, gelombang unjuk rasa tetap digelar di Portland.

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan dia mengirimkan agen federal untuk meredam gejolak di Portland. Namun, hal itu malah membuat para demonstran di kota itu marah.

Taktik Trump dengan mengancam menerjunkan ribuan agen federal ke kota-kota yang menjadi pusat unjuk rasa disebut politis. Sebab, kota-kota yang dia nilai tidak mampu menangani gelombang unjuk rasa dipimpin oleh gubernur dari partai Demokrat.

Diduga Trump hendak memberi kesan bahwa pemerintah negara bagian yang dikuasai Demokrat tidak mampu menghadapi unjuk rasa yang dinilai berujung kepada kekerasan dan kerusuhan, sehingga merugikan banyak pihak. Namun, tuduhan itu dibantah oleh Demokrat.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending