Connect with us

Keuangan

Cerita Sri Mulyani “Rampas” Rp 1,2 Triliun dari Tommy Soeharto

Published

on


Di zaman Orde Baru, pengusaha nasional yang juga anak Persiden Soeharto, Tommy Soeharto, menginisasi proyek mobil nasional bernama Timor. Badan usahanya pun dibentuk di bawah bendera PT Timor Putra Nasional (TPN).

Belakangan proyek mobnas tersebut belakangan gagal setelah ikut dilanda krisis moneter pada tahun 1997. Meski TPN sudah tak lagi beroperasi, perusahaan tersebut masih meninggalkan kewajiban utang pada pemerintah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akhirnya bisa mengejar pelunasan utang tersebut. Dikutip dari laman resmi Setkab, pemerintah berhasil mengamankan uang negara senilai Rp 1,2 triliun dari rekening TPN yang diblokir di Bank Mandiri.

Majelis Hakim Mahkamah Agung (MA) memutuskan menolak upaya Peninjauan Kembali (PK) kedua yang diajukan oleh PT Timor Putra Nasional terhadap Putusan PK Perkara 118 di PN Jakarta Utara terkait kasus pemblokiran uang Rp 1,2 triliun di Bank Mandiri.

Dalam informasi yang dimuat di website Mahkamah Agung disebutkan, penolakan atas PK kedua PT TPN kepada Bank Mandiri dan Menteri Keuangan dengan Nomor Register 716 PK/PDT/2017 itu diputuskan oleh tiga majelis hakim MA pada 13 Desember 2017, dan sudah dikirimkan ke pengadilan pada 4 Juli 2018 lalu.

Kepala Biro Advokasi Sekretariat Jenderal Kemenkeu Tio Serepina Siahaan menyambut baik keputusan Majelis Hakim PK Mahkamah Agung itu, dan bersyukur dengan kemenangan tersebut. “Kemenangan yang dicapai Pemerintah sampai tingkat PK sudah melalui proses pembuktian dan argumentasi hukum yang sangat kritis, tajam, dan jelas karena kami sangat menyakini dana tersebut memang hak Pemerintah,”” kata Tio dalam keterangannya.

Dengan putusan atas Permohonan PK ke-2 yang diajukan oleh PT TPN ini, lanjut Tio, maka kemenangan Pemerintah sebagai pihak yang berhak atas dana yang sudah disetor ke negara sebesar Rp 1,2 triliun sudah dikukuhkan. Selain itu, kemenangan atas perkara PT TPN ini, menjadikan Menkeu sebagai pemegang hak tagih atas seluruh utang PT TPN kepada Pemerintah RI.

“Dengan demikian, PT TPN tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan upaya hukum lain atas perkara mengenai utang PT TPN,” terang Tio.

Perkara yang melibatkan PT TPN sebagai Pemohon PK Kedua, serta PT Bank Mandiri Tbk. dan Kemenkeu sebagai Para Termohon PK Kedua, merupakan perkara pelik yang telah dimulai sejak tahun 2006.

Selain itu, juga terdapat 5 perkara perdata terkait PT TPN di pengadilan Indonesia yang diantaranya sudah sampai pada tingkat MA. PT TPN sendiri mengajukan permohonan PK ke-2 atas Putusan PK Perkara 928 di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan terhadap Putusan PK Perkara 118 di PN Jakarta Utara.

Dalam proses tersebut, Biro Advokasi Sekretariat Jenderal Kemenkeu berkoordinasi dengan Jaksa Pengacara Negara dan Bank Mandiri untuk menyiapkan strategi serta materi dalam Memori Kontra PK Kedua perkara tersebut.

Advertisement

Keuangan

Mohon Maaf Dolar AS, Rupiah Masih Terlalu Perkasa!

Published

on

By

Jakarta — Nilai tukar rupiah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (15/1/2020), membalikkan pelemahan cukup tajam di awal sesi.

Rupiah langsung melemah 0,04% ke Rp 13.670/US$ begitu perdagangan hari ini dibuka. Mata Uang Garuda terus tertekan hingga menyentuh level Rp 13.725/US$, melemah 0,51% sebelum tengah hari.

Perlahan rupiah berhasil memangkas pelemahan hingga mengakhiri perdagangan di level Rp 13.660/US$, menguat tipis 0,04% di pasar spot melansir data Refinitiv. Performa hari ini membuat rupiah mampu mempertahankan posisinya di level terkuat sejak Februari 2018.

Mata uang kebanggaan Tanah Air juga belum pernah melemah dalam lima hari perdagangan, dan sejak awal perdagangan 2020, total penguatan yang dikumpulkan sebesar 1,59%. Jika melihat lebih ke belakang, sebelum minggu ini Sang Garuda sudah membukukan penguatan enam pekan beruntun.

Mata uang utama Benua Asia bervariasi melawan dolar AS pada hari ini. Hingga pukul 16:00 WIB, yen Jepang menjadi mata uang terkuat dengan penguatan 0,06%, dan rupiah berada di posisi runner up.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Benua Kuning. (CNBC/GPH)

Continue Reading

Keuangan

Sentimen Damai Dagang AS-China Kerek Rupiah ke Rp13.732

Published

on

By

Nilai tukar rupiah menguat ke Rp13.732 per dolar AS atau sebesar 0,28 persen pada perdagangan pasar spot, Senin (13/1) pagi. Sebelumnya, mata uang Garuda berada di Rp13.772 per dolar AS pada penutupan pasar Jumat (10/1).

Pagi hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS. Terpantau, won Korea menguat 0,33 persen, ringgit Malaysia 0,15 persen, baht Thailand menguat 0,11 persen, serta lira Turki menguat 0,04 persen.

Pelemahan hanya terjadi pada yen Jepang sebesar 0,10 persen, serta dolar Singapura yang melemah tipis sebesar 0,01 persen terhadap dolar AS.

Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar bergerak melemah terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,20 persen, dan dolar Kanada melemah 0,12 persen, dolar Australia 0,01 persen, serta euro melemah tipis 0,02 persen terhadap dolar AS.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai penguatan rupiah ini disebabkan oleh sentimen kesepakatan dagang antara AS dan China.

“Pekan ini pasar fokus ke penandatanganan kesepakatan dagang fase satu AS-China, dan jadwal pembahasan fase dua,” terang Ariston saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (13/1).

Optimisme tersebut, lanjut Ariston, muncul karena pihak AS cukup yakin kesepakatan akan ditandatangani pada pekan ini. Sementara, pemberitaan dari pihak China pun tidak memberikan indikasi batalnya penandatanganan tersebut.

Menurut Ariston, semakin baiknya hubungan dagang antara AS dan China dapat membantu memulihkan pertumbuhan ekonomi global termasuk Indonesia.

“Karena pasar masih cukup optimis, rupiah pun masih berpeluang menguat hari ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ariston berpendapat rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.700 hingga Rp13.800 per dolar AS pada hari ini.

Continue Reading

Keuangan

Per 31 Desember 2019, Utang Pemerintah Rp 4,778 T

Published

on

By

Jakarta,  – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat hingga 31 Desember 2019 utang pemerintah mencapai Rp 4.778 triliun. Utang ini turun Rp 36,31 triliun dibandingkan bulan November yang tercatat Rp 4.814,31 triliun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan, utang ini turun dibandingkan bulan lalu karena adanya pelunasan yang dilakukan. Selain itu, rasio utang juga masih aman di bawah 30% yakni 29,8% terhadap GDP.

“Turun karena ada pelunasan,” ujar Luky di Kemenkeu, Selasa (7/1/2020).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan, utang pemerintah hingga saat ini masih ada di batas aman.

“Utang terjaga rendah dan manfaat APBN masih bisa kita tingkatkan,” kata dia.

Bahkan, jika dilihat dari rasio utang terhadap GDP, utang Indonesia masih lebih baik dari negara-negara emerging market lainnya.

“Kalau kita bandingkan dengan negara lain yang bicara defisit dan rasio utang kita masih hati-hati. Filipina, Malaysia, Singapura masing-masing rasio utangnya 50% dari GDP. Kita masih tetap hati-hati,” tegasnya. (CNBC/GPH)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending