Connect with us

Nasional

Din Syamsuddin: Tanpa Agama, Pancasila Akan Rusak

Published

on


Jakarta, FINROLL — Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin, mengatakan polemik pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, yang menyebut musuh Pancasila adalah agama sebaiknya diakhiri.

“Saya kira sudah selesai, hubungan agama dengan Pancasila, Pancasila dan agama itu sudah selesai. Jangan diungkit-ungkit apalagi dalam nada yang keliru,” kata Din saat ditemui di Kantor MUI, Jakarta, Rabu (12/2).

Din mengingatkan, para pendiri bangsa telah menyepakati bahwa pancasila yang menjadi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan kenyataan historis, sosiologis, antropologis dan pengakuan teologis serta kristalisasi nilai-nilai agama.

Kata dia, kesepakatan pendiri bangsa telah diteguhkan kembali dalam agenda yang dilaksanakan pada bulan Februari 2018, ketika 450 pemuka agama dalam musyawarah besar untuk kerukunan bangsa menyepakati NKRI yang berdasarkan pancasila adalah bentuk terbaik dan final bagi bangsa Indonesia.

“Jadi, bagi para tokoh agama dekat sekali hubungan Pancasila dengan agama,” pungkasnya.

Din berpendapat Pancasila tidak boleh meninggalkan agama. Menurut dia, Pancasila akan tegak bersama agama.

“Tanpa agama, Pancasila akan rusak. Dengan agama, Pancasila akan kuat,” tandasnya.

Kepala BPIP Yudian Wahyudi menyebut agama sebagai musuh terbesar Pancasila. Hal itu ia sampaikan dalam wawancara kepada tim Blak-blakan detik.com yang tayang pada Rabu (12/2).

Dalam berita itu disebutkan ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Mereka antara lain membuat Ijtima Ulama untuk menentukan calon wakil presiden saat Pilpres 2019.

“Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya. Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan,” kata Yudian.

Nasional

58 Jemaah Umrah Pulang, 4 Orang Masih Dirawat di Arab Saudi

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Kementerian Agama (Kemenag) mengatakan 58 orang jemaah umrah asal Indonesia yang sempat tertahan karena kebijakan karantina wilayah alias lockdown di Arab Saudi terkait virus corona (Covid-19) akan pulang hari ini, Kamis (9/4).

Konsul Haji Konsulat jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah Endang Jumali mengatakan 58 jemaah akan terbang pukul 08.35 waktu Saudi dengan menggunakan Saudia Airlines dari Bandara Internasional King Abdul Aziz.

“Semua biaya pemulangan ditanggung oleh pemerintah Arab Saudi,” kata Endang dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4) malam.

Namun, kata Endang, masih terdapat empat jemaah asal Indonesia yang tertahan di Saudi. Mereka belum bisa dipulangkan karena masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Endang menyatakan pemerintah akan menerapkan protokol kesehatan terhadap 58 jemaah umrah itu. Mereka akan menjalani pemeriksaan mulai di Saudi hingga sampai ke Tanah Air.

“Sebelum terbang, mereka akan ditransitkan terlebih dahulu oleh Muassasah Travel untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan,” ujarnya.

Saat tiba di Tanah Air, jemaah umrah itu akan diperiksa oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno-Hatta. Jika ditemukan gejala, mereka akan dibawa ke rumah sakit rujukan.

Sementara jika lolos pengecekan kesehatan di Soekarno-Hatta, jemaah diminta melakukan isolasi mandiri selama 14 hari di rumah masing-masing. KKP akan meminta dinas kesehatan setempat melakukan pengawasan.

Sebelumnya, Arab Saudi memutuskan untuk menghentikan layanan umrah hingga waktu yang belum ditentukan. Kebijakan itu diambil untuk mencegah penularan virus corona yang telah masuk ke kategori pandemi.

Ribuan jemaah umrah asal Indonesia batal berangkat. Sebagian dari mereka bahkan telah berada di pesawat saat penghentian umrah diberlakukan. Sebagian lagi berhasil berangkat, tapi kemudian dipulangkan kembali.

Tak sedikit juga yang berhasil terbang dan menjalankan ibadah umrah. Namun mereka harus tertahan di Tanah Suci usai kegiatan umrah karena kebijakan karantina yang ditetapkan Saudi.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Nasional

Sepuluh Pasien Positif Corona di Semarang Sembuh

Published

on

By

Finroll – Semarang, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam menyatakan 10 pasien positif terinfeksi virus corona (Covid-19) yang dirawat di sejumlah rumah sakit (RS) di Kota Semarang, Jawa Tengah, telah sembuh

Para pasien yang sembuh itu dirawat di RS Tentara Bhakti Wira Tamtama 1 orang, RS Tugurejo 2 orang, RS Karyadi 3 orang dan RS St. Elisabeth 4 orang.

“Awalnya tadi pagi, yang dinyatakan sembuh tiga orang. Kemudian sore ini tadi, menyusul tujuh orang pasien. Kesepuluhnya ada di empat rumah sakit di Semarang,” kata Hakam, Rabu (8/4).

Dengan demikian, kata Hakam, sampai saat ini pasien positif virus corona yang berhasil sembuh di Kota Semarang menjadi 17 orang.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan tambahan 10 pasien positif virus corona yang sembuh menjadi tren positif karena berlangsung dalam kurun waktu delapan hari.

“Tentunya kita bersyukur bila semua elemen dan lapisan masyarakat bergerak, penanganan wabah Covid-19 di Semarang membuahkan hasil”, kata Hendrar.

Hendrar meminta masyarakat tetap mematuhi imbauan pemerintah untuk selalu memakai masker, menjaga kebersihan, mencuci tangan hingga tak berkerumun dan keluar rumah jika tak ada urusan penting.

“Kalau kita semua kompak, guyub, pasti kita di Semarang ini bisa memutus rantai penyebaran Covid-19,” ujarnya.

Sampai saat ini jumlah pasien positif di Semarang secara kumulatif sebanyak 61 orang. Sementara terdapat 177 pasien dalam pengawasan (PDP) dan 1.358 orang dalam pemantauan (ODP). Sedangkan pasien positif corona di Jawa Tengah mencapai 140 orang.

Sementara hingga Rabu (8/4), jumlah pasien positif di Indonesia secara kumulatif mencapai 2.956. Dari jumlah itu, 240 meninggal dunia dan 222 sembuh.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Nasional

Tangani Corona, Tenaga Medis di Yogya Dikucilkan Masyarakat

Published

on

By

Finroll – Yogyakarta, Tenaga medis dianggap sebagai pahlawan karena berada di garis terdepan dalam menangani pasien yang terpapar virus corona (Covid-19). Namun, tak sedikit dari mereka mendapat stigma negatif sebagai pembawa virus di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing.

Direktur Utama Rumah Sakit (RS) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Widodo Wiryawan mengatakan mendapat laporan beberapa perawat mendapat stigma negatif. Salah satunya, ada perawat yang tak bisa memperpanjang sewa kos.

“Ada laporan ke kami bahwa ada perawat yang tidak bisa memperpanjang kosnya,” kata Widodo kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/4).

Widodo mengaku pihaknya telah menyiapkan beberapa bangsal di RS untuk menjadi tempat tinggal sementara bagi para petugas medis jika mendapatkan penolakan di masyarakat.

Ia pun berharap pemerintah membantu mengubah stigma negatif masyarakat kepada para petugas medis yang menangani pasien Covid-19). Menurutnya, pemerintah perlu menjelaskan masalah ini sampai ke tingkat RT.

“Bisa dilakukan melalui teleconference, atau menggalakkan di media massa , serta membuat aturan hukum sehingga pelakunya bisa dikriminalkan, jika ada stigma,” ujarnya.

Kejadian serupa juga dialami perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yogyakarta. Direktur Utama di RSUD Yogyakarta, Ariyudi Yunita mengatakan sejumlah perawat di tempatnya sulit mencari tempat kos.

“Sementara mereka susah cari tempat kos,” kata Ariyudi.

Sebelumnya, pelaksana tugas Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Sardjito Yogyakarta, Rukmono Siswihanto menyatakan tak semua warga menolak para tenaga medis.

Namun, kata Rukmono, muncul kekhawatiran masyarakat dengan keberadaan petugas medis. Padahal, seluruh tenaga medis setelah bertugas langsung membersihkan diri.

“Petugas medis yang berkontak langsung dengan pasien, maka setelah selesai melayani harus mandi, ganti baju sehingga ketika pulang sudah memakai pakaian lainnya,” kata Rukmono.

Sementara Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, meminta masyarakat tidak memberikan stigma negatif kepada para dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya yang menangani pasien virus corona.

“Percayalah masyarakat, bahwa tenaga medis ini pada waktu pulang sudah dalam keadaan bersih,” ujarnya.

 

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending