Connect with us

Investasi

Ekonom : Jokowi Diimbau Tak Terlalu ‘Ngebet’ Kejar Investasi

Published

on


Presiden Joko Widodo diimbau tak perlu terlalu terobsesi membandingkan kinerja investasi Indonesia dengan negara-negara lain. Pasalnya, data-data investasi Indonesia dinilai tak punya masalah yang sangat kronis.

Ekonom Faisal Basri mengatakan belakangan Jokowi terlihat banyak menelurkan pernyataan yang seolah-olah meresahkan kondisi investasi di Indonesia. Misalnya, keluhannya soal kebijakan investasi tidak ada yang ‘nendang’ hingga keluhannya soal laporan Bank Dunia bahwa tidak ada satu pun dari 33 perusahaan yang merelokasi usahanya dari China melipir ke Indonesia.

Padahal menurutnya, pembuktian secara empiris menunjukkan investasi di Indonesia masih unggul dibanding negara-negara lainnya.

“Tidak benar bahwa investasi di Indonesia kecil. Tidak benar pertumbuhannya lebih jelek dibanding negara lain, karena data-datanya tidak seperti itu,” jelas Faisal, Senin (30/9).

Ia kemudian merinci data-data yang menjadi acuannya. Pertama, data yang dihimpun oleh United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) di mana Penanaman Modal Asing (PMA) yang masuk ke Indonesia tercatat US$22 miliar atau menempati peringkat ke-16 dunia pada 2018 lalu. Peringkat Indonesia justru lebih baik dibanding tahun sebelumnya yakni ranking 18.

Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya kalah dari Singapura yang menempati peringkat 4 dunia. Sementara itu, Vietnam menempati peringkat 18 dunia dengan angka US$16 miliar.

“Vietnam ini kan selalu dibanding-bandingkan oleh Pak Jokowi. Melihat data ini seharusnya Pak Jokowi tak perlu kecil hati kalau misal 33 perusahaan yang relokasi dari China tidak ada yang datang ke Indonesia. Toh, FDI masih tetap datang kok,” jelas dia.

Tak hanya itu, ia juga membandingkan komponen Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) di dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada 2018 lalu, PMTB Indonesia tercatat 33,84 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan pertumbuhan mencapai 6,01 persen.

Porsi PMTB tersebut, lanjut dia, lebih tinggi dibanding negara-negara Asia Tenggara yang mencapai 30 persen. Dengan porsi terhadap PDB yang cukup tinggi, ia kemudian mempertanyakan maksud Jokowi yang ingin memperbesar lagi investasi di Indonesia.

“Pak Jokowi ini investasinya terhadap PDB ingin berapa? Mau sampai 40 persen (terhadap PDB) seperti China? Bisa collapse ekonomi Indonesia, karena kalau investasi terlalu kencang, impor bahan baku naik, impor capital goods naik, utang naik, dan ekonomi Indonesia bisa semakin panas,” jelas dia.

Alih-alih pusing membandingkan investasi, ia meminta Jokowi instrospeksi dan mempertanyakan diri sendiri, mengapa investasi yang banyak ini tidak tercermin ke dalam pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia seolah tidak bergerak dari kisaran 5 persen.

Menurutnya, hal ini ada kaitannya dengan ongkos berinvestasi Indonesia yang cukup mahal, yang tercermin ke dalam skor Incremental Capital-Output Ratio (ICOR).

Sekadar informasi, ICOR merupakan parameter yang menggambarkan besaran tambahan modal yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output. Dengan kata lain, semakin tinggi skor ICOR, artinya investasi semakin tak efisien.

Saat ini skor ICOR Indonesia di angka 6,3, atau lebih tinggi dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya yang di kisaran 3. Padahal, jika investasi semakin efisien, maka dampaknya ke pertumbuhan ekonomi akan lebih terasa.

“Kalau Pak Jokowi ingin ekonomi tumbuh 6 persen, maka ICOR bisa diturunkan ke 5,4 saja. Kalau ingin pertumbuhan ekonomi bisa 7 persen, maka ICOR harus turun lagi ke kisaran 4,6 seperti masa orde baru. Kalau sudah punya ICOR yang rendah, pertumbuhan ekonomi 6 persen tinggal merem saja,” pungkas dia.

Investasi

BKPM ‘Jualan’ 28 Proyek Senilai Rp1.278 T ke China

Published

on

FINROLL.com, Jakarta — Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menawarkan 28 proyek bernilai US$91,1 miliar atau Rp1.278,6 triliun kepada investor China. Penawaran mereka lakukan di Kota Chingqing, Senin (2/12) kemarin.

Deputi Perencanaan Investasi BKPM Ikmal Lukman mengatakan ke-28 proyek tersebut masuk dalam Inisiatif Pengembangan Jalur Sutera Modern (BRI) yang saat ini sedang dilakukan China.

“Ini peluang yang baik bagi investor di sini (Chongqing), sebab Indonesia tengah mengembangkan BRI,” ujarnya dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta, Selasa (3/12).

Lukman mengatakan proyek yang ditawarkan tersebut terdapat di beberapa wilayah di Indonesia.
Pertama, di Sumatera Utara dengan nilai investasi proyek sebesar US$ 17,3 miliar.
Kedua, di Sulawesi Utara dengan nilai investasi US$ 2,6 miliar. Ketiga, di Kalimantan Utara dengan nilai investasi US$ 41,6 miliar.

Keempat, di Bali dengan nilai investasi sebesar US$ 8 miliar di Bali.

“Nilai ini belum termasuk sebanyak 8 proyek yang tidak masuk dalam koridor BRI,” ujar Lukman.

Lukman meyakini  tawaran investasi yang disampaikannya akan disambut baik.

“Apalagi kedua negara bekerja sama membangun dalam konteks BRI,”  katanya

Continue Reading

BrandzView

Komisi VI DPR RI dan Kementerian Perindustrian Kunjungi Kawasan Industri Millennium Cikupa Tangerang

Published

on

FINROLL.com — Komisi VI DPR RI dan Kementerian Perindustrian RI Kunjungi Kawasan Industri Millennium Cikupa Tangerang, pada Kamis (28/11/2019). Kunjungan tersebut sebagai bentuk dukungan pemerintah dan DPR RI terhadap pengembangan kawasan industri di Indonesia.

Direktur Ketahanan dan Iklim Usaha Industri Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan pemerintah akan terus mendorong pertumbuhan kawasan Industri di Indonesia. Namun, selain akan berdampak pada perekonomian juga akan berdampak sosial pada masyarakat sekitar, oleh karena itu para pengembang harus memperhatikan ketentuan – ketentuan yang telah di tetapkan oleh pemerintah.

Baca Juga : Millennium Industrial Estate Kawasan Industri Terpadu Pertama dan Terbesar di Tanggerang

Sementara itu kunjungan Komisi VI DPR RI, sebagai bentuk pengawasan dan penyerapan informasi dari para pengembang maupun masyarakat tentang kendala yang di hadapi para pengembang dan dampak perekonomian maupun dampak sosial atas kehadiran kawasan industri terhadap masyarakat sekitar.

Ketua rombongan Komisi VI DPR RI yang di pimpin Idris Laena dari Partai Golkar ini menyatakan bahwa, kehadiran Kawasan industry di pastikan akan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Karena kehadiran kawasan industry mampu menyerap ribuan tenaga kerja, Namun tetap harus memperhatikan dampak lingkungan.

Selain itu, ditengah melemahnya ekonomi Indonesia dan naiknya UMR Regional Jabotabek yang cukup memberatkan pengusaha, Komisi VI DPR RI juga berharap para pengembang kawasan industri mampu menjaga agar para investor tidak merelokasi pabriknya ke daerah lain, atau bahkan ke luar negeri.

“Kami berharap para pengembang kawasan industri mampu menjaga dan memiliki strategi yang jitu, agar para investor tidak merelokasi pabriknya ke wilayah yang UMR lebih rendah atau bahkan ke luar negeri. Karena ini akan berdampak perekonomian masyarakat sekitar, bahkan perekonomian Indonesia” kata La Tinro La Tunrung anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra.

Sementara itu, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional Eko Hendro Purnomo, atau yang lebih dikenal Eko Patrio juga mendukung pengembangan kawasan industri, bahkan dia berharap para pengembang lebih inovatif bisa memanfaatkan media digital maupun media sosial untuk mempromosikan kawasan industri.

“Kawasan Industri Millennium ini, bagus dan sangat besar dan di isi ratusan tenant dari dalam dan luar negeri. Namun saya cari di google maupun di sosial media masih sedikit sekali informasi tentang Kawasan Millennium ini”, Kata Eko Patrio.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT. Bumi Citra Permai Tbk, Handry Soesanto mengatakan dirinya merasa terhormat dan meng-apresiasi atas kunjungan Kementerian Perindustrian dan Komisi VI DPR RI ke Kawasan Industri Millennium.

“Terima kasih kepada Kementerian Perindustrian dan Komisi VI DPR RI atas kunjungan ke Kawasan Industri Millennium. Sungguh kami merasa terhormat atas kunjungan ini, semoga ini bisa menjadi ajang tukar informasi antara pengembang, pemerintah dan DPR RI dalam mengembangkan kawasan industri di Indonesia”, Kata Direktur Direktur Keuangan PT. Bumi Citra Permai Tbk, Handry Soesanto, di Cikupa, Kabupaten Tangerang Banten, Kamis (28/11/2019).

 

Baca Juga : Bumi Sumber Swarna Pasarkan Perumahan Subsidi Bumi Ketos Regency Serang

Lebih lanjut Handry Soesanto menjelaskan, PT. Bumi Citra Permai Tbk telah mengembangkan Kawasan Industri Millennium sejak tahun 2000 dan kini yang telah di isi oleh sekitar 400 tenant dari dalam dan luar negeri.

Kawasan Industri Millennium belum terlalu banyak berkontribusi pada perekonomian nasional, namun kami bangga dapat berkontribusi pada perekonomian di kawasan Tangerang. Dan kami berharap kunjungan ini dapat mendorong kami untuk lebih maju dan berkontribusi yang lebih besar pada perekonomian  Indonesia” Handry Soesanto.

Sekelas PT. Bumi Citra Permai Tbk

PT Bumi Citra Permai Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan kawasan industri dan pergudangan, dengan area seluas ±1800 hektar dan terus berkembang hingga saat ini, bernama Millennium Industrial Estate.

Perjalanan PT Bumi Citra Permai Tbk di kancah bisnis pengembangan kawasan industri dan perdagangan dimulai sejak tahun 2000 melalui Akta Pendirian Perseroan Terbatas PT Bumi Citra Permai Tbk No. 2 Tanggal 3 Mei 2000.

Sejak berdirinya pada tahun 2003, Millennium Industrial Estate memulai aktivitasnya, dengan kegiatan pembangunan Perseroan dimulai dari proses permohonan, pembebasan tanah, pematangan lahan dan pembangunan infrastruktur di kawasan industri.

Sementara kegiatan pemasaran dan penjualan gudang dan lahan secara resmi dimulai pada tahun 2004. Selain menjual kavling-kavling industri siap bangun, Perseroan juga menjual tanah kavling beserta bangunan berupa pabrik/gudang di atasnya, dengan desain dan spesifikasi yang telah ditentukan.

PT. BUMI CITRA PERMAI TBK
HEAD OFFICE

Kramat Raya No.32-34, Senen, Jakarta Pusat

BRANCH OFFICE
Kawasan Industri Millennium Komplek Ruko Blok A11 No. 10-11, Jl Baru Pemda Tigaraksa – Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten.

TELP : (+62) 811 9880 016
website: www.bumicitrapermai.com

Download Lengkap E-Brosur

 

 

 

Continue Reading

Investasi

Perusahaan Jepang dan Korea Bakal Investasi Rp61,8 T di RI

Published

on

By

Finroll.com, Jakarta — Perusahaan kimia Jepang dan Korea Selatan akan investasi di Indonesia dengan total nilai Rp61,8 triliun. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan komitmen investasi itu disampaikan oleh Asahi Chemical dan Lotte Chemical.

Dua kesepakatan tersebut dilakukan saat Agus mengunjungi kedua negara. Asahi akan investasi senilai Rp1,3 triliun. Sementara, Lotte akan investasi senilai US$4,3 miliar atau setara Rp60,5 triliun.

Agus mengungkapkan Asahi akan melakukan perluasan fase ketujuh pabrik mereka di Cilegon.

“Perluasan pabrik di Cilegon tersebut senilai Rp1,3 triliun,” ujar Agus dikutip dari Antara, Selasa (19/11).

Agus memaparkan perusahaan asal Jepang itu akan memproduksi 200 ribu metrik ton produk polyvinyl klorida (PVC) per tahun. Ia menyebut Asahi sempat mempertanyakan pasokan bahan baku garam. Namun, Agus memastikan ketersediaan bahan baku tersebut.

Sementara itu, Lotte bakal mendirikan pabrik dan mengerek kapasitas produksi. Rencananya, perusahaan akan mengalokasikan US$3,5 miliar (Rp49 triliun) di Cilegon.

Sedangkan sisanya untuk meningkatkan kapasitas produksi naphta cracker menjadi 3,5 juta ton per tahun dari rencana sebelumnya sebesar 2 juta ton per tahun.

Bahan baku tersebut selanjutnya diolah untuk menghasilkan beberapa produk turunan yakni ethylene, propylene, polypropylene dan produk turunan lainnya.

“Iya, mereka mau tambah investasi meskipun pabriknya sedang dalam pembangunan,” jelas Agus.

Kepala Unit Bisnis Lotte Kim Kyo Hyun menyampaikan keputusan untuk menambah investasi diambil mengingat Indonesia masih bergantung pada produk petrokimia impor.

“Kami membangun pabrik petrokimia untuk menggantikan barang impor yang dilakukan supaya bisa diproduksi di dalam negeri,” ungkap Kim.

Sumber Berita : CNNIndonesia.com

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending