Connect with us

Ekonomi Global

Harga Emas Antam Bisa Tembus Rp 770.000/gram, Global Volatil

Published

on


Finroll.com – Harga emas acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diprediksi terus meningkat hingga kisaran Rp 750.000-770.000/gram setelah sempat meroket Rp 10.000 (1,27%) menjadi Rp 715.000/gram pada perdagangan Jumat (1/11/2019). Harga emas batangan Antam untuk ukuran 100 gram memang biasa dijadikan acuan.

Kenaikan harga Emas Antam yang relatif tinggi tersebut menimbulkan ekspektasi, harga logam mulia ini berpotensi akan menuju ke level Rp 900.000/gram.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra memprediksi harga emas masih berpotensi menguat dipicu isu negosiasi dagang AS dan Tiongkok yang belum kelar. Ditambah lagi, adanya pemangkasan tingkat suku bunga acuan AS yang melemahkan dollar AS dan mengangkat harga komoditas.

BACA JUGA : 

“Kisaran harga pekan depan bisa antara Rp 750.000/gram-770.000/gram. Kemarin malam [Jumat malam] ada data Non Farm Payroll AS yang dirilis lebih bagus dari ekspektasi yang bisa menjadi sentimen penguatan Dollar AS dan melemahkan harga emas,” kata Ariston kepada CNBC Indonesia, akhir pekan.

Pada perdagangan Senin kemarin (4/11/2019), harga emas Antam turun tipis yaitu Rp 1.000/gram (0,14%) menjadi Rp 714.000/gram dari Rp 715.000/gram pada perdagangan Sabtu pekan lalu.
Pelemahan disebabkan tensi damai dagang yang menurun seiring dengan langkah Amerika Serikat (AS)-China yang menyepakati adanya pertemuan dan optimistis hasil positif akan diraih dalam pertemuan tersebut.

Selain itu, penurunan suku bunga acuan AS pekan lalu serta ekspektasi menjauhnya ancaman resesi yang kondusif turut menekan harga emas dunia dan emas Antam.

Gram Harga per gram 2 Nov’19 (Rp) Harga per gram 4 Nov’19 (Rp) Selisih (%) Harga per batang 4 Nov’19 (Rp)
Harga beli kembali 684,000 683,000 -0.15 683,000
0.5 813,000 812,000 -0.12 406,000
1.0 764,000 763,000 -0.13 763,000
2.0 738,500 737,500 -0.14 1,475,000
3.0 731,333 730,333 -0.14 2,191,000
5.0 728,000 727,000 -0.14 3,635,000
10.0 721,500 720,500 -0.14 7,205,000
25.0 717,200 716,200 -0.14 17,905,000
50.0 715,700 714,700 -0.14 35,735,000
100.0 715,000 714,000 -0.14 71,400,000
250.0 714,000 713,000 -0.14 178,250,000
500.0 713,600 712,600 -0.14 356,300,000
1,000.0 701,600 701,600 0.00 701,600,000

Harga logam mulia emas sangat erat kaitannya dengan nilai tukar khususnya dolar AS, karena secara internasional perhitungan harga emas di pasar global menggunakan mata uang dolar AS. Kala greenback (dolar AS) melemah, maka harga emas akan naik di pasar spot global akan naik.

Secara tradisional emas juga sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, ketika The Fed menurunkan suku bunga, inflasi di AS kemungkinan akan meningkat, begitu juga dengan dengan daya tarik akan emas.

Bank of America Merrill Lynch (BoA) sempat memprediksi harga emas dunia bakal menembus US$ 1.500 per troy ounce (oz) tahun ini dan US$ 2.000/oz tahun depan, dengan dibayangi kekhawatiran terhadap resesi dan perang dagang Amerika Serikat (AS)-China. Jika menyentuh level US$ 2.000/oz, maka harga emas per garam berada pada kisaran Rp 903.000/gram.

Si kuning memang sempat beberapa kali menembus level psikologis US$ 1.500/oz sejak awal Agustus 2019 dengan level tertingginya US$ 1.552/oz. Pada Jumat lalu, harga emas dunia yang diwakili harga di pasar spot sudah kembali ke atas level psikologis US$ 1.500/oz, sehingga bisa dibilang prediksi bank yang dipimpin Bryan Moynihan tersebut akurat, separuhnya.

Satu dari dua prediksi tersebut sudah terbukti joss. Namun, untuk berharap harga logam mulia tersebut dapat menembus US$ 2.000/oz tahun depan, tampaknya masih harus menempuh waktu lebih lama lagi.

Apalagi hingga akhir 2019, potensi meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar masih tetap terbuka hingga tahun depan.

Sebelumnya, David Roche, Presiden dan ahli strategi global di Independent Strategy yang berbasis di London, juga memprediksi harga emas bisa mencapai US$ 2.000 per troy ounce pada akhir tahun ini, dilansir CNBC International.

Harga tersebut setara dengan Rp 28 juta per troy ounce (Oz), dengan asumsi kurs Rp 14.100/US$.

Satu troy ounce, mengacu aturan di pasar, setara dengan 31,1 gram, sehingga besaran US$ 2.000 per troy ounce dikonversi dengan membagi tersebut dengan 31,1 gram, hasilnya US$ 64,31 per gram. Dengan asumsi kurs rupiah Rp 14.100/US$, maka prediksi harga emas yakni setara dengan Rp 906.771/gram.(cnbcindonesia.com)

Advertisement

Business

AS Angkat Harga Minyak Dunia

Published

on

By

Harga minyak naik tipis pada penutupan perdagangan Kamis (20/2), waktu AS. (Realita Rakyat)

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia menguat tipis pada perdagangan Kamis (20/2), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan minyak ditopang perlambatan pertumbuhan pasokan AS.

Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent naik 19 sen atau 0,32 persen menjadi US$59,31 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) bertambah 49 sen atau 0,90 persen di level US$59,31 per barel.

Badan Informasi Energi AS (EIA) menuturkan persediaan minyak mentah AS hanya naik 414 ribu barel pekan lalu. Angka itu jauh lebih rendah dari prediksi analis yakni 2,5 juta barel.

Data juga menunjukkan tingkat pemanfaatan kilang pantai timur AS turun menjadi 59,2 persen pekan lalu. Angka itu adalah yang terendah sejak November 2012. Namun, tingkat pemanfaatan kilang AS secara keseluruhan naik 1,4 persen.

“Sentimen fundamental hari ini terutama melesetnya rilis data EIA mingguan dari prediksi,” kata Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch.

Namun, virus corona masih membayangi pasar sehingga membatasi kenaikan harga minyak. Kematian pertama di Korea Selatan memicu ketakutan terhadap pandemi global karena penelitian menunjukkan bahwa virus itu lebih menular daripada prediksi.

Korban meninggal akibat terinfeksi Virus Corona terus melonjak hingga mencapai 2.120 orang di seluruh dunia hingga Kamis (20/2). Virus itu menginfeksi 76.262 orang di sejumlah negara.

China telah menurunkan suku bunga guna menopang perekonomian. Langkah China itu mengurangi kekhawatiran melambatnya permintaan.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Pada Jumat Pagi Ini Rupiah Terkerek ke Rp13.730 per Dolar AS

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Nilai tukar rupiah menguat ke Rp13.730 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Jumat (21/2) pagi. Posisi rupiah menguat 0,15 persen pada penutupan pasar Kamis (20/2).

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia melemah terhadap dolar AS. Terpantau, won Korea melemah 0,5 persen, yuan China 0,35 persen, dan bath Thailand 0,29 persen.

Selanjutnya, ringgit Malaysia keok 0,19 persen, rupee India 0,14 persen, peso Filipina 0,8 persen, dan dolar Hong Kong 0,07 persen.

Sementara, penguatan terhadap dolar AS terjadi pada dolar Singapura 0,06 persen dan yen Jepang 0,04 persen.

Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar menguat terhadap dolar AS. Dolar Australia menguat 0,09 persen, euro 0,08 persen, dolar Canada 0,06 persen, dan poundsterling Inggris 0,03 persen.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai rupiah berpeluang melemah pada perdagangan hari ini. Sebab, pasar kembali mengkhawatirkan soal penyebaran virus corona yang meningkat di beberapa negara, termasuk China di luar Provinsi Hubei, serta dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global.

“Kekhawatiran ini berpotensi menekan rupiah hari Jumat ini dan mungkin bisa menahan rupiah di atas Rp13.700 per dolar AS,” Jumat (21/2).

Sepanjang hari, Ariston memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp13.700 hingga Rp13.780 per dolar AS.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Imbas Virus Corona, Singapura Pangkas Proyeksi Laju Ekonomi

Published

on

By

Singapura memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi kisaran -0,5 hingga 1,5 persen untuk tahun ini. Estimasi itu lebih buruk dibandingkan dengan proyeksi November lalu, di rentang 0,5 hingga 2,5 persen.

FINROLL.COM — Pemerintah Singapura mengungkapkan lesunya pertumbuhan ekonomi merupakan dampak dari penyebaran wabah virus corona. Penyebaran virus sangat mempengaruhi sektor pariwisata dan perdaganga mengingat China merupakan tujuan ekspor dan sumber utama turis mancanegara bagi Singapura.

Selain itu, konsumsi domestik juga semakin melandai. Masyarakat mulai mengurangi kebiasaan untuk berbelanja dan membeli makanan di luar rumah.

“Di Asia, wabah ini sangat mungkin mengurangi prospek pertumbuhan di China dan negara-negara terdampak lainnya untuk tahun ini,” ungkap Kementerian Perdagangan Singapura, seperti dikutip dari AFP, Selasa (18/2).

Ekonom Perbankan Swasta Song Seng Wun juga mengatakan lesunya ekonomi China dan rantai pasokan global yang saling terintegrasi berpengaruh besar pada ekonomi negara yang berorientasi pada perdagangan, seperti Singapura.

Apabila terjadi krisis global, negara seperti Singapura akan cepat terdampak. Meski begitu, jika kondisi mulai membaik, ekonomi negara mereka juga akan cepat melesat.

Menteri Pembangunan Ekonomi Singapura Lawrence Wong mengungkapkan ekonomi Singapura memang sedang mengalami kontraksi yang tajam. Kondisi ini menurutnya akan berlangsung untuk beberapa kuartal mendatang. Untuk itu, pemerintah Singapura akan mengalokasikan anggaran yang cukup besar demi menanggulangi kemerosotan ekonomi dampak wabah virus corona.

“Saya pikir dampaknya akan signifikan setidaknya dalam beberapa kuartal mendatang. Saya tidak bisa mengatakan apakah kami akan mengalami kemerosotan atau tidak, tapi yang pasti perekonomian kita akan terpukul,” kata Wong.

Hingga Senin (17/2) kemarin, Singapura menjadi negara di luar China yang memiliki kasus terbanyak, yakni 75 kasus. Di China sendiri kasus virus corona telah mencapai 71.204 kasus. Adapun jumlah korban yang meninggal akibat virus corona di seluruh dunia telah mencapai angka 1.770.

Sumber Berita : CNN INDONESIA

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending