Connect with us

Ekonomi Global

Harga Minyak Tertahan Perlambatan Ekonomi China

Published

on


Jakarta — Harga minyak mentah dunia naik tipis pada perdagangan Jumat (17/1). Penguatan tipis ini terjadi lantaran pertumbuhan ekonomi China yang melambat.

Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent menguat 23 sen menjadi US$64,85 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 2 sen ke level 58,54 per barel.

Data pemerintah China menunjukkan ekonomi negara tersebut hanya tumbuh 6,1 persen sepanjang 2019. Realisasi tersebut terendah sejak 1990 atau 29 tahun terakhir.

Sejumlah pihak khawatir situasi ekonomi di China mempengaruhi permintaan bahan bakar dan optimisme dari penandatanganan kesepakatan dagang Amerika Serikat (AS) dengan China.

“Meningkatnya tekanan ekonomi akan membatasi kenaikan (harga) minyak dalam jangka menengah hingga jangka panjang,” kata Analis Pasar di CMC Markets Margaret Yang, dikutip Senin (20/1).

Beruntung, masih ada berita menggembirakan di tengah perlambatan ekonomi China, sehingga harga minyak tidak berakhir di zona merah. Produksi kilang minyak milik China tercatat naik pada 2019.

Jumlah produksi kilang China mencapai rekor tertinggi atau naik 7,6 persen menjadi 651,98 juta ton minyak mentah pada tahun lalu. Hasil kilang Negeri Tirai Bambu itu juga mencatat rekor tertinggi secara bulanan pada Desember 2019.

“Peningkatan kapasitas kilang China membentuk kembali aliran perdagangan produk olahan, sedangkan peningkatan produksi minyak mentah AS membentuk kembali aliran perdagangan minyak mentah,” kata Konsultan Petromatrix Oliver Jakob.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia sepanjang pekan lalu tercatat melemah. Rinciannya, harga minyak mentah berjangka Brent terkoreksi 0,2 persen dan WTI 0,8 persen.

Pada perdagangan Kamis (16/1), harga minyak mentah dunia sebenarnya sempat naik lebih dari 1 persen. Harga minyak mentah berjangka Brent menguat 1 persen menjadi US$64,62 per barel dan WTI naik 1,2 persen menjadi 58,52 per barel.

Penguatan itu dipengaruhi kemajuan kesepakatan dagang antara AS dan China, serta AS-Meksiko-Kanada. AS dan China baru saja menandatangani perjanjian damai dagang fase pertama pada Rabu (15/1) waktu setempat.

Satu hari setelah penandatanganan tersebut, Senat AS juga menyetujui perubahan perjanjian perdagangan dengan Meksiko dan Kanada. (CNN)

Iwan Hidayat Bergabung Dengan Finroll Media Group Tahun 2012

Advertisement

Ekonomi Global

Imbas Virus Corona, Singapura Pangkas Proyeksi Laju Ekonomi

Published

on

By

Singapura memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi kisaran -0,5 hingga 1,5 persen untuk tahun ini. Estimasi itu lebih buruk dibandingkan dengan proyeksi November lalu, di rentang 0,5 hingga 2,5 persen.

FINROLL.COM — Pemerintah Singapura mengungkapkan lesunya pertumbuhan ekonomi merupakan dampak dari penyebaran wabah virus corona. Penyebaran virus sangat mempengaruhi sektor pariwisata dan perdaganga mengingat China merupakan tujuan ekspor dan sumber utama turis mancanegara bagi Singapura.

Selain itu, konsumsi domestik juga semakin melandai. Masyarakat mulai mengurangi kebiasaan untuk berbelanja dan membeli makanan di luar rumah.

“Di Asia, wabah ini sangat mungkin mengurangi prospek pertumbuhan di China dan negara-negara terdampak lainnya untuk tahun ini,” ungkap Kementerian Perdagangan Singapura, seperti dikutip dari AFP, Selasa (18/2).

Ekonom Perbankan Swasta Song Seng Wun juga mengatakan lesunya ekonomi China dan rantai pasokan global yang saling terintegrasi berpengaruh besar pada ekonomi negara yang berorientasi pada perdagangan, seperti Singapura.

Apabila terjadi krisis global, negara seperti Singapura akan cepat terdampak. Meski begitu, jika kondisi mulai membaik, ekonomi negara mereka juga akan cepat melesat.

Menteri Pembangunan Ekonomi Singapura Lawrence Wong mengungkapkan ekonomi Singapura memang sedang mengalami kontraksi yang tajam. Kondisi ini menurutnya akan berlangsung untuk beberapa kuartal mendatang. Untuk itu, pemerintah Singapura akan mengalokasikan anggaran yang cukup besar demi menanggulangi kemerosotan ekonomi dampak wabah virus corona.

“Saya pikir dampaknya akan signifikan setidaknya dalam beberapa kuartal mendatang. Saya tidak bisa mengatakan apakah kami akan mengalami kemerosotan atau tidak, tapi yang pasti perekonomian kita akan terpukul,” kata Wong.

Hingga Senin (17/2) kemarin, Singapura menjadi negara di luar China yang memiliki kasus terbanyak, yakni 75 kasus. Di China sendiri kasus virus corona telah mencapai 71.204 kasus. Adapun jumlah korban yang meninggal akibat virus corona di seluruh dunia telah mencapai angka 1.770.

Sumber Berita : CNN INDONESIA

Continue Reading

Ekonomi Global

Emas Turun Pasca Ketua Fed Bilang Ekonomi AS Tangguh Hadapi Wabah Virus

Published

on

By

Jakarta, FINROLL – Emas mengalami penurunan setelah Ketua Federal Reserve Jay Powell mengatakan ekonomi Amerika Serikat cukup tangguh terhadap pandemi tersebut. Tetapi penutupan di atas level kunci $1.500 memberikan arti bahwa mayoritas level support logam kuning masih utuh.

“Virus korona mungkin tidak berefek jangka panjang dan karenanya Fed dapat melanjutkan program kerja terkininya terkait suku bunga,” kata George Gero, analis logam mulia RBC Wealth Management di New York. “Angka-angka pekerjaan positif baru-baru ini juga bisa menjaga jarak Fed dari pelonggaran. Semua ini membatasi pergerakan emas dalam kisaran perdagangannya di $1.550 – $1.600.”

Emas berjangka COMEX untuk penyerahan April di New York ditutup turun $9,40, atau sebesar 0,6%, menjadi $1,570,10 per ons.

Emas spot, yang mencerminkan perdagangan langsung fisik emas, turun $3,59, atau sebesar 0,2%, di $1,568,31 pada pukul 03:45 PM ET (19:45 GMT).

Powell, dalam kesaksian tengah tahunan di hadapan Kongres AS, mengatakan bahwa Federal Reserve sedang memantau dengan cermat munculnya pandemi dan dampaknya terhadap Cina dan dunia, terlepas dari ketahanan ekonomi Amerika dan sektor pekerjaan.

“Kita harus menahan diri dari godaan untuk berspekulasi mengenai hal ini dan jadi kita akan mengawasinya dengan hati-hati lagi, dan pertanyaan yang akan kita tanyakan adalah‘ apakah efeknya berkelanjutan yang dapat mengarah pada peninjauan materi?” ujarnya. “Saya pikir terlalu dini untuk mengatakan itu.” (GPH/Invesnting)

Continue Reading

Ekonomi Global

Harga Emas Terus Menguat, Pasar Harap Powell Ungkap Rencana Perangi Virus

Published

on

Jakarta, FINROLL  — Emas mencapai level tertinggi satu minggu menjelang penampilan Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang dijadwalkan memberikan kesaksian Selasa dan Rabu di depan Kongres, yang seharusnya mencakup bagaimana bank sentral itu berencana untuk melindungi ekonomi AS dari krisis virus korona Cina yang meluas.

Baik emas fisik dan emas berjangka naik selama empat sesi beruntun pada Senin (10/02) waktu AS, menjelang kesaksian dua hari Powell di hadapan Kongres AS, yang dapat memberikan petunjuk apakah Fed akan mempertimbangkan langkah-langkah stimulus, atau bahkan pemotongan suku bunga lagi, sebagai tindakan pencegahan terhadap perkiraan perlambatan tajam pada pertumbuhan di Cina, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Emas Berjangka COMEX untuk penyerahan April}} di New York ditutup naik $6,10, atau sebesar 0,4%, di $1,579,50 per ons. Sebelumnya emas ini menguat ke $1.580,45, level tertinggi puncak 3 Februari di $1.592,20 untuk kontrak emas bulan April.

Emas spot, yang mencerminkan perdagangan langsung fisik emas, menguat $5,72, atau sebesar 0,4%, di $1,575,62 pada pukul 02:48 PM ET (19:48 GMT). Puncak intraday untuk emas spot ada di – $1.577,04 – juga level tertinggi dalam seminggu.

“Emas terus membaik saat kita menunggu kesaksian dua hari dari Ketua Powell,” imbuh George Gero, analis logam mulia RBC Wealth Management di New York. “Banyak investor melihat pertanyaan apakah peluang penurunan suku bunga harus dikurangi berdasar angka pekerjaan terbaru di kala krisis virus di Cina semakin memburuk.”

AS menambah 225.000 pekerjaan pada Januari, melampaui prediksi ekonom untuk data gaji pekerja nonpertanian. Laporan pekerjaan Januari menunjukkan tanda-tanda yang lebih kuat ketimbang rata-rata kenaikan bulanan 175.000 pekerjaan pada tahun 2019.

Krisis virus korona telah menewaskan lebih dari 900 orang dan menginfeksi lebih 41.000 orang di Cina, melumpuhkan seluruh industri pada perekonomian nomor dua di dunia itu, sebelum menyebar ke setidaknya 25 negara. Goldman Sachs (NYSE:GS) memperkirakan bahwa ekonomi Cina akan mengalami penurunan pertumbuhan 1,6 persen hingga kuartal pertama.

Bank Wall Street ini juga memprediksi dampak tersebut di Cina akan mengurangi produksi AS sebesar 0,4 persen menjadi 0,5 persen, pada tingkat tahunan di kuartal pertama, dengan pertumbuhan melonjak di kuartal kedua, meninggalkan dampak minimal pada pertumbuhan setahun penuh.

The Fed memotong suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun 2019 sebanyak 25 basis poin pada setiap rapat kebijakan sebelum mengakhiri siklus pelonggaran pada bulan Desember. (INVESTING)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending