Connect with us

Science & Technology

Imbas Konflik Natuna, RI Harus Siap Serangan Siber China

Published

on


Jakarta — Eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran serta konflik Natuna antara Indonesia dan China dikhawatirkan merambah ke peperangan siber hingga berdampak ke Indonesia.

Pengamat keamanan siber dari Cyber Security Forum Satriyo Wibowo mendesak pemerintah Indonesia untuk bersiap dan mempertahankan diri dari serangan siber peretas China dalam krisis Natuna.

“Pemerintah juga harus bersiap akan risiko peretasan dan pencurian informasi rahasia negara akibat krisis Natuna, serta memperkuat perlindungan akan infrastruktur informasi kritis nasional,” ujar Satriyo dalam keterangan kepada CNNIndonesia.com.

Satriyo mengakui perang siber merupakan salah satu metode atau sarana untuk berperang di mata para ahli mengenai hukum internasional dalam Talinn Manual 1.0.

“Suatu serangan siber yang dilakukan langsung atau tidak langsung oleh satu negara kepada infrastruktur siber negara lain dengan tujuan politik, didefinisikan sebagai suatu tindakan perang oleh NATO,” kata Satriyo

Satriyo menjelaskan China dikenal memiliki banyak kelompok peretas yang sangat aktif melakukan kegiatan spionase dan pencurian data. Tiap kelompok memiliki target industri tertentu di negara tertentu pula.

Industri yang menjadi target seperti industri dirgantara, satelit, pertahanan, konstruksi, energi, telekomunikasi, teknologi tinggi, maritim, finansial, kesehatan, pertambangan, serta pemerintahan di hampir semua negara di seluruh kawasan.

Terkait kemampuan perang siber Iran, negara telah belajar banyak dari serangan oleh malware Stuxnet yang melumpuhkan sentrifugal pengayaan uranium di Natanz.

“Kemampuan hacking-nya juga terbukti dengan keberhasilan mengambil alih drone RQ-170 milik Amerika pada 2011. Apabila dilihat dari aktifitas kelompok hacker, mereka berhasil melakukan penghancuran data, spionase, dan serangan DDoS ke berbagai target di Amerika, Arab Saudi, Israel, dan Eropa,” ujar Satriyo.

Serangan Malware: Dari Hapus Data sampai Mati Listrik

Satriyo kemudian memberi contoh serangan yang terjadi dalam krisis Georgia pada Agustus 2008. Sehari sebelum serangan militer, gelombang DDoS menghantam 38 situs, termasuk di antaranya Kementerian Luar Negeri, Bank Nasional, parlemen, Mahkamah Agung, kedutaan, situs berita, dan situs kepresidenan.

Serangan tersebut terjadi terus menerus sampai kemudian terjadi black out akibat sabotase listrik.

Saat itu, Talinn Manual menyatakan senjata siber adalah malware. Senjata siber ini didesain dan digunakan untuk merusak, menyakiti, hingga membunuh objek. Beberapa malware bahkan khusus dirancang untuk target tertentu.

Satriyo kemudian memberi contoh malware, yakni Stuxnet. Malware ini berhasil melumpuhkan 2.000 dari 8700 sentifugal uranium di Natanz, Iran. Fasilitas ini memisahkan uranium -235 dari isotop uranium -238 dengan PLC (Programmable Logic Controller) yang mengendalikan alat pemutar berkecepatan sangat tinggi.

Hanya berukuran 500kb, Stuxnet menggunakan 4 zero-days (celah keamanan piranti lunak yang tidak diketahui pengembangnya) untuk mengambil alih sistem, menyebar lewat jaringan untuk mencari komputer yang terinstal program STEP7 yang terhubung dengan PLC, dan menginfeksinya.

Stuxnet kemudian akan memodifikasi proses yang merusak mesin sentrifugal dari dalam dengan mempercepat putarannya tanpa diketahui oleh petugas.

Satriyo kemudian memberi contoh malware lainnya, yakni BlackEnergy yang didesain untuk mengambil alih ICS (Industrial Control System) dari infrastruktur kelistrikan. Malware berhasil dua kali mematikan listrik Ukraina pada 2015 dan 2016.

Serangan pertama ditujukan kepada tiga pembangkit (Kyivoblenergo, Prykarpattyaoblenergo, dan Ukrenergo) dengan memutus sirkuit, merusak konverter analog ke digital, menghapus data, dan menghancurkan backup baterei

“Serangan kedua ditujukan kepada pusat transmisi Ukrenergo yang memutus 200MW listrik ke Utara Ukraina,” kata Satriyo. (CNN/GPH)

Advertisement Valbury

Science & Technology

Fakta Pesawat MV-22 Osprey AS yang Mau Dibeli Indonesia

Published

on

By

Ilustrasi pesawat MV-22 Osprey. (AFP/STR)

Finroll.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia bakal membeli delapan unit pesawat militer jenis MV-22 Block C Osprey dan sejumlah alat militer dari Amerika Serikat (AS). Pemerintah Indonesia diperkirakan akan menggelontorkan uang sebanyak US$2 miliar atau setara Rp28,8 triliun untuk seluruh pembelian tersebut.

Terbang dan Mendarat Vertikal

Melansir Military, MV-22 Osprey dikenal sebagai pesawat yang unik karena memiliki kemampuan vertical takeoff and landing (VTOL) layaknya helikopter. Kemampuan itu berkat dukungan teknologi tilrotor. Meski demikian, MV-22 Osprey memiliki kecepatan dan radius misi seperti pesawat fixed-wing.

Pesawat yang diproduksi oleh manufaktur Boeing dan Bell Textron itu juga memiliki kemampuan short takeoff and landing (STOL).

Alami Puluhan Kecelakaan

Melansir Aviation Safety Network, jumlah kecelakaan yang melibatkan MV-22 Osprey sudah mencapai 30 kali sejak tahun 1991. Sedangkan dalam lima tahun terakhir, insiden yang melibatkan MV-22 Osprey mencapai 16 kali.

Insiden terbaru terjadi pada 30 Mei 2020 di Bandara Brown Field Municipal, fasilitas penerbangan umum yang dikelola kota San Diego dekat perbatasan AS-Meksiko.

Saat itu, pesawat sipil Twin Otter berguling dan menabrak rotor sebelah kiri MV-22B Osprey milik Korps Marinir AS yang sedang diparkir. Tidak ada yang terluka akibat kejadian itu.

Pada 1 April 2019, MV-22B Osprey milik militer AS menyampaikan keadaan darurat saat melakukan penerbangan dari Iwakuni ke Atsugi, Jepang. Pesawat itu kemudian melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional Osaka dan menyebabkan penerbangan koersial tertunda selama 20 menit.

Pada 2018, empat insiden milik militer AS juga terjadi Jepang. Tiga insiden terjadi di Bandara Amami dan satu di sekitar pulau Ikei, Prefektur Okinawa. Selain gangguan mesin saat penerbangan, salah satu insiden terkait lepasnya penutup mesin. Namun, tidak ada korban jiwa dalam insiden sepanjang tahun 2018.

Pada tahun 2017, jumlah insiden yang melibatkan MV-22 Osprey sebanyak tujuh kali. Insiden tersebut terjadi pada bulan Agustus 2017 di sekitar pantau Shoalwater, Queensland, Australia.

Kala itu, MV-22 Osprey milik marinir AS tenggelam beberapa saat setelah mendarat di kapal amfibi USS Green Bay. Tiga penumpang tewas dan 23 penumpang diselamatkan.

Pada tahun 2016, dua insiden yang melibatkan MV-22 Osprey juga terjadi. Salah satu insiden terjadi ketika sedang melakukan operasi pengisian bahan bakar udara dari pesawat tanker MC-130J di atas laut.

Kala itu, baling-baling menghantam selang pengisian bahan bakar dan merusak pesawat. Tidak ada korban jiwa, akan tetapi pesawat melakukan pendaratan darurat dan sejumlah kru dikabarkan mengalami luka.

Pada tahun 2015, MV-22 Osprey milik militer AS mengalami kerusakan akibat menghantam landasan ketika melakukan pendaratan vertikal di Waimanalo, AS. Meski tidak ada korban jiwa, 18 personel termasuk kru dikabarkan mengalami luka serius.

Selain itu, bagian sayap di dekat kabin utama, bagian ekor , dan semua rotorblade hancur. Api juga sempat  terlihat sebelum akhirnya dipadamkan.

Dilengkapi senapan mesin

Melansir Aeroweb, V-22 Osprey dapat dilengkapi dengan senapan mesin M240 7,62 mm atau senapan mesin M2 Browning kaliber 50 (12,7 mm). MV-22 Osprey juga dikabarkan bakal menggunakan kembali belly turret Interim Defensive Weapon System (IDWS) dari BAE Systems yang memiliki minigun tiga laras GAU-17 kaliber 7,62mm.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Science & Technology

Spotify Resmi Luncurkan Fitur Lirik Lagu di Indonesia

Published

on

Finroll – Jakarta, Spotify resmi meluncurkan fitur lirik lagu dalam aplikasi di beberapa negara. Indonesia menjadi negara yang langsung kebagian fitur tersebut.

Pada November 2019, Spotify mengatakan sedang menguji coba lirik real time di dalam aplikasi untuk pasar tertentu. Pada 1 Juli, Spotify resmi meluncurkan fitur tersebut.

Saat dicoba CNNIndonesia.com, fitur ini bisa langsung digunakan pengguna pada Now Playing di aplikasi seluler. Lirik akan berada di bagian bawah Now Playing dan diberi label LYRICS.

Untuk mengakses fitur ini, pengguna tinggal memutar lagu yang diinginkan. Kemudian di Now Playing, pengguna langsung scrolling ke bawah.

Lirik menyerupai fitur karaoke yang akan menyoroti teks yang dinyanyikan dalam lagu tersebut. Akan tetapi, tidak semua lagi memiliki fitur lirik ini.

CNNIndonesia.com juga mencoba fitur ini di aplikasi desktop Spotify maupun di web player Spotify. Akan tetapi, CNNIndonesia.com tidak menemukan fitur lirik di kedua versi tersebut.

Dilansir dari TechCrunch, selain Indonesia, negara-negara yang akan mendapatkan fitur ini adalah Singapura, Kolombia, Argentina, Brasil, Kolombia, Chili, Meksiko, Taiwan, Hong Kong, Thailand, Vietnam, hingga Malaysia.

Spotify sesungguhnya telah bekerja sama dengan Musixmatch untuk menghadirkan fitur lirik, sebelum dihentikan pada 2016. Setelah menghentikan kerja sama dengan Musixmatch, Spotify bekerja sama dengan Spotify untuk menghadirkan fitur ” Behind the Lyrics”.



Akan tetapi, fitur ini tidak seutuhnya menampilkan seluruh lirik. Fitur ini fokus dengan menjelaskan latar belakang dari lagu ini bersama beberapa penggalan lirik.

Uniknya, dilansir dari The Verge, fitur ini tak tersedia di Amerika Serikat.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Science & Technology

TikTok Mundur Dari Hong Kong, Kenapa ?

Published

on

By

Firoll.com – Aplikasi TikTok yang merupakan sebuah aplikasi berbagi video yang sangat banyak diminati berbagai kalangan, kini akan berhenti beroperasi dari pasar Hong Kong dalam beberapa hari mendatang, ini alasanya !

Dikutip dari reuters, keputusan TikTok untuk berhenti beroperasi dari Hong Kong terjadi setelah pemerintah China mengeluarkan undang-undang keamanannya yang kontroversial di kota semi-otonom. Dalam upaya untuk melakukan kontrol lebih besar atas internetnya, memaksakan penyensoran, serta memaksa perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut untuk menyerahkan data pengguna.

Aplikasi TikTok sendiri dimiliki oleh ByteDance yang berbasis di China. Namun, perusahaan mengatakan data pengguna aplikasi tersebut tidak disimpan di China. Pernyataan itu diungkapkan perusahaan TikTok setelah pemerintah India mengeluarkan pernyataan mengenai larangan 59 aplikasi lainnya termasuk TikTok di negara Asia Selatan, seperti yang dikutip dari GSMArena, Rabu, (8/7).

Sementara itu, TikTok mengatakan bahwa data pengguna belum diberikan kepada pemerintah sebelumnya dan tidak akan melakukan hal itu. Banyak sekali yang resah terkait masalah privasi data pengguna tersebut.

Terlepas dari itu semua, apakah aplikasi berbagi video dapat bertahan dengan keputusan kontroversial seperti ini atau malah bernasib sama seperti yang lainnya yang terjadi di India dan kehilangan keuntungan miliaran dolar sebagai hasilnya.

Foto : Inetdetik|GoogleSearch

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending