Connect with us
[adrotate group="1"]

Ragam

Indonesia Jadi Negara Kedua Dengan Durasi Puasa Tersingkat di Asia

Published

on


Indonesia Jadi Negara Kedua Dengan Durasi Puasa Tersingkat di Asia

Finroll.com – Setiap umat Islam di seluruh dunia diwajibkan melaksanakan ibadah puasa selama Ramadan. Puasa dilakukan sejak memasuki waktu Subuh dan diakhiri saat masuk waktu Magrib.

Meski demikian, setiap negara punya durasi berpuasa yang berbeda-beda. Ada yang memiliki durasi berpuasa yang panjang, ada pula yang pendek. Pada bulan Ramadan tahun ini, negara-negara di benua Asia memiliki durasi puasa mulai dari 13 jam 4 menit hingga 18 jam 40 menit.

Namun uniknya, dari 41 negara, Indonesia merupakan negara kedua dengan durasi puasa tersingkat di Asia setelah Timor Leste. Demikian menurut hasil studi negara-negara yang memiliki durasi puasa tersingkat dan terpanjang di dunia oleh situs berhemat CupoNation Indonesia dalam rilis yang diterima VIVA, Rabu, 8 Mei 2019.

Berdasarkan hasil studi, dari 41 negara yang masuk dalam daftar survei, negara-negara Asia Tenggara adalah yang paling banyak masuk dalam peringkat 15 besar sebagai negara dengan waktu puasa tersingkat.

Meski Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan durasi puasa tersingkat kedua di Asia, namun masih ada negara bagian dari benua lain yang memiliki durasi puasa lebih singkat dari Indonesia dan Timor Leste. Di Ramadan ini, waktu puasa berbagai negara di dunia memiliki durasi mulai dari 11 jam 10 menit hingga 21 jam 42 menit.

Negara dengan durasi puasa terpendek di dunia adalah Selandia Baru dengan durasi puasa 11 jam 10 menit, 2 jam 11 menit lebih singkat dari Indonesia.

Sementara waktu puasa terpanjang tahun ini adalah 21 jam 42 menit, yang berarti umat muslim di negara ini hanya memiliki 2 jam 18 menit untuk berbuka dan kemudian kembali berpuasa. Tahun ini, Greenland merupakan negara dengan durasi puasa terpanjang di dunia, di mana hari pertama puasa hanya berdurasi 19 jam 35 menit dan hari terakhir berdurasi 21 jam 42 menit.

Berikut daftar lengkapnya:

15 negara di Asia yang memiliki durasi puasa terpendek:

1. Timor Leste — hari pertama: 13 jam 9 menit, hari terakhir 13 jam 4 menit
2. Indonesia — hari pertama: 13 jam 23 menit, hari terakhir 13 jam 21 menit
3. Maladewa — hari pertama: 13 jam 39 menit, hari terakhir 13 jam 46 menit
4. Singapura — hari pertama: 13 jam 41 menit, hari terakhir 13 jam 46 menit
5. Malaysia — hari pertama: 13 jam 46 menit, hari terakhir 13 jam 52 menit
6. Sri Lanka — hari pertama: 13 jam 46 menit, hari terakhir 13 jam 56 menit
7. Brunei Darussalam — hari pertama: 13 jam 50 menit, hari terakhir 13 jam 58 menit
8. Kamboja — hari pertama 14 jam, hari terakhir 14 jam 14 menit
9. Filipina — hari pertama 14 jam 8 menit, hari terakhir 14 jam 26 menit
10. Thailand — hari pertama 14 jam 10 menit, hari terakhir 14 jam 37 menit
11. Yaman — hari pertama 14 jam 17 menit, hari terakhir 14 jam 37 menit
12. Laos — hari pertama 14 jam 21 menit, hari terakhir 14 jam 43 menit
13. Myanmar — hari pertama 14 jam 26 menit, hari terakhir 14 jam 51 menit
14. Vietnam — hari pertama 14 jam 30 menit, hari terakhir 14 jam 56 menit
15. Bangladesh — hari pertama 14 jam 41 menit, hari terakhir 15 jam 9 menit

30 negara dengan durasi puasa terpendek tahun ini:

1. Selandia Baru — hari pertama 11 jam 54 menit, hari terakhir 11 jam 10 menit
2. Argentina — hari pertama 12 jam 11 menit, hari terakhir 11 jam 37 menit
3. Australia — hari pertama 12 jam 12 menit, hari terakhir 11 jam 38 menit
4. Chili — hari pertama 12 jam 17 menit, hari terakhir 11 jam 46 menit
5. Lesotho — hari pertama 12 jam 29 menit, hari terakhir 12 jam 03 menit
6. Mozambik — hari pertama 12 jam 31 menit, hari terakhir 12 jam 07 menit
7. Paraguay — hari pertama 12 jam 33 menit, hari terakhir 12 jam 11 menit
8. Aljazair — hari pertama 12 jam 35 menit, hari terakhir 12 jam 11 menit
9. Afrika Selatan — hari pertama 12 jam 37 menit, hari terakhir 12 jam 14 menit
10. Botswana — hari pertama 12 jam 39 menit, hari terakhir 12 jam 17 menit
11. Tonga — hari pertama 12 jam 41 menit, hari terakhir 12 jam 24 menit
12. Namibia — hari pertama 12 jam 44 menit, hari terakhir 12 jam 25 menit
13. Mauritius — hari pertama 12 jam 34 menit, hari terakhir 12 jam 27 menit
14. Fiji — hari pertama 12 jam 48 menit, hari terakhir 12 jam 34 menit
15. Madagaskar — hari pertama 12 jam 51 menit, hari terakhir 12 jam 36 menit
16. Swaziland — — hari pertama 12 jam 35 menit, hari terakhir 12 jam 37 menit
17. Zimbabwe — hari pertama 12 jam 54 menit, hari terakhir 12 jam 40 menit
18. Brasil — hari pertama 12 jam 58 menit, hari terakhir 12 jam 46 menit
19. Zambia — hari pertama 12 jam 59 menit, hari terakhir 12 jam 47 menit
20. Samoa — hari pertama 12 jam 58 menit, hari terakhir 12 jam 48 menit
21. Bolivia — hari pertama 13 jam, hari terakhir 12 jam 48 menit
22. Malawi — hari pertama 13 jam 1 menit, hari terakhir 12 jam 51 menit
23. Komoro — hari pertama 13 jam 2 menit, hari terakhir 12 jam 54 menit
24. Peru — hari pertama 13 jam 2 menit, hari terakhir 12 jam 54 menit
25. Solomon — hari pertama 13 jam 8 menit, hari terakhir 13 jam 1 menit
26. Papua Nugini — hari pertama 13 jam 7 menit, hari terakhir 13 jam 2 menit
27. Angola — hari pertama 13 jam 8 menit, hari terakhir 13 jam 3 menit
28. Timor Leste — hari pertama 13 jam 9 menit, hari terakhir 13 jam 4 menit
29. Tanzania — hari pertama 13 jam 19 menit, hari terakhir 13 jam 17 menit
30. Republik Demokratik Kongo — hari pertama 13 jam 21 menit, hari terakhir 13 jam 20
menit

30 negara dengan durasi puasa terpanjang tahun ini:

1. Greenland — hari pertama 19 jam 35 menit, hari terakhir 21 jam 42 menit
2. Islandia — hari pertama 19 jam 33 menit, hari terakhir 21 jam 39 menit
3. Finlandia — hari pertama 18 jam 54 menit, hari terakhir 20 jam 21 menit
4. Estonia — hari pertama 18 jam 48 menit, hari terakhir 20 jam 10 menit
5. Swedia — hari pertama 18 jam 07 menit, hari terakhir 19 jam 52 menit
6. Latvia — hari pertama 18 jam 30 menit, hari terakhir 19 jam 41 menit
7. Alaska — hari pertama 18 jam 15 menit, hari terakhir 19 jam 37 menit
8. Denmark — hari pertama 17 jam 40 menit, hari terakhir 19 jam 25 menit
9. Norwegia — hari pertama 17 jam 40 menit, hari terakhir 19 jam 23 menit
10. Lithuania — hari pertama 18 jam 18 menit, hari terakhir 19 jam 21 menit
11. Rusia — hari pertama 17 jam 56 menit, hari terakhir 19 jam 17 menit
12. Belarus — hari pertama 18 jam 15 menit, hari terakhir 19 jam 16 menit
13. Jerman — hari pertama 18 jam 05 menit, hari terakhir 19 jam 01 menit
14. Belanda — hari pertama 18 jam 04 menit, hari terakhir 19 jam
15. Polandia — hari pertama 18 jam 05 menit, hari terakhir 19 jam
16. Irlandia — hari pertama 17 jam 15 menit, hari terakhir 18 jam 54 menit
17. Luksemburg — hari pertama 17 jam 33 menit, hari terakhir 18 jam 48 menit
18. Ceko — hari pertama 17 jam 39 menit, hari terakhir 18 jam 47 menit
19. Ukraina — hari pertama 17 jam 33 menit, hari terakhir 18 jam 44 menit
20. Belgia — hari pertama 17 jam 47 menit, hari terakhir 18 jam 43 menit
21. Mongolia — hari pertama 17 jam 17 menit, hari terakhir 18 jam 40 menit
22. Inggris — hari pertama 17 jam 04 menit, hari terakhir 18 jam 36 menit
23. Slowakia — hari pertama 17 jam 14 menit, hari terakhir 18 jam 33 menit
24. Liechtenstein — hari pertama 17 jam 05 menit, hari terakhir 18 jam 30 menit
25. Swiss — hari pertama 17 jam 04 menit, hari terakhir 18 jam 29 menit
26. Hongaria — hari pertama 17 jam 06 menit, hari terakhir 18 jam 28 menit
27. Moldova — hari pertama 17 jam, hari terakhir 18 jam 23 menit
28. Slovenia — hari pertama 16 jam 53 menit, hari terakhir 18 jam 22 menit
29. Prancis — hari pertama 16 jam 54 menit, hari terakhir 18 jam 21 menit
30. Kroasia — hari pertama 16 jam 50 menit, hari terakhir 18 jam 18 menit

source: viva

Ragam

Gejala yang tersisa setelah sembuh dari Covid-19

Published

on

FINROLL.COM – Meski telah dinyatakan sembuh, namun, ribuan orang yang pernah terinfeksi Covid-19 melaporkan masih mengalami gejala. Gejala yang dialami bervariasi, mulai dari demam, kabut otak, kehilangan memori, mimisan, sesak napas, kehilangan pengelihatan, dan lainnya.

Business Insider berbicara pada 80 orang yang memiliki gejala menetap tersebut. Sementara kasus Covid-19 terus bertambah di banyak negara, jumlah pasien sembuh yang mengalami gejala menetap seperti mereka akan bertambah.

Elisa McCafferty, seorang pekerja asal Reading, Inggris, yang mengalami kondisi tersebut mengatakan, beberapa orang beruntung karena bisa pulih dalam beberapa pekan setelah dinyatakan positif. Namun, tidak semua seberuntung mereka.

“Bagi kami pemulihan butuh waktu yang lebih lama,” katanya, seperti dilansir Business Insider.

Cerita lainnya disampaikan oleh warga San Antonio, Amerika Serikat, Hector Martinez (33). Sebelum terinfeksi Covid-19, ia mengaku tak memiliki masalah kesehatan mental namun kini ia merasakan kecemasan dan depresi. Empat bulan setelah merasakan gejala pertama, ia masih merasa sakit, selalu merasa kelelahan dan mengalami kabut otak.

“Pada beberapa hari aku merasa bahagia tapi di beberapa hari lainnya aku merasa tidak memiliki perasaan apapun,” ujarnya.

Martinez adalah seorang tukang listrik. Namun, ketika ia kembali bekerja pada Juli lalu, anehnya ia tidak mampu mengingat bagaimana cara memasang sakelar lampu. “Rasanya seperti aku pertama kali melakukannya. Aku menangis di perjalanan pulang dan berpikir, mengapa ini bisa terjadi padaku?” katanya.

Kini, ia hanya bisa bekerja beberapa hari dalam satu waktu dan merasa tidak aman tentang masa depannya.

Sayangnya, gejala akibat virus korona yang menetap ini masih belum menjadi perhatian serius, seperti perlombaan untuk menemukan vaksin. Namun, setidaknya beberapa dokter menyadari hal itu.

Ahli saraf Svetlana Blitshteyn, misalnya, mengatakan pernah merawat beberapa pasien dengan kasus seperti Martinez.

Beberapa pasien datang ke kliniknya dengan gejala baru seperti kelelahan, pusing, kesulitan berdiri, jantung berdebar, sesak napas, hingga tidak mampu berolahraga seperti sebelumnya. “Atau mereka juga mengalami sakit kepala, mati rasa, gangguan tidur, masalah kognitif, serta masalah suasana hati,” ungkapnya.

Sementara ahli jantung Saiya Khan mengatakan, pasien dengan gejala kelelahan adalah salah satu gejala pasca-Covid yang sering ditemui pada pasiennya. “Yang kami temukan adalah mereka merasa lelah luar biasa beberapa minggu atau bulan setelahnya,” kata Khan.

Sebuah studi tentang gejala virus corona yang menetap menemukan bahwa pada 87% pasien setidaknya mereka mengalami satu gejala menetap. Pada awal pandemi, otoritas kesehatan mengatakan bahwa pemulihan Covid-19 biasanya membutuhkan waktu sekitar dua minggu dan orang tua lebih berisiko tinggi.

Namun pada Juli, jelas bahwa 20% dewasa muda tanpa penyakit penyerta tetap menderita gejala, bahkan hingga tiga minggu setelah dites positif.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) kini menyadari bahwa Covid-19 dapat menyebabkan penyakit berkepanjangan.

lissa Miolene (27), warga New York City yang pernah terinfeksi Covid-19, juga merasakannya. Ini sudah lebih dari 115 hari setelah ia dites positif, namun Elissa masih merasakan gejala-gejala yang sama.

“Bagiku, hidup saat ini adalah tentang bangun di tengah malam dan menangis karena aku merasakan sangat sakit tetapi tidak tahu kenapa,” katanya.

Elissa dulunya adalah perempuan 20 tahunan yang aktif dan sehat. Namun kini, ia harus mengandalkan terapi fisik virtual untuk mengatasi nyeri punggung dan dada yang dirasakannnya.

“Aku tidak tahu kapan aku akan lebih baik. Tidak tahu kapan aku bisa merasakan diriku sendiri lagi, atau kapan bisa melakukan hal-hal yang aku sukai lagi,” kata dia.

Sementara itu, warga asal Boise, Idaho, Amerika Serikat, Stephen Smith (64) adalah salah seorang pasien yang memiliki gejala bertahan paling aneh. Ia terkena infeksi Covid-19 pada Februari lalu setelah perjalanan dinas ke Asia. Kemudian ia merasakan demam, infeksi usus, kerontokan rambut, jempol kaki membengkak, dan sakit kepala.

Tujuh bulan kemudian, ia masih merasakan sakit. “Kau harus percaya bahwa ini serius dan berpotensi membuatmu sangat sakit, dan dalam beberapa kasus bisa membunuhmu,” kata Smith.

Lebih dari lima bulan setelah terinfeksi dalam sebuah kapal pesiar, warga lainnya, McCafferty (48), juga masih merasakan gejala sesak napas dan sangat mudah kelelahan. Ia mengaku kesulitan naik tangga untuk pergi ke toilet tanpa kehabisan napas.

“Ada hari di mana aku menangis tanpa alasan. Kondisi itu hanya akan membuatku marah,” ungkapnya.

Hari-hari yang sangat buruk baginya adalah ketika ia merasa sangat tidak memiliki energi. McCafferty mengaku bisa tidur selama sembilan hingga 10 jam pada malam hari, tetapi tulangnya masih terasa lelah ketika bangun. Bahkan, ia bisa jatuh jatuh pingsan.

“Kemudian otakku seperti berkabut. Aku juga bisa berada di tengah-tengah kalimat saat berbicara denga klien atau temanku, lalu aku bisa benar-benar lupa dengan apa yang ku katakan,” sambungnya.

Ketidakpastian ini sekarang menghantui ribuan orang yang bertanya-tanya apakah mereka sekarang memiliki kondisi kronis. Mereka juga kerap bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengenai apa yang akan mereka lakukan dalam hidup dalam kondisi seperti itu.

“Jadi, setiap aku pergi tidur, aku selalu berdoa kepada Tuhan agar keesokan harinya kondisi menjadi lebih baik,” kata Martinez.

Artikel asli telah tayang di Kompas.com dengan judul “Gejala yang Tersisa Setelah Sembuh dari Covid-19

 

 

Continue Reading

Ragam

Sempat Berlatih Sendiri, Atlet Pelatnas Atletik Olimpiade Tokyo Segera Didampingi Pelatih

Published

on

By

Pelari Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, berpose saat ditemui di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Selasa (3/9). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Finroll.com, Jakarta – PB PASI mengalami kendala dalam menjalankan program pelatnas atletik Olimpiade Tokyo 2020, akibat pandemi virus corona. Alhasil, para atlet yang sedang berada di daerah masing-masing harus berlatih tanpa didampingi pelatih.

Hal itu terkuak setelah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengucurkan anggaran pelatnas atletik Olimpiade sebesar Rp 6.141.700.000 dari usulan awal Rp 6.294.100.000.

Bantuan itu dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Sekjen PB PASI, Tigor Tanjung, didampingi Plt Ketua Umum PB PASI, Zaki Makarim, di Wisma Menpora, Kantor Kemenpora, Jakarta, Selasa (14/7/2020) lalu.

“Zohri dan kawan-kawan selama ini latihan sendiri sejak dikembalikan ke daerah masing-masing tanpa didampingi pelatihnya. Kini, kita akan tarik mereka semua ke Jakarta untuk bisa fokus dalam latihan menghadapi persiapan Olimpiade Tokyo,” ujar Zaki Makarim.

“Semua ini bisa dilakukan karena masalah anggaran dana pelatnas atletik Olimpiade teratasi dengan adanya kucuran dari Kemenpora,” kata Zaki

Satu di antara atlet pelatnas atletik Olimpiade Tokyo 2020, Lalu Muhammad Zohri, sudah menjalankan program latihan di daerah asalnya Nusa Tenggara Barat (NTB) tanpa didampingi pelatih, sejak Maret lalu. Kondisi tersebut terkait dengan kebijakan pemerintah sehubungan adanya pandemi COVID-19.

“PB PASI bukan membiarkan mereka menjalankan program latihan sendiri. Tetapi, kami kesulitan mengirimkan pelatih ke tempat Zohri dan kawan-kawan latihan, karena adanya kebijakan tentang larangan masyarakat daerah lain masuk ke lokasi,” ungkapnya.

Tetap Dipantau

Selama latihan mandiri di kampung halamannya, Zohri tetap dipantau pelatih pelatnas untuk lari jarak pendek, Eni Nuraeni, melalui WhatsApp dengan mewajibkan mengirimkan foto-foto latihan.

Zohri menjadi satu-satunya atlet atletik Indonesia yang sudah mengamankan tiket ke Olimpiade Tokyo 2020. Tetapi, PB PASI masih menargetkan dua atlet lagi untuk mendampinginya ke pesta olahraga akbar empat tahunan dunia tersebut, yakni Satwaturahman dan Emilia Nova.

Sapwaturahman Sanapiah merupakan atlet lompat jauh putra, sedangkan Emilia Nova merupakan atlet lari gawang 100 meter putri. Keduanya berhasil mempersembahkan medali emas di SEA Games 2019 Filipina.

Sapwaturahman bahkan memecahkan rekor SEA Games dengan mencatatkan lompatan sejauh 8,03 meter. Keduanya juga menyumbangkan medali di Asian Games 2018 Jakarta. Sapwaturahman meraih perunggu dan Emilia Nova menyumbangkan perak bagi Kontingen Indonesia. (Bola.com)(GE)

Continue Reading

Bulutangkis

Taklukkan Shesar Hiren, Anthony Ginting Kampiun PBSI Home Tournament

Published

on

By

Anthony Sinisuka Ginting menjuarai Mola TV PBSI Home Tournament setelah di final mengalahkan Shesar Hiren Rhustavito, Jumat (10/7/2020). (PBSI)

Finroll.com, Jakarta – Unggulan pertama, Anthony Sinisuka Ginting, merebut gelar juara pada ajang Mola TV PBSI Home Tournament. Bertanding pada final di Pelatnas Cipayung, Jumat (10/7/2020), Anthony mengalahkan Shesar Hiren Rhustavito dua gim langsung, 21-19, 21-15.

Tak hanya di final, Anthony Sinisuka Ginting tampil baik di semua pertandingan sepanjang Mola TV PBSI Home Tournament. Ia bahkan tak pernah kehilangan satu gim pun. Menikmati setiap permainannya menjadi kunci bagi Anthony untuk tampil cemerlang.

“Puji Tuhan saya bisa menyelesaikan turnamen ini dengan baik. Kuncinya coba menikmati permainan meskipun ini home tournament, tapi saya anggap seperti turnamen resmi. Apalagi sudah hampir empat bulan tidak ada turnamen. Dari pikiran, mental dan semuanya disiapin banget,” ujar pemain asal klub SGS PLN Bandung ini, melalui rilis dari PBSI.

Anthony sempat tertinggal di awal gim pertama. Namun pelan-pelan ia mulai menyusul dan balik mengungguli Shesar. Anthony bisa meredam serangan-serangan Shesar yang cukup tajam.

“Waktu ketinggalan itu saya terburu-buru mau dapat poin, mau menyerang tapi pertahanan Shesar sudah siap,” ungkap Anthony.

“Dari permainan depan netnya jangan sampai ketinggalan. Saya lebih mengontrol pergerakan dia dan maksimalkan perhitungan dari panjang lebar lapangan untuk akurasi pukulan saya. Jangan sampai Shesar netting dan pengembalian saya ke atas. Dia kan pemain menyerang, jadi saya berusaha meredam semua kelebihan dia,” beber Anthony Sinisuka Ginting.

Shesar Akui Keunggulan Anthony

Meskipun tampil cemerlang di turnamen ini, Anthony tetap mengevaluasi performanya dan mempersiapkan diri lebih baik lagi jelang turnamen resmi.

“Saya harus kurangi kesalahan sendiri, mental dan fokus yang paling utama. Dari pertandingan pertama sampai final ini, masih banyak bola-bola saya yang enggak seharusnya mati malah mati. Kalau fokus hilang sedikit bisa banyak poin yang hilang,” ujar Anthony.

Sementara itu, Shesar mengatakan Anthony lebih taktis dan efisien dalam melakukan serangan, sehingga membuatnya kesulitan.

“Di gim pertama saya sudah memimpin dan kehilangan fokus. Saya kurang disiplin dan gampang memberi bola serangan buat Anthony. Pada gim kedua saya mau mempercepat permainan tapi kurang taktis dibanding Anthony,” ucap Shesar.(Bola.com)(GE)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending