Connect with us

Industri

Indonesia Siap Jadi Produsen Baterai Terbesar di Dunia

Published

on


JAKARTA – Indonesia kini tengah mendekati sejumlah pemain utama baterai dan mobil listrik kelas dunia, mulai dari perusahaan asal China yakni Contemporary Amperex Technology Co. Limited atau CATL, perusahaan Korea Selatan LG Energy Solution, perusahaan asal Jepang Panasonic, hingga perusahaan mobil listrik ternama asal Amerika Serikat Tesla.

Hal itu tak lain untuk mewujudkan industri kendaraan listrik terintegrasi dari hulu hingga hilir di Tanah Air. Dengan demikian, tak hanya menjadi konsumen, namun Indonesia juga menjadi bagian dari produsen baterai dan kendaraan listrik dunia.

Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik (Electric Vehicle/ EV Battery), Agus Tjahajana Wirakusumah, mengatakan untuk menjadi produsen baterai terbesar, langkah yang harus diambil adalah mencari pasar-pasar terbesar.

Saat ini pasar terbesar untuk baterai adalah China, Eropa, dan Amerika. Menurutnya, jika ingin masuk menjadi pemain global, maka harus masuk ke pasar tiga negara tersebut. Cara untuk bisa masuk ke pasar tersebut yaitu melalui menggandeng pemain baterai yang menjual ke pasar tersebut.

“Kalau kita lihat baterai, kita kalau mau jadi pemain global, ya harus masuk ke pasar itu. Kalau mau masuk ke pasar itu, tentu harus menggandeng pemain baterai yang menjual ke pasar itu,” jelasnya di Jakarta.

Menurutnya, sejak tim percepatan dibentuk oleh Menteri BUMN pada Februari 2020 lalu, tim telah membuat perencanaan untuk memilih calon mitra.

Mulanya tim mengenal ada 11 pemain baterai besar di dunia. Kriteria yang dilihat oleh tim untuk menjadi partner adalah berdasarkan kemampuan, rekam jejak, keinginan untuk investasi, dan mereknya.

“Dari 11 kita bisa keluar enam, dan akhirnya bisa mendapatkan tiga yang terbaik dan kemudian kita berkomunikasi, yaitu dengan LG, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China dan kita berbincang-bincang dengan Jepang, dengan Panasonic,” tuturnya.

Pihaknya sudah menyadari jika kendaraan listrik yang ada di Indonesia saat ini belum pesat, sangat jauh jika berkaca ke China.

Perihal pasar ini juga menjadi salah satu pertimbangan calon investor untuk mau berinvestasi di Tanah Air.

“Mitra kami melihat berapa besar market kami di sini. Hitungan yang ada di kami, di tim, dengan melihat proyeksi yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian dan tim sendiri yang lakukan perhitungan, kami melihat memang tidak terlalu besar sekali dibandingkan dengan China,” jelasnya.

Dia mengatakan, berdasarkan perhitungan Kementerian Perindustrian, diproyeksikan pada 2025 mendatang baru akan ada sekitar 400 ribu unit kendaraan listrik di Indonesia. Perhitungan ini menurutnya masih dianggap kecil bagi pabrik baterai berskala internasional.

“Oleh karena itu, kita harus mengekspor kelebihan daripada kapasitas di hulu. Jadi, harus ada balance capacity dari hulu sampai hilir,” tuturnya.

Pemerintah Indonesia sudah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan LG Energy Solution untuk membangun pabrik baterai senilai US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp 142 triliun, Jumat (18/12/2020) lalu. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia sempat mengatakan pada Januari 2021 ini, akan dilakukan penandatanganan Heads of Agreement (HoA) oleh konsorsium BUMN, menyusul MoU ini.

Agus mengatakan, konsorsium BUMN yang tergabung dalam Holding Indonesia Battery yang dipimpin MIND ID beserta PT Aneka Tambang Tbk, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) ini diharapkan akan bekerja sama dengan LG.

“Kami berempat sudah sangat siap. Persetujuan dari Pak Erick sudah keluar, tinggal nanti melihat mitra kita maunya seperti apa. Para pemegang saham sudah mengerti apa yang harus dilakukan dari sisi legal document-nya,” tutur Agus yang juga merupakan Komisaris Utama PT Inalum (Persero) atau MIND ID.

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan pihaknya akan melakukan diskusi dengan Tesla pada Februari 2021 untuk mengembangkan kerja sama pembangunan industri mobil listrik di Tanah Air.

Menurutnya, diskusi ini sebagai salah satu langkah RI menjadi pemain utama industri mobil listrik. “Insya Allah, di bulan Februari ini, saya akan membuka pembicaraan dengan Tesla untuk mengembangkan kerja sama ini,” jelas Erick dalam keterangan tertulisnya.

Sumber Berita : Tribunnews.com

Iwan Hidayat Bergabung Dengan Finroll Media Group Tahun 2012

Industri

Membaca Arah Industri Penerbangan Global Setelah Pandemi

Published

on

By

Sejak Wright Brothers berhasil menerbangkan pesawat terbangnya untuk pertama kali di Kill Devil Hill North Carolina pada tahun 1903, moda transportasi udara bergerak maju dengan cepat.

Sejak usainya perang dunia ke 2, penerbangan sipil komersial bergerak pesat merajut jejaring rute penerbangan internasional antara lain dibawah koordinasi ICAO, International Civil Aviation Organization dan IATA, International Air Transport Association.

Industri penerbangan berkembang dengan laju percepatan yang sangat mengagumkan dan pabrik pesawat terbang bersaing ketat dalam memperebutkan pasar angkutan udara. Karena membutuhkan modal besar dan tenaga ahli spesialis di bidang penerbangan serta sangat memerlukan perencanaan strategis jangka panjang, maka tidak banyak pabrik pesawat terbang yang dapat meraih sukses.

Di permukaan terlihat dua pabrik pesawat terbang raksasa yang berlomba dari waktu ke waktu dalam memperebutkan pasar angkutan udara antar bangsa. Boeing yang mewakili Amerika Serikat dan Airbus yang merupakan representasi benua Eropa bersaing dalam kompetisi yang penuh romantika.

Persaingan kedua pabrik pesawat terbang ini masuk dalam kurva yang terus menanjak seolah tanpa jeda sampai pada titik kedatangan pandemic yang seolah menghentikannya secara paksa, setidaknya untuk sementara.

Bermula pada tahun 1957 yang berarti hanya selang 54 tahun saja sejak pesawat terbang pertama berhasil diterbangkan, Boeing telah berhasil memproduksi pesawat terbang sipil komersial B-707 yang terkenal itu.

Pesawat yang mampu membawa penumpang sekitar 400 orang tersebut telah sukses memasuki pasar dunia yang ditandai dengan Boeing memproduksi lebih dari 1.000 pesawat untuk melayani permintaan dari segenap penjuru dunia.

Pabrik Boeing menghentikan produksinya pada tahun 1979 setelah menurun drastisnya permintaan pasar terhadap B-707. T

erbang pertama kalinya di tahun 1969, Boeing meluncurkan pesawat barunya yang segera saja merajai angkasa. B-747 yang bergelar Jumbo karena kemampuannya yang dapat membawa penumpang hingga 600 orang. Pesawat terbang raksasa ini bermesin jet 4 buah dengan kabin bertingkat telah menjadi simbol status “kebanggaan” dari semua Maskapai Penerbangan.

Walaupun harus mengakhiri laju produksinya pada tahun 2020 nanti, B-747 telah sukses menembus angka lebih dari 1500 pesawat terbang yang dihasilkan untuk memenuhi permintaan pasar dunia. B-747 tidak saja dikenal sebagai “Jumbo Jet” akan tetapi juga di juluki “Queen of the Skies”, karena bentuknya yang cantik. B-747 dengan berbagai varian nya telah menjadi legenda dunia penerbangan dengan kemampuan bertahan di pasar global selama lebih dari 50 tahun.

Pada tahun yang sama 1969 Eropa merespons kompetisi perebutan pasar global dengan meluncurkan Concorde, produk pesawat terbang yang sangat fenomenal. Concorde menjadi pesawat terbang sipil komersial pertama yang dapat terbang lebih dari 2 X kecepatan suara dengan ketinggian 60.000 ft dan mampu membawa sebanyak 100 penumpang.

Sebuah terobosan yang fantastis terutama bagi pelayanan jasa perhubungan udara internasional. Concorde tidak bernasib baik dalam bersaing dengan pesawat lainnya, dan hanya mampu diproduksi sebanyak 20 pesawat saja.

Concorde juga hanya sempat melayani penumpang kelas “Jet-set” selama 7 tahun yaitu sejak 1976 sampai dengan 2003. Kurangnya minat penumpang pesawat terbang untuk bepergian menggunakan Concorde menyebabkan hanya dua maskapai penerbangan yang meng-operasikannya yaitu British Airways dan Air France.

Perkembangan selanjutnya dari produksi pesawat terbang adalah dalam hal menghasilkan pesawat terbang yang irit bahan bakar dan ramah lingkungan antara lain menurunkan tingkat kebisingan. Pada versi ini kemudian dikenal jenis Boeing B-777 dan Airbus A-330.

Kedua pesawat terbang tersebut mewakili era pesawat berbadan lebar untuk penerbangan jarak jauh dengan tenaga 2 mesin saja. Mesin yang tidak hanya irit dalam penggunaan bahan bakar, apalagi dibanding dengan pesawat sebelumnya yang bermesin 4 buah, juga di disain dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah. Untuk diketahui, ICAO telah mempromosikan industri penerbangan yang juga memperhatikan trend global yang “go green”.

Pada tahun 2005 Airbus menggulirkan produk barunya yang cukup spektakuler yaitu A-380 pesawat raksasa yang mampu membawa penumpang hampir mencapai angka 900 orang.

Sempat di produksi sebanyak 242 unit, A-380 menjadi sulit bersaing karena antara lain masih menggunakan 4 buah mesin. Di samping itu pasar penumpang ternyata tidak berorientasi kepada jumlah penumpang yang banyak.

Tanda tanda akan dihentikannya produksi A-380 sudah terlihat beberapa waktu sebelum Pandemi Covid 19 merebak. Ke depan dipastikan akan sulit untuk dapat mengembangkan pesawat terbang A-380 ini, karena pasar memang sudah bergeser pada pesawat bermesin 2 dan mesin yang irit BBM.

Belakangan ini arena persaingan pesawat bermesin 2 irit BBM dikuasai oleh jenis pesawat B-737 versus Airbus A-320 dengan berbagai varian yang berkembang. Puncak dari persaingan ini adalah tersungkurnya jenis B-737 MAX 8 dengan kejadian kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines yang menelan ratusan korban jiwa.

Tragedi yang terlihat sebagai sebuah momentum dimana masyarakat penerbangan dunia kemudian mempertanyakan kredibilitas pabrik pesawat terbang Boeing sekaligus otoritas penerbangan paling terkemuka dan bergengsi FAA, Federal Aviation Adminstration.

Demikianlah kompetisi dalam industri penerbangan yang berjalan dengan dinamis dan penuh dengan persaingan ketat memperebutkan pasar global. Kemajuan teknologi telah merekayasa apa saja mulai dari ukuran pesawat, kecepatan pesawat hingga efisiensi penggunaan bahan bakar serta program pengurangan kebisingan berlangsung meriah dari waktu ke waktu.

Kesemua itu memang berada di tengah sebuah proses dari ujud pelayanan angkutan udara global yang tengah mencari bentuknya yang pas. Sayangnya , tanpa mampu diantisipasi tiba tiba saja datang tsunami pandemi Covid-19 yang langsung dengan seketika memporak porandakan industri penerbangan dunia.

Ke depan bagaimana corak dari pelayanan moda angkutan udara akan terbangun, masih menjadi tanda tanya besar. Ke mana arah industri penerbangan global akan menuju menjadi sulit untuk memperoleh jawabannya. Yang jelas arus penumpang yang selama ini bepergian dengan moda angkutan udara tiba tiba saja menurun drastis.
Walau tuntutan akan kebutuhan angkutan barang dan penerbangan charter kelihatannya tidak begitu terganggu namun tetap saja sebelum dunia mampu mengatasi pandemic Covid-19 dengan tuntas, maka arah dari industri penerbangan akan menuju kemana tidak ada seorang pun yang mampu meramalkannya dengan pasti kecuali sang “waktu” yang akan memberikan jawabannya.

Continue Reading

Industri

Alasan SilverQueen Dicampur Kacang Mede

Published

on

ini SilverQueen Dicampur Kacang Mede Alasan

SilverQueen menjadi salah satu cemilan yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Indonesia. Merek itu memiliki khas di mana cokelat dipadukan dengan kacang mede.
Pemiliknya yang berkebangsaan Burma, Ming Chee Chuang memilih kacang mede sebagai campuran cokelat berdasarkan hasil inovasinya sendiri. Saat itu dia sedang berjuang bagaimana caranya agar bisa mempertahankan bisnis, karena tidak bisa ikut program Banteng yang diselenggarakan pemerintah Indonesia khusus untuk orang pribumi.

Di sisi lain, campuran kacang mede dalam SilverQueen juga sebagai penguat untuk membuat cokelat batangan. Saat itu untuk membuat cokelat batangan sangat sulit, karena belum ada teknologi untuk membuatnya tidak meleleh ketika dipajang di toko karena iklim tropis Indonesia yang panas.

Chuang pun membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengetahui cara-cara modern membuat cokelat batangan yang dicampur kacang mede agar berasa lebih enak. Dia melancong ke Amsterdam, Belanda, belajar ke pabrik cokelat CJ Van Houten yang sudah memproses kakao menjadi cokelat jadi.

Singkat cerita SilverQueen semakin berkembang dan semakin dikenal luas. Chuang pun semakin bertambah usia dan perkembangan perusahaan yang ia miliki harus dilanjutkan oleh generasi selanjutnya.

Estafet kepemimpinan pun harus diwariskan Chuang kepada anak-anaknya yakni John dan Joseph. Di tangan mereka lah bisnis semakin berkembang hingga mendirikan perusahaan baru pada 1984 bernama Petra Food yang kantor pusatnya terletak di Singapura.

Perusahaan itu pun menjadi satu bagian dengan PT Perusahaan Industri Ceres dengan produk dan merek andalan lainnya seperti Delfi, SilverQueen, Ritz, Biskuit Selamat, Chunky Bar, hingga cokelat tabur (meises) Ceres.

Pasar SilverQueen pun terus berkembang hingga mendunia. Dilansir dari situs resmi perusahaan, bisnisnya saat ini telah berkembang ke Singapura, dan menjalin hubungan perdagangan dengan beberapa negara seperti Filipina, dan Malaysia. Produknya termasuk SilverQueen juga telah dijual di lebih dari 10 negara lain termasuk Thailand, Brunei, India, Korea Selatan, dan Vietnam.

Sumber : Finance.detik.com

Continue Reading

Industri

Manuver Baru Freeport Lawan Dominasi Baterai Tiongkok

Freeport bakal menggandeng Tsingshan Steel untuk menggarap smelter tembaga di Weda Bay, Maluku Utara. Lokasi yang menjadi sasaran pemerintah untuk menggenjot produksi baterai kendaraan listrik.

Published

on

Pembangunan pabrik pemurnian atau smelter tembaga di Gresik, Jawa Timur, semakin tak jelas nasibnya. Pemerintah dan PT Freeport Indonesia kini berencana memindahkan proyek itu ke Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

Padahal sebelumnya, perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu telah menemukan solusi agar smelter tetap terbangun. Caranya dengan menaikkan kapasitas produksi pabrik yang sudah ada, PT Smelting di Gresik, dari 1 juta ton menjadi 1,3 juta ton per tahun.

Sebagai gantinya smelter yang baru akan turun produksinya dari 2 juta ton menjadi 1,7 juta ton per tahun.

Kali ini Freeport berniat menggandeng perusahaan asal Tiongkok, Tsingshan Steel, untuk menggarap pabrik pemurnian tembaga di Halmahera. Nilai proyek ini mencapai US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 25,5 triliun.
Rencana ini mendapat dukungan dari pemerintah. Menteri Koordinatir Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, dalam wawancaranya dengan Asia Times, mengatakan kesepakatannya akan ditandatangani sebelum Maret 2021.
Tsingshan telah setuju akan menyelesaikan smelter itu dalam waktu 18 bulan. Juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan kerja sama ini merupakan inisiatif pemerintah.
Kedua perusahaan masih melakukan pembahasan untuk pembangunannya. Ia tak merinci alasan pemindahan lokasi smelter tersebut. “Itu opsi dari pemerintah,” katanya kepada Katadata.co.id, Selasa (1/12).
Saat dikonfirmasi soal ini, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin tidak merespons pesan singkat dan telepon Katadata.co.id.
Begitu pula dengan Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Mineral dan Batu Bara Irwandy Arif. Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Merah Johansyah menilai Freeport telah lama melakukan pelanggaran hukum sejak Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara alias UU Minerba berlaku.
Kini, UU Minerba baru telah berlaku, yaitu Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020, pelanggaran serupa masih terjadi. Freeport tak kunjung melaksanakan hilirisasi tambang, yaitu membangun smelter.
Yang lebih parah, menurut dia, pemerintah melakukan pembiaran. Tidak ada sanksi dan evaluasi. Padahal, negara telah menguasai 51% saham Freeport melalui PT Indonesia Asahan Aluminium alias MIND ID sejak dua tahun lalu. Bahkan DPR tak memakai hak istimewanya untuk melakukan koreksi.
“Pemerintah dan DPR hanya berkoar-koar saja,” ujar Merah. Dalam proses pemberian izin usaha pertambangan khusus (IUPK) pada 2018, pemerintah seharusnya dapat menahan kontrak Freeport sampai smelter baru terbangun.
Perusahaan sejauh ini hanya mengobral komitmen. “Sekarang dia minta tunda lagi,” ucapnya. Freeport sebelumnya telah menyurati Kementerian ESDM untuk mengajukan penundaan pilling test dan pile load test proyek smelter baru di Java Integrated Industrial and Port Estate atau JIIPE, Gresik, dari September menjadi November 2020.

Perusahaan lalu melayangkan surat lagi pada 11 November. Isinya, Freeport telah memberikan notice to proceed kepada kontraktor proyek, Chiyoda, untuk mengerjakan pilling test.

Hilirisasi untuk Lawan Dominasi Tiongkok di Industri Baterai

Di balik aksi tarik-ulur pemerintah dan Freeport tak lepas dari ambisi mendorong industri kendaraan listrik domestik. Berkali-kali Luhut menyatakan ingin menjadikan Indonesia menjadi produsen baterai lithium-ion untuk kendaraan listrik atau EV.
Alasannya, negara ini memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Komoditas tambang itu merupakan salah satu komponen utama dalam produksi baterai. Karena itu, sekarang tak ada lagi ekspor nikel. Pemerintah ngotot perusahaan tambang melakukan hilirisasi, melalui pembangunan pabrik pemurnian.
Tak heran apabila sekarang pemerintah mendorong Freeport bekerja sama dengan PT Tsingshan Steel. Perusahaan sebelumnya sudah memiliki pabrik smelter nikel di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah. Lalu, dua tahun lalu, perusahaan melakukan ekspansi ke Kawasan Industri Weda Bay.
Nikel merupakan bahan baku utama baterai. Tsingshan berdiri sebagai perusahaan patungan antara PT Bintang Delapan Mineral dengan Shanghai Decent Invesment.
“Artinya, dia tidak 100% murni perusahaan Tiongkok,” kata Merah. Di Weda Bay, ada tiga perusahaan lain yang membangun smelter, yaitu PT Weda Bay Nickel, PT Yashi Indonesia Investment, dan PT Youshan Nickel Indonesia.
Youshan Nickel Indonesia merupakan patungan antara Huayou Group dan Tsingshan Group. Perusahaan sedang merintis komponen baterai kendaraan listrik di sana.

“Pemain baterai listrik orangnya itu-itu saja,” ujarnya. Keberadaan perusahaan Tiongkok dalam industri ini tak terlepas dari posisinya sebagai produsen baterai terbesar di dunia. Negeri Panda tidak hanya menguasai teknologinya, tapi juga bahan bakunya.

Melansir dari VOA, pada 2019 perusahaan kimia Tiongkok menyumbang 80% dari total produksi bahan mentah dunia untuk baterai canggih. “Dari 136 pabrik baterai lithium-ion, 101 di antaranya berbasis di Tiongkok,” kata data Benchmark Mineral Intelligence.
Negeri Manufaktur itu mengontrol pemrosesan hampir semua mineral penting. Mulai dari logam tanah jarang atau rare earth, lithium, kobalt, dan grafit. Perusahaan asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technologi Co Ltd (CATL), saat ini merupakan produsen baterai listrik terbesar di dunia.
Pangsa pasar perusahaan yang berdiri pada 2011 itu mencapai 27,9% secara global. CATL memasok baterai untuk Tesla, Daimler AG, BMW, dan Toyota. Selain nikel, pmbuatan baterai lithium juga bergantung pada bahan utama lainnya, yaitu grafit. Mineral ini biasanya ditemukan pada ujung pensil.
Pada 2019, Tiongkok memproduksi lebih dari 60% grafit dunia. Artinya, Beijing dapat menetapkan harganya. Begara lain sulit mengejar posisi tersebut. Bahkan Amerika Serikat diperkirakan butuh 20 hingga 30 tahun untuk menyusul Tiongkok. Komoditas tambang lainnya yang tak kalah penting adalah kobalt.
Mineral ini banyak dipakai dalam kendaraan listrik dan peralatan elektronik. Tiongkok haya memiliki cadangan kobalt 1% secara global. Yang terbesar, mencapai 60% cadangan dunia, adalah Republik Demokratik Kongo. Sebanyak delapan dari 14 tambang kobalt di negara Benua Afrika itu milik perusahaan Tiongkok.
Pada 2016, Freeport-McMoran Inc menjual tambang kobaltnya di Republik Demokratik Kongo kepada China Molybdenum. Nilai transaksinya mencapai U$ 2,65 miliar.
Yang tak kalah krusial adalah mineral lithium. Lagi-lagi, Tiongkok tak punya pasokan banyak tapi menguasai 51% cadangan di dunia. Tambang lithium besar di Australia dan Chile telah dikuasai perusahaan Negeri Tembok Raksasa.

Ingkar Janji Freeport

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno belum mempelajari rencana pembangunan smelter Freeport dan Tsingshan Steel. Namun, pihaknya menyambut positif jika rencana tersebut terealisasi.
Rencananya, DPR akan mengadakan pertemuan pada pekan depan terkait proyek tersebut. “Kami akan mendalami lebih lanjut rencana inevstasi di Weda Bay tersebut di dalam RDP Komisi VII,” kata dia.
Pakar Hukum Pertambangan Ahmad Redi mengatakan dalam kesepakatan awal atau HoA dengan pemerintah, Freeport diberi perpanjangan IUPK asalkan membangun smelter. Secara hukum, apabila hal itu tidak terealisasi, maka perusahaan terbukti melanggar hukum.
Pemerintah perlu kosisten memastikan rencana tersebut terwujud. Freeport pun harus berkomitmen melaksanakan kewajibannya. Pada 2014, Freeport sempat melaporkan progres pembangunan pabrik permuniannya untuk mendapatkan izin ekspor. “Tiba-tiba mereka tidak jadi membangun di Gresik. Ini bentuk manipulasi, hanya untuk mendapatkan izin ekspor konsentrat saja,” ujar Ahmad.
Continue Reading

Trending