Connect with us

International

Jika Demonstrasi Terus Berlanjut, China Bakal Kirim Pasukan Ke Hongkong

Published

on


Keterangan foto : Ilustrasi suasana demontrasi di Hongkong

Finroll.com — Jika Demonstrasi Terus Berlangsung, Militer China mengancam akan mengerahkan para personelnya ke Hong Kong untuk menjaga ketertiban umum. Pasalnya Demonstrasi besar-besaran yang terus berlangsung ricuh selama enam pekan terakhir. Beijing menuturkan pengerahan pasukan itu akan dilakukan atas permintaan pemerintah Hong Kong.

Kolonel Senior Wu Qian, Juru bicara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA), mengatakan pihaknya terus memonitor dengan seksama demonstrasi yang terjadi di Hong Kong selama ini, terutama protes yang berlangsung di depan Kantor Penghubung China pada akhir pekan lalu.

Ribuan demonstran melempari telor busuk hingga merusak gedung selama demonstrasi berlangsung.

“Kami terus mengikuti perkembangan di Hong Kong, khususnya serangan kekerasan terhadap kantor penghubung pemerintah pusat China oleh orang-orang radikal pada 21 Juli lalu,” kata Wu dalam jumpa pers saat memperkenalkan Buku Putih Pertahanan China, Rabu (24/7/2019).

Lebih lanjut Wu Qian menuturkan sikap para pemrotes selama ini telah menandakan penentangan terhadap pemerintah China dan sistem “Satu China” sehingga “benar-benar tidak dapat ditoleransi.

Militer China akan merespons situasi Hong Kong berdasarkan “Pasal 14 Undang-Undang Pangkalan Militer (garrison law)” yang telah memiliki ketentuan yang jelas.

Meski begitu, dikutip The Straits Times, Wu tak menjelaskan lebih lanjut terkait hal tersebut.

Sementara itu, berdasarkan Hukum Garnisun Hong Kong, pasal tersebut menyatakan bahwa pemerintah kota dapat menerima bantuan pemerintah pusat, dalam hal ini China, untuk menjaga ketertiban umum dan bantuan bencana.

China akan mengirim pasukannya yang ada di Hong Kong untuk melakukan tugas yang telah ditentukan berdasarkan persetujuan permintaan dari Beijing.

Sementara pujian datang dari Presiden Donald Trump, Trump memuji cara China menanggapi protes menolak rancangan undang-undang ekstradisi di Hong Kong yang mengobarkan kembali sentimen anti-Beijing.

Menurut Trump, China sebenarnya bisa saja menghentikan gelombang protes itu jika mereka mau. Namun, China tak melakukannya.

Sekedar informasi, protes di Hong Kong sendiri dilaporkan kian panas hingga pada Minggu (21/7/2019) lalu, setidaknya 45 orang terluka akibat unjuk rasa yang berakhir ricuh. Kepolisian lantas menangkap enam orang yang diduga memiliki latar belakang gangster. Namun, sejumlah pihak menganggap kepolisian sangat lamban bergerak.

RUU ekstradisi ini menjadi polemik karena memungkinkan tersangka satu kasus diadili di luar negeri, termasuk China. Proposal aturan ini menyulut amarah warga Hong Kong karena khawatir akan sistem peradilan di China yang kerap bias dan dipolitisasi.(red)

Advertisement Valbury

International

Ngeri! AS Datang ke Taiwan, China Kirim Jet Tempur

Published

on

Pesawat tempur China dikabarkan memasuki Selat Taiwan, Senin (10/8/2020). Bahkan, melewati median selat.

Sebagaimana dikabarkan Reuters, ini bersamaan dengan datangnya Menteri Kesehatan AS Alex Azar. Ia ke Taiwan untuk memberi dukungan penanganan corona (Covid-19) sejak Minggu.

Militer Taiwan menyebut pesawat terdeteksi oleh rudal Taiwan. China menerbangkan J-11 dan J-10 sekitar pukul 9.00 waktu setempat.

Baca: AS-China Tegang Lagi, Bisa Gak IHSG Tembus 5.200?

“Tepat sebelum pertemuan Presiden Taiwan Tsai Ing-Wen dengan Menkes Azar,” kata angkatan udara Taiwan dikutip Selasa (11/8/2020).

“Pesawat dilacak oleh rudal anti-pesawat yang berbasis di darat dan diusir oleh pesawat Taiwan yang berpatroli.”

Seorang pejabat senior Taiwan mengatakan China jelas “menargetkan” kunjungan Azar dengan langkah “sangat berisiko”. Aktivitas melewati median selat merupakan ketiga kalinya dilakukan China sejak 2016.

Sayangnya belum ada komentar China.

Ini merupakan kedatangan pejabat tinggi AS pertama sejak 1979. AS pada tahun itu memutus hubungan diplomatik dengan pulau ini.

China mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya dan menawarkan konsep satu negara dua sistem. Meski begitu, hal ini tak diamini Taiwan dan meminta China menghormati sebagai negara berdaulat.

Ini memperburuk ketegangan China dan AS. Sebelumnya kedua negara tegang di banyak hal, mulai dari perdagangan, penguasaan teknologi, corona, hingga Laut China Selatan dan Hong Kong.

Continue Reading

International

Kronologi Pesawat Terbelah di India, 17 Orang Tewas

Published

on

By

Pesawat Air India Express tergelincir di Bandara Calicut, India pada Jumat (7/8) malam dan menelan 17 korban meninggal dunia.(AFP/FAVAS JALLA).

Finroll.com, Jakarta –  Pesawat Air India Express readyviewed tergelincir di Bandara Calicut (Kozhikode), Kerala, India pada Jumat (7/8) malam.

Hingga sekarang, insiden yang menyebabkan pesawat patah dan terbelah dua ini menyebabkan 17 orang meninggal dunia. Berikut kronologi pesawat tergelincir dan terbelah dua.

Pesawat Air India Express dengan nomor penerbangan IX-1344 tersebut terbang dari Dubai, Uni Emirat Arab pada Jumat sore. Pesawat berjenis Boeing 737 itu mengangkut total 191 orang yang terdiri dari 184 penumpang, 5 awak kabin, dan 2 pilot.

Setelah sekitar empat jam perjalanan, pesawat Air India Express tiba di Bandara Calicut, Kerala. Saat hendak mendarat, pesawat itu tergelincir di landasan pacu sekitar pukul 19.40 waktu setempat.

Saat itu, kondisi cuaca sedang hujan deras. Pesawat tergelincir sekitar 10 meter di ujung landasan pacu. Pesawat itu jatuh ke jurang 10 meter, patah, dan terbelah menjadi dua.

“Tidak ada kebakaran yang dilaporkan pada saat (pesawat) mendarat,” ungkap juru bicara Air India Express dalam sebuah pernyataan.

Penyelamatan dan evakuasi pesawat langsung dilakukan setelah kecelakaan tersebut. Namun, hujan deras sempat menjadi kendala tim evakuasi.

Berdasarkan data dari situs pelacakan penerbangan mencatat bahwa pesawat tersebut sempat berusaha mendarat dua kali.

“Kondisi cuaca tidak bagus. Pilot sudah mencoba mendarat lebih awal dan kemudian melakukan putaran (turnaround),” kata Civil Aviation Minister India Hardeep Singh Puri kepada CNN.

Dalam wawancara di stasiun TV, korban yang yang selamat juga menyebut pesawat naik dan turun berkali-kali sebelum mendarat saat hujan.

Hingga Sabtu (8/8) pagi, tercatat 17 korban tewas, termasuk bayi berusia 10 bulan dan 1,5 tahun. Salah satu pilot, Deepak Santhe juga meninggal dunia, Korban meninggal ini dapat terus bertambah mengingat lebih dari 100 orang terluka dan 15 diantaranya dalam kondisi kritis.

Petugas senior kepolisian Abdul Karim mengatakan kepada AFP, bahwa 15 korban kritis tersebut sedang dirawat intensif di rumah sakit.

Perdana Menteri India Narendra Modi menyatakan berduka atas kecelakaan tersebut.

“Sangat sedih atas kecelakaan pesawat di Kozikhode. Turut berduka cita kepada mereka yang ditinggalkan orang tercinta. Untuk mereka yang terluka semoga dapat segera pulih,” ujar Modi melalui akun Twitter @narendramodi, dikutip Sabtu (8/8).

Modi juga memastikan bahwa Kepala Menteri Kerala Pinarayi Vijayan siap membantu semua korban yang terdampak.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

International

Presiden Libanon Tolak Penyelidikan Internasional Ledakan

Published

on

By

Presiden Libanon Michael Aoun. (AFP/JOSEPH EID)

Finroll.com, Jakarta – Presiden Libanon Michael Aoun menolak menolak segala bentuk penyelidikan internasional atas ledakan dahsyat di pelabuhan Beirut.

Aoun mengatakan serangan rudal atau kelalaian bisa menjadi penyebab terjadinya ledakan yang mengakibatkan 154 korban jiwa dan melukai lebih dari lima ribu lainnya. Menurut dia, campur tangan pihak asing dapat mengaburkan kebenaran.

Dia berjanji untuk segera mengusut tuntas penyebab insiden tersebut

Sejak awal readyviewed pemerintah Libanon menduga ledakan itu disebabkan oleh timbunan amonium nitrat yang disimpan di pelabuhan selama bertahun-tahun tanpa pengamanan memadai. Dilaporkan ada 2.750 ton amonium nitrat disimpan di gudang Pelabuhan Beirut itu.

Penyimpanan bahan kimia berdaya ledak tinggi itu pun memicu kemarahan warga Libanon. Aoun sendiri mengakui ada kesalahan dalam sistem pengawasan.

Meski demikian pemantik ledakan dari amonium nitrat yang tersimpan masih belum jelas.

Sejumlah petugas menyatakan ada pekerjaan perbaikan gudang baru-baru ini. Sementara, pihak lain menduga ada kembang api yang disimpan di tempat yang sama atau dekat lokasi penyimpanan bahan kimia berdaya ledak itu.

Amonium nitrat tersebut dilaporkan diangkut oleh kapal dagang berbendera Rusia milik Moldova, Rhosus. Kapal itu berangkat dari Batumi, Georgia menuju Mozambik pada 2013.

Karena terjadi beberapa kendala administrasi, finansial, dan protes dari awak, kapten kapal yang bernama Boris Prokoshev memutuskan singgah di Beirut pada 2013. Karena kapal melanggar sejumlah aturan maka amonium itu disita.

Dia juga membuka kemungkinan serangan rudal sebagai penyebab ledakan. “Ada dua kemungkinan, kelalaian atau serangan asing melalui rudal atau bom,” ujar Aoun seperti dikutip dari AFP, Sabtu (8/8).

Dugaan ledakan disebabkan oleh serangan sebelumnya digulirkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia mengklaim mendapat laporan dari militer bahwa dua ledakan besar yang terjadi di pelabuhan Beirut adalah sebuah serangan.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending