Connect with us

Nasional

Jurus Maju Mundur Anies Lawan Corona di Mata Pakar

Published

on


Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengeluarkan sejumlah jurus untuk melawan pandemi virus corona (Covid-19) yang menyerang ibu kota. Sayangnya, jurus-jurus kebijakan Anies melawan corona itu masih dinilai tidak efektif.
Beberapa jurus Anies dalam menghadapi gempuran corona itu dikeluarkan dalam berbagai kebijakan, baik melalui peraturan gubernur, seruan gubernur, hingga surat keputusan di tingkat kepala dinas.

Salah satu jurus utama Anies dalam menghalau corona adalah penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kebijakan tersebut mulai berlaku sejak 10 April hingga 4 Juni lalu.

Ahli Epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman mengatakan PSBB bukan langkah tepat menangkal corona. Dicky mengaku sejak awal tak terlalu merekomendasikan PSBB untuk menekan penyebaran virus corona.

“Selain memang bukan strategi utama untuk mengendalikan suatu pandemi, juga karena ongkos finansial dan sosial yang besar,” kata Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (20/6).

PSBB tahap pertama dilakukan pada 10-23 April. Kemudian, dilanjut pada penerapan PSBB tahap kedua yang waktu pelaksanaannya lebih lama, yakni dari 24 April hingga 21 Mei.PSBB yang diterapkan Anies berlaku mulai 10 April. Terhitung, sejak saat itu mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu tiga kali memperpanjang masa PSBB.

Anies kembali memperpanjang PSBB, atau tahap ketiga pada 22 Mei hingga 4 Juni. Seiring pelaksanaan PSBB, Anies dan jajarannya turut meningkatkan kapasitas tes swab PCR di Jakarta.

Sampai saat ini total tes PCR kasus baru sebesar 10.587 tes per satu juta penduduk. Sementara, dalam sepekan terakhir telah dilakukan 1.863 tes per 1 juta penduduk atau lebih dari target WHO yakni 1.000 tes per satu juta penduduk per minggu.

Menurut Dicky, Anies belum bisa bernafas lega meski kapasitas testing itu sudah memenuhi kriteria WHO.

“Namun secara proporsi tes per penduduk masih belum ideal. Tetap harus menuju ke setidaknya 1 persen dari total populasi,” ujarnya.

“Dan positive rate DKI juga masih di atas 5 persen (target WHO), sehingga dasar untuk meningkatkan cakupan jadi sangat kuat. Karena artinya masih banyak kasus positif di masyarakat yang belum terdeteksi,” kata Dicky menambahkan.

“Ini bisa kita lihat dari fakta relatif masih mampunya kapasitas pelayanan kesehatan di DKI dalam menampung dan melayani pasien Covid-19. Selain itu kapasitas testing DKI merupakan yang tertinggi di Indonesia,” ujarnya.Kendati demikian, Dicky menilai sejumlah langkah yang diambil Anies dalam menanggulangi pandemi corona ini termasuk cepat dan tepat. Menurutnya, riset dan fakta sejarah pandemi membuktikan bahwa faktor kecepatan merespons secara tepat menentukan keberhasilan pengendalian.

Selain penerapan PSBB dan peningkatan kapasitas testing, jurus Anies lainnya dalam menanggulangi wabah corona adalah dengan mengetatkan arus keluar masuk warga dari dan ke Jakarta.

Aturan mengenai itu tercantum dalam Peraturan Gubernur Nomor 47 Tahun 2020 tentang Pembatasan Kegiatan Berpergian Keluar Masuk Provinsi DKI dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19.

Aturan itu menyatakan bahwa bagi warga non-Jabodetabek membutuhkan Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) untuk dapat keluar atau masuk wilayah ibu kota. Aturan ini dikeluarkan Anies ketika mendekati mudik Lebaran.

Kemudian, memasuki bulan Juni, Anies mengeluarkan kebijakan teranyar, yakni PSBB transisi. Aturan-aturan dalam PSBB masih berlaku, namun dengan sedikit pelonggaran.

Tempat ibadah, perkantoran, dan berbagai fasilitas umum yang tadinya ditutup selama masa PSBB mulai kembali diizinkan menggelar kegiatan dengan terbatas. Selain itu, tempat-tempat tersebut juga harus tetap memperhatikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

“Masa transisi itu akan bisa memasuki fase sehat, aman, produktif jika indikator-indikator kesehatan masyarakat dan epidemiologi menunjukkan bahwa adanya kegiatan ekonomi, sosial, budaya tidak berdampak negatif kepada keselamatan warga,” tuturnya.

Lubang PSBB Transisi
Sejumlah jurus kebijakan yang dikeluarkan Anies dalam menangani pandemi ini dirasa masih belum maksimal. Pakar Kebijakan Publik Universitas Padjajaran Yogi Suprayogi menilai sejumlah kebijakan yang dicanangkan Anies ini lemah dalam proses implementasi.

“Kalau kita evaluasi dari bulan Maret, mulai dari penanganan sebagainya, saya kalau kasih nilai 1-10, saya kasih nilai 4,” kata Yogi.

Kendati demikian, Yogi tak menyalahkan Anies semata dalam penanganan wabah virus corona. Menurutnya, posisi Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan pusat perekonomian membuat pemerintah pusat juga harus turun tangan menangani.

Di sisi lain, Jakarta yang dikelilingi daerah-daerah penyangga seperti Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang juga membutuhkan kerja sama dari pemerintah kabupaten/kota terkait.

“Di sini bukan hanya Pak Anies saja yang salah, pemerintah pusat juga salah. Menurut saya penanganannya juga harus di-cover sama pusat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Forum Warga Kota Azas Tigor Nainggolan mengatakan keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menunjukkan kegamangan saat menerapkan PSBB pada masa transisi di Jakarta.

Tigor menyebut PSBB transisi ala Anies ini tak jelas pelaksanaannya. Menurutnya, ketidakjelasan aturan mengakibatkan tak ada langkah sistematis menangani pandemi virus corona.

“Akibatnya PSBB transisi itu hanya istilah dan di lapangan yang terjadi keliaran dan improvisasi masing-masing stakeholder atau pengelola layanan publik,” kata Tigor kepada CNNIndonesia.com, Kamis (18/6).

Tigor menyebut Anies harus memperpanjang penerapan PSBB dan menjalankan secara ketat. Selain itu, Pemprov DKI juga perlu mengawasi pelaksanaan kebijakan tersebut sesuai protokol kesehatan.

“Jakarta harus lakukan pengawasan dan penegakan PSBB sesuai protokol kesehatan, bukan lagi standar PSBB transisi yang tidak jelas itu,” ujarnya.

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan Anies perlu memperpanjang penerapan PSBB dalam menekan penyebaran virus corona. Meskipun, kata Pandu, dalam dua pekan ini penyebaran virus corona cukup terkendali.

“PSBB perlu terus diperpanjang,” kata Pandu kepada CNNIndonesia.com, Minggu (21/6). Pandu mengaku pihaknya sedang menyelesaikan kajian pelaksanaan PSBB transisi di Jakarta. Hasil kajian tersebut akan diberikan kepada Pemprov DKI.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra mengimbau Anies tetap melaksanakan PSBB secara optimal untuk menekan penyebaran virus corona. Menurutnya, jika ada pelenturan pelaksanaan PSBB, tak semua sektor ikut dilonggarkan.

Hermawan tak sepakat dengan istilah PSBB transisi yang dipakai Anies. Menurutnya, tak ada jenis-jenis PSBB sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21/2020.

“Saya mengimbau pemerintah (Provinsi DKI Jakarta) agar tetap menyelenggarakan PSBB secara optimal,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Hermawan tak ingin PSBB transisi yang diterapkan Anies sejak 4 Juni sampai 2 Juli nanti disalahartikan sebagai kemerdekaan oleh masyarakat. Maklum sekitar tiga bulan sejumlah masyarakat melakukan aktivitas, mulai belajar, bekerja, dan beribadah di rumah.

“Karena tidak sama perspektif pemerintah dengan masyarakat. pemerintah katakan PSBB transisi, tapi masyarakat menganggap kebebasan,” katanya.

Sejumlah kebijakan Pemprov DKI dalam penanganan wabah yang tak luput dari kritik itu ditanggapi santai oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria. Menurut Riza, kritik yang datang merupakan bagian dari kehidupan berdemokrasi.

“Kami anggap itu bagian dari demokrasi kita, kami anggap itu sebagai vitamin yang justru menjadi koreksi, masukan, saran, dan menjadi menguatkan kita. Kita enggak alergi dari berbagai kritik,” tutur Riza saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (20/6).

Hingga kemarin, kasus positif virus corona di Jakarta mencapai 9.830 orang. Dari jumlah itu, 5.054 orang sembuh, 615 orang meninggal, dan sisanya masih menjalani perawatan. Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah tertinggi di Indonesia.

Meskipun kerap mendapat kritik, kata Riza, kebijakan yang dikeluarkan Pemprov DKI tetap menjadi rujukan sejumlah daerah dalam penanganan pandemi virus corona.

“Regulasi kita ini termasuk yang terbaik. Menjadi rujukan, menjadi contoh bahkan dari daerah yang lainnya,” ujarnya.

Sumber : CNN Indonesia

Nasional

Kasus Positif Corona di Sumut 4.193, Sembuh 1.652

Published

on

By

Petugas medis penanganan COVID-19 mengenakan baju Alat Pelindung Diri (APD) ketika berada di ruang isolasi Rumah Sakit rujukan khusus pasien COVID-19 Martha Friska di Medan. (Antara Foto/Septianda)

Finroll.com, Jakarta – Kasus pasien terinfeksi virus corona di Sumatera Utara (Sumut) bertambah 56 orang atau menjadi 4.193 kasus pada Senin (3/8). Masyarakat diimbau disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan, karena ini merupakan cara paling ampuh untuk menghambat penyebaran Covid-19.

 “Suspek bertambah 38 orang menjadi 498 kasus dan meninggal bertambah 2 orang menjadi 204 kasus. Namun, kesembuhan juga bertambah 39 orang menjadi 1.652 kasus,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Sumut, Aris Yudhariansyah.

Kata Aris, penerapan protokol kesehatan secara disiplin dapat mengurangi beban tugas tenaga medis dalam melakukan perawatan pasien Covid-19.

Selain mencuci tangan teratur, menggunakan masker, menjaga jarak dan meningkatkan daya tahan tubuh, masyarakat diminta tetap mengurangi interaksi/kontak dengan orang lain. GTPP Covid-19 Sumut juga meminta kepada masyarakat segera mandi setelah beraktivitas di luar dan berganti pakaian sebelum berinteraksi dengan keluarga.

“Protokol kesehatan harus dijalankan secara keseluruhan dengan benar baik berada di rumah ataupun di tempat umum,” kata Aris.

Aris menambahkan, Covid-19 bisa dilawan dengan cara gotong royong dan komitmen yang menyeluruh baik dari pemerintah juga dari masyarakat.

“Pemerintah punya komitmen, masyarakat pun kami yakin punya komitmen baik tingkat desa hingga keluarga, tetapi harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya sebagian orang,” tegas Aris.

 Aris juga mengucapkan belasungkawa terkait meninggalnya dokter Andhika Kesuma Putra akibat positif terinfeksi virus corona.

Dokter Andhika Kesuma Putra yang mendedikasikan dirinya untuk merawat para pasien Covid-19 meninggal dunia 1 Agustus 2020.

Andhika merupakan salah satu dokter spesialis paru yang memiliki karir cemerlang di Sumut. Selama pandemi dia pernah bertugas di Rumah Sakit (RS) GL Tobing selain juga bertugas di RS Columbia Asia.

Almarhum dokter Andhika selama masa pandemi Covid-19 mendedikasikan dirinya untuk membantu percepatan penanganan Covid-19 di Provinsi Sumut. Dia melakukan perawatan langsung kepada pasien yang terpapar Covid-19,” katanya.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Nasional

Update Corona 31 Juli: 108.376 Positif, 65.907 Orang Sembuh

Published

on

By

Finroll.com, Jakarta – Jumlah kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia secara kumulatif per Jumat (31/7) mencapai 108.376 kasus. Data tersebut diakses melalui situs covid19.go.id hingga pukul 15.00 WIB.

Dari jumlah kasus positif tersebut terdapat total 65.907 pasien dinyatakan sembuh dan sebanyak 5.131 orang meninggal dunia.

Jumlah tersebut diketahui bertambah dari laporan sehari sebelumnya. Pada Kamis (30/7), kasus positif tercatat sebanyak 106.336 kasus, dan 64.292 orang dinyatakan sembuh. Sementara 5.058 meninggal dunia.

Lonjakan kasus diketahui masih cukup dominan di DKI Jakarta. Lonjakan kasus tersebut diketahui membuat Gubernur DKI Jakarta memperpanjang masa PSBB Transisi.

“Kita memutuskan untuk kembali memperpanjang PSBB masa transisi di fase pertama untuk ketiga kalinya sampai dengan 13 Agustus 2020,” kata Anies di Balai Kota DKI, Kamis (30/7).

Anies mengatakan masyarakat harus tetap mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 selama masa perpanjangan PSBB transisi. Pihaknya akan menindak masyarakat yang tak mematuhi protokol kesehatan.

Selain DKI Jakarta, daerah yang mendominasi penambahan kasus virus corona juga terjadi di Jawa Timur hingga Sulawesi Selatan.

Sementara itu, pemerintah juga berharap masyarakat yang tengah melaksanakan rangkaian kegiatan Iduladha, salah satunya penyembelihan hewan kurban, untuk tetap dapat disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Wakil Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zaitun Rasmin mengimbau agar masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan mudik liburan Iduladha. Ia menilai kondisi penularan virus corona (Covid-19) masih sangat membahayakan.

“Memang seharusnya tetap tak ada kegiatan mudik, karena masih tinggi penyebarannya,” mata Zaitun kepada CNNIndonesia.com, Kamis (30/7).

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Nasional

40 Kasus Baru, Sumbar Catat Rekor Harian Tertinggi Covid-19

Published

on

By

Ilustrasi penanganan pasien virus corona. (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)

Finroll.com, Jakarta – Sebanyak 40 kasus positif Covid-19 baru terjadi di Sumatra Barat (Sumbar), Jumat (31/7). Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sumbar mencatat angka tersebut menjadi rekor harian tertinggi sejak kasus perdana Covid-19 di Sumbar.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sumbar, Jasman Rizal mengatakan dari 40 kasus itu, 25 kasus di antaranya terdapat di Kota Padang, 6 kasus di Kota Sawahlunto, 3 kasus di Kota Solok, 3 kasus di Kabupaten Solok, 2 kasus di Kabupaten Agam, dan 1 kasus di Kabupaten Pesisir Selatan.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan 1.541 sampel (1.518 sampel di Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, 23 sampel di Balai Veteriner Bukittinggi),” katanya, Jumat (31/7).

Kasus tertinggi sebelumnya, jelas Jasman, yakni sebanyak 35 kasus pada 24 Mei 2020. Sebagai perbandingan, kasus harian tertinggi pada bulan ini di Sumbar sebanyak 17 kasus sebelum adanya 40 kasus tersebut.

Dengan adanya penambahan 40 kasus, kata Jasman, kasus positif Covid-19 di Sumbar berjumlah 947 kasus. Dari jumlah itu, 761 orang sembuh atau 80,4 persen dari total kasus positif. Adapun pasien positif yang meninggal sebanyak 33 orang.

Jasman mengatakan bahwa sebagian besar dari 40 orang yang positif itu merupakan perantau yang pulang kampung, termasuk pulang kampung untuk merayakan Iduladha.

Pasien Positif Corona DIY 674 Orang

Sementara itu, kasus baru positif Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Jumat (31/7), melonjak sebanyak 64 kasus. Tambahan tersebut membuat kasus kumulatif pasien positif corona menjadi 674 orang.

Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19, Berty Murtiningsih mengatakan sebaran kasus terjadi di Gunungkidul empat kasus baru, Kota Yogyakarta sembilan kasus, dan Bantul 23 kasus. Sedangkan Sleman menjadi kabupaten dengan jumlah penambahan terbanyak.

“Kabupaten Sleman 28 kasus,” ungkap Berty kepada wartawan, Jumat (31/7).

Berty juga menambahkan jumlah sampel yang diperiksa di lab pada 31 Juli 2020 ini sebanyak 1.085, dengan jumlah orang diperiksa 760 orang.

Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana berpendapat bahwa laboratorium kesehatan di DIY perlu mendapat dukungan dari Pemda agar bisa tetap menjalankan operasionalnya. Mengingat, saat ini peran laboratorium kesehatan sangat penting untuk melakukan uji sampel hasil swab.

“Kecepatan dan kapasitas laboratorium menjadi salah satu kunci keberhasilan penanganan wabah Covid 19 di DIY,” kata Huda dalam pernyataan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com.

SUmber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending