Connect with us

International

Kasus Corona di India Melonjak, Buka RS Tampung 10 Ribu Pasien

Published

on


Finroll – Jakarta, India akan membuka rumah sakit terbesar di dunia khusus untuk menangani pasien Covid-19. Kementerian Kesehatan India mengatakan rumah sakit ini menyediakan 10 ribu tempat tidur.

Rumah sakit Sardar Patel Covid Care Center mulai beroperasi pada Minggu (28/6) dengan menyediakan 2.000 tempat tidur. Fasilitas kesehatan yang berlokasi di Chattarpur, New Delhi ini mulai beroperasi penuh untuk merawat pasien terinfeksi virus corona mulai Rabu (31/6).

Menteri Dalam Negeri India, Amit Shah dan Kepala Menteri Delhi Arvind Kejriwal melakukan kunjungan ke lokasi tersebut sebelum diresmikan.

Shah dalam cuitannya mengatakan fasilitas kesehatan ini akan memberikan pertolongan kesehatan yang berarti bagi warga Delhi.
Proses administrasi dan operasional rumah sakit akan dijalankan oleh Polisi Perbatasan Indo-Tiberian (ITBP).

“Saya memuji personil ITBP kami yang berani, yang akan mengoperasikan fasilitas perawatan Covid di masa-masa sulit ini. Komitmen mereka untuk melayani bangsa dan rakyat Delhi tidak tertandingi,” tulisnya dalam sebuah cuitan seperti dilaporkan CNN. Pembukaan rumah sakit khusus Covid-19 ini dilakukan bertepatan dengan melonjaknya kasus virus corona di India.

Data kementerian kesehatan India mencatat lonjakan tertinggi kasus baru corona harian terjadi pada Minggu. Sekitar 19.906 kasus baru dan 410 kematian terjadi selama akhir pekan. Total kasus Covid-19 di India saat ini mencapai 528.859 kasus positif dan 16.905 kematian.

New Delhi menjadi kota dengan penularan paling parah di India, diikuti Mumbai. Negara bagian Maharashtra di India barat mencatat pasien corona tertinggi di India yakni mencapai 159.133 kasus.

Sumber : CNN Indonesia

International

AS Catat Lonjakan Tertinggi Kasus Corona, 60 Ribu Sehari

Published

on

By

Ilustrasi virus corona di Amerika Serikat. (AP/David J. Phillip)

Finroll.com, Jakarta –  Amerika Serikat mencatatkan rekor harian kasus virus corona tertinggi sebanyak 60.021 infeksi dan 1.195 kematian pada Selasa, (7/7).

Menurut CNN, data yang diperoleh dari Johns Hopkins University itu merupakan lonjakan tertinggi dalam satu hari di AS sejak pandemi dimulai.

Berdasarkan data statistik Worldometer, hingga Kamis pagi (9/7) AS memiliki 3.158.932 kasus Covid-19 dan 134.862 kematian. Jumlah tersebut mengukuhkan posisi AS sebagai negara dengan kasus dan kematian tertinggi di dunia akibat virus corona.

Kasus-kasus tersebut tersebar di seluruh 50 negara bagian, Distrik Columbia dan wilayah AS lainnya, serta kasus yang direpatriasi.

Sejauh ini New York menjadi negara bagian paling terpapar parah corona dengan 424.263 kasus dan 32.311 kematian. Dikutip dari CNBC, Texas menjadi menyumbang kasus harian tertinggi Covid-19 dalam beberapa hari terakhir.

AS telah melaporkan sekitar 51.383 kasus baru selama tujuh hari terakhir, naik hampir 24,5 persen dibanding sepekan lalu, menurut analisis data CNBC yang dikumpulkan dari Johns Hopkins.

Penasihat gugus tugas penanganan virus corona AS Anthony Fauci mangakui bahwa pemerintah belum bisa mengendalikan penularan virus corona.

Pakar penyakit menular itu memperingatkan bahwa kasus baru bisa bertambah dua kali lipat menjadi 100 ribu per hari jika pihak berwenang gagal mengambil langkah yang tepat dan cepat untuk mengendalikan penularan Covid-19.

Meski kasus corona di AS terus melonjak, Presiden Donald Trump tetap akan menggelar kampanye pilpres di ruang terbuka di New Hampshire pada 11 Juli mendatang.

Hingga saat ini virus corona telah menginfeksi 12.162.680 juta orang di seluruh dunia 551.976 kematian. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menilai bahwa fase terburuk dari Covid-19 belum datang.

Organisasi Kesehatan Dunia itu juga telah mengonfirmasi penyebaran virus corona melalui udara atau airborne.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

International

WHO Sebut Covid-19 Dapat Menyebar Melalui Udara

Published

on

By

Finroll, Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa mereka mengakui adanya “bukti yang muncul” terkait penyebaran virus Corona di udara. Setelah sekelompok ilmuwan mendesak badan global untuk memperbaharui panduannya mengenai bagaimana penyakit pernapasan menular antara manusia dengan yang lainnya.

Dilansir dari Reuters, “Kami telah berbicara tentang kemungkinan transmisi udara dan transmisi aerosol sebagai salah satu mode transmisi Covid-19,” Maria Van Kekhove, pimpinan teknis pada pandemi Covid-19 di WHO, mengatakan pada konferensi pers.

Sebelumnya WHO telah mengatakan bahwa virus yang menyebabkan penyakit pernapasan Covid-19 menyebar melalui tetesan kecil yang dikeluarkan dari hidung dan mulut orang yang terinfeksi.

Dalam jurnal Clinical Infectious Diseases yang bermarkas di Jenewa, sebanyak 239 ilmuwan di 32 negara merinci bukti menunjukkan bahwa partikel virus yang mengambang di udara dapat menginfeksi orang yang menghirupnya.

“Kami ingin mereka mengakui bukti,” tutur Jose Jimenez, seorang ahli kimia di University of Colorado.

“Ini jelas bukan serangan terhadap WHO, ini hanyalah sebuah debat ilmiah, tetapi kami merasa kami harus go public karena mereka menolak untuk mendengar bukti setelah banyak perbincangan dengan mereka,” ungkapnya.

“Kemungkinan penularan melalui udara dalam pengaturan publik, terutama dalam kondisi yang sangat spesifik, padat, tertutup, pengaturan berventilasi buruk yang telah dijelaskan, tidak dapat dikesampingkan.” Tutur Benedetta Allegranzi, pimpinan teknis WHO dalam pencegahan dan pengendalian infeksi.

“Namun, bukti perlu dikumpulkan dan ditafsirkan, dan kami terus mendukung ini.”

Jimenez mengatakan bahwa kemungkinan jika opini tersebut belum dibuktikan secara ilmiah dan bukti yang nyata, ini hanya membuat kekhawatiran dan kepanikan bahwa virus Corona dapat menyebar melalui udara dan menginfeksi siapa saja yang menghirupnya.

 

Continue Reading

International

Blokir Aplikasi China, TikTok Palsu Muncul di India

Published

on

By

Ilustrasi TikTok. (Diolah dari Istockphoto/Elena Feodrina)

Finroll.com, Jakarta – Sebuah aplikasi palsu TikTok dikabarkan muncul di India setelah pemerintah melakukan pelarangan terhadap aplikasi asal China tersebut. Aplikasi TikTok palsu itu mengundang pengguna untuk mengunduh melalui pesan SMS.

Aplikasi TikTok palsu yang beredar di India bernama TikTok Pro. ByteDance, selaku  pengembang TikTok yang asli mengatakan tidak ada memiliki kaitan dengan TikTok Pro.

Melansir SCMP, TikTok Pro memiliki log yang sama dengan TikTok asli. Namun, aplikasi itu tidak memiliki fitur untuk membuat video singkat atau mengakses video yang ada di TikTok asli.

Sebaliknya, TikTok Pro membombardir penggunanya dengan iklan dan tautan untuk mengunduh aplikasi lain. Aplikasi tiruan itu juga meminta akses ke foto, file, kontak, lokasi, pesan, dan lainnya milik pengguna.

Tindakan yang dilakukan oleh TikTok Pro berpotensi mencuri data pribadi serta menyerang ponsel dengan malware dan spyware.

Sebuah akun Twitter bernama @GowdPurushotham menyampaikan bahwa sejumlah rekannya mendapat pesan berisi URL tentang TikTok Pro.

Belum diketahui secara pasti berapa banyak warga India yang tertipu dengan aplikasi tersebut. Saat ini, sejumlah media lokal telah menyarankan warga agar tidak mengunduh aplikasi tersebut.

Melansir BGR, scammers menggunakan serangan SMS dan phishing untuk menarik pengguna agar mengunduh aplikasi bernama TikTok Pro. Scammer memanfaatkan larangan pemerintah India terhadap TikTok asli untuk membuat aplikasi berbahaya lainnya.

Aplikasi palsu itu diketahui tidak tersedia di Google Play Store, yang merupakan satu-satunya tempat untuk mengunduh aplikasi bagi pengguna Android.

India pada Senin (29/6) memutuskan melarang 59 aplikasi seluler China, termasuk TikTok dan WeChat di negara mereka. Larangan yang hanya berselang beberapa minggu setelah bentrokan di perbatasan Himalaya dilakukan dengan alasan keamanan dan privasi nasional.

Langkah ini akan melindungi kepentingan mendasar pengguna ponsel dan internet India. Keputusan ini adalah langkah yang ditargetkan untuk memastikan keamanan dan kedaulatan dunia maya India.

Daftar aplikasi yang dilarang India termasuk Helo, Likee, Scanner Cam, Video Vigo, Mi Video Call-Xiaomi, Clash of Kings, serta platform e-commerce Club Factory dan Shein.

Kementerian TI India menyebutkan pihaknya juga menerima banyak keluhan dari berbagai sumber, termasuk beberapa laporan tentang penyalahgunaan beberapa aplikasi seluler yang tersedia di platform Android dan iOS.

Aplikasi itu dianggap mencuri data dan diam-diam secara tidak sah mengirimkan data pengguna ke server yang berlokasi di luar India.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending