Connect with us

Batam

Kemendikbud RI dan Cyber Edu Inkor PTC berkolaborasi menyelenggarakan PKKU 2019

Published

on


Finroll.com, Cirebon – Inkor Profesional Training Center, bekerjasama dengan Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan (Ditbinsuslat), Direktorat Jenderal Paud dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menyelenggarakan Program Pendidikan Kecakapan Kerja Unggulan (PKKU) tahun 2019 bidang keterampilan Sales Marketing dan Work Ethic.

Acara Penutupan Program PKKU Tahun 2019 pada hari sabtu (19/10) serentak di 5 kota yaitu Batam, Jakarta, Cirebon, Makassar, dan Palembang. Sebagai informasi, Program PKKU sendiri sudah berlangsung selama kurang lebih 1 bulan terhitung sejak tanggal 22 September – 19 oktober 2019 dengan sistem pembelajaran flipped learning dengan 3 kali pertemuan kelas offline (tatap muka) di 5 titik lokasi tersebut diatas dengan jumlah peserta kurang lebih 300 orang.

Untuk acara seremonial pada saat pembukaan Program PKKU dilaksanakan di Menara UNAS Jakarta, oleh Kasubdit Sarana dan Prasarana, Purwanto M.Si, didampingi oleh Presiden Direktur PT. Cyber Edu Inkor, Dr. Cho Jang Youn, yang baru-baru ini ditetapkan sebagai Rektor Asing Pertama di Indonesia yang akan memimpin Universitas Siber Asia, sedangkan untuk puncak acara penutupan Program PKKU pada saat ini secara seremonial di lakukan di Gedung OJK Kota Cirebon yang telah dilaksanakan secara khidmat dan dapat dikatakan sukses. Selain itu acara tersebut dihadiri oleh Direktur Inkor Profesional Training Center, Kepala Dinas Tenaga Kerja Cirebon Agus Sumanjaya, Perwakilan dari Korean Global Company, Rektor Universitas Fajar Makasar Dr. Muliyadi Hamid dan juga seluruh peserta Program PKKU bidang Sales Marketing dan Work Ethic tahun 2019.

Program Pendidikan Kecakapan Kerja Unggulan Tahun 2019 merupakan program layanan pendidikan dan pelatihan berorientasi pada pengembangan keterampilan kerja yang bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Program PKKU Tahun 2019 ini diberikan kepada peserta didik agar memiliki kompetensi di bidang keterampilan tertentu setingkat operator dan teknisi yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi sebagai bekal untuk dapat bekerja di dalam atau luar negeri sesuai dengan kebutuhan bidang pekerjaan pada DU/DI (Dunia Usaha/ Dunia Industri).

Acara ini di buka oleh Kasubdit Sarana dan Prasarana Kemendikbud RI, “Melalui kegiatan ini diharapkan bisa memberikan pelatihan dan keterampilan yang berkaitan dengan kebutuhan dunia induustri, sehingga setelah selesai pelatihan bisa langsung ditempatkan untuk bekerja.

karenab dengan perusahaan-perusahaan Korea di Indonesia maka penambahan pelatihan etika kerja (work ethics) merupakan langkah yang sangat tepat” ungkap Purwanto pada saat membuka kegiatan.

Di kesempatan penutupan kegiatan ini, Direktur Inkor Profesional Training Center, Muhammad Shodiq menjelaskan mengenai Program PKKU ini melalui tayangan Live Streaming kepada seluruh peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan.

Pelatihan ini memberikan peluang kepada peserta untuk bekerja dengan memiliki keterampilan di perusahaan Korea di Indonesia mengingat ada beberapa perusahaan besar Korea di Indonesia yang sudah bekerjasama dengan kita”, pungkasnya. Peserta yang mengikuti program PKKU akan diberikan sertifikat kompentensi kerja sebagai bukti telah mengikuti pelatihan selama 28 hari.

Advertisement Valbury

Batam

Ekonomi Batam Bangkit, Ini Pemicunya

Published

on

By

Finroll.com, Batam — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat pertumbuhan ekonomi Batam hingga triwulan akhir 2019 mencapai 4,72 persen.

Angka tersebut naik jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 4,5 persen.

Kepala BPS Kota Batam, Rahyuddin, menyampaikan hal ini membuktikan ekonomi Batam tidak terlalu terdampak resesi ekonomi global.

“Buktinya ekonomi Batam tumbuh,” ujar Rahyuddin, Rabu (13/11/2019).

Ia memaparkan, ekonomi Batam pernah terpuruk hingga di angka 2,19 persen pada 2017. Kemudian naik di 2018 hingga dua kali lipat yakni 4,5 persen.

“Secara nasional angkanya sekarang 5,01 persen. Kami berharap ekonomi Batam pertumbuhannya di atas nasional ini,” terangnya.

Lanjut Rahyuddin, Batam pernah mencatat sejarah manis dengan pertumbuhan ekonomi di atas nasional.

Sebut saja di 2014 sebesar 7,16 persen. Namun, turun menjadi 6,87 persen di 2015, lalu turun lagi menjadi 5,43 persen pada 2016. Kemudian merosot di 2017 dengan angka 2,19 persen.

“Memang tidak naik signifikan, namun yang terjadi sudah mulai merangkak naik,” ucapnya.

Ia menyebutkan, sektor pariwisata merupakan andalan baru perekonomian. Menurutnya, sumbangsih sektor tersebut sifatnya universal.

“Ini contohnya, kalau satu orang datang bawa uang ke Batam kan makan, minum, belanja juga bisa jadi uang untuk hiburan. Sektor transportasi juga dapat,” papar Rahyuddin.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam, Ardiwinata, mengaku pariwisata merupakan sektor andalan baru untuk mengerek naik pertumbuhan ekonomi nasional, tak terkecuali Batam.

Untuk itu, ke depan sektor pariwisata akan terus dikembangkan dengan meningkatkan desnitasi dan event.

“Tahun ini kita ada yang baru seperti Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah. Kami optimis wisata kita akan terus meningkat,” katanya.

Sumber Berita : BatamPost.co.id

Continue Reading

Batam

Pengacara Taher Ferdian Ragu Keaslian Surat Sakit Saksi Korban Ludijanto Taslim

Published

on

By

Pengacara terdakwa Taher Ferdian alias Lim Chong Peng, Supriyadi, SH, MH mempertanyakan alasan ketidakhadiran saksi korban Ludijanto Taslim. Sebab, berdasarkan Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Batam sudah delapan kali persidangan tak pernah hadir.

Menurut Supriyadi, seharusnya sidang tersebut sesuai pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah Dalam Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (”KUHAP”) disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.

“Runutannya adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. Nah sekarang sudah masuk ke keterangan ahli, Tapi saksi korban tak pernah nongol. Ini lompatan logika menurut kami,” ujar Supriyadi di hadapan persidangan Senin (28/10) siang.

Kemudian, oleh JPU Samsul Sitinjak, Rosmalina Sembiring, dan satu JPU dari Kajati Kepri mengatakan, saat ini saksi korban Ludijanto Taslim masih berada di negeri Paman Sam, Amerika Serikat berobat karena sakit.

“Jadi majelis, Pasal 162 ayat (1) KUHAP berbunyi, “Jika saksi sesudah memberi keterangan dalam penyidikan meninggal dunia atau karena halangan yang sah tidak dapat hadir di sidang atau tidak dipanggil karena jauh tempat kediaman atau tempat tinggalnya atau karena sebab lain yang berhubungan dengan kepentingan negara, maka keterangan yang telah diberikan itu dibacakan. Jadi kami rasa begitu,” ujar JPU itu.

Kemudian, Ketua Majelis Hakim Dwi Nuramanu yang didampingi Yona Lamerosa Ketaren dan Taufik Abdul Halim Nainggolan menyela perkataan JPU. Katanya, memang sesuai KUHAP runutan keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. “Tapi karena kemaren itu kita sepakat melahirkan asas sederhana, cepat, dan biaya ringan makanya kita lanjutkan. Tapi jangan juga tak dihadirkan. Alasannya apa,” tanya Dwi Nuramanu.

Dwi Nuramanu memerintahkan, agar JPU dapat menghadirkan saksi Ludijanto Taslim pada sidang Selasa 5 November 2019 mendatang. Pantauan, saat JPU memberikan salinan surat kepada hakim soal penguatan ketidakhadiran Ludija

“Ini kok tak ada stempelnya ini? Kalau sakit riwayat sakit karena apa? Apakah tak bisa berjalan atau tidak, Kalau surat itu berbahasa asing harus diterjemahkan oleh orang yang bersertfikat dan di bawah sumpah, KUHAP tak mengenal bahasa asing selain Bahasa Indonesia. Semua surat ini harus asli,” tegas Dwi.

Continue Reading

Batam

Sidang Taher Ferdian, Saksi : Tidak Ada Jual Beli Mesin

Published

on

By

Dakwaan pasal 374 KUHP yang dialamatkan kepada Taher Ferdian alias Lim Chong Peng semakin terang. Usai persidangan Kamis (24/10), sejumlah wartawan mencerca pengacara Supriyadi SH MH. Mesin yang merupakan objek dalam perkara ini tidak lah dijual. Hal tersebut terungkap saat saksi , Kia Sai alias Willian memberikan saksi di Pengadilan Negeri Batam.

“Tadi sama-sama kita sudah mendengarkan keterangan saksi Willian. Yang dalam dakwaan sebagai pembeli mesin itu.Dan kami sudah bongkar kebenaran materil di muka persidangan. Tinggal kebijaksanaan hakim. Kami yakin, klien kami bebas demi hukum,” katanya Kamis.

Lanjut Supriyadi, mesin plastik tersebut sudah berumur 30 tahun. Oleh kliennya Tahir pernah menguasakan kepada Willian. Untuk dicari calon pembeli. Hanya saja karena kondisi mesin rusak dan berkarat, maka otomatis mesin itu dipindahkan dari gudang.

“Mau diperbaiki makanya dipindahkan. Jadi tidak dijual oleh klien kami, itu yang benar. Selain itu, atap perusahaan yang ada di Sekupang itu sudah bocor-bocor. Nah untuk mengantisipasi agar tak rusak berkepanjangan maka dipindahkan. Jadi mohon ansumsi di luar sana yang mengatakan klien kami jual, sama sekali tidak lah benar,” ucap pengacara ternama asal Jakarta itu.

Selain itu, ketidakhadiran Ludijanto Taslim sebagai saksi korban tidak pernah hadir dalam persidangan. Menurut Supriyadi, jika merujuk pada pasal 184 ayat (1) KUHAP disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.

“Jadi keterangan saksi yang menjadi korban dulu diperiksa.Tapi ini ada lompatan logika menurut kami. Bahwa saksi korban ini patut kami duga memberikan keterangan palsu sejak awal perkara ini,” katanya.

Sebelumnya,Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng kembali menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Batam, Kamis (24/10) pagi. Dengan agenda pemeriksaan saksi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Empat saksi yang diajukan antara lain Andreas, Benny, Maman, Kia Sai alias Willian,Suarianto. Saksi Andreas merupakan calon pembeli aset PT Taindo Citratama, Benny perwakilan dari Bank BCA, Suarianto Direktur pelaksana PT. Taindo Citratama, Willian saksi calon pembeli. Sedangkan Maman saksi dari kantor jasa penilaian publik (KJPP).

Willian merupakan saksi yang pertama diperiksa Ketua Majelis Hakim Dwi Nuramanu. Yang didampingi Yona Lamerosa Ketaren dan Taufik Abdul Halim Nainggolan. Di depan majelis hakim, Willian menceritakan tentang aset perusahaan sesuai dakwaan JPU. Dalam keterangannya, aset tersebut belum dibeli dari Tahir. Sebagaimana dakwaan JPU.

“Jadi mesin plastik dari PT Taindo Citratama itu tidak benar kalau saya itu membelinya. Benar mesin itu sudah dibawa ke gudang saya yang ada di Bukit Senyum (Batam). Tujuannya adalah, untuk mau disservice. Karena mesin pak Tahir itu sudah rusak karena lama tidak beroperasi,” kata Willian.

Atas kesaksi Willian, hakim dan pengunjung sidang kaget. Pasalnya, dalam BAP pemeriksaan polisi semula dan dilanjutkan dalam dakwaan, mesin yang menjadi objek perakara dijual Tahir kepada Willian.

“Wah, sebentar-sebentar. Tadi saudara bilang tidak ada penjualan mesin. Loh, sekarang kenapa sampai ke persidangan ini kalau tak ada penjualan mesin itu. Apakah saudara yakin atas keterangan ini?,” tanya Nuramanu.

Willian lagi-lagi menjawab, bahwa mesin dan aset lain yang dimaksud dalam perkara ini belum terjadi jual-beli antara dia dengan Tahir. “Tidak ada pak terjadi jual-beli. Sekali lagi saya tegaskan, mesin itu dipindahkan karena mau diperbaiki,” tegas Willian.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending