Connect with us

International

Pangeran Arab Saudi Meninggal di Luar Negeri

Published

on


Ilustrasi Kerajaan Arab Saudi. (AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Finroll.com, Jakarta – Kerajaan Arab Saudi mengumumkan Pangeran Khalid Bin Saud Bin Abdul Aziz meninggal dunia, Selasa (7/7). Kantor berita Saudi Press Agency (SPA) melaporkan bahwa sang pangeran meninggal di luar negeri.

“Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan kepadanya dan menempatkannya di surga, kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali,” kata pernyataan itu seperti dilansir dari Gulfnews, Kamis (9/7).

Tidak dijelaskan penyebab pasti kematian almarhum. Ini merupakan kali ketiga Saudi mengumumkan kematian pangeran dalam dua bulan terakhir.

Akhir Juni lalu pihak kerajaan menyampaikan berita duka meninggalnya Pangeran Bandar bin Saad bin Mohammad bin Abdulaziz bin Saud bin Faisal Al Saud. Pangeran Bandar dimakamkan di Riyadh pada Senin (29/6) waktu setempat.

Saudi24 menuliskan bahwa sang pangeran tutup usia setelah bergelut dengan penyakit. Namun tidak diketahui penyakit apa yang diderita.

Sementara awal bulan ini salah satu pangeran kerajaan Saud bin Abdullah Bin Faisal bin Abdulaziz Al Saud juga dilaporkan meninggal dunia.

Saudi Royal Court mengonfirmasi kematian Pangeran Saud, seperti diberitakan SPA, tapi tidak disebutkan penyebab meninggal.

Tetapi satu hari setelah kematian Saud, sebuah sumber medis mengungkapkan bahwa beberapa anggota keluarga kerajaan menjalani perawatan di rumah sakit dan di vila pribadi setelah kondisi kesehatan memburuk akibat virus corona.

Saudi Leaks melaporkan bahwa dokter Saudi Nezar Bahabri membenarkan saat itu lebih dari 1.200 pasien infeksi virus corona kritis sedang dirawat di kerajaan dengan ventilator.

“Situasi di Jeddah dan Riyadh sangat memprihatinkan. Kami tidak mengharapkan kasus kritis mencapai angka ini,” kata Bahabri dalam cuplikan video dilansir dari Middle East Monitor.

Hingga kini virus corona telah menginfeksi 220.144 orang di Arab Saudi dan 2.059 kematian.

Sumber : CNN Indonesia

International

Deretan Miliarder yang Hilang Usai Melawan Pemerintah China

Published

on

Jakarta – Dalam beberapa hari terakhir dunia digemparkan dengan pemberitaan hilangnya miliarder China Jack Ma. Ia diketahui menghilang selama dua bulan terakhir usai mengkritik regulator China pada akhir Oktober 2020 lalu di Shanghai.

Tapi, pada akhirnya diketahui Jack Ma tidak benar-benar menghilang, melainkan harus menghilang dari publik karena dirinya dalam pemeriksaan otoritas China karena dinilai melakukan monopoli atas data pribadi pengguna Alipay.

Kondisi hilangnya Jack Ma dari depan publik ternyata bukan yang pertama kali terjadi di China. Sebab, ada beberapa miliarder yang ternyata juga menghilang usai berseteru dengan pemerintah China seperti dikutip Forbes, Rabu 13 Januari 2021, berikut ini:

1. Guo Guangchang hilang Desember 2015

Miliarder Guo Guangchang diketahui menghilang pada Desember 2015, pendiri dan konglomerat investasi Fosun International itu hilang dan beberapa saksi melihat bahwa Guo dijemput polisi di Bandara Shanghai.

Sering disebut Warren Buffett China, Guo membangun perusahaannya yang terdaftar di Hong Kong dan menjadi raksasa properti senilai US$115 miliar dengan investasi di seluruh Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Usai menghilang, perusahaannya menghentikan sementara perdagangan sahamnya dan mengatakan bahwa Guo membantu otoritas kehakiman dalam penyelidikan yang tidak diketahui tujuannya.

Guo kemudian kembali ke perusahaan dan tidak ada penjelasan dari pihak berwajib. Kini Guo memiliki kekayaan bersih sebesar US$7,5 miliar atau setara Rp105 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar) dan masih memimpin Fosun International.

2. Zhou Chengjian hilang Januari 2016

Miliarder Zhou Chengjian dinyatakan hilang pada Januari 2016. Pemimpin perusahaan fast fashion Shanghai Metersbonwe Fashion & Accessories itu diketahui diamankan pemerintah China usai dituduh kasus perdagangan orang dan manipulasi saham.

Atas hilangnya Zhou perusahaannya menghentikan sementara perdagangan saham. Zhau diketahui hilang selama sepekan dan kemudian kembali bekerja tapi tidak merinci apa yang telah terjadi saat menghilang.

Perusahaan Metersbonwe sendiri kini sudah mencatat pendapatan hingga US$800 juta pada 2019. Kini perusahaan tersebut dikelola oleh putrinya dan Zhou tetap menjadi pemegang saham terbesarnya dengan kekayaan mencapai US$1,3 miliar atau setara Rp18,2 triliun.

3. Xiao Jianhua hilang Januari 2017

Miliarder perusahaan investasi Tomorrow Group Xiao Jianhua, diculik dari Hong Kong dengan sedikit penjelasan. Pada Januari 2017, Xiao dilaporkan dibawa dari Hotel Four Season dengan kursi roda dengan kepala tertutup.

Xiao dibawa melintasi perbatasan ke daratan China. Lebih dari setengah lusin usaha Xiao yang terkait Tomorrow Grup kemudian diambil alih oleh pemerintah. Hal itu karena dituduh menyembunyikan informasi tentang pemegang saham pengendali dan kepemilikan saham perusahaan.

Xiao yang konon memiliki hubungan baik dengan elit politik China dan memfasilitasi transaksi bisnis untuk mereka, belum muncul kembali di mata publik. Seorang juru bicara Tomorrow Group tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

4. Ren Zhiqiang hilang Maret 2020

Maestro real estate Ren Zhiqiang dilaporkan hilang pada Maret 2020 setelah menulis kritik secara online yang mengecam penanganan pandemi COVID-19 oleh pemerintah China. Di mana ia menyebut Xi sebagai badut meski tak menyatakannya secara langsung.

Pada Juli lalu akhirnya pemerintah mengumumkan keberadaan Ren yang ternyata juga termasuk dalam anggota lama Partai Komunis China. Ia dinyatakan bersalah dan semua asetnya disita serta dijatuhi hukuman 18 tahun penjara pada September 2020.

Ia dituduh menerima suap dan menyalahgunakan kekuasaannya sebagai kepala kelompok real estate milik negara. Sementara para pendukungnya mengklaim bahwa Ren dihukum karena berbicara menentang Xi (Presiden China).

Sumber Berita : Viva.co.id

Continue Reading

International

Facebook Blokir Donald Trump Karena Dianggap Berbahaya

Published

on

By

Finroll.com –  Facebook blokir Donald Trump karena dianggap berbahaya.  Hal Ini dikatakan oleh Mark Zuckerberg, direktur eksekutif Facebook, Presiden Donald Trump memberi risiko sangat besar terhadap masyarakat Amerika Serikat bila masih diberi akses ke platform media sosial.

Lewat sebuah posting pada Kamis, (7/1/2021), Zuckerberg mengatakan Facebook akan memblok Presiden Trump dari platform setidaknya hingga akhir masa jabatan di Gedung Putih, atau pada 20 Januari.

Zuckerberg mengatakan bahwa perusahaan media sosialnya memutuskan demikian menyusul kerusuhan yang dilakukan demonstran pro Trump di Ibu Kota Washington sehari sebelumnya, yang kejadiannya dipicu oleh obsesi sang Presiden membatalkan hasil Pemilihan Presiden AS yang tahun ini dimenangkan oleh Joe Biden.

“Kami meyakini bahwa risikonya terlalu besar jika sang presiden tetap diperbolehkan menggunakan layanan kami selama periode ini,” kata Zuckerberg.

Sebagai dampaknya, Facebook sekaligus platform Instagram akan memperpanjang ‘pencekalan’ akun pribadi Donald Trump, yang semula diterapkan pada Rabu. Pencekalan dilakukan “hingga transisi damai berjalan dengan lancar.”

Pendukung Trump Ganti Bendera AS dengan Bendera Trump

Keputusan ini sedikit berbeda dengan platform microblogging Twitter yang telah mengembalikan akses akun @realDonaldTrump ke sang Presiden pada Kamis. Pada petang hari, Trump menandai kembalinya dirinya ke media sosial dengan mengungah video berdurasi 2 menit 42 detik di Twitter. Di situ ia berkata akan mendukung proses transisi kekuasaan secara damai.

Twitter menyatakan pada Rabu bahwa meski ada “risiko kekerasan” dalam cuitan-cuitan Trump, perusahaan itu hanya akan mencekal akun Trump secara permanen jika sang Presiden terus-menerus melanggar kebijakan mereka. Sementara ini, Trump telah menghapus sejumlah cuitannya yang bermasalah, kata Twitter.

Continue Reading

International

Amerika Kacau, Pendukung Donald Trump Serang Gedung Kongres, 1 Tewas

Published

on

Para pendukung Donald Trump menyerbu Gedung Kongres AS, Capitol, di Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1). ANTARA/REUTERS/Shannon Stapleton/tm

WASHINGTON DC – Ratusan pendukung Donald Trump menyerbu gedung Kongres Amerika Serikat, Capitol, Rabu (6/1) waktu setempat. Mereka berupaya membatalkan kekalahan Trump pada Pilpres 2020 dengan memaksa Kongres menunda sidang yang akan mengesahkan kemenangan Presiden terpilih Joe Biden.

Dengan senjata dan gas air mata, aparat kepolisian mengevakuasi para anggota dan berusaha melakukan penyisiran di Gedung Capital terhadap para pendukung Trump, yang bermunculan di aula Kongres dalam peristiwa mengejutkan yang disiarkan ke seluruh dunia.

Seorang pemrotes berhasil menduduki panggung Senat dan meneriakkan ‘Trump menang pemilihan’. Massa merobohkan barikade dan bentrok dengan polisi sementara ribuan orang turun ke halaman Gedung Capitol.

Tiga jam kemudian, polisi menyatakan Gedung Capitol aman sesaat setelah pukul 17.30 waktu setempat.

Tayangan video memperlihatkan para pendukung Trump menghancurkan jendela dan polisi menggunakan gas air mata di dalam gedung parlemen.

Kepala Kepolisian Metropolitan Washington Robert Contee mengatakan massa menggunakan bahan kimia yang membuat pedih terhadap polisi hingga membuat beberapa di antaranya mengalami luka. Seorang warga sipil tewas usai ditembak selama kerusuhan berlangsung, menurut lansiran media setempat.

Sumber Berita : Antara

Continue Reading

Trending