Connect with us

Business

Pemerintah Atur Pesepeda, Bukan Pungut Pajak Sepeda

Published

on


Finroll – Jakarta, Kementerian Perhubungan membantah informasi yang menyebut akan ada aturan terkait pajak sepeda. Pemerintah saat ini justru akan membuat regulasi yang akan mengatur sisi keselamatan pesepeda.

“Tidak benar. Kemenhub sedang menyiapkan regulasi terkait pajak sepeda. Yang benar adalah kami sedang menyiapkan regulasi untuk mendukung keselamatan para pesepeda,” ungkap Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati dalam keterangan tertulis, Selasa (30/6).

Adita menuturkan aturan untuk keselamatan pesepeda perlu dibuat. Pasalnya, saat ini banyak masyarakat yang menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi di era new normal.

“Dalam masa transisi adaptasi kebiasaan baru memang ada peningkatan jumlah pesepeda terutama di kota-kota besar, seperti Jakarta,” ujar Adita.

Oleh karena itu, Kemenhub perlu membuat aturan untuk menjaga pengguna sepeda di jalan umum. Beberapa hal yang akan diatur, seperti alat pemantul cahaya bagi pesepeda, jalur sepeda, dan penggunaan alat keselamatan lainnya.

Adita bilang sepeda sebenarnya masuk dalam kategori kendaraan bermotor bila mengacu dalam Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Oleh karena itu, aturan bagi keselamatan pesepeda bisa dibuat oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

“Pada prinsipnya kami sangat setuju ada aturan penggunaan sepeda, mengingat animo masyarakat yang sangat tinggi harus dibarengi dengan perlindungan terhadap keselamatan pesepeda,” jelasnya.

Kemenhub, tambah Adita, akan mendorong pemerintah daerah membuat aturan mengenai keselamatan pesepeda. Minimal, pemerintah daerah harus menyiapkan infrastruktur jalan dan ketentuan lain yang mengatur pesepeda di jalan.

 

 

Sumber : CNN Indonesia

Makro Ekonomi

Anggaran Negara Defisit Rp257 T Semester I 2020, Untuk Corona

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat defisit anggaran sepanjang semester I 2020 telah mencapai Rp257,8 triliun. Defisit itu setara 1,57 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Defisit itu diakibatkan realisasi penerimaan yang belum bisa menutupi kebutuhan belanja negara. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan penerimaan negara baru terkumpul Rp811,2 triliun dari target Rp 1.699,9 triliun.

Sementara realisasi belanja negara sudah mencapai Rp1.068,9 triliun atau 39 persen dari target Rp 2.739,2 triliun. “Kami memperkirakan sampai dengan akhir tahun belanja pemerintah pusat akan tumbuh 32 persen,” ujar Sri Mulyani di Badan Anggaran DPR, Kamis (9/7).

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut menyatakan realisasi pendapatan negara yang hanya mencapai Rp811,2 triliun disebabkan pelemahan penerimaan dari kantong perpajakan serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Berdasarkan data Kemenkeu, penerimaan pajak sepanjang Januari-Juni 2020 hanya sebesar Rp624,9 triliun. Penerimaan itu mengalami kontraksi atau menyusut 9,4 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Total penerimaan perpajakan tersebut terdiri dari Rp531,37 triliun pendapatan pajak serta Rp93,2 triliun dari kepabeanan.

Sementara itu, realisasi PNBP sepanjang Januari-Juni 2020 tercatat hanya sebesar Rp184,5 triliun. Meski secara persentase realisasinya mencapai 62,7 persen dari target APBN 2020, pertumbuhan PNBP mengalami kontraksi 11,8 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

PNBP dari sektor SDA tercatat hanya mampu terkumpul sebesar Rp54,5 triliun. PNBP itu terkontraksi 2,9 persen dibanding 2019. Sementara PNBP non-SDA sebesar Rp130 triliun atau terkontraksi 6,1 persen.

Hanya penerimaan dari pos dana hibah yang masih mampu tumbuh positif 231,4 persen dengan realisasi sebesar Rp1,7 triliun atau 113 persen dari target APBN 2020.

Di sisi lain, belanja negara yang cukup ekspansif. Belanja didorong pemerintah pusat yang terdiri dari kementerian/lembaga (K/L) dan belanja non K/L sebesar Rp668,5 triliun, serta realisasi transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) sebesar Rp 400,4 triliun.

“Belanja negara diperkirakan akan terakselerasi dengan seluruh menteri serta kepala daerah melakukan percepatan belanja ini. Sampai akhir tahun kami perkirakan outlook belanja negara mencapai Rp1.975,2 triliun,” tandasnya.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Makro Ekonomi

Target Pendapatan Negara Baru Tercapai 47 Persen Pada Semester I

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi pendapatan negara hingga semester I 2020 mencapai Rp811,2 triliun atau 47,4 persen dari target APBN 2020 versi Perpres 72 tahun 2020. Capaian tersebut terkontraksi sebesar 9,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Rendahnya pendapatan negara disebabkan menurunnya penerimaan dari kantong perpajakan serta Penerimaan Negara Bukan Bajak (PNBP).

Berdasarkan data Kemenkeu, penerimaan pajak sepanjang Januari-Juni 2020 hanya sebesar Rp624,9 triliun atau tumbuh melambat 9,4 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Total penerimaan perpajakan tersebut terdiri dari Rp531,37 triliun pendapatan pajak, tumbuh melambat 12 persen dibandingkan 2019. Selain itu, Rp93,2 triliun kepabeanan dan cukai yang tumbuh 8,8 persen dibandingkan 2019.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan penurunan penerimaan perpajakan merupakan dampak dari insentif pajak yang diberikan pemerintah untuk menyelamatkan dunia usaha selama masa pandemi Covid-19.

“Selain adanya penurunan kegiatan ekonomi akibat pembatasan sosial, kami juga melihat perlambatan ekonomi dikombinasikan oleh insentif pajak yang sudah mulai berjalan. Hal ini memberikan dampak terhadap pendapatan pajak yang mengalami penurunan,” ujarnya di Badan Anggaran DPR, Kamis (9/7).

Sementara itu, realisasi PNBP sepanjang Januari-Juni 2020 tercatat hanya sebesar Rp184,5 triliun. Meski secara persentase realisasinya mencapai 62,7 persen dari target APBN 2020, pertumbuhan PNBP kontraksi minus 11,8 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

PNBP dari sektor SDA tercatat hanya mampu terkumpul sebesar Rp54,5 triliun, tumbuh melambat 2,9 persen dibanding 2019. Sementara non-SDA sebesar Rp130 triliun, tumbuh melambat 6,1 persen dibanding 2019 sepanjang semester I 2020.

Hanya penerimaan dari pos dana hibah yang masih mampu tumbuh positif dari tahun lalu, yakni sebesar 231,4 persen dengan realisasi sebesar Rp1,7 triliun atau 113 persen dari target APBN 2020.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Keuangan

Tinggalkan Level 4.000, IHSG Menguat ke 5.076

Published

on

By

IHSG ditutup menguat pada Rabu (8/7). Indeks ditutup di level 5.076 naik 89,09 poin atau 1,79 persen.(ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Finroll.com, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada Rabu (8/7). Indeks ditutup di level 5.076 naik 89,09 poin atau 1,79 persen.

RTI Infokom mencatat, investor membukukan transaksi sebesar Rp9,26 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 9,83 miliar saham. Pelaku pasar asing mencatatkan beli bersih atau net buy di seluruh pasar sebesar Rp78,31 miliar.

Pada penutupan kali ini, 221 saham menguat, 174 mengalami koreksi, dan 174 lainnya stagnan. 9 dari 10 indeks sektoral kompak menguat dipimpin sektor keuangan sebesar 3,59 persen.

Sementara itu, nilai tukar rupiah pada pukul 16.10 WIB terpantau melemah tipis 0,13 persen ke level Rp14.438 per dolar AS.

Di sisi lain, pasar saham di Asia bergerak fluktuatif. Kondisi itu ditunjukkan oleh Nikkei225 di Jepang yang turun 0,78 persen dan indeks Kospi turun 0,24 persen. Sedangkan, Hang Seng Composite di Hong Kong naik 0,59 persen.

Sementara, mayoritas bursa saham Eropa mayoritas naik. Indeks FTSE100 di Inggris naik 0,15 persen dan indeks DAX di Jerman menguat 0,10 persen. Namun, CAC All-Tradable di Prancis turun 0,38 persen.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending