Connect with us
[adrotate group="1"]

Opini

Protokol Kesehatan dan Protokol Ekonomi

Oleh : H. Albiner Sitompul, S.IP, M.AP

Published

on


Apa itu Corona?

Pertanyaan ini menimbulkan berbagai jawaban, tergantung dari sisi mana seseorang mengerti, mengetahui, memahami, dan menguasai tentang Corona.

Tulisan ini menyampaikan salah satu makna, Corona adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang mempunyai ukuran tertentu, masa hidup tertentu, dan digolongkan kedalam virus.

Muncul pertanyaan berikutnya, kapan Corona diciptakan? Wallahu a’lam. Tuhan menciptakan makhluk hidup di dunia ini masing-masing mempunyai fungsi dan peran untuk beribadah kepada Sang Pencipta.

Setiap makhluk hidup ada lingkungannya (habitat). Kalajengking hidup hidup di alam yang lembab. Harimau hiduo di hutan belantara. Semua makhluk hidup itu sekaligus diciptakan Tuhan beserta alam lingkungannya. Kecuali manusia menciptakan lingkungannya sendiri, karena Tuhan Yang Maha Mulia memberinya akal, pikiran dan budi pekerti, serta ketaatannya sebagai makhluk mulia sekaligus sebagai pemimpin di muka bumi.

Bila lingkungan salah satu makhluk hidup itu terganggu, maka dia akan keluar dari lingkungan untuk mempertahankan hidupnya. Kemudian, dia menyebar ke lingkungan makhluk lain , termasuk lingkungan manusia.

Manusia diberi-Nya ilmu pengetahuan seluas bumi, mengetahui segalanya yang ada di atas bumi dan semua tunduk kepada manusia atas seizin Tuhan Sang Pencipta. Bila Corona mempunyai lingkungan dan keluar dari lingkungannya, maka dia menyebar ke lingkungan hidup manusia.

Mengapa makhluk hidup beribadah?

Corona dan manusia, dua makhluk yang diciptakan Sang Pencipta, sedang bertikai. Walau tidak bisa dilihat dengan kasat mata, tetapi mempunyai akibat yang dapat merusak organ tubuh manusia.

Corona tidak ada kaitannya dengan kematian. Karena kematian adalah ketentuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan memberi memberi waktu tertentu kepada manusia untuk menikmati lingkungannya guna meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Kebahagiaan adalah milik Sang Pencipta, tergantung manusia itu mendambakan kebahagiaan seperti apa? Tuhan Yang Maha Pengasih memberi kesempatan kepada manusia untuk hidup di dunia sebagai bekal di akhirat.

Akhirat kehidupan yang abadi, maka manusia hidup di dunia untuk beribadah kepada Sang Pencipta, sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing. Ibadah manusia pun dapat dibedakan dengan ibadah umum dan khusus.

Ibadah umum adalah ibadah yang dilakukan oleh semua manusia. Misalnya, menyembah Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan sila pertama Pancasila. Maka, semua manusia yang ada di Indonesia wajib penyembah, percaya, dan yakin Tuhan Yang Maha Esa.

Apabila manusia tidak mau beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka dia diancam masuk neraka. Kecuali dia melakukan introspeksi diri dan kembali menghambakan diri kepada Tuhan Sang Pencipta.

Ibadah khusus adalah ibadah yang dilakukan oleh seorang yang diberi-Nya ilmu dan keterampilan untuk menerapkan kemampuan itu guna menyelesaikan sesuatu yang berarti bagi dirinya dan lingkungannya, sehingga dia bermanfaat bagi sesama dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maja Kuasa lainnya.

Manusia hidup dalam sebuah negara yang diatur dengan ketentuan hukum dan tata tertib yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk melayani publik. Maka setiap warga negara wajib mentaatinya demi kelangsungan hidup yang mempunyai masa tertentu, karena pemerintah sebagai perpanjangan Tuhan Yang Maha Esa di muka bumi.

Mengapa harus taat kepada protokol kesehatan?

Protokol kesehatan merupakan aturan yang diciptakan pemerintah untuk menyelematkan warga negaranya dari ancaman virus Corona yang keluar dari lingkungannya, berguna untuk memutus rantai kehidupan virus Corona dengan manusia dalam masa tertentu hingga mati, tetapi mereka juga dalam jumlah tertentu yang tidak dapat diprediksi.

Memakai masker, agar seseorang ketika berhadapan dengan orang lain tiba-tiba batuk atau bersin, tidak menyebarkan virus kepada orang lain, dan tidak merusak udara. Aturan memakai masker ibarat memakai payung atau mantel pada musim hujan untuk melakukan aktivitas. Karena beraktivitas tidak harus menunggu hujan reda. Demikian halnya kita tidak perlu menunggu virus Corona kembali ke asalnya (habis).

Maka, pakailah masker. Masker milik manusia yang menghambakan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ketika kita seseorang memakai masker, maka dia telah beribadah kepada Sang Pencipta. Dipastikan dirinya perpahala dan dijanjikan masuk Surga. Bila tidak, dipastikan dirinya berdosa, karena lalai atau sombong . Ganjarannya adalah Neraka.

Perintah mentaati aturan protocol kesehatan menjadi wajib, walau kadangkala mengganggu kebebasan. Ayo kita katakan, “Saya mencintai sesama dan lingkungan”. Ketika bosan datang menghampiri, ayo kita katakan, “Saya harus menang melawan Corona”.

Melawan Corona tidak bisa disamakan dengan musuh yang sedang mengarahkan senjatanya kepada kita. Bila bertempur melawan musuh, dapat diprediksi jumlahya. Bila musuh 30 orang menyerang kita, maka kita harus menyiapkan kawan 90 orang melawannya untuk memenangkan pertempuran. Kalau Corona, kita cukup menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer sebelum melakukan kegiatan lain. Langkah penting lainnya, menjaga jarak, menghindari keramaian, menggunakan alat pelindung mata, dan mendisiplinkan diri dan keluarga.

Bagaimana keluar dari jeratan ekonomi akibat Corona?

Menyelesaikan pandemic Corona, telah dihadapi dengan langkah protocol kesehatan. Bagaimana dengan terganggunya daya beli masyarakat yang berakibat pada berkurangnya kemampuan keuangan negara? Pandemi Corona dan ekonomi dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan, tidak bisa jalan sendiri-sendiri, harus terintegrasi.

Hubungan manusia dengan manusia , akibat pandemic Corona terganggu, bahkan telah menjadi ancaman terhadap sosial budaya dan pertumbuhan ekonomi melambat. Berbagai upaya telah disiasati dengan menggunakan teknologi berbasis informasi teknologi (IT), namun masih dirasakan kurang.

Pengembangan ekonomi tidak lepas dari pengembangan silaturahim, baik makro maupun mikro. Pada mulanya ekonomi makro dilaksanakan melalui perdagangan barter, kemudian berkembang, hingga akhirnya menggunakan mata uang yang sah, baik cash maupun electronic money.

Founding Fathers, Mohammad Hatta, telah mengatakan bahwa “koperasi sebagai pilar atau penyangga utama atau tulang punggung perekonomian Indonesia”. Pelaksanaan koperasi secara konvensional sudah tidak sesuai dengan keadaan pandemi, karena protocol kesehatan mengatur untuk menjaga jarak dan menghindari keramaian. Sudah saatnya pemerintah membanguna elektronik koperasi (e-koperasi).

Membangun e-koperasi termaktub di dalamnya pemberdayaan masyarakat , disesuaikan dengan kepadatan penduduknya. Masyarakat kota membangun koperasi tingkat rukun warga (RW), terdiri dari beberapa rukun tetangga (RT). Sedangkan masyarakat desa membangun e-koperasi desa.

Keberadaan e-koperasi mempermudah masyarakat sembilan bahan pokok (sembako) dan memberikan keuntungan kepada masyarakat itu sendiri , baik laba maupun pemanfaatan kuota internet, yang keanggotaannya dapat diketahui dengan zona jaringan (geostationerI) yang dibangun e-koperasi, karena mempunyai sandi sendiri.

Dinamika hubungan masyarakat dalam lingkung e-koperasi akan meningkatkan hubungan silaturahmi, sekaligus dapat mengetahui keadaan warga sebagai anggota e-koperasi. Bila ada bantuan dari pemerintah, mudah dan tepat sasaran pendistribusiannya, karena e-koperasi telah mempunyai data yang akurat.

Pengawasan dinamika e-koperasi sangat dibutuhkan, hal ini dapat dihadapi dengan menyambungkan link untuk mempermudah berbagi informasi dengan kelurahan, kecamatan, kabupaten dan kota, provinsi dan pusat.

Kebersamaan dan persaudaraan sangat dibutuhkan dalam memutus jaringan virus Corona, sehingga e- kopetrasi dapat mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa sesuai dengan sila kelima Pancasila (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia).

Keberadaan pasar modern serta pelaku dagang di pasar tradisional dapat dijadikan mitra e-koperasi, yang pada gilirannya terjadi pembagian keuntungan (profit sharing) dan dapat dirasakan masyarakat. Kerja sama ekonomi di atas diatur dengan protocol ekonomi.

Penulis H. Albiner Sitompul , S.IP, M.AP, Ketua Umum Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI).

Iwan Hidayat Bergabung Dengan Finroll Media Group Tahun 2012

Advertisement Valbury

Opini

Ketenangan Jenderal Sigit

Penulis: H. Albiner Sitompul, Ketua Umum Jam’iyah Batak Muslim Indonesia

Published

on

“Ketenangan adalah Kekuatan Lahir dan Bathin”. Ungkapan itu merupakan hasil penalaran Ketua Umum Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) H. Albiner Sitompul, S.IP, M.AP selama pengabdiannya kepada negara, sejak tamat Akmil 1988 di Satuan Tentara Nasional Indonesia (TNI), di Kepresidenan dan Lembaga Ketahanan Nasional RI serta memimpin beberapa yayasan dan Organisasi Masyarakat Umum maupun Islam.

Ketenangan membutuhkan sebuah intuisi. Sementara intuisi itu merupakan hidayah yang diberikan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengaasih dan Penyayang kepada ummat NYA yang dekat kepada Nya dalam melaksankan setiap tugasnya kepada Negara. Intuisi akan selalu hadir mendampingi seseorang yang paham, bahwa dalam melaksankan tugasnya adalah Kehendak Tuhan Yang Maha Esa, untuk melayani masyarakat.

Demikianlah intuisi akan hadir terus menerus pada saat pelaksanakan tugas- tugas yang berikutnya. Seseorang yang diberi hidayah oleh Allah SWT menjadi pembeda dalam pelaksanaan tugas ummat NYA, akan menjadi teladan kepada orang lain yang menyadari Keagungan Tuhan. Namun hidayah itu kadang menimbulkan kecemburuan pula bagi seseorang yang tidak memahami Yang Maha Kuasa, seperti cemburunya Syeitan kepada Nabi Adam AS. Seseorang yang diberi hidayah akan lebih banyak menerima cobaan dari pada orang yang belum diberi hidayah. Kepercayaan kepada Tuhan dengan berserah secara tulus dan ikhlas, itu juga yang dapat memperkuat ketenangannya menghadapi cobaan, termasuk pelaksanaan protokol kesehatan dari pemerintah dalam menghadapi COVID-19.

Intuisi Sang Jenderal

“Sigit” itulah yang disebut banyak orang ketika melihat Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo di media sosial dan ketika berdialog ringan dan berat dengannya. Sosok tokoh di jajaran Kepolisian RI, tetap bersahaja dan tenang bila ditanya tentang perjalanan kariernya.

Patut ditelaah langkah-langkah hidupnya dalam menjalankan tugas dan aktivitas sehari-hari. Kesatuan yang memiliki jargon Melindungi, Mengayomi dan Melayani masyarakat tersebut dibuktikkannya secara profesional, modern dan terpercaya. Mengapa? Artikel ringkas dan sederhana ini menyodorkan berbagai macam prestasi yang merupakan Anugrah yang dimiliki pria berusia 51 tahun ini dari Tuhan Yang Maha Esa.

Jenderal lulusan 1991 dari Akademi Kepolisian, ketika penulis bertanya, ternyata dia tidak pernah henti memohon ketenangan dan kekuatan dari Tuhan Yang Maha Pemurah dalam setiap menjalankan tugas-tuganya. Hal ini juga ditunjukkannya, ketika memangku jabatan Kabareskrim, sebuah jabatan yang banyak didambakan orang lain, dia tetap tidak lupa bersyukur atas Anugrah Tuhan dan berterimakasih kepada sesama serta bermohon kepada Tuhan tetap memberi ketenangan lahir dan bathin dalam menghadapi jalan terjal dengan ragam tantangan dan rintangan.

Entri point “ketenangan” itulah kemudian menjadi penilaian penulis yang menarik untuk diteladani dari “Sigit”. Di samping itu, dalam catatan Majalah Tempo, Jenderal Sigit merupakan Perwira yang meraih pangkat Komisaris Jenderal Polisis angkatan 91 dan Perwira termuda yang menjabat sebagai Kabareskrim dalam kurun satu dekade terakhir.

Olahan ketenangan dalam melaksanakan amanah dapat dibaca dari riwayat perjalanan hidupnya. Pertama, ketika dipromosikan tahun 2009 mengisi Kapolres di Pati, beliau dianggap minim prestasi. Kedua, penolakan keras dari MUI Banten ketika menduduki jabatan Kapolda dengan alasan rasis. Ketiga, ketika dipromosikan menduduki amanah sebagai Kabareskrim dengan aroma senioritas dan lainnya.

Tentu terlalu prematur untuk men-skemakan tiga persoalan tersebut, dari berbagai permasalahan yang dihadapi Jenderal bintang tiga ini. Hanya saja, itu memadai untuk dapat dijadikan sebagai bahan pengetahuan awal sekaligus membuka pintu perkenalan, bagi siapa saja. Namun, tempahan ketenangan dan lingkungan zona kerja, menjadi daya tarik tersendiri dalam membangun keuletannya. Tidak heran, akhirnya interaksi sosialnya dengan para Ulama yang intens, ketika beliau bertugas di Jawa Tengah (Pati, Semarang, dan Solo) dan Banten, kota penuh Kyai dan ulama tercipta sebagai peluang untuk sharing kebangsaan dalam melayani masyarakat. Sebut saja misalnya, silaturrahmi Jenderal Sigit dengan Kyai Sahal Mahfudz yang pernah menduduki Ketua MUI dan Dewan Penasehat Pengurus Besar Nahdhatul Ulama.

Jenderal Sigit, mulai dikenal publik saat karirnya tahun 2009, jabatan yang diamanahkan berawal dari Polres Pati, Wakapoltabes Semarang dan Kapolres Surakarta. Prestasi beliau semakin cemerlang, terbukti tahun 2014 dipanggil ke Istana sebagai Ajudan Presiden Joko Widodo, kemudian diamanahkan menjabat sebagai Kapolda Banten 2016, lanjut ke Mabes Polri sebagai Kepala Divisi Propam Polri tahun 2018 hingga pada posisi strategis sebagai Kabareskrim. Jenderal Sigit terus berupaya menciptakan ketenangan, kedamaian dan kerjasama yang kondusif dalam Melindungi, Mengayomi dan Melayani masyarakat.

Mata publik semakin tertuju pada Jenderal Sigit, akankah mampu membongkar berbagai kasus yang dinantikan masyarakat? sebut saja misalnnya, kasus “penyiraman penyidik senior KPK, Novel Baswedan“ seperti di peti es kan bertahun-tahun. Ternyata, harapan masyarakat tentang usut kasus tersebut, tidak menunggu lama, dan terbongkar kejahatan penyiraman hingga pelimpahan ke pengadilan dan bahkan sudah putus bersalah oleh hakim.

Belum lama ini, muncul kasus yang membuat laman publik menaruh kecurigaan terhadap lembaga kepolisian atas hapusnya red notice dan surat jalan Djoko Tjandra, seorang buronan kelas kakap selama beberapa tahun. Ternyata, ketenangan dalam kepemimpinan Jenderal Sigit, tanggal 30 Juli 2020 berhasil diringkus di Malaysia.

Beritasatu.com juga memberitakan, Kabareskrim Komjen Listyo Sigit telah menyelamatkan kerugian negara. Kasus yang berdasarkan hasil audit BPK merugikan negara sebesar US$ 2,7 miliar atau Rp 37 triliun itu bermula saat pemilik PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Honggo Wendratno “bermain mata” dengan dua tersangka lain, yakni Raden Priyono, bekas Kepala Badan Pelaksana Usaha Hulu Minyak dan Gas dan mantan Deputi Finansial Ekonomi dan Pemasaran BP Migas Djoko Harsono. BP Migas kini berganti nama menjadi SKK Migas.

Tiga kasus tersebut, walau ada pemain balik layar berstatus sama-sama berbaju coklat dan pemangku kepentingan, dihadapinya dengan tenang dan menyerahkan semua urusannya kepada Tuhan Yang Maha Mengatur, semuanya menjadi Terang benderang, publik pun merasa lega atas ketenangan Jenderal Sigit dalam menegakkan hukum di tengah pemerintah dan masyarakat yang sedang menghadapi pendemi COVID-19.

Tentu masih banyak cobaan yang dihadapinya, erat kaitannya dengan integritas dan profesionalisme Jenderal Sigit. Biarlah waktu yang akan membeberkan fakta-fakta kesetiannya kepada seluruh lapisan masyarakat, institusi, dan pemerintah dalam mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesai yang bersih dan berwibawa.

Teladan Ketenangan

Tidak sedikit manusia yang terjebak dalam berbagai momentum integritas dan profesionalisme ketika berhadapan dengan internal dan desakan arus mafia hukum. Ini membutuhkan kematangan lahir dan bathin serta penuh ketenangan. Tindakan Arogansi dan Anarkis tentu harus dihindarinya dalam tahapan analisis, agar dapat menghasilkan kinerja yang berkualitas. Inilah kemudian yang menjadi point penting dalam menstranformasikan nilai dari ketenangan. Penulis juga menambahkan, bahwa ketenangan adalah suasana jiwa yang berada dalam keseimbangan (balance) sehingga menyebabkan seseorang tidak terburu-buru atau gelisah. Dalam bahasa Arab yaitu kata ath-thuma’ninah yang artinya ketentraman hati kepada sesuatu dan tidak terguncang atau resah. Kemampuan menyeimbangkan faktor-faktor psikologis dalam berpikir dan bertingkah laku, inilah kemudian oleh Zakiah Dradjat menyebutnya dengan istilah “sehat mental”.

Kemampuan Jenderal Sigit dalam mewujudkan keharmonisan yang sungguh-sungguh antara faktor jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan, kemampuan juga kemerdekaan dirinya.
Bukan an-sih belaka, fakta-fakta yang berbicara, terintegrasi menjadi sebuah kesimpulan yang memiliki nilai historis atas jejak perjalanan Jenderal Sigit. Berbagai kasus dari internal hingga dihadapkan dengan mafia-mafia hukum, sosok Jenderal Sigit tetap tenang. Inilah, yang diinginkan untuk diteladani oleh siapapun baik di internal kepolisian sebagai corong pelayan masyarakat maupun instansi lain, terlebih untuk generasi bangsa di masa mendatang.

Terakhir

Titik temu bathin antara Jenderal Sigit dan Penulis, memiliki kesamaan kemampuan ber- Intuisi dalam mengemban tugas dan tanggung jawab. Intuisi itu yang kemudian membuat setiap individu memiliki kemampuan mengelola“ketenangan” jiwa.

Penulis: H. Albiner Sitompul, Ketua Umum Jam’iyah Batak Muslim Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending