Connect with us

INTERNATIONAL

Tren Baru Orang Kaya: Menimbun Uang Tunai

Published

on

FOTO | ISTIMEWA

FINROLL.COM,

Warren Buffett, si orang terkaya di dunia itu tak selamanya beruntung. Tahun 2017 memang menjadi tahun terbaiknya karena ia berhasil mencetak lonjakan kekayaan yang cukup besar. Selama setahun terakhir, nilai kekayaannya melonjak hingga $14,8 miliar. Forbes melansir, nilai kekayaannya kini mencapai $80 miliar.  Ini artinya, kekayaan Buffeet setara dengan 63% dari cadangan devisa Indonesia.
 
Namun, Buffett juga pernah sial. Pada Oktober 2014, nilai kekayaannya susut hingga $2 miliar hanya dalam kurun waktu dua hari. Berkshire Hathaway, perusahaan investasi milik Buffett diketahui merugi akibat susutnya saham Coke dan IBM yang terjadi dalam sekejap.

Menanamkan investasi dalam bentuk saham memang bisa bikin jantungan. Jika cermat, dalam sekejap kekayaan bisa berlipat-lipat. Sebeliknya, kekayaan bisa amblas begitu saja begitu salah mengambil keputusan investasi. Tidak semua orang berduit memiliki ketahanan mental seperti itu. Apalagi dengan kondisi perekonomian global yang tidak stabil plus terjadinya disrupsi-disrupsi yang secara cepat bisa mengganggu stabilitas bisnis. Itulah sebabnya banyak orang kaya yang akhirnya memutuskan untuk memegang tunai di tengah segala kepastian dunia. Memegang tunai dianggap lebih memberikan ketenangan karena tak perlu berpikir tentang kemungkinan naik turun nilai kekayaan.

Fenomena tersebut semakin banyak terjadi. Dalam lima tahun terakhir, tren porsi uang tunai—yang disimpan di rumah ataupun di bank—oleh orang-orang golongan superkaya atau kategori high-net-worth individual (HNWI) terus meningkat.

Survei Capgemini soal Asia Pacific Wealth Report 2017, menyebut tren tersebut bahkan mencapai angka tertingginya dalam lima tahun terakhir untuk kawasan Asia Pasifik, di luar Jepang. Komposisi aset orang superkaya dalam bentuk tunai mencapai 24,9 persen pada kuartal II-2017, padahal pada survei dan periode yang sama 2016, komposisi aset tunai orang superkaya masih di angka 20,6 persen. Ini mengalami kenaikan 4,3 persen, padahal global hanya ada kenaikan porsi 0,8 persen saja.

Orang superkaya Jepang termasuk yang cukup besar menyimpan dalam bentuk tunai, porsinya hingga 46,5 persen dari aset mereka, padahal tahun lalu masih 34 persen.

Selain menyimpan aset dalam bentuk tunai, para HNWI atau mereka yang punya kekayaan Rp100 miliar-sampai Rp1 triliun di Asia Pasifik ini hanya menyimpan asetnya sebesar 18,7 persen di sektor real estate, padahal tahun lalu masih 20,5 persen. Komposisi terbanyak alokasi aset orang superkaya untuk ekuitas dengan porsi 27,7 persen, 10,4 persen untuk alternatif investasi dan sisanya untuk hal lain.

Alasan mengapa tren komposisi menyimpan aset dalam bentuk tunai atau cash meningkat adalah karena kecemasan pada kondisi ekonomi yang terus turun. Uang tunai, yang bentuknya cair maupun yang disimpan di institusi keuangan macam bank dianggap lebih mudah dan cepat untuk digunakan membeli aset lain bila suatu saat dibutuhkan.

Yang menarik, Indonesia masuk dalam daftar negara yang jadi contoh dengan pertumbuhan porsi penempatan aset tunai para orang yang paling pesat di kawasan bersama Hong Kong, masing-masing 8,7 persen dan 7,4 persen.

Artinya, orang-orang superkaya di Indonesia adalah yang paling cemas sehingga menambah simpanan kekayaan dalam bentuk tunai lebih tinggi. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bisa menggambarkan soal simpanan masyarakat di bank umum, termasuk mereka yang punya kekayaan miliaran rupiah.

Dalam laporan Distribusi Simpanan Bank Umum Periode September 2017, jumlah rekening dengan nominal di atas Rp5 miliar naik dari 88.269 rekening pada Agustus menjadi 90.306 rekening pada September. Sedangkan jumlah uang uang disimpan naik dari Rp2.434 triliun menjadi Rp2.505 triliun pada September 2017.

Peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai bila kondisi seperti maka ekonomi bisa stagnan dan investasi di sektor riil jadi mandek. Hal ini dikarenakan uang simpanan di bank yang naik, tapi kredit yang disalurkan tak sebanding.

Menurut Bhima, kecemasan terhadap kondisi ekonomi juga menghinggapi orang-orang superkaya Indonesia. Terutama karena pertumbuhan ekonom cuma 5,06 persen pada kuartal III-2017.

"Motifnya berjaga-jaga alias wait and see. Apalagi ada event Pilkada," katanya.

Faktor lain yang memengaruhi meningkatnya tren tabiat menimbun uang di "berangkas" adalah ketatnya pajak. "Banyak pengusaha kelas atas yang enggak nyaman (dengan pajak), apalagi setelah obral buper (bukti permulaan)," ungkap Bhima.

Upaya masif bukti permulaan adalah salah satu upaya Direktorat Jenderal (Dirjen) Pajak untuk memenuhi target penerimaan pajak tahun ini. Dengan obral buper ini, Ditjen Pajak berpotensi mengantongi pembayaran denda sebesar 150 persen dari wajib pajak, yang dalam proses buper-nya mengakui perihal adanya ketidakbenaran dalam penyampaian laporan perpajakan.

Hal ini tentu saja menimbulkan keengganan di kalangan pengusaha, terutama yang sudah ikut tax amnesty. Sebab, Dirjen Pajak terkesan terlalu mengejar target sehingga tidak memikirkan perputaran ekspansi perusahaan-perusahaan mereka.


Mike Dolan dari Reuters, empat tahun lalu, sudah menyebut rezim pajak jadi salah satu alasan mengapa orang-orang superkaya ramai-ramai menimbun uang tunai. Dilansir Business Insider, “Hal ini setidaknya menunjukkan sebagian (alasan mengapa) tingkat kecemasan di kelompok ini berubah,” tulis Dolan.

Menyimpan uang tunai dalam bentuk tunai juga bukan tak berisiko, termasuk di perbankan yang bunga simpanannya yang belum tentu mampu melawan inflasi. Namun, apapun konsekuensinya, tren kenaikan menyimpan aset dalam bentuk tunai benar-benar sedang terjadi di antara para orang superkaya.  [TIRTO.ID]

Trending Stories