Connect with us

Keuangan

Rupiah Menguat ke Rp 14.005/US$ Pukul 13:00 WIB

Published

on


Ilustrasi Rupiah (REUTERS/Thomas White)

Finroll.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Namun dolar AS masih bertahan di kisaran Rp 14.000.

Hari ini, Selasa (4/11/2019) pukul 13:00 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.005. Rupiah menguat 0,04% dibandingkan posisi penutupan perdagangan kemarin.

BACA JUGA : 

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 12:34 WIB:

Periode Kurs
1 Pekan Rp 14.010,5
1 Bulan Rp 14.041
2 Bulan Rp 14.082,5
3 Bulan Rp 14.126
6 Bulan Rp 14.276
9 Bulan Rp 14.431
1 Tahun Rp 14.601
2 Tahun Rp 15.323,1

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) pukul 11:41 WIB:

Periode Kurs
1 Bulan Rp 14.020
3 Bulan Rp 14.110

Berikut kurs dolar AS di sejumlah bank nasional pada pukul 12:34 WIB:

Bank Harga Beli Harga Jual
Bank BNI Rp 13.940 Rp 14.120
Bank BRI Rp 13.995 Rp 14.065
Bank Mandiri Rp 13.875 Rp 14.125
Bank BTN Rp 13.970 Rp 14.120
Bank BCA Rp 13.964 Rp 14.062
CIMB Niaga Rp 13.770 Rp 14.270
Bank Panin Rp 13.996 Rp 14.025
Advertisement

Ekonomi Global

Pada Jumat Pagi Ini Rupiah Terkerek ke Rp13.730 per Dolar AS

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Nilai tukar rupiah menguat ke Rp13.730 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Jumat (21/2) pagi. Posisi rupiah menguat 0,15 persen pada penutupan pasar Kamis (20/2).

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia melemah terhadap dolar AS. Terpantau, won Korea melemah 0,5 persen, yuan China 0,35 persen, dan bath Thailand 0,29 persen.

Selanjutnya, ringgit Malaysia keok 0,19 persen, rupee India 0,14 persen, peso Filipina 0,8 persen, dan dolar Hong Kong 0,07 persen.

Sementara, penguatan terhadap dolar AS terjadi pada dolar Singapura 0,06 persen dan yen Jepang 0,04 persen.

Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar menguat terhadap dolar AS. Dolar Australia menguat 0,09 persen, euro 0,08 persen, dolar Canada 0,06 persen, dan poundsterling Inggris 0,03 persen.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai rupiah berpeluang melemah pada perdagangan hari ini. Sebab, pasar kembali mengkhawatirkan soal penyebaran virus corona yang meningkat di beberapa negara, termasuk China di luar Provinsi Hubei, serta dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global.

“Kekhawatiran ini berpotensi menekan rupiah hari Jumat ini dan mungkin bisa menahan rupiah di atas Rp13.700 per dolar AS,” Jumat (21/2).

Sepanjang hari, Ariston memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp13.700 hingga Rp13.780 per dolar AS.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Keuangan

Digempur Pasukan Asia, Dolar AS Ambruk Parah!

Published

on

Jakarta, FINROLL — Nilai tukar dolar AS bergerak penuh tekanan pada perdagangan spot, Rabu (12/02/2020). Wabah virus corona yang kian meburuk menjadi amunisi utama bagi mata uang global untuk menekan dolar AS, termasuk di antaranya dolar Australia, poundsterling, dolar Kanada, dolar New Zealand, dan franc.

Baca Juga: Emas Dunia Bersinar Terang, Bye-Bye Dolar AS Sayang!

Ikut memanfaatkan momen, sebagian besar mata uang Benua Kuning juga ikut menyerang dan membuat mata uang Paman Sam ambruk signifikan, misalnya dolar Taiwan, baht, dolar Singapura, won, dolar Hong Kong, yuan, dan rupiah. Hanyalah yen yang saat ini enggan masuk dalam pasukan.

Asal tahu saja, kala pembukaan pasar spot pagi tadi, rupiah mampu mengukir apresiasi 0,15% ke level Rp13.665 per dolar AS. Kendati mulai menipis, hingga pukul 09.57 WIB, rupiah masih unggul 0,07% ke level Rp13.655 per dolar AS. Mata uang Garuda itu juga terpantau menguat terhadap euro sebesar 0,09%, namun terkoreksi -0,23% terhadap dolar Australia dan -0,02% terhadap poundsterling.

Pergerakan rupiah di Asia variatif dengan kecenderungan menguat. Sang Garuda perkasa terhadap yen (0,19%), ringgit (0,18%), dolar Hong Kong (0,06%), yuan (0,05%), dan dolar Singapura (0,02%), namun melemah terhadap dolar Taiwan (-0,18%), won (-0,17%), dan baht (-0,14%).

Sumber Berita : Wartaekonomi.co.id

Continue Reading

Keuangan

PLN Klaim Bisa Hemat Rp4 Triliun Berkat Substitusi BBM ke Gas

Published

on

By

Finroll.com, Jakarta – PT PLN (Persero) mengklaim bisa menghemat biaya operasional senilai Rp4 triliun dengan kebijakan substitusi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) ke gas. Gas digunakan untuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan perseroan telah melakukan kajian substitusi BBM ke gas sejak setahun terakhir. Kajian itu dilakukan pada penggunaan PLTD di lima wilayah kerja.

Dari hasil kajian tercatat kebutuhan konsumsi BBM mencapai 2,6 juta kiloliter (kL) pada 2019. Dari jumlah itu sekitar 1,6 juta kL atau setara 61,53 persen bisa dipenuhi dengan penggunaan gas.

“Jadi penurunan konsumsi BBM dari 2,6 juta kL menjadi 1,6 juta kL akan mengurangi biaya operasi. Estimasi pengurangan biaya operasi sebesar Rp4 triliun,” ungkap Zulkifli, Selasa (28/1).

Ia mengatakan kajian ini merupakan tindak lanjut perusahaan atas Keputusan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2020 tentang Penugasan Pelaksanaan Penyediaan Pasokan dan Pembangunan Infrastruktur LNG, serta Konversi Penggunaan BBM dengan LNG dalam Penyediaan Tenaga Listrik.

Beleid hukum itu dikeluarkan untuk mengejar target penggunaan gas pada pembangkit listrik mencapai 12 ribu megawatt (MW) atau sekitar 22 persen dari total bauran energi nasional. Target itu ditetapkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028.

“Maka dari itu, PLN telah melakukan identifikasi untuk memetakan perencanaan konstruksi pembangkit dan pengoperasian pembangkit yang menggunakan BBM dan gas,” jelasnya.

Pemerintah berharap substitusi BBM ke gas pada pengoperasian pembangkit listrik bisa menekan konsumsi minyak. Sebab, kebutuhan minyak tersebut umumnya ditutup dari aktivitas impor.

Sementara impor minyak yang tinggi membuat defisit neraca perdagangan meningkat. Persoalan ini kemudian menjalar ke Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang ikut defisit.

Di sisi lain, pemerintah juga berusaha mengurangi impor minyak dengan program mandatori biodiesel sebanyak 20 persen (B20) pada tahun lalu dan 30 persen (B30) pada tahun ini. PLN pun jadi sasaran implementasi program ini dengan menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar pembangkit listrik.(cnnindonesia.com)

 

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending