Connect with us

Ekonomi Global

Surplus Dagang China dengan AS Merosot 8,5 Persen pada 2019

Published

on


Jakarta — Surplus perdagangan China dengan Amerika Serikat (AS) mengecil sepanjang 2019. Hal itu tak lepas dari pengenaan tarif di tengah perang dagang antara kedua negara.

Sebagai pengingat, tahun lalu, Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif terhadap miliaran dolar impor produk China. Sebagai balasan, China juga mengenakan tarif serupa untuk produk AS sehingga menyeret perekonomian global.

Dilansir dari AFP, Selasa (14/1), Badan Kepabeanan China mencatat surplus perdagangan China pada 2019 sekitar US$295,8 miliar atau merosot 8,5 persen dari 2018, US$323,3 miliar.

Khusus Desember 2019, surplus perdagangan China sekitar US$23,2 miliar atau turun 5,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan surplus tak lepas dari menurunnya impor Negeri Tirai Bambu sebesar 2,8 persen.

Juru bicara Kepabeanan China Zou Zhiwu menyatakan impor produk dari AS, termasuk kedelai dan babi, terus menanjak sejak November dan Desember 2019. Kenaikan impor tersebut, sambungnya, tidak berdampak pada pembelian China terhadap produk negara lain.

Menurutnya, tensi perdagangan dengan AS memberikan tekanan terhadap aktivitas perdagangan internasional, terutama bagi perusahaan yang berdagang dengan AS.

Di sisi lain, ekspor China meningkat 0,5 persen sepanjang tahun lalu, terutama ke pasar non-AS.

“Meski ekspor kami ke AS menurun, efektivitas perusahaan dalam mendiversifikasi pasarnya signifikan,” ujarnya dalam konferensi pers yang dikutip dari AFP, Selasa (14/1).

Bulan lalu, dua negara dengan perekonomian terbesar mengumumkan tercapainya kesepakatan perdagangan fase I. Rencananya, kesepakatan yang menjadi penanda awal redanya perang dagang keduanya akan ditandatangani pada 15 Januari 2020.

Dalam kesepakatan itu, pemerintah AS menyebut China akan membeli produk AS senilai US$200 miliar selama dua tahun. Namun, China belum memberikan konfirmasi atas rencana tersebut.

Menurut Zou, penandatangan kesepakatan baru itu penting dan akan berdampak positif, tidak hanya bagi China dan AS tetapi juga seluruh dunia.

Trump sebelumnya telah membatalkan rencana pengenaan tarif terhadap berbagai produk China, termasuk elektronik, yang sedianya diberlakukan pada Desember 2019 lalu. Nilai produk yang dikenakan tarif juga merosot sekitar separuh menjadi US$120 miliar.

Kendati demikian, AS masih mengenakan tarif sebesar 25 persen terhadap produk impor senilai US$250 miliar. (CNN/GPH)

Advertisement

Ekonomi Global

Inilah Negara yang ‘Tenggelam’ Dalam Utang

Published

on

FINROLL.com, Jakarta — Beban utang negara-negara di dunia mencetak rekor baru. Bahkan, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia tercatat paling tinggi sebelum tahun 2019 berakhir.

Institut Keuangan Internasional (Institute of International Finance/IIF) mengungkap utang global tersebut terdiri dari kredit rumah tangga, pemerintah dan korporat, dan meningkat US$9 triliun hingga mencapai US$253 triliun pada September 2019.

Realisasi itu membuat rasio utang terhadap PDB dunia bengkak menjadi 322 persen atau melampaui level tertingginya pada 2016 lalu.

Lebih dari separuhnya disumbang oleh negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Eropa. Rasio utang terhadap PDB AS dan Eropa tercatat mencapai 383 persen.

Sementara, negara-negara berkembang mencatat utang mereka lebih rendah, yakni US$72 triliun. Tetapi, IIF menuturkan utang negara-negara berkembang tumbuh lebih cepat dalam beberapa tahun terakhir.

China, misalnya, rasio utang terhadap PDB negara dengan ekonomi kedua terbesar di dunia mendekati 310 persen. Pertumbuhan utang China tercepat di antara negara-negara berkembang lainnya.

Laporan IIF bertajuk Global Debt Monitor melansir, tingkat utang China naik pada 2019. Padahal, pemerintah sempat mendorong perusahaan-perusahaan di China mengurangi utang mereka pada 2017-2018 lalu.

Risiko Ekonomi Global

IIF menyatakan tumpukan utang dunia menjadi ancaman nyata bagi ekonomi global. “Didorong oleh suku bunga rendah dan moneter yang longgar, kami memperkirakan total utang dunia akan melampaui UD$257 triliun pada kuartal pertama 2020,” imbuh lembaga keuangan yang didirikan oleh 38 bank di negara-negara di dunia.

Diketahui, The Fed, bank sentral AS menurunkan suku bunga acuannya sebanyak tiga kali pada tahun lalu. Begitu pula dengan bank sentral Eropa yang masih memberikan kelonggaran moneter usai krisis keuangan 2008-2009 silam.

IIF menilai risiko pembiayaan kembali dari utang-utang dunia sangat besar pada tahun ini, mengingat lebih dari US$19 triliun kredit dan surat utang akan jatuh tempo pada 2020. “Tidak mungkin semua ini akan dibiayai kembali. Tidak mungkin juga untuk dilunasi,” tulis laporan tersebut.

Masalah lain yang muncul dalam laporan tersebut adalah kebutuhan mendesak untuk membiayai program perubahan iklim. Belum lagi, program pembangunan berkelanjutan Persekutuan Bangsa-bangsa (PBB) yang diperkirakan membutuhkan investasi US$42 triliun pada 2030 mendatang.

Continue Reading

Ekonomi Global

Harga Minyak Tertahan Perlambatan Ekonomi China

Published

on

Jakarta — Harga minyak mentah dunia naik tipis pada perdagangan Jumat (17/1). Penguatan tipis ini terjadi lantaran pertumbuhan ekonomi China yang melambat.

Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent menguat 23 sen menjadi US$64,85 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 2 sen ke level 58,54 per barel.

Data pemerintah China menunjukkan ekonomi negara tersebut hanya tumbuh 6,1 persen sepanjang 2019. Realisasi tersebut terendah sejak 1990 atau 29 tahun terakhir.

Sejumlah pihak khawatir situasi ekonomi di China mempengaruhi permintaan bahan bakar dan optimisme dari penandatanganan kesepakatan dagang Amerika Serikat (AS) dengan China.

“Meningkatnya tekanan ekonomi akan membatasi kenaikan (harga) minyak dalam jangka menengah hingga jangka panjang,” kata Analis Pasar di CMC Markets Margaret Yang, dikutip Senin (20/1).

Beruntung, masih ada berita menggembirakan di tengah perlambatan ekonomi China, sehingga harga minyak tidak berakhir di zona merah. Produksi kilang minyak milik China tercatat naik pada 2019.

Jumlah produksi kilang China mencapai rekor tertinggi atau naik 7,6 persen menjadi 651,98 juta ton minyak mentah pada tahun lalu. Hasil kilang Negeri Tirai Bambu itu juga mencatat rekor tertinggi secara bulanan pada Desember 2019.

“Peningkatan kapasitas kilang China membentuk kembali aliran perdagangan produk olahan, sedangkan peningkatan produksi minyak mentah AS membentuk kembali aliran perdagangan minyak mentah,” kata Konsultan Petromatrix Oliver Jakob.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia sepanjang pekan lalu tercatat melemah. Rinciannya, harga minyak mentah berjangka Brent terkoreksi 0,2 persen dan WTI 0,8 persen.

Pada perdagangan Kamis (16/1), harga minyak mentah dunia sebenarnya sempat naik lebih dari 1 persen. Harga minyak mentah berjangka Brent menguat 1 persen menjadi US$64,62 per barel dan WTI naik 1,2 persen menjadi 58,52 per barel.

Penguatan itu dipengaruhi kemajuan kesepakatan dagang antara AS dan China, serta AS-Meksiko-Kanada. AS dan China baru saja menandatangani perjanjian damai dagang fase pertama pada Rabu (15/1) waktu setempat.

Satu hari setelah penandatanganan tersebut, Senat AS juga menyetujui perubahan perjanjian perdagangan dengan Meksiko dan Kanada. (CNN)

Continue Reading

Ekonomi Global

Kesepakatan Dagang AS-China Dongkrak Harga Minyak

Published

on

FINROLL.COM, Jakarta — Harga minyak cenderung menguat pada akhir perdagangan Selasa (14/1) waktu AS, setelah melorot lima hari berturut-turut. Penguatan harga minyak mentah dunia terjadi jelang kesepakatan dagang AS dan China, dan berkurangnya tensi ketegangan Timur Tengah.

Minyak mentah berjangka Brent naik 29 sen atau 0,5 persen menjadi US$64,49 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) berakhir 15 sen atau 0,3 persen lebih tinggi menjadi US$58,23 per barel.

Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS meningkat di luar dugaan pada pekan lalu. Yakni, sekitar 1,1 juta barel dalam sepekan terakhir hingga 10 Januari 2020.

Sementara itu, Badan Informasi Energi AS (EIA) akan melaporkan data persediaan resmi pemerintah pada Rabu pagi waktu setempat.

Para analis mengatakan minyak menemukan dukungan teknis setelah WTI turun ke level terendah dalam sepekan di US$57,72, sebelum memantul dari rata-rata pergerakan 200 hari.

Penandatanganan perjanjian dagang fase I antara AS dan China diharapkan dilakukan pada Rabu (15/1) waktu setempat, yang akan menandai langkah besar dalam mengakhiri pertikaian yang memangkas pertumbuhan global dan mengurangi permintaan minyak.

“Harga minyak untuk sementara rebound, sehingga investor menunggu perkembangan selanjutnya di bidang perdagangan dan apakah terlihat kenaikan yang kuat dengan permintaan global setelah kesepakatan perdagangan fase-satu,” Edward Moya, Analis pasar senior di OANDA di New York.

Sumber yang mengetahui kesepakatan dagang mengatakan China telah berjanji untuk membeli lebih dari US$50 miliar pasokan energi dari AS selama dua tahun ke depan.

Sementara itu, di tengah perselisihan perdagangan, impor minyak mentah China melonjak 9,5 persen pada 2019. Ini merupakan rekor dalam 17 tahun terakhir.

Penurunan harga minyak baru-baru ini dikarenakan investor melepas posisi bullish yang dibangun setelah pembunuhan jenderal senior Iran dalam serangan udara AS.

Di AS, Badan Informasi Energi AS (EIA) memproyeksikan laju pertumbuhan produksi minyak akan melambat menjadi 3 persen pada 2021 atau terendah sejak 2016.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending