Connect with us
[adrotate group="1"]

Makro Ekonomi

Utang RI Naik Rp1.000T dalam Setahun Akibat Covid-19

Total utang pemerintah hingga September 2020 mencapai Rp 5.756,87 triliun, melonjak dibandingkan periode yang sama tahun lalu mencapai Rp 4.700,28 triliun.

Published

on


FINROLL.COM — Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah mencapai Rp 5.756,87 triliun pada September 2020, melesat lebih dari Rp 1.000 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 4.700,28 triliun. Kenaikan utang terjadi karena pelemahan ekonomi akibat Covid-19 serta peningkatan kebutuhan pembiayaan untuk menangani masalah kesehatan dan pemulihan ekonomi nasional.
Posisi utang pemerintah pada September 2020 juga meningkat dari Agustus 2020 yang tercatat Rp 5.594,93 triliun. “Dengan demikian rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto sebesar 36,41%,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam buku APBN KiTa edisi Oktober 2020 yang dirilis, Kamis (22/10).
Secara perinci, utang pemerintah pusat masih didominasi oleh surat berharga negara dengan komposisi 85% atau sebesar Rp 4.892,57 triliun. Sisanya, berbentuk pinjaman sebanyak Rp 864,29 triliun.
Lebih perinci, SBN terdiri dari SBN domestik Rp 3.629,04 triliun dan vaals Rp 1.263,54 triliun. SBN domestik berbentuk surat utang negara Rp 2.973,01 triliun dan surat berharga syariah negara Rp 656,03 triliun. Adapun SBN valas terdiri atas SUN Rp 999,49 triliun dan SBSN Rp 264,05 triliun.

Sementara itu, pinjaman pemerintah terdiri dari pinjaman dalam negeri Rp 11,32 triliun dan pinjaman luar negeri Rp 852,97 triliun yang berbentuk bilateral Rp 318,18 triliun, multilateral RP 489,97 triliun, dan bank komersial Rp 44,82 triliun.

Sri Mulyani menekankan pengelolaan utang pemerintah dilakukan dengan penuh kehatihatian dan berdasarkan pada kebijakan umum pembiayaan utang. Salah satunya, dengan mengoptimalkan potensi pendanaan utang dari sumber dalam negeri dan sumber luar negeri sebagai pelengkap.
Selain itu, pemerintah juga berkomitmen untuk mengoptimalkan peran serta masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan pembiayaan dan melakukan pendalaman pasar SBN domestik. Ini terlihat dari penerbitan SBN ritel secara berkala yang mendapatkan sambutan sangat baik dari masyarakat.
Terbaru, hasil penerbitan sukuk ritel seri SR013 pada September berhasil memperoleh sebesar Rp 25,67 triliun dan menjaring 44.803 total investor. Angka tersebut merupakan rekor penjualan terbesar sepanjang penjualan SBN Ritel sejak 2018. Selanjutnya pada Oktober ini, pemerintah kembali menawarkan Obligasi Negara seri ORI018 dengan tingkat kupon sebesar 5,70% p.a. ORI018 ditawarkan sejak tangga 1 sampai dengan 21 Oktober 2020 dan merupakan instrumen dengan suku bunga tetap dan dapat diperjualbelikan di pasar sekunder.
Pemerintah juga berkomitmen untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam pengembangan instrumen pembiayaan untuk mendukung pendalaman pasar domestik dengan Cash Waqaf Linked Sukuk ritel seri SWR001. Sukuk ritel tersebut ditawarkan pada tanggal 9 Oktober sampai dengan 12 November 2020 berdasarkan akad wakalah dengan imbal hasil sebesar 5,5%.
SWR001 ditawarkan pemerintah tanpa warkat dan tidak dapat diperjualbelikan di pasar sekunder. Tujuannya, untuk menjembatani masyarakat untuk menempatkan wakaf uangnya pada instrumen investasi yang aman dan produktif.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance Rizal Taufikurahman mengatakan bahwa pemerintah seharusnya bisa lebih berhati-hati dan berpikir dalam menarik utang, terutama produktivitas atas utang.
“Karena dampaknya tidak jangka pendek saja tetapi jangka panjang juga atas kinerja ekonomi,” kata Rizal kepada Katadata.co.id, Kamis (22/10). Apalagi, sambung dia, jika sudah berutang tetapi tidak terjadi perbaikan produktivitas sektor riil yg mendorong naiknya nilai tambah.
Maka, ini yang perlu dikhawatirkan karena akan menggerogoti dan membebani APBN. Di sisi lain, Panel Ahli Katadata Insight Center Damhuri Nasution mengatakan bahwa keseimbangan primer yang naik tajam merupakan konsekuensi logis dari ekspansi fiskal yang dilakukan oleh pemerintah.
Dalam keadaan sulit seperti ini, penerimaan pemerintah terutama perpajakan sudah pasti menurun, sedanglan belanja meningkat seiring berbagai stimulus perekonomian. “Ini yang membuat keseimbangan primer maupun defisit APBN nya melebar,” ujar Damhuri kepada Jumat (2/10).
Ia menilai penerimaan negara akan kembali meningkat jika ekonomi sudah mulai pulih. Keseimbangan primer dan defisit APBN pun akan kembali menyempit.  (Katadata.co.id)

Iwan Hidayat Bergabung Dengan Finroll Media Group Tahun 2012

Makro Ekonomi

Matahari Tutup Enam Gerai karena Tak Menguntungkan

Published

on

PT Matahari Department Store Tbk menyatakan akan menutup enam gerai hingga akhir 2020. Dengan demikian, total gerai ritel itu berkurang dari 153 menjadi 147.

Informasi tersebut diketahui dari laporan perseroan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui keterbukaan informasi.

“Ada enam toko besar yang tidak menguntungkan akan ditutup,” ujar perseroan dalam presentasinya kepada BEI, dikutip Senin (30/11).

Dari enam gerai tersebut sebanyak empat gerai berada di Jawa. Sedangkan sisanya berlokasi di Bali satu gerai dan Sulawesi satu gerai.

Perusahaan dengan kode saham LPPF itu juga memastikan tidak ada pembukaan gerai baru hingga Maret 2021.

“Tidak ada pembukaan toko baru pada kuartal IV 2020 dan kuartal I 2021,” imbuh perseroan.

Sementara itu, untuk 143 gerai yang masih beroperasi, pihak manajemen menuturkan jika 23 gerai berada dalam daftar pantauan terkait peningkatan kinerja. Mereka juga melakukan negosiasi dengan pemilik gedung untuk mendapatkan harga sewa yang tetap atau bahkan lebih rendah.

“Toko-toko ini sedang dipantau, ditinjau, dan didiskusikan,” katanya.

Perseroan menuturkan kondisi tersebut dipengaruhi oleh pandemi covid-19 yang menyebabkan sejumlah kota melakukan PSBB. Tercatat, ada 42 gerai Matahari pada enam kota yang melakukan PSBB.

“Perdagangan pada Desember dapat dipengaruhi oleh perpanjangan PSBB lebih lanjut dan pembatasan mudik akhir tahun,” ujarnya.

Sebelumnya, Matahari telah menutup tujuh gerai sepanjang tahun ini karena merugi. Sekretaris Perusahaan Matahari Department Store Miranti Hadisusilo menyatakan manajemen telah merencanakan penutupan ini dengan matang.

Ketujuh gerai itu tersebar di seluruh Indonesia. Pertama, 1 gerai di Palembang, Sumatera Selatan. Kedua, 1 gerai di Bogor, Jawa Barat. Ketiga, 1 gerai di DKi Jakarta.

Sebanyak 7 gerai itu meliputi gerai di Palembang, Bogor, DKI Jakarta, Balikpapan, Bali, Padang, dan Cirebon.

“Iya benar (tidak menguntungkan), jadi memang sudah direncanakan untuk ditutup karena tidak menguntungkan,” ucap Miranti kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Selain menutup gerai, Matahari Department Store juga telah memotong gaji karyawan sejak April 2020. Hal ini seiring dengan maraknya kasus penularan virus corona dan pembatasan aktivitas di ruang publik.

Sumber Berita : CNN INDONESIA

Continue Reading

Makro Ekonomi

Pameran Dagang RI Tarik Transaksi Rp1,02 T dari Mesir

Published

on

FINROLL.COM – Pameran perdagangan Indonesia secara virtual, Trade Expo Indonesia Virtual Exhibition (TEI-VE) 2020 berhasil menggaet transaksi bisnis sebesar US$73 juta atau sekitar Rp1,02 triliun dari para pengusaha Mesir.

“Meski pandemi, tidak mengecilkan semangat pembeli Mesir melakukan pembelian produk Indonesia,” kata Kepala Perwakilan RI/Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar RI di Kairo M Aji Surya dikutip dari Antara, Rabu (11/11).

Kesepakatan bisnis itu dilakukan melalui penandatanganan kontrak pembelian yang diadakan pada Selasa (10/11). Menurut dia, transaksi perdagangan tersebut mencakup beberapa produk unggulan Indonesia di antaranya manufaktur ban kendaraan senilai US$30 juta, sabun toilet US$3 juta dan produk biji kopi US$40 juta.

“Mesin diplomasi ekonomi kita tidak boleh kendor,” imbuh Aji.

Atase Perdagangan KBRI Kairo Irman Adi Purwanto Moefthi yang mendampingi pembeli Mesir melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) misi pembelian menjelaskan kehadiran pengusaha itu menegaskan loyalitas untuk mengimpor produk unggulan Indonesia.

“Tema TEI yang diusung tahun ini mengangkat upaya sustainable trade in digital era untuk mendorong keberlanjutan produk Indonesia dan promosi produk dalam negeri ke pasar Mesir dan sekitarnya,” ucapnya.

Sedangkan, Pelaksana Fungsi Ekonomi KBRI Kairo John Admiral menambahkan pameran dagang skala internasional secara virtual ini dapat dioptimalkan sebagai bentuk inovasi promosi di tengah pandemi.

Kementerian Perdagangan menggelar TEI-VE mulai 10-16 November 2020. Pameran dagang terbesar Indonesia itu merupakan agenda rutin tahunan untuk mendongkrak ekspor Indonesia ke pasar internasional.

Pada TEI Ke-35 ini, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto memasang target transaksi sebesar US$1 miliar dolar AS atau sekitar Rp14 triliun. (CNN INDONESIA)

Continue Reading

Makro Ekonomi

Indonesia Resmi Masuk ke Jurang Resesi Ekonomi

Indonesia resmi terperosok ke jurang resesi ekonomi. Kepastian tersebut terjadi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,49 persen pada kuartal III 2020 kemarin.

Published

on

FINROLL.COM – Indonesia resmi terperosok ke jurang resesi ekonomi. Kepastian tersebut terjadi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,49 persen pada kuartal III 2020 kemarin.

Dengan pertumbuhan itu berarti ekonomi Indonesia minus dalam dua kuartal terakhir. Pasalnya, pada kuartal II 2020 kemarin ekonomi Indonesia minus 5,32 persen.

Sebagai informasi, resesi merupakan suatu keadaan di mana ekonomi negara negatif dalam dua kuartal atau lebih secara berturut-turut.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan capaian pertumbuhan ekonomi berbanding terbalik dibandingkan kuartal III 2019 sebesar 5,02 persen.

“Dengan posisi ini kalau kita bandingkan posisi kuartal III 2019 maka posisi pertumbuhan Indonesia secara tahunan masih mengalami kontraksi sebesar 3,49 persen,” ujar Suhariyanto dalam paparan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2020, Kamis (5/11).

Suhariyanto mengatakan ekonomi di sejumlah negara membaik pada kuartal III 2020 dibandingkan kuartal II 2020. Namun, perbaikan tersebut mengalami kendala kenaikan kasus pandemi covid-19 di sejumlah negara.

Di beberapa negara di Eropa sedang melakukan lockdown kembali, Jerman, Prancis, Inggris, dan Austria karena kasus covid yang terus meningkat,” ucapnya.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada sejumlah negara mitra dagang masih mengalami kontraksi, kecuali China yang sudah berhasil tumbuh positif sebesar 4,9 persen pada kuartal III 2020. Namun, kontraksi tersbet tidak sedalam pada kuartal II 2020.

Pertumbuhan ekonomi pada Juli-September ini ditopang realisasi belanja pemerintah. Tercatat, realisasi belanja pemerintah mencapai Rp771,37 triliun, setara 28,16 persen dari pagu anggaran 2020 sebesar Rp2.739,17 triliun.

“Kenaikan realisasi belanja negara kuartal III 2020 disebabkan naiknya realisasi belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah dan dan desa,” katanya.

Selain itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi mencapai Rp209 triliun pada kuartal III 2020, atau naik 1,6 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Realisasi investasi tersebut terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp102,9 triliun naik 2,1 persen. Sedangkan, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp106,1 triliun, naik 1,1 persen.

Sepanjang kuartal III 2020, Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) sebesar Rp2.720,5 triliun dan PDB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) sebesar Rp3.894,7 triliun.

Masuknya Indonesia pada jurang resesi ekonomi sudah dipastikan oleh pemerintah. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkirakan pertumbuhan ekonomi minus sekitar 3 persen pada kuartal III 2020.

“Pada kuartal III ini, kita juga mungkin sehari, dua hari, tiga hari akan diumumkan oleh BPS, juga masih berada di angka minus. Perkiraan kami minus 3 persen, naik sedikit,” ujar Jokowi saat membuka Sidang Kabinet Paripurna. (CNN INDONESIA)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending