Connect with us

Peristiwa

Penampilan Lampion Di DCF 2019 Menjadi Yang Terakhir

Published

on


Keterangan foto : Lampion Terakhir di Dieng Aktivitas menyalakan lampion hingga menerbangkannya, tidak akan ada lagi di Dieng Culture Festival. (Dok. Kemenpar)

Finroll.com — Dieng Culture Festival (DCF) ajang tahunan yang telah memasuki tahun kesepuluh, ajang ini menjadi salah satu daftar incaran para wisatawan maupun penikmat pertunjukan.

Sejak pertama kali digulirkan 10 tahun yang lalu, salah satu pertunjukan yang dinanti adalah pelepasan lampion ke udara. Aktivitas menyalakan lampion hingga menerbangkannya, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk datang ke DCF.

Di tengah dinginnya suhu dataran tinggi Dieng, cahaya yang dihasilkan oleh ratusan lampion itu membuat suasana semakin syahdu dan hangat.

Sayangnya ‘penampilan’ lampion di DCF 2019 menjadi yang terakhir.

“Terima kasih Indonesia, ini adalah tahun terakhir Dieng Culture Festival dengan lampion, tahun depan kita tidak akan menggunakan lampion lagi. Terima kasih yang telah mendukung kami kalian yang terbaik sampai jumpa di jazzatasawan 2020,” tulis @festivaldieng di halaman instastorynya.

Alif Fauzi selaku Ketua Panitia Dieng Culture Festival, mengatakan ajang DCF dinilai mampu membawa dampak ekonomi dari sisi pariwisata bagi masyarakat Dieng Kulon di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

“Hingga memasuki tahun yang ke-10, event budaya yang menjadi agenda tahunan kalender pariwisata Indonesia itu nyatanya selalu menyedot kunjungan wisatawan ke Dieng,” kata Alif, yang dilansir CNNIndonesia.com, Senin (5/8/2019).

Menurutnya banyak wisatawan memadati daerah berjuluk negeri atas awan dalam tiga hari acara itu digelar.

Hal ini membuktikan DCF menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dari berbagai penjuru daerah untuk datang.

Buktinya adalah ratusan homestay di Dieng dan sekitar telah penuh terisi pada 2-4 Agustus 2019.

Para turis atau wisatawan bahkan telah memesan kamar sejak Januari 2019, jauh sebelum acara ini diadakan.

Advertisement Valbury

Nasional

Kasus Positif Akan Naik, BNPB Sebut Puncak Covid-19 Awal Juni

Published

on

Finroll – Jakarta, Kurva puncak penyebaran corona atau Covid-19 di Indonesia diperkirakan kan terjadi pada awal Juni 2020.

Pelaksana tugas Deputi II Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dody Ruswandi mengatakan setelah mengalami puncak Covid-19, kurva akan menurun.

“Kalau puncak di sana (awal Juni), kita juga harus siap dengan kapasitas rumah sakit. Insya Allah nanti kalau semuanya testing ini selesai dan puncaknya bisa tercapai, dan setelah itu mudah-mudahan bisa landai ke bawah,” tutur Dody dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VIII DPR RI yang berlangsung secara daring pada Selasa (12/5).

 Jumlah kasus positif corona atau Covid-19 di Indonesia, Selasa (12/5) mencapai 14.749 kasus, sementara jumlah pasien meninggal berjumlah 1.007 orang, dan pasien sembuh sebanyak 3.063 orang.

Dilansir dari peta sebaran di situs covid19.go.id, terjadi penambahan kasus positif sebanyak 484 orang.

“Jumlah pasien dalam perawatan 10.679 orang,” demikian informasi dari situs covid19.go.id, Selasa (12/5) pukul 15.25 WIB.

Dodi juga mengatakan, pekan depan akan banyak kenaikan jumlah kasus positif karena jumlah orang yang diperiksa juga bertambah.

“Nanti mungkin jangan kaget bapak ibu bahwa minggu depan itu akan cenderung banyak naiknya,” kata Dody.

Menurut Dody, Gugus Tugas Percepatan penanganan Covid-19 sedang meningkatkan kapasitas baik dari segi laboratorium maupun sumber daya manusia. Targetnya, lanjutnya, kenaikan kapasitas pengecekan mulai akhir pekan ini.

Sementara, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita mengungkapkan bahwa Pemerintah Indonesia bahkan dunia, hingga saat ini belum dapat menjawab mengenai pertanyaan kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

Perlu disadari bahwa hingga saat ini memang belum ditemukan vaksin untuk mengobati Covid-19. Kendati demikian, beberapa ahli dan pakar dunia tengah berlomba untuk menemukan ramuan yang tepat untuk mengobati virus SARS-CoV-2 yang utamanya menyerang paru-paru manusia tersebut.

“Seluruh dunia juga tidak tahu, karena virus ini, untuk vaksinnya belum ditemukan. Jadi, maka dari itu, sampai dengan vaksin belum ditemukan, kita harus bisa selalu berhadapan dengan virus ini,” ungkap Wiku dalam dialog di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha BNPB, Jakarta (12/5).

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Nasional

Istana Luruskan Maksud Jokowi Hidup Berdamai dengan Corona

Published

on

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menjelaskan maksud Presiden Joko Widodo yang meminta masyarakat berdamai dengan virus corona (Covid-19) yang masih mewabah Indonesia dalam dua bulan terakhir.

FINROLL.COM — Bey mengatakan, maksud berdamai dengan corona sebagaimana dikatakan Jokowi itu adalah menyesuaikan dengan kehidupan. Artinya masyarakat harus tetap bisa produktif di tengah pandemi Covid-19.

“Bahwa Covid itu ada dan kita berusaha agar Covid segera hilang. Tapi kita tidak boleh menjadi tidak produktif karena Covid, menjadikan ada penyesuaian dalam kehidupan,” ujar Bey melalui pesan singkat kepada wartawan, Jumat (8/5).

Bey menambahkan, penyesuaian dalam kehidupan itu dilakukan dengan upaya mencegah penularan corona. Di antaranya dengan selalu mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak dari kerumunan.

Penyesuaian hidup ini pula, menurut dia, yang akan membentuk tatanan kehidupan normal baru bagi masyarakat.

“Covid memang belum ada anti virusnya, tapi kita bisa mencegah. Artinya jangan menyerah, hidup berdamai dalam penyesuaian kehidupan. Ke sananya yang disebut the new normal tatanan kehidupan baru,” katanya.

Diketahui Jokowi dalam keterangannya, Kamis (7/5), meminta masyarakat berdamai dengan corona sampai vaksin ditemukan. Ia mengatakan, hingga vaksin belum ditemukan maka tak ada acuan virus corona benar-benar berhenti menyebar.

Pernyataan Jokowi untuk berdamai dengan corona ini sempat mendapat sorotan di media sosial. Pernyataan itu berbeda dengan apa yang disampaikan Jokowi dalam pertemuan virtual KTT G20 pada Maret lalu.

Saat itu Jokowi mengajak negara-negara anggota G20 untuk ‘perang’ melawan virus corona. Ia juga mendorong G20 memimpin upaya menemukan penawar penyakit akibat virus tersebut.

Sebagai informasi, data terbaru kasus positif corona di Indonesia per 7 Mei 2020 mencapai 12.776 pasien. Dari jumlah tersebut 930 orang meninggal dunia dan 2.381 orang sembuh.

Sejak pertama kali diumumkan pada 2 Maret lalu, kasus positif corona di Indonesia terus bertambah. Dari data yang selalu dipaparkan pemerintah, belum pernah sehari pun jumlah kasus positif corona turun. (CNN)

Continue Reading

Nasional

Gunung Semeru Erupsi, Awan Panas Hingga 2 Km dari Puncak

Published

on

By

Gunung Semeru Erupsi, Awan Panas Hingga 2 Km dari Puncak

Finroll – Bandung, Gunung Semeru, Jawa Timur, mengalami erupsi dan mengeluarkan awan panas hingga 2 kilometer dari puncak, Jumat (17/4) pukul 06.08 WIB. “Terjadi awan panas guguran sejauh 2.000 meter, pusat guguran sekitar 1.000 meter dari kawah ke arah Besuk Bang,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian (PVMBG) Kasbani dalam keterangan tertulisnya, Jumat (17/4).

Saat ini gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut berstatus level II atau waspada. Kasbani juga menjelaskan kegempaan yang terjadi di Gunung Semeru, selama periode 1 -16 April 2020, masih tinggi. Ini didominasi oleh jenis gempa letusan, guguran, dan embusan. Gempa letusan rata-rata terekam 25 kejadian per hari, gempa embusan 19 kejadian per hari, dan gempa guguran 6 kejadian per hari. “Pada 17 April 2020, terekam gempa awan panas guguran dengan amplitudo maksimum 7 mm dan lama gempa 300 detik,” ujarnya.

Adapun hasil analisisnya, interval gempa letusan yang cukup rapat menunjukkan bahwa hingga saat ini tidak terjadi penumpukan energi yang berpotensi terjadinya erupsi dengan intensitas yang lebih besar. Kasbani juga menyebut potensi erupsi lanjutan masih ada dengan sebaran material erupsi berupa aliran lava, hujan abu lebat, dan lontaran batu (pijar) di sekitar kawah dalam radius 1 kilometer dari pusat erupsi, serta awan panas guguran sejauh 4 kilometer di sekitar lereng tenggara dan selatan.

“Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, serta potensi ancaman bahaya Gunung Semeru hingga 17 April 2020, tingkat aktivitas vulkanik G. Semeru dinilai masih dalam Level II (Waspada). Tidak terdeteksi adanya peningkatan ancaman potensi bahaya,” kata Kasbani.

PVMBG juga mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat dan wisatawan agar tidak melakukan aktivitas dalam radius satu kilometer dari kawah aktif dan di wilayah sejauh empat kilometer di sektor lereng selatan-tenggara yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif Gunung Semeru sebagai alur luncuran awan panas guguran.

Masyarakat yang bermukim di bantaran sungai dan beraktivitas di dalam Besuk Kembar, Besuk Kobokan dan Besuk Bang juga diminta agar mewaspadai ancaman bahaya aliran lahar.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending