Connect with us

International

35 Hari Shutdown, Hari Ini Pemerintahan Amerika Serikat Dibuka

Published

on


35 Hari Shutdown, Hari Ini Pemerintahan Amerika Serikat Dibuka

Finroll.com – Berbagai lembaga pemerintahan federal Amerika Serikat (AS) yang sebagian besar tutup selama lima pekan, hari ini kembali buka dan membayar gaji para pegawainya.

Gedung Putih dan para pejabat Departemen Keuangan telah membahas kembali beroperasinya pemerintahan, sementara sejumlah lembaga mulai mengatasi berbagai masalah manajemen dan kebijakan yang terhenti selama penutupan pemerintahan.

Penutupan pemerintahan yang berlangsung 35 hari itu merupakan yang paling lama dalam sejarah AS. Sekitar 800.000 pegawai federal tak mendapat gaji, termasuk 380.000 pekerja yang cuti.

Presiden AS Donald Trump pada Jumat (25/1) menandatangani langkah untuk mendanai pemerintahan selama tiga pekan saat para negosiator kongres mencoba menyepakati rancangan undang-undang (RUU) untuk mendanai pemerintahan federal hingga 30 September.

Trump meminta dana untuk dinding perbatasan AS-Meksiko sebesar USD5,7 miliar tapi anggota parlemen Partai Demokrat menolak permintaan itu.

Kepala Pelaksana Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih Russell Vought menjelaskan pada berbagai lembaga pemerintah dalam memo untuk membuka lagi operasional secara tertib.

Komisioner Badan Pangan dan Obat-obatan (FDA) Scott Gottlieb menulis di Twitter bahwa lembaga itu akan mengirimkan gaji untuk para pegawai sebelum Kamis (31/1). Gottlieb menjelaskan pada para pegawai bahwa FDA akan membayarkan semua gaji pada Selasa (29/1).

“Akan ada dampak dari lamanya penutupan pada pendanaan. Tapi lembaga ini selalu menghadapi tantangan,” tutur dia, dilansir Reuters.

Kantor Penjaga Pantai menyatakan pegawainya bekerja sepanjang akhir pekan untuk memproses pembayaran gaji secepat mungkin. Gaji akan terima hingga Kamis (31/1).

Berdasarkan studi yang dirilis pekan lalu, para pekerja federal itu mendapatkan pembayaran gaji yang tertunda dengan total seluruhnya USD6 miliar. Berbagai lembaga pemerintah juga membutuhkan waktu beberapa hari untuk menangani berbagai email yang belum terbaca dan berbagai masalah logistik seperti password email atau kartu identitas yang telah habis masa berlakunya.

Para pekerja di lembaga-lembaga pemerintah itu dilarang membaca email atau menjawab telepon saat cuti atau penutupan pemerintahan.

Badan Antariksa dan Aeronautika Nasional (NASA) meminta para pegawainya untuk bersabar, terutama selama 48 jam pertama. Hal itu karena sebagian besar laptop dan smartphone para pegawai tidak aktif selama lebih dari sebulan dan tidak menjalani perawatan penting secara rutin.

Selama penutupan, beberapa lembaga pemerintah tidak menyelesaikan berbagai kontrak untuk sejumlah proyek, Badan Keamanan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional (NHTSA) berhenti mereview dan membuat panggilan keamanan otomatis yang baru, dan Badan Penerbangan Federal (FAA) berhenti melakukan sertifikasi pesawat dan rute baru.

Smithsonian Institution menyatakan sejumlah museum di Washington dan National Zoo akan kembali buka pada Selasa (29/1). Di Philadelphia, Independence National Historical Park yang termasuk Liberty Bell, simbol kemerdekaan AS kembali buka pada Sabtu (26/1), termasuk Ford’s Theatre di Washington.

Chairman Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Jay Clayton menyatakan, lembaganya terus memeriksa bagaimana secara efektif berpindah ke operasi normal. Dia menjelaskan, beberapa unit SEC, termasuk bagian yang bertugas untuk keuangan korporasi, perdagangan dan pasar, manajemen investasi dan Kantor Inspeksi dan Pemeriksaan Kepatuhan akan merilis pernyataan dalam beberapa hari mendatang terkait rencana transisi mereka.

SEC tak dapat menyetujui penawaran saham perdana (IPO) selama penutupan, dan beberapa pengamat menilai masalah itu dapat menunda berbagai IPO pada 2019. Federal Register yang merilis berbagai tindakan regulator pemerintah juga harus menghadapi banyaknya dokumen yang tertunda. Mereka akan menunda dimulainya pengumuman untuk beberapa proposal.

Penutupan itu juga diperkirakan menunda penyusunan proposal anggaran 2020 dan pembahasan kongres atas anggaran itu. Belum jelas juga kapan Trump akan memberikan Pidato Negara Serikat tapi sumber pejabat pemerintah menyatakan pidato itu tampaknya tidak akan dilakukan hingga Februari

[sumber: sindo]

International

Trump Wacanakan Beli Greenland

Published

on

By

Tunjukan Peta, Trump Sebut ISIS di suriah Akan Lenyap Malam Ini

Finroll.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara pribadi telah berdiskusi dengan para ajudan dan penasihatnya mengenai gagasan membeli pulau Greenland. Pembelian itu dipandang sebagai cara memperluas wilayah AS.

Dua sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan, Kamis (15/8), gagasan membeli wilayah otonom Denmark itu ditertawakan oleh beberapa penasihat sebagai lelucon. Akan tetapi dianggap lebih serius oleh yang lainnya.

Gagasan pembelian Greenland pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal. Mantan presiden AS Harry Truman telah menawarkan membeli Greenland pada 1946 dengan harga 100 juta dolar AS.

Trump, yang sedang berlibur di klub golfnya di Bedminster, New Jersey, akan melakukan kunjungan pertamanya ke Denmark pada awal September. Belum ada indikasi pembelian Greenland akan menjadi agenda pembicaraannya dengan pejabat Denmark. Sementara itu, Pangkalan Udara Thule di Greenland merupakan pangkalan militer AS yang terletak paling utara.

Continue Reading

International

Tiga Perusahaan Google, Facebook dan Amazon Mulai Menghadapi Sidang Pajak Layanan Digital Prancis

Published

on

Finroll.com — Seperti diberitakan Reuters, ketiga perusahaan – perusahaan teknologi seperti Google, Facebook Inc dan Amazon Inc mulai menghadapi sidang pajak layanan digital Prancis.

Sebelumnya, pada bulan Juli lalu Senat Prancis menyetujui retribusi 3% yang akan berlaku untuk pendapatan dari layanan digital yang diperoleh di Prancis oleh perusahaan-perusahaan dengan pendapatan lebih dari 25 juta euro. Dan pendapatan 750 juta euro atau US$ 838 juta di seluruh dunia.

Dalam kesaksiannya, perusahaan-perusahaan yang banyak berbasis di Amerika Serikat ini keberatan pajak 3% dari pemerintah Prancis ini.

Direktur kebijakan pajak internasional Amazon Peter Hiltz mengatakan dalam kesaksian tertulis bahwa lebih dari 10.000 usaha kecil dan menengah yang berbasis di Prancis menjual di toko online Amazon sudah diberitahu bahwa mereka akan terkena biaya sebesar 3% untuk penjualan yang dilakukan mulai 1 Oktober.

Akibatnya, Peter menyebutkan bahwa produk dan layanan yang dijual melalui toko online Amazon di Prancis akan lebih mahal sebagai akibat pajak.

Kesaksian kepala kebijakan pajak global Facebook Alan Lee mengatakan bahwa pajak tersebut menimbulkan kesulitan bagi model bisnis Facebook dan akan menghambat pertumbuhan dan inovasi dalam ekonomi digital. Pajak ini juga membuat Facebook membutuhkan rekayasa ulang sistemnya.

Lee menambahkan bahwa penetapan pajak itu akan membutuhkan waktu dan sumber daya tambahan untuk bisa menghitung dan audit.

Penasihat kebijakan perdagangan Google, Nicholas Bramble mengatakan dalam kesaksian tertulis, pajak Prancis adalah suatu perubahan yang tajam dari aturan perpajakan yang telah lama berlaku. Hasilnya menurut Bramble akan menimbulkan perselisihan tentang apakah kegiatan digital tertentu ‘dipasok di Prancis ‘atau di wilayah lain.”

Sementara Wakil presiden untuk kebijakan di Dewan Industri Teknologi Informasi, Jennifer McCloskey, yang mewakili Amazon, Facebook, Apple Inc, Google dan banyak lainnya bersaksi bahwa pajak tersebut merupakan preseden yang meresahkan, tidak perlu beranjak dari kemajuan menuju pajak internasional jangka panjang yang stabil kebijakan dan dapat secara tidak proporsional berdampak pada perusahaan-perusahaan yang bermarkas di AS.

Terkait soal pajak ini, pemerintah AS juga sudah berang karena kebanyakan yang akan terkena pajak ini adalah perusahaan negeri Paman Sam. Presiden AS Donald Trump sudah mengancam Prancis akan mengenakan balik pajak untuk produk dan perusahaan asal negara Napoleon Bonaparte itu.

Namun langkah Prancis ini tampaknya akan diikuti negara Uni Eropa lainnya. Negara UE lainnya, termasuk Austria, Inggris, Spanyol dan Italia, juga telah mengumumkan rencana untuk pajak digital mereka sendiri.

Mereka mengatakan retribusi diperlukan karena perusahaan internet multinasional besar seperti Facebook dan Amazon mendapat keuntungan di negara-negara dengan mengakali pajak rendah seperti Irlandia. Padahal pendapatan itu didapatkan dari banyak negara lain.(red)

Continue Reading

International

Harga Minyak Melonjak, Dampak Dari Meredanya Konflik Dagang Amerika-China

Published

on

Finroll.com — Meredanya kekhawatiran atas perang perdagangan global yang memukul pasar dalam beberapa bulan terakhir memicu harga minyak melonjak, Selasa, setelah Amerika menunda pemberlakuan tarif 10% untuk beberapa produk China.

Beberapa produk China itu termasuk laptop dan ponsel. Tarif tersebut dijadwalkan berlaku mulai bulan depan.

“Perang perdagangan AS-China menyebabkan pertumbuhan permintaan energi mengalami tekanan hebat.

Secercah harapan menghidupkan kembali lansekap prospek permintaan yang lebih positif,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital Management di New York.

Harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, melesat USD2,73, atau 4,7%, menjadi USD61,30 per barel, demikian laporan  Reuters , di New York, Selasa (13/8/2019)

Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melambung USD2,17, atau 4,0%, menjadi USD57,10 per barel.

Itu adalah persentase kenaikan harian terbesar untuk Brent sejak Desember ketika kontraknya melejit 7,9%.

Harga minyak memangkas kenaikannya dalam perdagangan pasca- settlement  setelah data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS secara tak terduga meningkat, minggu lalu.

Persediaan minyak mentah naik 3,7 juta barel menjadi 443 juta, dibandingkan ekspektasi analis untuk penurunan 2,8 juta barel, kata API.

Data pemerintah AS tentang stok minyak mentah akan dirilis Rabu waktu setempat.

Sejak jatuh ke level terendah sejak Januari pada 7 Agustus, Brent melonjak 9% dan WTI 12%. Penguatan WTI yang lebih besar selama empat hari terakhir secara singkat memotong premi Brent atas WTI ke level terendah sejak Maret 2018.

Kementerian Perdagangan China mengatakan dalam sebuah pernyataan, Selasa, bahwa pejabat perdagangan AS dan China berbicara di telepon dan setuju untuk berbicara lagi dalam waktu dua minggu.

“Kemungkinan bahwa Amerika Serikat dan China bisa membawa perundingan perdagangan ke jalurnya meningkatkan harapan mereka mungkin benar-benar bakal mencapai kata sepakat,” kata Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago.

“Itulah mengapa kita melihat kenaikan harga yang besar ini.”
Sebelum pengumuman AS tentang penundaan tarif tersebut, Brent masih diperdagangkan sekitar 20% di bawah level tertinggi 2019 yang dicapai April lalu.

Selain pendinginan perang perdagangan AS-China, para analis mengatakan harga didukung oleh ekspektasi persediaan minyak mentah Amerika menurun pada pekan lalu, dan keyakinan Arab Saudi akan tetap melakukan pengurangan produksi.

Di Amerika Serikat, analis memperkirakan stok minyak mentah turun 2,8 juta barel pekan lalu, menurut jajak pendapat  Reuters .

“Jika kita mendapatkan penarikan dalam stok (AS) yang dicari sebagian besar orang, itu akan membuat pasar lebih ketat,” kata Flynn.

Arab Saudi, pemimpin  de facto  Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ), pekan lalu mengatakan berencana untuk mempertahankan ekspor minyak mentahnya di bawah 7 juta barel per hari (bph) pada Agustus dan September, guna membantu mengeringkan persediaan minyak global. OPEC dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC +, sepakat untuk memotong 1,2 juta barel per hari produksi sejak 1 Januari.

Rencana Kerajaan itu untuk melepas BUMN minyak nasional, Saudi Aramco, dalam apa yang bisa menjadi penawaran umum perdana (IPO) terbesar di dunia, memberikan dorongan lebih lanjut untuk mendongkrak harga.

“Arab Saudi dan sekutu Teluknya berpegang teguh pada komitmen mereka terhadap perjanjian pengurangan produksi OPEC + telah mendukung harga,” kata Abhishek Kumar, Kepala Riset Interfax Energy di London.(red)

Continue Reading
Advertisement

Trending