Connect with us
[adrotate group="1"]

Keuangan

Akhir Oktober, Telegram Bakal Rilis Mata Uang Kripto ‘Gram’

Published

on


Finroll.com – Aplikasi pesan instan buatan Rusia, Telegram dikabarkan sedang merampungkan mata uang kripto mereka yakni Gram. Ini adalah mata uang digital (cryptocurrency) serupa dengan yang dimiliki Facebook, Libra, dan Bitcoin. Rencananya mata uang ini akan dirilis pada akhir Oktober mendatang.

Selain itu, perusahaan telah melakukan koordinasi dengan beberapa investor bahwa mereka berencana bakal mengirimkan token pertama koin kripto Gram dalam dua bulan ke depan.

Mata uang kripto Gram direncanakan bakal tersedia untuk 200 hingga 300 juta pengguna global dari pengguna aplikasi Telegram. Perusahaan mengatakan produk mereka itu akan menjadi mata uang online terbaru.

Dilansir CNET, Telegram dilaporkan sudah mulai mengerjakan koin digital mereka tahun 2017 lalu dan telah berhasil mengumpulkan US$1,7 miliar dari investor tahun lalu. Selain itu, Gram juga dilaporkan akan didesentralisasi mirip dengan bitcoin dan tidak akan dikendalikan oleh perusahaan.

Langkah yang dilakukan Telegram itu dapat membantu mereka lolos dari sejumlah regulasi pemerintah Amerika soal mata uang kripto yang dinilai memberatkan pengembang. Sebab, Facebook telah menghadapi pengawasan ketat oleh parlemen dan regulator terkait proyek Libra.

Di satu sisi, sejumlah regulator dikabarkan semakin khawatir bahwa uang kripto seperti Gram dan Libra disinyalir dapat digunakan untuk praktek pencucian uang.

“Siapapun yang mencoba membangun sistem token jenis ini harus berhati-hati pada sejumlah level dengan regulator. Saya curiga regulator akan memperhatikan penawaran ini dengan cermat,” kata Pengamat Firma Hukum Cryptocurrency Richard Levin dikutip The New York Times.

Sebelumnya, Facebook menyatakan pihaknya kemungkinan tidak dapat meluncurkan uang kripto Libra pada 2020 mendatang. Sebab banyaknya tekanan dari anggota parlemen dan regulator Amerika terkait proyek uang kripto mereka.

Sejak perusahaan mengumumkan Libra dan Calibra (anak perusahaan Facebook untuk mengelola uang kripto Libra) bulan lalu, Facebook telah menghadapi kritik dari pejabat publik AS maupun pejabat dari negara lain.

Bahkan David Marcus, salah seorang petinggi Calibra sempat memberikan kesaksian di hadapan Komite Perbankan Senat Amerika dan Komite Jasa Keuangan dan dihujani sejumlah pertanyaan terkait Libra.

“Kami tahu bahwa perjalanan untuk meluncurkan Libra akan panjang dan kami tidak bisa melakukan ini sendirian. Terlibat dengan regulator, pembuat kebijakan, dan para ahli sangat penting untuk kesuksesan Libra,” tuturnya.

Keuangan

Kemenkeu: Utang Indonesia relatif kecil dibanding negara G-20 lainnya

Published

on

FINROLL.COM – Kementerian Keuangan menilai utang Indonesia masih relatif kecil dibanding negara anggota G-20 yang lain karena pemerintah telah mengelolanya dengan hati-hati dan akuntabel.

“Pemerintah mengelola utang dengan prinsip kehati-hatian (pruden) dan terukur,” demikian kutipan keterangan tertulis dari Kemenkeu yang diterima di Jakarta, Rabu.

Hal tersebut menanggapi rilis laporan Bank Dunia berjudul International Debt Statistics (IDS) 2021 pada 12 Oktober 2020 yang berisikan data dan analisis posisi utang negara di dunia.

Dalam salah satu bagian laporan menyebutkan perbandingan beberapa negara berpendapatan kecil dan menengah dengan Utang Luar Negeri (ULN) terbesar termasuk Indonesia.

Di sisi lain, laporan perbandingan itu tidak menyertakan negara maju melainkan negara kategori berpendapatan kecil dan menengah sehingga posisi Indonesia masuk dalam golongan 10 negara dengan ULN terbesar.

Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 88,88 persen dari total ULN.

Pada paparan perbandingan terlihat utang Indonesia di antara negara-negara lain terhitung besar karena ekonomi Indonesia masuk dalam kelompok negara G-20 pada urutan ke-16.

Menurut Kemenkeu, dengan ekonomi yang besar maka utang pemerintah yang tanpa BUMN dan swasta masih relatif rendah yakni 29,8 persen pada Desember 2019.

Kemenkeu menyebutkan jika dilihat dari daftar 10 negara maka posisi Indonesia jauh di bawah negara lain yang sebagian besar utang pemerintahnya di atas 50 persen.

Negara-negara tersebut adalah China 46,8 persen, Brazil 76,5 persen, India 68,3 persen, Rusia 13,5 persen, Mexico 46 persen, Turkey 30,4 persen, Indonesia 29,8 persen, Argentina 86 persen, Afrika Selatan 56,7 persen, dan Thailand 41,2 persen.

Merujuk pada publikasi bersama Kemenkeu dan BI, yaitu Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) maka utang LN Indonesia terdiri dari ULN pemerintah pusat, BUMN dan swasta.

Posisi ULN pemerintah pusat hingga Desember 2019 sebesar 199,88 miliar dolar AS atau hanya 49 persen dari total ULN Indonesia.

Kemenkeu menjelaskan data publikasi IDS Bank Dunia didasarkan pada data SULNI tersebut.

“Pemerintah berulang kali menjelaskan data ULN dalam SULNI dimaksud tidak hanya terdiri dari ULN pemerintah namun termasuk data ULN BI, BUMN, dan swasta,” tulis Kemenkeu.

Kemenkeu memastikan akan terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk memantau perkembangan ULN dan mengoptimalkan perannya dalam mendukung pembiayaan pembangunan.

“Tentunya dengan meminimalisasi risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian,” tulis siaran pers Kemenkeu. (Antara)

Continue Reading

Keuangan

RI Masuk 10 Negara Utang Luar Negeri Terbesar, Pinjam dari Mana?

Data Bank Dunia menunjukkan, Indonesia menempati posisi ketujuh utang luar negeri terbesar di antara 120 negara berpendapatan menengah bawah.

Published

on

FINROLL.COM – Bank Dunia mencatat total utang luar negeri dari 120 negara berpenghasilan rendah dan menengah naik 5,4% pada 2019 menjadi US$ 8,1 triliun atau sekitar Rp 112.600 triliun. Indonesia masuk dalam 10 besar negara dengan utang terbesar, mencapai US$ 402,08 miliar atau Rp 5.589 triliun mengacu kurs JISDOR akhir tahun lalu Rp 13.901 per dolar AS.

Data Statistik Utang Internasional yang dipublikasikan Bank Dunia pada Senin (12/10), menunjukkan Indonesia berada di posisi ketujuh dengan utang luar negeri terbesar. Posisi pertama ditempati Tiongkok dengan utang luar negeri sebesar US$ 2,11 triliun.

Berdasarkan catatan Bank Dunia, utang luar negeri Indonesia naik lebih dari dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Pada 2019, total utang luar negeri hanya mencapai US$ 179,4 miliar. Posisi utang Indonesia kemudian menanjak menjadi US$ 307,75 miliar pada 2015, US$ 318,94 miliar pada 2016, US$ 353,56 miliar pada 2017, US$ 379,59 miliar pada 2018, dan US$ 402,08 miliar.

Di sisi lain, rasio utang luar negeri Indonesia terhadap pendapatan nasional bruto relatif terjaga yakni dari 34% pada 2009 menjadi 37% pada 2020. Namun, rasio utang tersebut masih lebih tinggi dari rata-rata 120 negara berpendapatan menengah bawah yang mencapai 26% dari PNB.

Bank Dunia mencatat terjadi kenaikan rasio utang terhadap PNB di banyak negara berpendapatan menengah bawah. Hampir sepertiga kelompok negara tersebut bahkan memiliki rasio utang di atas 60% pada akhir 2019.

Utang luar negeri negara-negara yang memenuhi syarat untuk memperoleh penundaan pembayaran utang dari negara kreditor G20 mencapai US$ 744 miliar. Negara G20 menyumbang 91% dari utang bilateral negara-negara tersebut, dengan Tiongkok sebagai kreditor terbesar yang mengambil porsi 63%.

Berdasarkan data Bank Indonesia, utang luar negeri pada akhir Juli mencapai US$409,7 miliar atau setara Rp 6.003 triliun mengacu kurs JISDOR pada akhir periode yang sama Rp 14.603 per dolar AS. Utang tersebut naik 4,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, melambat dibandingkan bulan sebelumnya.

Utang luar negeri Indonesia paling banyak berasal dari Singapura yang mencapai US$ 67,93 miliar, disusul oleh Jepang sebesar US$29,03 miliar dan Tiongkok 20,03 miliar. Pinjaman asal Singapura turun dibandingkan akhir 2019 yang mencapai US$ 69,67 miliar. Meski demikian, trennya pada 2015 hingga 2019 terus meningkat.

Di sisi lain, utang asal Jepang naik dari posisi akhir tahun lalu US$ 28,95 miliar menjadi US$ 29,03 miliar. Tren pinjaman dari Jepang kembali meningkat setelah terus menurun sejak 2013 hingga 2018. Pinjaman dari Negeri Sakura sempat mencapaii US$ 40 miliar pada 2012.

Kenaikan juga terjadi pada utang dari Tiongkok yang naik dari US$ 19,95 miliar menjadi US$ 20,03 miliar. Pinjaman dari negara tembok raksasa telah meningkat lebih dari delapan kali lipat sejak 2010 yang hanya mencapai US$ 2,48 miliar.

Selain ketiga negara itu, Indonesia juga memiliki pinjaman dari Amerika, Australia, Austria, Hongkong, Korea Selatan, Inggris, Swiss, dan berbagai negara lainnya.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko menjelaskan, posisi ULN terdiri dari ULN sektor publik yakni pemerintah dan bank sentral sebesar US$ 201,8 miliar dan ULN sektor swasta termasuk BUMN sebesar US$ 207,9 miliar. Utang pemerintah pada akhir Juli tumbuh 2,3%, naik dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya 2,1%.

Kenaikan utang ini didorong oleh penerbitan Samurai Bonds senilai 100 miliar yen untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan, termasuk penanganan pandemi Covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional.

“ULN pemerintah saat ini dikelola secara terukur dan berhati-hati untuk mendukung belanja prioritas pemerintah,” kata Onny bulan lalu. Di sisi lain, ULN swasta pada Juli 2020 tumbuh 6,1%, melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 8,3%.

Sementara itu, rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto pada akhir Juli 2020 sebesar 38,2%, meningkat dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 37,4%. Namun, BI menilai rasio utang tersebut masih sehat. (katadata.co.id)

Continue Reading

Keuangan

Pasal Sapu Jagat UU Perbankan Hantui Nasib Bankir

Pasal 49 ayat 2 huruf B UU Perbankan yang banyak menjerat para bankir, berpotensi mengganggu upaya bank memacu penyaluran kredit. Mengkritisi kasus yang terjadi di Bank Permata

Published

on

FINROLL.COM – Setelah menanti tiga minggu, berkas salinan putusan setebal 457 halaman diterima Didit Wijayanto pada Rabu pekan lalu. Didit yang merupakan kuasa hukum dari karyawan Bank Permata menunggu salinan putusan itu untuk membuat memori banding bagi kliennya.

“Telah terjadi peradilan sesat, itu yang menjadi dasar kami mengajukan banding. Banyak hal baru yang bisa disampaikan dalam memori banding yang akan menjelaskan duduk persoalan kepada pengadilan tinggi,” kata Didit kepada Katadata.co.id, akhir pekan lalu.

Pada 3 September lalu, delapan karyawan Bank Permata mendapat vonis penjara masing-masing tiga tahun dan denda Rp 5 miliar atau diganti penjara tiga bulan. Mereka dianggap bersalah dalam kasus kredit macet PT Megah Jaya Prima Lestari (Megah Jaya) sebesar Rp 755,17 miliar.

Menurut majelis hakim yang dipimpin hakim ketua Florensani Kendenan, delapan orang ini dinilai bertanggung jawab atas kredit macet Megah Jaya. Hakim menilai mereka melanggar Pasal 49 ayat 2 huruf B Undang-undang No 8 Tahun 1998 tentang Perbankan.

Pasal tersebut mengatur anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai bank untuk memastikan ketaatan bank terhadap UU perbankan dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. Ancamannya hukuman penjara tiga hingga delapan tahun serta denda Rp 5 – 100 miliar.

Delapan karyawan yang dibui yakni Eko Wilianto, Muhammad Alfian Syah, Dennis Dominanta, Tjong Chandra, Yessy Mariana, Henry Hardijaya, Liliana Zakaria, dan Ardi Sedaka.

Pasal ini kerap dijuluki sapu jagat karena dapat digunakan aparat hukum menjerat dewan direksi hingga pegawai bank sepanjang belum ditentukan secara khusus sebagai tindak pidana.

Didit menilai aparat hukum di tingkat kepolisian dan kejaksaan perlu memahami makna Pasal 49 ayat 2B UU Perbankan. Dalam kasus yang dia tangani kepolisian dan kejaksaan salah menerapkannya.

Didit mengatakan untuk melihat ada atau tidaknya pelanggaran terhadap pasal tersebut harus didahului oleh laporan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Kalaupun ada pelanggaran, maka OJK yang harus membina dan menegur, bukan masuk ranah pidana,” kata dia.

Penggunaan pasal 49 ayat 2B juga menjerat puluhan mantan karyawan Bank Swadesi yang kini telah berganti nama menjadi Bank of India Indonesia. Perjalanan kasus ini berlarut-larut, dimulai pada 2008 di Bali, sempat dinyatakan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) pada 2014, dan kembali dibuka pada Mei 2020.

Sebanyak 21 mantan karyawan Bank Swadesi ke meja hijau, mulai dari karyawan level terendah yakni bagian administrasi, hingga direktur utama. Semuanya mendapat ancaman hukuman yang sama dalam pasal 49 ayat 2B UU Perbankan, yakni sekurang-kurangnya 3 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar.

Kasus ini bermula dari Bank Swadesi memberikan fasilitas kredit Rp 10,5 miliar kepada Rita Kishore Kumar Pridhnani pada Maret 2008. Rita mendapat kredit dengan agunan berupa tanah seluas 1.520 meter persegi di daerah Seminyak, Bali.

Debitur hanya sekali membayar cicilannya Rp 230 juta. Setelah memberikan peringatan kemudian bank melelang agunan dengan nilia Rp 6,3 miliar. Namun, Rita keberatan karena menilai harga lelang jauh di bawah harga pasar. Kemudian dia menggugat direktur utama Bank Swadesi ketika itu, Ningsih Suciati dengan tudingan melakukan tindak pidana perbankan atas pelelangan agunan miliknya.

Rita kalah di pengadilan dan kasusnya dihentikan kepolisian dengan menerbitkan surat penghentian penyidikan dan penuntutan (SP3). Rita tak berhenti, dia kemudian mengajukan praperadilan untuk menggugat penetapan SP3 tersebut dan dikabulkan. Namun, ketika perkara kembali dibuka, penyidikan di kepolisian malah fokus pada masalah yang sama sekali berbeda.

“Pra-peradilannya itu hanya berada pada proses dan nilai lelang. Tapi ketika disidik kembali, kasusnya menjadi pemberian kredit yang bersifat administratif, tapi dikenakan pasal 49 ayat 2B,” kata kuasa hukum laryawan Bank Swadesi, Francisca.

Kriminalisasi Bankir Ancam Penyaluran Kredit Perbankan

Di persidangan kasus delapan karyawan Bank Permata, OJK memberikan kesaksian yang terang mengenai tak adanya pelanggaran oleh Permata dalam pencairan kredit kepada Megah Jaya. Temuan pelanggaran merupakan syarat penggunaan Pasal 49 ayat 2B.

“Penerapan pasal pelanggaran pada prinsip kehati-hatian haruslah terlebih dahulu ada surat pembinaan, serta audit investigasi, dan yang menentukan adalah OJK, bukan orang umum,” kata Deputi Direktur Pengawasan Perbankan OJK Adief Razali yang memberikan kesaksian pada 30 Juni 2020, dikutip dari salinan putusan.

Oleh karena itu, pihak ketiga atau di luar OJK tidak bisa membuat laporan atas dugaan pelanggaran pasal 49 ayat 2B UU Perbankan. “Berdasarkan apa atau tahu dari mana ada pejabat Bank Permata yang melakukan pelanggaran pasal tersebut?” kata dia.

dief menjelaskan dalam kasus pemberian kredit Megah Jaya, potensi pelanggarannya ditemukan indikasi double financing pembiayaan proyek yang serupa yang diajukan Megah Jaya pada Bank Mandiri dan BCA.

Namun, tidak menjadi permasalahan hukum karena persoalan masuk kategori perkara administratif. Perwakilan Bank Permata, Direktur Wholesale Banking Darwin Wibowo menyatakan kredit macet Megah Jaya telah ditangani secara bertahap. Pada Agustus 2017 kredit Megah Jaya sudah jatuh tempo dan masuk kategori kolektabilitas 2 dan nasabah meminta penundaan pembayaran.

Mendekati akhir tahun, Permata memasukkan kredit Megah Jaya ke kategori kolektabilitas 5 atau macet. Darwin yang ketika itu kepala divisi yang menangani kredit macet, Bank Permata telah memutuskan untuk menghapus buku kredit macet Megah Jaya. “Hapus buku sesuatu yang dapat dilakukan oleh bank,” kata dia. (Katadata.co.id)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending