Connect with us

Ekonomi Global

Akibat Perang Dagang, Ekonomi AS Tumbuh 3,5% di Kuartal III 2018

Published

on


Akibat Perang Dagang, Ekonomi AS Tumbuh 3,5% di Kuartal III 2018

Finroll.com – Pertumbuhan ekonomi AS tumbuh 3,5 persen secara tahunan pada kuartal III 2018, melambat dibanding kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,2 persen. Perlambatan antara lain akibat perang dagang AS dan China yang memuncak.

Meski melambat, angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis Departemen Perdagangan AS tepat 11 hari sebelum pemilu paruh waktu di negara tersebut melampaui ekspektasi analis. Angka baru ini juga menunjukkan kepercayaan diri ekonomi terbesar di dunia usai pemangkasan pajak dan sejumlah stimulus fiskal yang diberlakukan setahun terakhir.

Namun, para ekonom menyebut angka-angka yang mendasari pertumbuhan ekonomi AS ini menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump percaya bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat ini dapat membayar kenaikan belanja pemerintah dan pemotongan pajak yang bakal berlaku pada Desember. Kedua kebijakan tersebut diperkirakan mendorong defisit anggaran AS ke posisi tertinggi dalam enam tahun fiskal terakhir.

Menteri Perdagangan Wilbur Ross mengatakan pertumbuhan ekonomi tak bisa diwujudkan dengan kebijakan yang konvensional dan memuji kebijakan Trump.

“Tindakan presiden untuk melakukan deregulasi untuk reformasi pajak telah memberikan dampak pada ekonomi AS,” terang dia, dikutip dari AFP, Kamis (26/10).

Namun, para ekonom menyebut pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan melambat pada kuartal-kuartal mendatang karena dampak dari kebijakan pemotongan pajak mulai memudar, sementara inflasi dan suku bunga meningkat.

Perang Dagang

Saat ini, konsumen dan perusahaan masih menikmati dorongan uang dari pemotongan pajak. Pada kuartal III, konsumsi rumah tangga naik empat persen, tercepat sejak akhir 2014.

Namun, angka-angka terbaru juga menunjukkan tanda-tanda distorsi berkelanjutan dari perang dagang Trump dengan China dan lainnya. Para ekonom mengatakan ini menimbulkan risiko pertumbuhan dan menyebabkan Dana Moneter Internasional untuk memangkas proyeksi PDB globalnya menjadi 2019.

“Judulnya mengatakan pertumbuhan yang kuat tetapi ada peringatan dalam rinciannya,” kata ekonom Joel Naroff dalam catatan penelitian.

Baca Juga: Presiden Jokowi Gratiskan Jembatan Suramadu Per Hari Ini

Ekspor Kedelai pada kuartal III tercatat turun tajam, berbalik dari kondisi kuartal II ketika importir Cina berlomba untuk membangun stok menjelang tarif pembalasan Juli oleh Beijing.

Sementara itu, impor Amerika meningkat tajam, sebagian besar didorong oleh pembelian mobil dan barang-barang konsumsi.

Total ekspor turun 3,5 persen terlemah sejak akhir 2016, sementara impor naik 9,1 persen, tercepat sejak akhir tahun lalu.

Di samping itu, porsi investasi langsung juga turun 7,9 persen, penurunan terbesar dalam hampir tiga tahun.

Pasar perumahan yang kesulitan juga menjadi hambatan, turun empat persen dari kuartal sebelumnya, mencatatkan penurunan tertajam dalam setahun terakhir.(CNN)

Advertisement Valbury

Ekonomi Global

Akibat Konflik AS-China Soal Hong Kong Minyak Dunia Anjlok

Published

on

Finroll – Jakarta, Minyak berjangka jatuh pada akhir perdagangan Rabu (27/5) waktu AS atau Kamis pagi waktu Indonesia. Kejatuhan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan sedang memikirkan respons kuat terhadap undang-undang keamanan yang diusulkan China di Hong Kong.

Kejatuhan juga dipicu keraguan pasar atas komitmen Rusia memangkas produksi minyak. Dikutip dari Antara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun US$1,54 atau 4,5 persen jadi US$32,81 per barel.

Sementara itu minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun US$1,43 atau 4,6 persen ke level US$34,74 dolar AS per barel.

Kelompok yang dikenal sebagai OPEC+ ini memangkas produksi hampir 10 juta barel per hari (bph) pada Mei dan Juni. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman setuju melanjutkan koordinasi lebih erat dan lanjut dalam membatasi produksi minyak.

Namun banyak yang merasa Rusia mengirimkan sinyal beragam menjelang pertemuan antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya dalam waktu kurang dari dua minggu mendatang.

“Kedengarannya hebat di atas kertas, tetapi pasar menahan kegembiraan sampai kami mendapatkan rincian lebih lanjut tentang apakah akan ada pemotongan, berapa banyak barel akan dipotong dan lamanya pemotongan,” kata Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn.

Sementara itu ketegangan antara Amerika Serikat dan China terus meningkat. Peningkatan terjadi setelah China mengumumkan rencana untuk memberlakukan undang-undang keamanan nasional baru di Hong Kong.

Pengumuman itu memicu protes di jalan-jalan. Tak hanya itu, dari AS, Menteri Luar Negeri Negeri Paman Sam Mike Pompeo mengatakan Hong Kong tidak lagi memerlukan perlakuan khusus berdasarkan hukum AS.

Pernyataan itu memberikan pukulan terhadap Hong Kong terkait status mereka sebagai pusat keuangan utama. Selain dua faktor tersebut, penurunan harga minyak juga terjadi akibat dampak ekonomi pandemi virus corona.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Corona, China Akan Terbitkan Surat Utang 3,75 Triliun Yuan

Published

on

Pemerintah China akan menerbitkan surat utang (obligasi) senilai 3,75 triliun yuan atau US$526 miliar demi mendongkrak belanja atau pengeluaran sebagai pemulihan dampak virus corona.

Perdana Menteri China Li Keqiang menuturkan dana segar dari surat utang khusus itu akan digunakan untuk mengongkosi pengeluaran infrastruktur dalam pembangunan ekonomi setelah dilanda pandemi covid-19.

“China akan menerbitkan 3,75 triliun yuan dalam bentuk obligasi pemerintah khusus tahun ini,” ujarnya mengutip AFP, Jumat (22/5).

Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu sebesar 1,6 triliun yuan.

Menurut Li, dana yang dihimpun akan digunakan sebagai modal proyek, dengan prioritas, belanja barang untuk infrastruktur baru.

Sebelumnya diberitakan, fokus Pemerintah China dalam rangka pemulihan ekonomi usai covid-19 adalah pengeluaran fiskal. Selain itu, untuk meningkatkan lapangan pekerjaan. Ditargetkan, 9 juta lapangan kerja tercipta melalui program pemulihan.

China sendiri berencana mengerek defisit fiskalnya menjadi 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini. Defisit itu lebih lebar ketimbang tahun lalu yang sebesar 2,8 persen. (CNN/ADAM)

Continue Reading

Ekonomi Global

Makin Panas! Trump Bakal Beri Sanksi ke China

Published

on

Hubungan Amerika Serikat dan China sepertinya bakal makin panas ke depan.

Para senator AS, dari partai Republik, mengusulkan undang-undang yang akan memberi wewenang kepada

Sanksi akan diberikan jika negeri Panda gagal memberikan laporan lengkap soal asal mula mewabahnya corona jenis baru (COVID-19).

Sanksi bisa berupa pembekuan aset, larangan perjalanan, pencabutan visa, pembatasan pinjaman untuk bisnis asal China oleh lembaga AS dan larangan listing di bursa.

Senator bernama Lindsey Graham itu mengatakan dirinya amat yakin ada manipulasi yang dilakukan Partai Komunis China yang menyebabkan virus masuk ke AS dan menewaskan 80 ribu orang.

“Saya yakin China tidak akan pernah bekerja sama secara serius dengan penyelidikan, kecuali dipaksa melakukannya,” tegasnya dikutip dari Reuters, Rabu (13/5/2020).

Apalagi, klaimnya, China selalu menolak peneliti asing masuk dn mempelajari wabah tersebut. Graham mengatan UU tersebut akan disebut sebagai “UU Pertanggungjawaban COVID-19”.

Jika disahkan, aturan ini akan meminta presiden untuk membuat ‘sertifikasi’ selama 60 hari, yang ditujukan kepada parlemen AS.

Sertifikasi itu berisi jawaban soal apakah benar China telah memberikan data yang lengkap terkait COVID-19 dalam penyelidikan yang dilakukan AS dan negara sekutu atau organisasi PBB yang terkait misalnya WHO.

Rancangan UU (RUU) ini juga akan menekan China untuk menutup semua pasar tradisional basah yang bisa membuat manusia terpapar penyakit.

China juga diminta membebaskan semua pendukung pro-demokrasi Hong Kong yang ditahan. Ini dilakukan sebagai upaya menekan laju penyebaran pandemi.

Sebagaimana diketahui, COVID-19 disebut berasal dari pasar ikan dan hewan langka di Wuhan, Provinsi Hubei, China bagian timur.

Saat ini berdasarkan data Worldometers, COVID-19 sudah menginfeksi 212 negara dan teritori. Jumlah pasien positif secara akumulatif mencapai 4 juta orang lebih.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending