Connect with us

Raket & Golf

Andreescu Juara US Open Kalahkan Williams, Raih Hadiah Rp53 M

Published

on


Finroll.com – Petenis Bianca Andreescu berhasil mengalahkan Serena Williams saat final di turnamen Grand Slam US Open 2019. Dia berhasil mengalahkan Williams 6-3, 7-5 di Stadion Arthur Ashe, Flushing Meadows, New York, Amerika Serikat, Sabtu, 7 September 2019.

Pemain Kanada tersebut meraih hadiah cek uang sebesar US$3,8 juta atau sekitar Rp53,5 miliar. Hal tersebut seakan mewujudkan momen konyol yang pernah dilakukannya tiga tahun lalu.

Dikutip dari BBC, saat berusia 16 tahun, Andreescu pernah menuliskan cek palsu hadiah juara US Open untuk dirinya sendiri. Dan tiga tahun kemudian, hal itu benar-benar terjadi.

“Saya telah memimpikan momen ini untuk waktu yang sangat lama. Saat ini menjadi nyata itu gila,” katanya.

Soal hadiah uang yang diperolehnya, Andreescu tak tahu akan digunakan untuk apa. Pasalnya, dia belum pernah memiliki uang sebanyak itu sepanjang hidupnya.

“Jangan tanya itu karena aku tidak tahu. Aku tidak pernah memegang uang sebanyak itu dalam hidupku,” kata dia.

Dia mengaku bahwa tahun ini menjadi tahun yang luar biasa baginya. Dia mengatakan tujuan dalam kariernya adalah memenangkan Grand Slam sebanyak mungkin dan menjadi petenis putri nomor satu dunia, namun dia tak pernah berpikir untuk menjadi tenar.

Andreescu menjadi salah satu pemain muda yang paling banyak dibicarakan menyusul prestasinya yang luar biasa tahun ini. Padahal 12 bulan lalu dia masih berjuang dengan cidera setelah kalah di babak pertama kualifikasi di Flushing Meadows dan peringkatnya keluar dari 200 besar dunia.

Kendati demikian, kerja keras berhasil membuatnya memenangkan sejumlah turnamen tahun ini dan membuat peringkatnya terus naik. Sepanjang tahun 2019, dia sudah mengalahkan enam dari 10 pemain terbaik dunia tahun ini, yakni Caroline Wozniacki, Elina Svitolina, Angelique Kerber (dua kali), Kiki Bertens dan Karolina Pliskova dan Serena Williams.

Andreescu adalah remaja putri pertama yang meraih gelar juara Grand Slam sejak Maria Sharapova memenangkan US Open 2019 pada usia 19 tahun. Dia juga berhasil meyamai rekor Monica Sales yang mampu mendapat gelar juara Grand Slam pertamanya di partisipasi keempat.

Advertisement

Raket & Golf

Piala Sudirman Tak Kunjung Pulang, Rudy Hartono: Indonesia Punya Segudang PR

Published

on

Finroll.com – Legenda hidup bulutangkis Rudy Hartono menyebut Indonesia mempunyai segudang pekerjaan rumah menyusul kegagalan di Piala Sudirman 2019. Tugas berat pemain.

Indonesia lolos ke semifinal Piala Sudirman dengan perjuangan susah payah. Hendra Setiawan cs terpaksa bermain lima partai melawan Taiwan untuk bisa memastikan kemenangan tempat di babak empat besar.

Langkah tertatih-tatih ditunjukkan Skuat Merah Putih sejak babak penyisihan grup. Di fase itu, Indonesia menang mudah atas Inggris, namun kemudian dikalahkan Denmark dengan skor 2-3. Hingga kemudian, Hendra Cs tetap lolos ke perempatfinal sebagai juara grup karena unggul selisih kemenangan atas Denmark yang menjadi runner-up.

Tapi, ketika berhadapan dengan Jepang di semifinal, Indonesia tak berkutik. Dari head-to head kedua tim, Jepang, yang tampil sebagai unggulan pertama, memang dijagokan untuk menang.

Pada laga yang berlangsung Sabtu (25/5), Indonesia hanya mampu merebut satu poin dari nomor ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Sementara itu, tunggal putra Anthony Ginting, tunggal putri Gregoria Mariska, serta ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu takluk di tangan para pemain Jepang. Indonesia kalah 1-3 dan gagal melaju ke final.

Rudy mengatakan sejak awal dirinya tak yakin dengan komposisi Indonesia melawan Jepang. Apalagi, di sektor tunggal Indonesia masih banyak tertinggal.

“Untuk mengatrol itu ya tunggal putranya harus dilihat. Tunggal putra kita masih lebih menjanjikan dari tunggal putri. (Walau mengambil pelatih dari luar) enggak bakal bisa. Semua itu bukan (semata-mata) hanya pelatih,” kata Rudy kepada, Minggu (26/5/2019).

“Orang Jepang beda. Gampang mengatrolnya. Hari ini programnya 10, satu bulan berikutnya 12, dua bulan berikutnya 14, naik terus. Indonesia naik sebentar, turunnya lebih jauh,” dia menjelaskan.

“Orang juara itu mainnya luar biasa, tak perlu disuruh pelatih. Saya mau tanya, dulu saya juara All England tiga kali tak ada pelatih yang mendampingi. Saya berangkat sendiri, berlatih sendiri kok bisa,” ujar pria berusia 69 tahun ini.

“Terus, pernyataannya sekarang, oh dulu lawannya tak kuat? Iya tak kuat. Tapi, sekarang dikasih apa-apa sama pelatih, masih tak bisa juara? Bukan masalah dulu lawannya enggak kuat, dulu enggak ada duit. Sekarang duit seabrek-abrek masih saja enggak bisa? Itu mikirnya ke mana.” kata Rudy tegas.

Untuk itu, juara delapan kali All England ini menekankan perlunya kesadaran si atlet. Sementara, peran pelatih memberi dukungan dan mengingatkan hal-hal yang kurang.

“Jadi, harus ada kesadaran pada si atletnya. Nah, boleh pelatih membawa peran tapi perannya memberi semangat, menyadarkan ini kamu mainnya terlalu pelan, tadi main harus ada variasi, jangan kasih kesempatan lawan untuk lebih dulu menyerang kamu,” ujar dia.

Sebagai contoh tunggal putra Jonatan Christie. Dia kalah menghadapi Chou Tien Chen (tunggal Taiwan) karena lebih dulu diserang. Padahal secara usia, peraih medali emas Asian Games 2018 itu mempunyai tenaga lebih besar.

“Buat apa ngikuti-ngikutin, diserang dulu sama lawan mati, out. Beda, kalau Jonatan lebih fit dan lebih berani menyerang karena apa? Dia mempunyai cadangan tenaga. Ya kalau begitu kekuatannya ditambah, daya tahan dan kecepatanya ditambah, diukur sampai kapan? Dua tahun lagi oke. Baru ada cadangan tunggal putra ikut juga berperan,” legenda asal Surabaya itu menyarankan.

“Lalu ganda putri sekarang kita tanya, loh ganda putri di mana? Materinya ada enggak? Mana yang muda sampai sekarang belum keluar? Ganda putri kita kecil-kecil begitu, caranya gimana nguatin? Ya, bikin defense-nya kayak tembok. Tembok enggak nyemash diem saja,” ujar dia.

“Namanya bertahan tunggu lawannya capek baru diserang, itu namanya defence balik serang. Bisa enggak pemain putri kita begitu? Ya enggak tahu pelatih ganda putrinya bisa enggak menebak kira-kira lawan ini akan nyemash ke sini, balik ke sini, siapa yang ambil kalau lawan nyemas di tengah,” dia menuturkan.

“Jadi, memang segudang PR-nya. Tetapi, itu akan jadi tidak segudang kalau pemainnya sendiri yang sadar. Ini kan semua tergantung pemain. Bagaimana mau berhasil di pertandingan kalau di latihan dia tak mau benar-benar serius. Ada pepatah Inggris practice make you perfect. Jadi itu lah yang harus dilakukan. Kalau latihan serius pasti bertanding serius, enggak usah dikasih tahu. Yang enggak latihan saja, bertanding bisa serius kok. Apalagi yang latihan serius,” dia menegaskan.

“Makanya, harusnya ada reward and punishment. Kalau salah, dihukum demi menyadarkan. Kalau latihan tidak 100 persen ngapain dikirim, kalau sasaran latihan belum masuk ngapain dikirim. Itu ya bidang pembinaan tanyakan. Kita mengirim karena harus memenuhi ini itu, ya sudah kalau memenuhi ini itu, kapan majunya. karena apa ? hanya ngikutin,” ujar Rudy.

“Ya memang berat. Tapi kepentingan nasional kayak Sudirman, Thomas, Uber tak bisa terpenuhi. Berpikir lah. Kan di sana di gaji, pikirkan. Jangan terima gaji saja,” kata dia.

sumber: detik

Continue Reading

Raket & Golf

Tim Bulu Tangkis Indonesia Raih Dua Gelar Juara di Finlandia

Published

on

Tim Bulu Tangkis Indonesia Raih Dua Gelar Juara di Finlandia

Finroll.com – Tim bulutangkis Indonesia menutup turnamen Finnish International Challenge 2019 dengan raihan dua gelar juara. Dua gelar tersebut datang dari Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana di ganda putra dan Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati di ganda campuran.

Bertanding di laga final hari Minggu kemarin (7/4), Bagas/Fikri menuntaskan laga final dengan mengalahkan wakil Jerman, Jones Ralfy Jansen/Peter Kaesbauer dengan skor kembar 21-17 dan 21-17.

Aksi lebih heroik dilakukan Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati, yang secara mengejutkan berhasil menumbangkan juara Swiss Open 2019 Super 300, Mathias Bay-Smidt/Rikke Søby asal Denmark lewat pertarungan rubber game. Rehan/Lisa menang 22-20, 15-21, 21-14.

“Kami menerapakan pola permainan setengah ke depan, harus cepat menurunkan bola. Ini untuk meredam permainan mereka yang mengandalkan placing,” kata Rehan usai pertandingan.

“Selain itu, kami tadi coba main lepas aja. Yakin sama kemampuan kami dan fokus satu demi satu poin”, lanjutnya.

Bagi Rehan/Lisa, gelar ini amat penting untuk membangun kepercayaan diri mereka yang baru dipasangkan. Rehan/Lisa memang hadir sebagai pasangan baru. Finnish International Challenge 2019 adalah turnamen ketiga mereka bersama usai Orleans Masters 2019 Super 100 dan Polish International Challenge 2019.

Sebagai informasi, Rehan sebelumnya dipasangkan bersama Siti Fadia Silva Ramadhanti sedangkan Lisa berpasangan dengan Ghifari Anandafa Prihardika.

“Gelar ini sangat penting bagi saya dan Lisa sebagai pasangan baru. Ini menjadi bukti kalau kami yakin pasti bisa. Ke depan kami bakal lebih membangun kemistri dan kekompakan, semoga terus menjadi lebih baik”, papar putra dari legenda ganda campuran, Tri Kusharjanto itu.

Indonesia sebenarnya berpotensi meraih tiga gelar di turnamen ini, tetapi sayangnya Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto harus puas hanya di posisi runner up. Febriana/Ribka dikalahkan wakil Jepang Erina Honda/Nozomi Shimizu dengan skor 15-21 dan 14-21.(pbsi)

Continue Reading

Raket & Golf

Ganda Putra Indonesia Fajar/Rian Juara Swiss Open 2019

Published

on

Ganda Putra Indonesia Fajar/Rian Juara Swiss Open 2019

Finroll.com – Pasangan ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto merebut gelar juara di ajang Swiss Open 2019 usai menaklukkan Lee Yang/Wang Chi-Lin (Taiwan), dengan skor 21-19, 21-16. Ini merupakan gelar pertama bagi Fajar/Rian di tahun 2019.

Pada game pertama, kedua pasangan terus berkejaran angka, perolehan poin tak pernah terpaut jauh. Fajar/Rian yang tampil lebih stabil di poin kritis, akhirnya mampu memenangkan pertandingan.

“Alhamdulillah hari ini kami bisa bermain dengan baik, di permainan tadi, kami banyak adu drive. Kami unggul di permainan depan dan lawan banyak mengangkat bola, kami lebih sabar,” kata Rian setelah pertandingan.

“Gelar ini pasti menambah percaya diri kami, setelah kalah di semifinal All England minggu lalu dan kalahnya mepet. Mudah-mudahan kedepannya kami bisa lebih baik lagi,” tambah Rian.

“Dari pertama main udah kami sudab yakin, dengan diri kami maupun dari tipe main lawan. Pasangan Taiwan ini bagus, pukulannya kencang. Dari awal masuk lapangan sudah timbul keyakinan. Tapi kami masih banyak melakukan kesalahan, kami sudah benar mainnya, tapi saat lagi ramai, kami mati sendiri,” beber Fajar.

Di turnamen ini, Indonesia menempatkan dua wakil di final. Selain Fajar/Rian, pasangan ganda campuran Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari juga melaju ke final namun mereka dikalahkan oleh Mathias Bay Smidt/Rikke Soby (Denmark), dengan skor 18-21, 21-12, 16-21.

Selanjutnya, Fajar/Rian akan segera menuju ke Hong Kong untuk mengikuti turnamen beregu Tong Yun Kai Cup 2019.

source: pbsi

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending