Connect with us

Sepakbola

Loyal Bersama Arsenal, Arsene Wenger Pernah Tolak Real Madrid

Published

on


Finroll.com, Jakarta — Mantan manajer Arsenal, Arsene Wenger, mengaku pernah beberapa kali menolak tawaran dari Real Madrid. Wenger lebih memilih setia bersama The Gunners ketimbang menangani El Real.

Pria 69 tahun tersebut merupakan satu di antara pelatih berpengalaman dengan segudang prestasi. Selama 22 tahun duduk di kursi manajer The Gunners, Arsene Wenger meraih 17 trofi juara, beberapa di antaranya adalah tiga gelar Premier League.

BACA JUGA : 

Berkat torehan impresifnya tersebut, pelatih asal Prancis itu sempat didekati oleh Real Madrid. Akan tetapi, Arsene Wenger menolak mentah-mentah tawaran menangani Madrid.

“Tidak ada penyesalan (menolak Real Madrid). Yang mungkin menjadi penyesalan adalah saya mengorbankan sedikit potensi juara melawan potensi kesetiaan, atau keinginan untuk membangun klub dan pengaruh yang saya miliki kepada klub ketika kami membangun stadion,” ujar Wenger.

“Itu melawan fakta bahwa saya bisa memenangkan lebih banyak gelar dengan pergi ke tempat lain, dan finansial yang sedikit dibatasi,” lanjutnya.

“Pada akhirnya, saya senang pada apa yang sudah saya lakukan, dan menyelesaikan apa yang saya lakukan,” papar Arsene Wenger.

Masih Menganggur

Pelatih Arsenal, Arsene Wenger, melakukan selebrasi usai memastikan juara Piala FA dengan mengalahkan Chelsea di Stadion Wembley, Sabtu (27/5/2017). Arsenal menang 2-1. (AP/Matt Dunham)

Setelah memutuskan pergi dari Arsenal pada musim panas tahun lalu, Arsene Wenger hingga saat ini masih berstatus tanpa klub. Sejumlah klub Eropa tertarik mendapatkan tanda tangannya, beberapa di antaranya adalah Manchester United, Olympique Lyon.

Akan tetapi, Wenger masih belum memutuskan kemana akan berlabuh. Namun yang pasti, dia ingin menangani sebuah timnas yang berlaga di Piala Dunia 2022.(bola.com)

Sepakbola

Maurizio Sarri: Juventus Impikan Liga Champions, tapi Wajib Pertahankan Scudetto

Published

on

By

Pelatih Juventus, Maurizio Sarri. (AFP/Jonathan Nackstrand)

Finroll.com, Jakarta – Pelatih Juventus, Maurizio Sarri, merasa timnya menunjukkan perkembangan setelah kemenangan 2-1 atas SPAL, Sabtu (22/2/2020), dalam pertandingan lanjutan Liga Italia Serie A 2019-2020.

Namun, ekspektasi terhadap I Bianconeri ternyata lebih tinggi dari pencapaian mereka sejauh ini. Sarri ditanya berapa lama lagi untuk melihat Juventus seperti yang diharapkan para penggemar dan media.

“Itu tergantung apa yang orang harapkan. Tim ini berkembang, saya pikir dan berharap kami memiliki margin besar untuk peningkatan, terutama dalam konsistensi kinerja dan intensitas kami selama 90 menit,” kata Sarri, seperti dilansir Tribal Football.

“Datang ke sini (SPAL) tiga hari sebelum laga Liga Champions dan bermain dengan konsentrasi seperti itu, menjadi hal yang tidak bisa diterima begitu saja, jadi ini adalah langkah maju,” tutur eks pelatih Napoli ini.

Liga Champions diketahui sebagai target utama untuk Juventus musim ini. Namun, Sarri menekankan bahwa I Bianconeri juga harus menargetkan untuk mempertahankan gelar scudetto yang mereka rebut musim lalu.

“Tujuan kami harus tetap meraih Scudetto dan Liga Champions adalah impian. Dalam hidup kadang-kadang ada baiknya mengejar impian Anda dan kehilangan tujuan Anda,” beber Sarri.

Sistem Gugur Liga Champions Penuh Risiko

Para pemain Juventus merayakan kemenangan. (AFP/Isabella Bonotto).

Lebih lanjut Sarri menyebut Liga Champions sudah masuk sistem gugur yang artinya ada sangat sedikit pertandingan dan masing-masing bisa menentukan.

“Ini adalah kompetisi yang berada dalam jangkauan 10-12 tim, jadi siapa pun yang menang pada akhirnya bukan hanya yang terbaik, tetapi juga yang paling beruntung,” jelas pelatih berusia 61 tahun itu.

Sarri juga mengambil contoh bagaimana Chelsea musim lalu berhasil dia antarkan menjadi juara Liga Europa. Menurut Sarri, itu perjalanan yang berisiko, karena dengan sistem gugur siapapun bisa terhenti, tak peduli tim itu lebih diunggulkan.

“Musim lalu Chelsea bermain di Liga Europa dengan 13 kemenangan dan dua kali imbang, namun kami berisiko keluar pada satu babak dan harus lolos kualifikasi melalui adu penalti. Jadi kami berisiko tidak memenangkannya, meskipun kemudian tidak terkalahkan dan memenangkan 13 pertandingan,” terangnya.(bola.com)

Disadur dari: Liputan6.com (Windi Wicaksono/Achmad Yani Yustiawan, Published 24/2/2020)

Continue Reading

Sepakbola

Real Madrid Mulai Goyah, Ada Apa Los Blancos?

Published

on

By

Bek Real Madrid, Marcelo, melepaskan tendangan ke gawang Levante pada laga La Liga di Stadion Ciutat de Valencia, Sabtu (22/2/2020). Levante menang 1-0 atas Real Madrid. (AP/Alberto Saiz)

Finroll.com, Jakarta – Langkah Real Madrid mulai goyah, musim mereka terancam berubah jadi bencana. Zinedine Zidane harus segera memperbaiki performa tim menjelang laga-laga penting sepekan ke depan, yang bisa menentukan nasib mereka di sisa musim ini.

Teranyar, Minggu (23/2/2020), Los Blancos menelan kekalahan pahit 0-1 dari Levante pada laga lanjutan La Liga. Hasil ini buruk, ditambah dengan hasil imbang 2-2 dengan Celta Vigo sepekan sebelumnya.

Hanya dalam dua pertandingan ini, Madrid kehilangan 5 poin dan kehilangan puncak klasemen sementara. Lalu, pekan ini mereka harus menjamu Manchester City (27/2/2020) di Liga Champions, dan Barcelona di La Liga (2/3/2020).

Los Blancos pernah merangkai laju tak terkalahkan sampai 20 pertandingan, tapi kekuatan mereka tidak terletak pada jumlah gol. Musim ini, Madrid tidak bisa mencetak gol sebanyak yang diperlukan.

Zidane memahami masalah utama ini. Karim Benzema tidak lagi setajam dahulu, karena itulah dia selalu dibantu pemain-pemain kreatif seperti Marcelo, Toni Kroos, Luka Modric, Eden Hazard, dan Isco.

Taktik ini jadi andalan Zidane, Benzema butuh dukungan. Zidane sebenarnya tidak bisa berbuat banyak, sebab pemain-pemain seperti itulah yang dimiliki Madrid musim ini.

Mereka tidak punya Lionel Messi, tidak punya Robert Lewandowski, apalagi Erling Haaland.

Tanpa Insting Pembunuh

Penyerang Real Madrid, Karim Benzema dan sang pelatih, Zinedine Zidane. (AFP/GABRIEL BOUYS)

Real Madrid punya banyak bintang, banyak pemain top yang bisa menyuguhkan permainan indah. Namun, pada akhirnya Madrid kekurangan insting pembunuh yang dibutuhkan untuk menuntaskan peluang.

Artinya, dari sudut pandang tertentu, dapat dikatakan bahwa Madrid tidak bermain baik sebab sepak bola selalu soal mencetak gol lebih banyak. Pada akhirnya, meski permainan mereka apik, tanpa gol berarti tidak bisa menang.

Madrid masih belum bisa menemukan pengganti Cristiano Ronaldo, yang bisa mencetak gol secara reguler dari laga ke laga. Gareth Bale mengecewakan, Hazard cedera panjang, Benzema mulai menurun.

Masalah Madrid yang tidak bisa menjebol gawang lawan ini menuntun pada satu pertanyaan besar: Bisakah mereka bersaing di La Liga dan Liga Champions musim ini?

Kekalahan dari Levante kemarin menyakitkan, tapi tidak memberikan jawaban pasti. Mardrid sedang memasuki pekan penting yang mungkin bisa menjawab pertanyaan di atas.

Hasil pertandingan kontra Man City dan Barcelona bisa menentukan musim El Real.(bola.com)

Sumber asli: Marca

Disadur dari: Bola.net (Richard Andreas, Published 24/2/2020)

Continue Reading

Sepakbola

Jumpa Napoli, Barcelona dalam Kondisi Pincang

Published

on

By

Pemain Barcelona, Lionel Messi dan Frenkie de Jong, terlihat lemas saat Valencia berhasil mencetak gol ke gawang Barcelona. Valencia menang 2-0 atas Barcelona di Mestalla, dalam laga jornada 21 La Liga, Sabtu (25/1/2020). (Jose Jordan/AFP)

Finroll.com, Jakarta – Barcelona akan bersua Napoli pada laga leg pertama 16 besar Liga Champions, di Stadio San Paolo, Selasa (25/2/2020). Melakoni duel tersebut, Barca dalam kondisi pincang.

Los Cules tidak akan diperkuat dua pilar penting di lini depan, Luis Suarez dan Ousmane Dembele. Suarez diperkirakan absen hingga Mei 2020 akibat dihantam cedera lutut.

Di sisi lain, Dembele tidak dapat membela Blaugrana hingga akhir musim ini. Winger Timnas Prancis itu harus menepi sampai Agustus mendatang, karena tengah dibekap cedera otot paha.

Situasi tersebut membuat Barcelona mengalami krisis di lini serang. Pasalnya, El Barca hanya memiliki Lionel Messi, Ansu Fati, dan Antoine Griezmann untuk menghuni pos di sektor serang.

Meski begitu, Blaugrana mendapatkan restu dari Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) untuk membeli pemain di luar bursa transfer. Barcelona memutuskan untuk menggaet Martin Braithwaite dari Leganes pada 20 Februari 2020.

Sayangnya, Braithwaite tetap tidak bisa tampil di Liga Champions. Sebab, pemain berusia 28 tahun tersebut tak terdaftar dalam skuat El Barca di turnamen elite antarklub Eropa tersebut.

Selain lini serang, Barcelona juga mengalami masalah di sektor pertahanan. Pelatih Los Cules, Quique Setien, tidak dapat memainkan dua fullback, Jordi Alba dan Sergi Robert.

Alba dihantam cedera hamstring dan harus absen hingga Maret 2020. Di sisi lain, Roberto mengalami cedera adduktor serta bakal menepi tiga sampai empat pekan ke depan.

Untuk mengisi kekosongan tersebut, Quique Setien memasukkan nama pemain dari La Masia, yakni Sergio Akieme (bek kiri), Ronald Araujo (bek tengah), dan Alex Collado (gelandang).

Berikut ini adalah daftar 20 pemain Barcelona yang akan tampil pada pertandingan kontra Napoli.

Daftar Pemain:

Para pemain Barcelona merayakan gol yang dicetak Lionel Messi ke gawang Granada pada laga La Liga di Stadion Camp Nou, Barcelona, Minggu (19/1). Barcelona menang 1-0 atas Granada. (AFP/Lluis Gene)

Kiper: Marc-Andre ter Stegen, Inaki Pena, Neto

Bek: Nelson Semedo, Gerard Pique, Ronald Araujo, Sergio Akieme, Clement Lenglet, Samuel Umtiti, Junior Firpo

Gelandang: Ivan Rakitic, Sergio Busquets, Arthur, Frenkie De Jong, Arturo Vidal, Riqui Puig, Alex Collado

Penyerang: Lioel Messi, Antoine Griezmann, Ansu Fati

Sumber: Barcelona

(bola.com)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending