Connect with us

Business

Awal Pekan IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Dekati Rp 14.000

Published

on


Finroll.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada pembukaan perdagangan pagi ini. IHSG menguat 5,566 poin (0,09%) ke level 6.527,229.

Sementara nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pagi ini berada di level Rp 14.027.

Pada perdagangan pre opening, IHSG naik 2,03 poin (0,03%) ke level 6.523,702. Indeks LQ45 juga bertambah 0,498 poin (0,05%) ke 1.028,391.

Membuka perdagangan, Senin (11/2/2019), IHSG melanjutkan penguatan 5,566 poin (0,09%) ke level 6.527,229. Indeks LQ45 naik 0,153 poin (0,01%) di level 1.027,985.

Pada pukul 09.05 waktu JATS, IHSG naik 11,706 poin (0,18%) ke level 6.531. Sedangkan indeks LQ45 naik 0,419 (0,04%) ke level 1.028,312.

Sementara itu, pada pekan kemarin indeks utama bursa Wall St ditutup mixed dengan mayoritas berada dalam zona hijau. Indeks S&P naik tipis 0,07%, Nasdaq menguat 0,14%. Sedangkan indeks Dow Jones turun 0,26%. S&P dan Nasdaq berhasil membuat di tengah pernyataan Presiden Donald Trump terkait dirinya yang tidak memiliki rencana untuk bertemu Presiden China sebelum 1 Maret.

Selain itu, Trump diperkirakan akan menandatangani perintah eksekutif yang melarang peralatan telekomunikasi China dari nirkabel AS. jaringan sebagai bagian dari upaya untuk menopang keamanan siber AS.

Perdagangan bursa saham Asia bergerak di zona merah pagi ini. Berikut pergerakannya:

  • Indeks Hang Seng turun 0,30% ke 27.864
  • Indeks Komposit Shanghai turun 0,17% ke 2.613
  • Indeks Strait Times melemah 0,83% ke level 3.174

[sumber d’finance]

Komoditi

Kekhawatiran Meningkat, Kilau Emas Antam Tembus Rp765 Ribu

Published

on

By

Harga jual emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) berada di posisi Rp765 ribu per gram pada Selasa (24/9) atau naik Rp3.000 dari Rp762 ribu per gram pada Senin (23/9).

Begitu juga dengan harga pembelian kembali (buyback) meningkat Rp3.000 dari Rp685 ribu ke Rp688 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp407 ribu, emas berukuran 2 gram Rp1,47 juta, 3 gram Rp2,19 juta, 5 gram Rp3,64 juta, 10 gram Rp7,22 juta, 25 gram Rp17,95 juta, dan 50 gram Rp35,83 juta. Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp71,6 juta, 250 gram Rp178,75 juta, 500 gram Rp357,3 juta, dan 1 kilogram Rp714,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.527,8 per troy ons atau melemah 0,24 persen. Begitu pula dengan harga emas di perdagangan spot merosot 0,13 persen ke US$1.520,23 per troy ons.

Analis Maxco Futures Suluh Adil Wicaksono memperkirakan harga emas dunia akan bergerak di kisaran US$1.510 sampai US$1.550 per troy ons dengan kecenderungan menguat pada hari ini. Menurutnya, peluang peningkatan harga emas masih terbuka lebar seiring dengan sentimen yang ada di sektor ekonomi.

Pertama, rilis data manufaktur Eropa yang terkontraksi, sehingga menimbulkan kekhawatiran perlambatan ekonomi di pasar. “Meski data manufaktur Amerika Serikat positif, ini tidak cukup menghentikan langkah penguatan emas,” katanya kepada CNNIndonesia.com.

Kedua, kelanjutan pembicaraan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China yang sempat ‘mandek’ karena delegasi Negeri Tirai Bambu pulang lebih awal. Ketiga, kelanjutan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Donald Trump (Presiden AS) mengirim pasukan pengamanan untuk bersiaga pasca serangan fasilitas minyak di Arab. Ini membuat harga emas tidak mau turun,” ujarnya.

Kendati begitu, menurutnya, peluang harga emas sedikit terkoreksi juga terbuka karena pergerakan harga sudah mencapai titik tertinggi dalam dua pekan terakhir. Namun, bila sentimen negatif terus datang, maka harga emas akan terus meningkat.

Continue Reading

Business

Puskepi : APBN Defisit, Pemerintah Harus Berani Tinggikan Nilai Cukai Rokok

Published

on

Finroll.com — Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria, mengatakan penerimaan pajak setiap tahun tak sanggup mengatasi besarnya kebutuhan anggaran rutin dan anggaran pembangunan. Defisit saat ini semakin melebar dari waktu ke waktu.

”Defisit selalu ditutupi dengan utang pemerintah yang semakin membesar dari waktu ke waktu. Strategi yang justru tidak mengatasi masalah dalam jangka panjang,” ungkap Sofyano dalam siaran pers, di Jakarta, (24/4/2019). Padahal ruang bagi peningkatan kemampuan fiskal pemerintan masih sangat besar.

Ruang untuk meningkatkan pendapatan negara masih cukup banyak dan beragam. Dibutuhkan kemauan dan keberanian dari pemerintah untuk menggenjot sumber sumber penerimaan negara melalui kebijakan perpajakan yang lebih progresif. ”Salah satu kebijakan yang dapat dijalankan adalah kebijakan cukai tembakau tinggi,” paparnya.

Kebijakan yang sudah pasti mendapatkan dukungan baik dari publik nasional maupun publik internasional. Mengingat seluruh dunia juga menjalankan kebijakan yang sama terkait tembakau dan rokok, yakni kebijakan cukai tinggi. Hanya Indonesia yang terlambat menjalankan kebijakan cukai tembakau tinggi.

”Selama ini pemerintah kuatir jika cukai tembakau naik maka akan berdampak pada petani dan industri. Akibatnya cukai tembakau tahunan lebih banyak tidak naik,” paparnya. Padahal pajak pajak yang lain atau pungutan yang lain dinaikkan. Walaupun cukai tembakau naik, tingkat kenaikan bersifat ala kadarnya atau hanya disesuaikan dengan inflasi, bukan sebagai kebijakan progresif. Tentu saja ini menjadi pertanyaan publik.

Baru pada 2020 mendatang cukai rokok akan dinaikkan sebesar 23 persen. Tahun 2019 cukai rokok tidak mengalami kenaikan. Langkah ini memang patut diacungi jempol. Keberanian pemerintah sudah mulai terlihat. Meskipun dengan angka kenaikan ini, Indonesia belum bisa mengikuti level cukai rokok di negar negara lain seperti Singapura, philipina, Thailand dan lain sebagainya. ”Apalagi mengikuti level cukai di negara megara maju. Indonesia masih jauh dari harapan itu,” bebernya.

Namun kenaikan tahunan pada tahun tahun mendatang masih sangat memungkinkan. Tahun 2021 kenaikan cukai tembakau harus mengikuti kenaikan dalam tahun 2020. Dengan demikian cukai secara perlahan lahan dapat mengejar ketertinggalan dengan negara negara lainnya.

Kenaikan cukai ini akan sangat berkontribusi terhadap APBN. Bayangkan jika cukai bisa naik 100 persen dari tarif cukai saat ini maka pemerntah tidak perlu lagi berhutang ke luar negeri dalam menutup defist APBN. ”Pemerintah bisa mendapatkan Rp.350-400 triliun dari cukai. Tinggal yang diperlukan nanti adalah pengelolaan cukai yang lebih inklusive, transparan,” paparnya.

Cukai rokok dapat menjadi kekuatan dalam pembiayaan bagi pembangunan infrastruktur, pengentasan kemiskinan dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Anggaran yang bersumber dari cukai rokok dapat digunakan bagi pembangunan pedesaan, jaminan sosial kesehatan rakyat, pengembangan penelitian dalam rangka memperkuat usaha kecil menengah. Sehingga kenaikan cukai rokok tidak lagi dibayangi ketakutan akan mengorbankan petani dan usaha kecil menengah.

Hanya yang diperlukan adalah kesungguhan dan konsistensi semua pihak. Khususnya para pengambil kebijakan untuk sungguh sungguh menjalankan kebijakan cukai sesuai dengan arah dan target pembangunan nasional. Khususnya, pembangunan manusia sebagaimana yang diinginkan presiden Jokowi sebagai prioritas dalam periode ke dua pemerintahannya.

”Kebijakan pemerintah untuk mengoreksi naik cukai rokok jangan hanya jadi isu politik saja. Tapi harus diwujudkan juga sudah saatnya pemerintah membuat aturan menetapkan harga jual eceran rokok yang ini lebih banyak manfaatnya bagi rakyat dan negara,” tegasnya. (red)

Continue Reading

Ekonomi Global

Minyak Terus Menguat Didorong Ketakutan Seputar Pasokan Saudi

Published

on

Finroll.com — Karena berlarutnya kekhawatiran atas pasokan global, minyak dunia terus menguat, Senin, setelah melambung hampir 7% pekan lalu, setelah serangan 14 September terhadap fasilitas minyak Saudi mengimbangi prospek untuk pemulihan lebih cepat dari perkiraan output  Kerajaan itu dan tanda-tanda perlambatan ekonomi Eropa.

Menurut sumber, yang memberikan penjelasan singkat tentang perkembangan terbaru dalam serangan terhadap fasilitas minyak Saudi, kepada Reuters. Arab Saudi memulihkan sekitar 75% dari produksi minyak mentah yang hilang dalam serangan yang melumpuhkan 5,7 juta barel per hari, atau lebih dari setengah produksi minyak Kerajaan itu.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 40 sen menjadi USD64,68 per barel, sementara patokan Amerika Serikat, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), meningkat 0,95% untuk menetap di posisi USD58,64 per barel.

Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates mengatakan, “Meski pasar relatif tenang dalam sesi baru-baru ini, kami masih merasa bahwa itu telah melayang ke kisaran perdagangan yang baru dan lebih tinggi mengingat hilangnya produksi Saudi yang telah berkembang, dan kebutuhan untuk premi risiko yang cukup besar untuk memperhitungkan kemungkinan bahwa serangan  drone  lainnya bisa saja terjadi lagi,” katanya di Galena, Illinois.

Survei yang menunjukkan pertumbuhan bisnis zona euro terhenti pada bulan ini, terseret oleh penyusutan aktivitas di Jerman di mana resesi manufaktur di luar dugaan semakin dalam, juga membebani minyak dan pasar lainnya seperti ekuitas.

“Harga minyak mengikuti pasar Eropa yang lebih rendah…dimengerti terpukul oleh data manufaktur menyedihkan dari blok itu dan implikasinya untuk pertumbuhan dan permintaan global,” kata Craig Erlam, analis OANDA.

Namun, Brent masih meningkat lebih dari 19% tahun ini, dibantu oleh pakta pembatasan pasokan yang dipimpin Organisasi Negara Eksportir Minyak, meski kekhawatiran tentang melambatnya pertumbuhan ekonomi membatasi penguatannya.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak serangan terhadap Saudi. Pentagon memerintahkan pasukan tambahan AS untuk dikerahkan ke kawasan Teluk guna memperkuat pertahanan udara dan rudal Arab Saudi.

Inggris yakin Iran bertanggung jawab atas serangan itu dan akan bekerja sama dengan Amerika Serikat dan sekutu Eropa dalam tanggapan bersama, kata Perdana Menteri Boris Johnson. Amerika Serikat dan Arab Saudi juga menyalahkan Iran, yang menyangkal bertanggung jawab.

Serangan Saudi itu memfokuskan kembali perhatian investor pada prospek gangguan pasokan di produsen OPEC lainnya. Investor kurang peduli tentang risiko pasokan karena persediaan yang mencukupi.(red)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending