Connect with us

Pasar Modal

Bahaya! IHSG Keluar dari 6.000, Pertama Kali Sejak Mei 2019

Published

on


Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan hari ini, Kamis (3/10/2019), dengan koreksi sebesar 0,37% ke level 6.033,03. IHSG kemudian berangsur-angsur memperlebar kekalahannya hingga sempat meninggalkan level psikologis 6.000. Titik terendah IHSG pada hari ini berada di level 5.997,69. Untuk diketahui, kali terakhir IHSG menutup perdagangan di bawah level 6.000 adalah pada 22 Mei silam.

Pada pukul 09:20 WIB, indeks saham acuan di Indonesia tersebut terkoreksi 0,63% ke level 6.017,34.

Kinerja IHSG senada dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang sedang kompak ditransaksikan di zona merah: indeks Nikkei turun 2,2%, indeks Hang Seng jatuh 0,75%, dan indeks Straits Times melemah 0,85%.

Untuk diketahui, perdagangan di bursa saham China diliburkan guna memperingati 70 tahun lahirnya Republik Rakyat China, sementara perdagangan di bursa saham Korea Selatan diliburkan guna memperingati National Foundation Day.

Perang dagang AS-Uni Eropa menjadi faktor yang memantik aksi jual di bursa saham Benua Kuning. Kemarin (2/10/2019), Kantor Perwakilan Dagang AS merilis daftar produk impor asal Uni Eropa yang akan dikenakan bea masuk baru. Pesawat terbang, kopi, daging babi, hingga mentega termasuk ke dalam daftar produk yang disasar AS.

Daftar produk tersebut dirilis pasca AS memenangkan gugatan di World Trade Organization (WTO). AS menggugat Uni Eropa ke WTO lantaran Uni Eropa dianggap telah memberikan subsidi secara ilegal kepada Airbus, pabrikan pesawat terbang asal Benua Biru. Dampak dari subsidi ilegal tersebut adalah pabrikan pesawat asal AS, Boeing, menjadi kurang kompetitif.

WTO memberikan hak kepada pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengenakan bea masuk baru terhadap produk impor asal China senilai US$ 7,5 miliar. Melansir CNBC International, hingga kini belum jelas berapa nilai dari produk impor asal Uni Eropa yang akan dikenakan bea masuk baru oleh AS, apakah itu US$ 7,5 miliar atau kurang dari itu.

Dengan langkah pemerintah AS yang galak terhadap Uni Eropa, peluang terjadinya resesi di AS tentu bertambah besar. Sebelumnya, kekhawatiran bahwa AS akan masuk ke jurang resesi telah sangat terasa seiring dengan rilis data ekonominya yang begitu mengecewakan.

Pada hari Selasa (1/10/2019), Manufacturing PMI AS periode September 2019 versi Institute for Supply Management (ISM) diumumkan di level 47,8, jauh di bawah konsensus yang sebesar 50,4, seperti dilansir dari Forex Factory.

Sebagai informasi, angka di atas 50 berarti aktivitas manufaktur membukukan ekspansi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sementara angka di bawah 50 menunjukkan adanya kontraksi.

Kontraksi yang terjadi pada bulan September merupakan kontraksi terburuk yang dibukukan oleh sektor manufaktur AS dalam satu dekade terakhir. Perang dagang dengan China terbukti telah sangat menyakiti perekonomian AS.

Pasar Modal

Penutupan Pasar: Rupiah Berakhir Stagnan Rp 13.665/US$

Published

on

By

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) stagnan di perdagangan pasar spot hari ini, tetapi masih jauh dari level Rp 13.700/US$

Pada Selasa (14/1/2020), US$ 1 dibanderol Rp 13.665/US$ di pasar spot. Rupiah stagnan alias sama dengan posisi penutupan perdagangan kemarin. Sebelumnya rupiah sempat menguat 0,26% ke level Rp 13.630/US$.

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 15:55 WIB:

 

Periode Kurs
1 Pekan Rp 13.682,6
1 Bulan Rp 13.713,6
2 Bulan Rp 13.737,6
3 Bulan Rp 13.775,6
6 Bulan Rp 13.889
9 Bulan Rp 14.022
1 Tahun Rp 14.174
2 Tahun Rp 14.791,8

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) pada pukul 15:55 WIB:

Periode Kurs
1 Bulan Rp 13.700
3 Bulan Rp 13.760

Berikut kurs dolar AS di sejumlah bank nasional pada pukul 15:50 WIB:

Bank Harga Beli Harga Jual
Bank BNI 13.654 13.709
Bank BRI 13.695 13.825
Bank Mandiri 13.645 13.665
Bank BTN 13.550 13.725
Bank BCA 13.681 13.699
CIMB Niaga 13.668 13.673

TIM RISET CNBC INDONESIA (pap/pap)

Continue Reading

Pasar Modal

Main Saham Gorengan, Jiwasraya Bikin Rugi Negara Rp 10,4 T

Published

on

By

Jakarta,  – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan adanya kerugian negara oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sebesar Rp 10,4 triliun karena ‘menggoreng’ saham investasi.

Ketua BPK Agung Firman Sampurna mengatakan perusahaan pelat merah tersebut menanamkan dana hasil penjualan produk JS Saving Plan pada saham dan reksa dana berkualitas rendah.

Menurutnya, saham-saham tersebut antara lain adalah BJBR, SMBR, PPRO, dan lain-lain. Indikasi kerugian sementara akibat transaksi tersebut diperkirakan sekitar Rp 4 triliun.

Kemudian, pada posisi 30 Juli 2018, Jiwasraya memiliki 28 produk reksa dana, di mana 20 reksa dana diantaranya milik Jiwasraya dengan kepemilikan di atas 90%. Indikasi kerugian sementara terkait saham reksa dana diperkirakan sekitar Rp6,4 triliun.

Main Saham Gorengan, Jiwasraya Bikin Rugi Negara Rp 10,4 T Foto: Konferensi pers BPK dan Kejagung terkait kasus Jiwasraya (CNBC Indonesia/Cantika Adinda Putri)

Sehingga jika diakumulasikan maka kerugian investasi pada saham gorengan dan reksa dana tersebut, total indikasi kerugian Jiwasraya mencapai Rp10,4 triliun.

“Pihak-pihak yang terkait adalah pihak internal Jiwasraya pada tingkat direksi, general manager, dan pihak lain di luar Jiwasraya,” kata Agung di kantor BPK, Jakarta Pusat, Rabu (8/1/2020).

Lebih lanjut, Agung mengatakan, pembelian dan penjualan saham diduga dilakukan secara pro forma dan tidak didasarkan atas data yang valid dan objektif. Kemudian melakukan aktivitas jual beli saham dalam waktu yang berdekatan untuk menghindari pencatatan unrealized gross, yang diduga window dressing.

“Jual beli juga dilakukan dengan pihak tertentu secara negosiasi agar bisa memperoleh harga tertentu yang diinginkan, dan adanya kepemilikan atas saham tertentu melebihi batas maksimal yaitu di atas 2,5%,” tuturnya.

Selain itu, Jiwasraya melakukan investasi langsung pada saham-saham yang tidak likuid dengan harga yang tidak wajar. BPK menduga dalam hal ini ada kerjasama antara manajemen Jiwasraya dengan manajer investasi untuk menyembunyikan investasi pada beberapa reksa dana dengan underlying saham.

Tak hanya itu, pihak yang diajak bertransaksi saham oleh manajemen Jiwasraya terkait transaksi ini adalah grup yang sama, sehingga diduga ada dana perusahaan dikeluarkan melalui grup tersebut.

“Jadi ada indikasi jual beli saham berkualitas rendah dilakukan oleh pihak-pihak yang terafiliasi dan diduga dilakukan dengan mereka yang seharga, sehingga harga jual beli tidak mencerminkan harga yang sebenarnya,” papar Agung. (CNBC/GPH)

Continue Reading

Pasar Modal

IHSG Diprediksi Fluktuatif, Simak 9 Saham Rekomendasi

Published

on

By

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi mengalami tren pelemahan.

Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christopher Jordan mengatakan, potensi IHSG yang melemah itu diperkirakan akan lebih fluktuatif, dipengaruhi penetapan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Dennies memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini berada pada resistance 2 di level 6.332, resistance 1 di level 6.310, support 1 di level 6.242 dan support 2 di level 6.196.

“IHSG diprediksi melemah, secara teknikal indikator stochastic bergerak di area overbought mengindikasikan tren penguatan sudah terbatas,” kata Dennies dalam risetnya, Kamis (19/12).

Kemarin, IHSG ditutup menguat di level 6.287,25 atau naik 0,69 persen. Penguatan didorong oleh sektor keuangan (+2,02 persen) dan industri dasar (+1,00 persen).

IHSG ditutup menguat didorong oleh persetujuan perjanjian dagang fase I antara Amerika Serikat dan China. Investor cenderung berspekulasi menanti penetapan suku bunga oleh BI.

Sementara, Vice President Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan, pola gerak IHSG hari ini terlihat berpotensi untuk kembali melanjutkan kenaikan jangka pendeknya. Ini terlihat dari rentang konsolidasi yang sedang berusaha digeser ke arah yang lebih baik.

Ia melanjutkan, selain itu jelang rilis Suku bunga acuan BI yang akan dilansir diperkirakan belum akan terdapat perubahan dikarenakan kondisi perekonomian masih cukup stabil.

“Sehingga momentum koreksi wajar masih dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan akumulasi pembelian dengan target jangka menengah hingga panjang, hari ini IHSG berpeluang untuk bergerak pada zona hijau,” ujar William.

Berikut saham-saham rekomendasi William pada perdagangan hari ini:

– PT Indofood Tbk (INDF)
– PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
– PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI)
– PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
– PT Indofood Tbk (INDF)
– PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
– PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP)
– PT Gudang Garam Tbk (GGRM)
– PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending