Connect with us

Nasional

Beranikah Pemerintah Bekukan Maskapai Penerbangan Lion Air

Published

on


Beranikah Pemerintah Bekukan Maskapai Penerbangan Lion Air

Finroll.com – Senin, (29/10/2018) lalu, lagi dan lagi, dunia maskapai penerbangan Indonesia mengalami kabar duka dengan terjadinya kecelakaan Pesawat Lion Air Boeing JT610. Pesawat tersebut dinyatakan hilang kontak usai lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pada jam 6.10 pagi, Diketahui pesawat jatuh di perairan utara Karawang, Jawa Barat.

Sebelumnya, maskapai ini juga sudah pernah mengalami gangguan maupun kecelakaan penerbangan, yang lima di antaranya adalah sebagai berikut.

1. 13 April 2018

Pesawat Lion Air Boeing 737-800 dengan rute penerbangan Bandara Husein Sastranegara di Bandung menuju Bandara Ngurah Rai di Bali, mengalami kecelakaan saat hendak mendarat pada Sabtu, 13 April 2013.

2. 19 April 2013
Pesawat Boeing 737-900 milik Lion Air dengan tujuan Denpasar – Jakarta, mendadak berhenti saat akan mengudara.

3. 29 April 2018
Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 892 yang terbang dari Makassar, Sulawesi Selatan menuju Gorontalo tegelincir di Bandara Jalaluddin Tantu, Gorontalo pada Minggu 29 April 2018.

4. 6 Agustus 2018
Pesawat Boeing 737-800 milik Lion Air dengan nomor penerbangan JT892 tergelincir saat mendarat di Bandara Jalaluddin Tantu, Gorontalo pada Selasa (6/8/2013) malam.

5. 29 Oktober 2018
Terakhir adalah kecelakaan yang terjadi hari ini. Pesawat Lion Air JT 610 dengan rute penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang terjatuh 13 menit setelah mengudara dari Bandara Soekarno Hatta.

Maskapai pesawat penerbangan Lion Air adalah sebuah maskapai penerbangan berbiaya murah dan maskapai swasta terbesar di Indonesia dengan slogannya “Kami membuat Masyarakt terbang”. Rusdi Kirana, S.E. merupakan seorang pengusaha Indonesia dan juga pendiri Lion Air yang didirikan sejak 15 November 1999. Ia juga dipilih oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Melihat peristiwa-peristiwa kecelakaan yang di alami lion air dan cukup banyak memakan banyak korban, Pemerintah harus lebih cermat dalam sistem pengawasan terhadap maskapai penerbangan, khususnya lion air harus ada audit yang menyeluruh.

Jika bicara persoalan sanksi, sanksi apakah yang paling tepat? melihat atas kejadian yang terus berulang-ulang, dan yang terjadi lion lagi yang alami kecelakaan. mungkin sanksi pencabutan izin adalah yang paling tepat karena ini sudah sangat meresahkan bangsa. coba bayangkan saja, walaupun kita tidak menjadi korban lion air, tapi di salah satu korban jatuhnya pesawat lion air adalah keluarga kita sendiri? mungki rasa sesal dan sedih paling mendalam yang hanya bisa kita lakukan.

Namun bicara soal sanksi, apakah pihak pemerintah bisa berlaku obyektif tanpa melihat latar belakang pendiri Lion Air Rusdi Kirana, S.E yang juga sebagai anggota dewan pertimbangan presiden Jokowi. yah, semoga saja tidak ada kepentingan yang mengganjal pemerintah untuk mengambil langkah putusan sanksi tegas. karena yang sudah-sudah setiap keputusan ataupun kebijakan akan selalu terintervensi oleh kepentingan.

Penyebab kecelakaan memanglah sangat beragam, bisa saja kesalahan teknis, kelalaian manusia ataupun kondisi alam yang tidak menentu. Akibat dari kecelakaan sudah pasti ada yang tidak memakan korban jiwa hingga hilangnya ratusan nyawa manusia.

Kecelakaan pesawat memang sebuah musibah yang siapapun tidak ingin mengalaminya. Namun apa daya kita sebagai manusia hanya bisa pasrah dan berdoa pada Tuhan agar selamat sampai tujuan saat menaiki pesawat terbang. Pepatah bilang saat menaiki peswat terbang, 99 persen hidup kita sudah berserah diri pada Tuhan. Tapi setidaknya kita sebagai manusia, hendaklah berikhtiar dalam arti hal ini ialah memperbaiki kesalahan masa lampau agar tak terulangi dikemudian hari.

PRAY FOR LION AIR
#JT610
#Jakarta
#Pangkalpinang

Nasional

Tiga Negara Terbitkan Peta Laut Elektronik Selat Malaka-Singapura Edisi Terbaru

Published

on

Keterangan foto : MSS-ENC terbaru edisi ke-6

Finroll.com — Kantor Hidrografi dari dari tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura, bersama dengan Japan Hydrographic Association (JHA), secara resmi mengumumkan rilis edisi ke-6 Peta Laut Elektronik Selat Malaka dan Singapura/Malacca and Singapore Straits-Electronic Navigational Chart (MSS ENC), Kamis (17/10/2019).

Edisi ke-6 dari MSS ENC merupakan edisi yang terbaru, menggantikan edisi ke-5 yang terbit pada tanggal 15 November 2016.

Selesainya edisi ke-6 MSS ENC tidak lepas dari kerjasama dan komunikasi yang baik dari ketiga negara yang dimulai sejak kegiatan 2nd MSS ENC Workshop 18-19 Juni 2019 di Jakarta sampai dengan hari ini, dimana Indonesia sebagai koordinatornya.

Kapushidrosal Laksda TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro, S.Sos, S.H, M.H mengatakan bahwa edisi ke-6 MSS ENC terdiri dari 6 cell yang meliputi Selat Malaka mulai dari One Fathom Bank, Perairan Riau Indonesia hingga Selat Singapura bagian timur. MSS ENC ini adalah ENC resmi, yang memenuhi standar dan spesifikasi International Hydrographic Organization (IHO).

Penggunaannya bersama dengan ECDIS akan memenuhi persyaratan dari konvensi Safety Of Life At Sea (SOLAS) tentang keselamatan navigasi kapal-kapal.

“MSS ENC menjadi model kerjasama regional antar kantor hidrografi suatu negara yang menjadi percontohan organisasi hidrografi internasional lainnya” kata Chief Hydrographer Indonesia tersebut.

Sementara itu, Kadispeta Pushidrosal, Kolonel Laut (P) Oke Dwiyana, S.H, M.M menambahkan bahwa terkait keselamatan pelayaran pada 5 area critical yaitu batu berhanti, karang banteng, selatan Pulau Sebarok, Cape Richardo dan one fathom bank, dibuat dengan high density bathymetri menggunakan kerapatan contour 1meter.

MSS ENC edisi ke-6 menggabungkan data-data baru dari survei hidrografi bersama di Selat Malaka dan Selat Singapura yang dilakukan oleh Indonesia, Malaysia dan Singapura pada tahun 2018.

Mengingat bahwa Selat Malaka dan Selat Singapura adalah salah satu rute pelayaran tersibuk di dunia, pembaharuan data pada MSS ENC ini akan meningkatkan tingkat keamanan dan keselamatan navigasi serta efisiensi untuk kapal yang lewat di kedua selat tersebut.

Malacca Singapore Strait Electronic Navigational Charts (MSS ENC) adalah produk ENC dari negara littoral states yaitu, Indonesia, Singapura, Malaysia, di Selat Malaka dan Selat Singapura sejak tahun 2005, bersama Japan Hydrographic Assosiation /JHA, sebagai distributor ENC.

MSS-ENC dibuat untuk keselamatan pelayaran di Selat Malaka dan Selat Singapura, yang dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran terpadat di dunia.(red)

Continue Reading

Nasional

Bakamla RI (Indonesian Coast Guard) Bakal Tambah Tiga Kapal Patroli Baru

Published

on

Finroll.com — Bakamla RI (Indonesian Coast Guard) bakal memiliki tambahan 3 unit kapal patroli baru yang merupakan karya anak bangsa.

Peresmian masuknya 3 unit Kapal Negara (KN) ke jajaran Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) itu secara resmi akan dilangsungkan dalam suatu upacara yang akan dipimpin langsung oleh Kepala Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Ka Bakamla RI) Laksdya Bakamla A. Taufiq R., di Galangan PT. Citra Shipyard, Batam, Provinsi Kepulauan Riau, pada Jumat (18/10/2019).

Adapun pemberian nama dan penempatan tugas dari ketiga kapal negara itu masing-masing sbb: KN Pulau Nipah-321 akan ditugaskan mengabdi di wilayah Zona Barat (Batam).

Pemberian nama kapal ini diangkat dari nama sebuah pulau terluar Indonesia yang terletak di perbatasan Indonesia – Singapura, merupakan wilayah dari pemerintah kota Batam, provinsi Kepulaian Riau.

Pulau ini berada di sebelah barat laut dari pelabuhan Sekupang di Pulau Batam yang dapat dilihat dalam jalur perjalanan ferry dari Pelabuhan Sekupang menuju Nipah adalah 1°9’13” LU, 103°39’11” BT, sejak Indonesia dipimpin Presiden Megawati mulai direklamasi karena hampir tenggelam.

Saat ini kawasan tersebut ditempati prajurit TNI di bawah Komando Lanal Batam.

Sementara itu KN Pulau Marore-322 ditugaskan memperkuat jajaran Zona Tengah di Manado. Pulau Marore adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Sulawesi dan berbatasan dengan Filipina.

Pulau Marore ini merupakan bagian dari wilayah Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Pulau ini berada di sebelah utara dari Pulau Sangihe dengan koordinat 4°44’14” LU, 125°28’42” BT.

Sedangkan KN Pulau Dana-323 akan ditugaskan untuk memperkuat jajaran Zona Timur, berkedudukan di Ambon. Pulau Dana, Pamana, atau Dana, Dona dan Ndana adalah sebuah pulau terluar Indonesia yang terletak di sebelah Barat Daya Pulau Rote dan berbatasan dengan negara Australia.

Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Rote Barat Daya Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau ini merupakan wilayah paling selatan dari Republik Indonesia juga Benua Asia secara keseluruhan.

Masing-masing KN tersebut memiliki panjang 80 meter, lebar 7.90 meter, tinggi 14.4 meter, kecepatan hingga mencapai 22 knot dan memiliki mesin penggerak 2 unit MAN/2862LE433. Konstruksi kapal baru ini terbuat dari bahan baja.

Ketiga kapal patroli sepanjang 80 meter milik Bakamla RI yang digarap sejak 3 Oktober 2017 itu diketahui merupakan tipe kapal patroli yang dibangun di Indonesia, dimana seluruh tahapan pembangunan kapal mulai perencanaan desain hingga konstruksi fisik dan instalasi sistem murni dilaksanakan oleh tenaga ahli putra-putri bangsa dengan pengawasan penuh oleh Satgas pembangunan kapal Bakamla RI.

Ketiga kapal tersebut telah melalui serangkaian tahapan dengan sangat baik selama proses pembuatannya di galangan, mulai tahap pembangunan, launching pengapungan kapal pertama kalinya di air, hingga tahap pengujian yang terdiri atas tiga rangkaian yaitu Uji Kelaikan Pabrik, Kelaikan Dermaga, dan Uji Kelaikan Laut.

Dengan berbagai rangkaian uji, ketiga kapal patroli tersebut telah memenuhi persyaratan kelayakan untuk diserahterimakan dari Galangan kepada Bakamla RI.(red)

Continue Reading

Nasional

HUT Ke-72, Kasau Beri Kado Buku “Heroisme PGT Dalam Operasi Srigala” Untuk Korpaskhas

Published

on

Buku berjudul “Heroisme PGT Dalam Operasi Srigala” menjadi kado buat Korpaskhas yang berulang tahun ke-72.

Finroll.com — Penyerahan buku dilakukan oleh Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E., M.M., yang didampingi Kadispenau Marsma TNI Fajar Adriyanto, M.Si (Han), kepada Dankorpaskhas Marsda TNI Eris Widodo Yuliastono seusai upacara peringatan HUT ke-72 di Mawing I Paskhas, Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta, Kamis (17/10/2019).

Buku yang ditulis tim Subdisjarah Dispenau, mengisahkan perjuangan penyusupan 119 prajurit PGT/Pasukan Gerak Tjepat (sekarang Korpaskhasau) dengan cara diterjunkan dari pesawat terbang di daerah Klamono dan Teminabuan, Sorong pada Mei 1962.

Meski pertempuran tidak seimbang, karena PGT diserang Belanda menggunakan kekuatan udara dan darat serta didukung kelompok yang memihak Belanda, namun dengan semangat pantang menyerah prajurit PGT berhasil mengibarkan Bendera Merah Putih di Teminabuan, Irian Barat untuk pertama kalinya.

Peristiwa ini telah berdampak psikologis bagi Belanda, dan memberikan semangat kepada pasukan kawan, baik Angkatan Darat maupun Angkatan Laut.

Kasau Marsekal TNI Yuyu Sutisna SE MM mengapresiasi torehan tinta emas prajurit PGT sebagai dedikasi dan pengabdian kepada NKRI. Kemudian Kasau memerintahkan Kadispenau untuk menulis kisah tersebut dalam sebuah buku.

Setelah enam bulan Tim Subdisjarah melakukan survey ke lapangan, wawancara dengan pelaku sejarah, mengumpulkan berbagai bahan dan merangkai tulisan, tepat satu minggu sebelum HUT ke-72 Korpaskhas, buku “Heroisme PGT Dalam Operasi Serigala tahun 1962” selesai dan sekaligus menjadi kado dari Kasau kepada Korpaskhas.(red)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending