Connect with us

Business

Berapa Besar Dampak Virus Corona ke Ekonomi Indonesia?

Published

on


Jakarta, FINROLL – Virus Corona menjadi musuh sekaligus kecemasan seluruh masyarakat dunia. Sejak World Health Organization (WHO) menetapkan penyebaran virus corona ini

Indonesia menjadi salah satu negara yang sering menerima tamu dari China, baik manusia maupun barang, sehingga tentu jika pemerintah sudah menegaskan akan menghentikan pergerakan apapun dari China ke Indonesia dan sebaliknya, ekonomi Indonesia sedikit banyak akan terkena getahnya.

Ekonomi Center of Reform on Economic (CORE) Piter Abdullah menyatakan pengaruh virus Corona sudah merambat sangat cepat ke perekonomian global secara umum dan Indonesia sudah terkena dampaknya dari awal virus ini menjadi perbincangan dunia.

“Sejak awal, kita sudah terdampak khususnya melalui gejolak di sektor keuangan dan sektor pariwisata,” tutur Piter saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (4/2/2020).

Di sektor keuangan, lanjut Piter, IHSG turun drastis dan nilai tukar rupiah mengalami depresiasi. Hal itu disebabkan sentimen negatif yang muncul di tengah kekhawatiran virus Corona.

“Kekhawatiran dan sentimen negatif itu terbentuk karena diyakini virus corona akan berdampak negatif menurunkan pertumbuhan ekonomi global,” ungkap Piter.

Nilai Tukar Rupiah

Terbaru, bursa Amerika Serikat ditutup melemah dan penurunan tajam terjadi lebih parah dari penutupan perdagangan Jumat lalu. Sedangkan, bursa Asia juga mayoritas bergerak negatif.

“Sementara di sektor pariwisata, jumlah wisatawan khususnya dari China menurun drastis, dan penurunan ini berpengaruh negatif ke sektor-sektor lainnya yang terkait, seperti transportasi, hotel, restoran dan lainnya,” papar Piter.

Karena sudah terdampak dari awal, tentu jika penyebaran virus ini semakin cepat, maka kondisi ekonomi juga akan lumpuh dalam waktu lebih cepat dari perkiraan. Namun, Piter yakin China bakal bisa menyelesaikan permasalahan ini, melihat pengalamannya melawan SARS pada 2002 dan 2003 silam.

“China sudah berpengalaman dengan SARS, saya yakin China bisa menanggulangi Corona, cuma masalah waktu saja,” imbuhnya.

Iwan Hidayat Bergabung Dengan Finroll Media Group Tahun 2012

Makro Ekonomi

Kena PHK, Karyawan Indosat Dapat Rp 1 Miliar Lebih plus Bonus

Published

on

By

PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Oredoo memberikan kompensasi Rp 1 miliar lebih ditambah bonus kepada karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Indosat mengalokasikan Rp 663 miliar sebagai paket kompensasi, ditambah bonus Rp 18,3 miliar kepada 667 karyawan yang kena PHK.

“Kami telah menyelesaikan Reorganisasi Perusahaan kami pada akhir Februari, dan 92% karyawan yang terkena dampak telah menerima kompensasi yang jauh lebih baik dari pada yang dipersyaratkan oleh Undang-Undang,” kata Director & Chief Human Resources Officer Indosat Ooredoo, Irsyad Sahroni dalam siaran pers yang disampaikan Kamis (2/4/2020).

Irsyad juga menyatakan bahwa perusahaan telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk membantu karyawan yang terkena dampak reorganisasi.Secara rinci, Indosat mengalokasikan Rp 663 Miliar untuk mendanai paket kompensasi, dengan angkatan pertama sebesar Rp 343 Miliar untuk 328 karyawan yang terkena dampak, tidak termasuk bonus 2019 sebesar Rp18,3 Miliar, yang akan dibayarkan sebelum 15 April 2020.

Salam siara pers tersebut, Indosat mengumumka reorganisasi bisnis dilakukan sebagai bagian dari strategi tiga tahun untuk bertransformasi menjadi brand yang lebih gesit dan terpercaya telah diterima dengan baik oleh karyawannya.

Irsyad mengatakan, rencana reorganisasi ini telah diterima oleh 92% dari total 677 karyawan yang terkena dampak dan telah menjalani fase transisi yang lancar pada akhir Maret lalu.

“Dengan dimulainya langkah-langkah ini, reorganisasi struktur perusahaan sebagian besar telah selesai,” kata Irsyad.

Irsyad menambahkan PHK bahwa bahwa kebijakan ini adalah saat yang sulit bagi karyawan Indosat. Indosat akan mengeksplorasi semua opsi yang memungkinkan untuk memberikan dukungan dan untuk memperingan dampak pada rekan-rekan kami. Selain itu, dia juga mengatakan, perusahaan saat ini sedang melalui proses mediasi dengan 52 karyawan yang terkena dampak yang memutuskan untuk menolak tawaran kompensasi dan melalui penyelesaian perselisihan hubungan industrial.

“Memang benar beberapa karyawan yang terkena dampak memutuskan untuk melakukan penyelesaian perselisihan hubungan industrial, dan kami menghormati dan mengikuti proses yang mengacu pada prosedur dan hukum yang berlaku. Proses dimulai dengan pertemuan bipartit yang dilakukan pada akhir Februari lalu dan dilanjutkan dengan proses mediasi yang dipimpin oleh masing-masing Kantor Tenaga Kerja setempat sebelum merebaknya Covid-19. Kami selalu mengikuti semua proses yang sesuai dengan Hukum yang berlaku dan diatur oleh Kantor Tenaga Kerja dan Pemerintah,” pungkasnya.

Artinya jika 677 karyawang kena PHK menerima paket kompensasi plus bonus, maka, setiap karyawan akan menerima lebih dari Rp 1 miliar. (CNBC/GPH)

Continue Reading

Ekonomi Global

Utilitas Manufaktur Anjlok, Imbas Corona

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat wabah virus corona menekan utilitas industri manufaktur hampir 50 persen. Hal itu tercermin dari penurunan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur dari 51,9 pada Februari ke 45,3 pada Maret 2020.

“Beberapa industri mengalami penurunan kapasitas (produksi) hampir 50 persen, kecuali industri-industri alat-alat kesehatan dan obat-obatan. Kami tetap mendorong industri bisa beroperasi seperti biasanya, namun dengan protokol kesehatan yang ketat sehingga terhindar dari wabah Covid-19,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (2/4).

Tidak hanya di Indonesia, aktivitas manufaktur di Asia juga mengalami kontraksi pada Maret 2020 ini karena dampak penyebaran virus korona (Covid-19) terhadap rantai pasokan. Berdasarkan data IHS Markit yang dirilis Rabu (1/4), hampir seluruh PMI manufaktrur regional turun di bawah 50.

Indeks PMI Jepang anjlok ke level 44,8, sedangkan PMI Korea Selatan turun ke 44,2, level terburuk sejak krisis keuangan global lebih dari satu dekade lalu. Di Asia Tenggara, angka PMI Filipina turun menjadi 39,7, terendah sepanjang sejarah, sedangkan Vietnam merosot ke 41,9.

Guna menggairahkan sektor industri di dalam negeri, Agus akan mengusulkan pemberian berbagai stimulus fiskal dan nonfiskal. Upaya tersebut merupakan antisipasi dari banyaknya negara yang melakukan protokol penguncian (lockdown) yang memberikan dampak negatif bagi pasar lokal maupun global.

Stimulus yang bakal dikeluarkan, misalnya terkait upaya memperlancar arus bahan baku. Dalam hal ini, Kemenperin akan melakukan koordinasi dengan kementerian terkait. Sedangkan, dari sisi fiskal, akan ada pengurangan pajak perusahaan dan peniadaan pajak penghasilan karyawan.

“Hal tersebut untuk meringankan beban dunia usaha maupun karyawan dalam jangka waktu tertentu,” imbuhnya.

Pemerintah juga telah menerbitkan aturan yang juga terkait sektor perindustrian, antara lain Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem untuk penanangan pandemi Covid-19 dalam rangka menghadapi ancaman perekonomian nasional.

Selanjutnya, Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus DISEASE 2019 (COVID- 19), Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 23 Tahun 2020 tentang Insentif Pajak untuk Wajib pajak terdampak wabah virus corona.

Selanjutnya, Kemenperin akan terus memantau perkembangan aktivitas industri berbagai sektor di dalam negeri, terutama terkait dengan dampak pandemi yang disebabkan oleh virus corona baru.

“Pemerintah sangat serius dalam menangani covid-19 ini, termasuk agar industri kita tidak terpuruk. Jadi, penciptaan iklim usaha yang kondusif juga diprioritaskan. Namun, hal itu perlu dukungan semua stakeholder,” ujarnya.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Negara-Negara G20 Diprediksi Bakal Masuk Resesi

Published

on

Pandemi Corona atau Covid-19 akan menyebabkan seluruh negara yang tergabung dalam G20 masuk ke jurang resesi, kata Lembaga konsultan Economist Intelligence Unit (EIU).
FINROLL.COM — Lembaga konsultan Economist Intelligence Unit (EIU) menyatakan pandemi Corona atau Covid-19 akan menyebabkan seluruh negara yang tergabung dalam G20 masuk ke jurang resesi.
EIU juga telah memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi negara-negara dunia menjadi kontraksi minus 2,2 persen dari prediksi awal sebelum terjadi pandemi yang seharusnya masih bisa tumbuh 2,3 persen. “Hasilnya kurang menunjukkan harapan positif. Di antara negara G20, semua akan mengalami resesi tahun ini kecuali tiga negara,” ucap keterangan tertulis dalam situs eiu.com dikutip Tirto, Rabu (1/4/2020).
Kabar baiknya, Indonesia masuk dalam deretan tiga negara yang belum tentu mengalami resesi akibat Corona. EIU memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa bertahan pada angka 1 persen turun dari estimasi tanpa Corona 5,1 persen. India diprediksi masih bertahan di 2,1 persen yang turun dari estimasi tanpa Corona di kisaran 6 persen.
Negara ketiga yang masih juga bertahan adalah Cina yang mampu bertahan dengan pertumbuhan 1 persen atau turun dari estimasi awal tanpa Corona di kisaran 5,9 persen. EIU menuturkan prediksi 1 persen bagi Cina itu dihitung dengan asumsi bila Corona tidak memburuk lagi. Dengan demikian perlambatan hanya terjadi di Q1 dan Q2 tahun 2020, lalu membaik mulai semester II 2020.
Nasib berbeda bagi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang diprediksi mengalami kontraksi 2,8 persen tahun 2020 dari estimasi tanpa Corona 1,7 persen. EIU menilai terpuruknya kondisi AS disebabkan karena penanganan pandemi yang buruk dan ditambah dampak anjloknya harga minyak dunia karena Rusia dan Arab Saudi.
“Respons awal pemerintah terhadap Corona sangat buruk, membiarkan penyakit menyebar sangat cepat,” ucap EIU. Sementara itu, dampak lebih berat akan diterima oleh negara di benua Eropa. EIU menyatakan selama setahun mereka akan mengalami resesi di kisaran 5,9 persen. Kontraksi, katanya, sudah membayangi Jerman dengan minus 6,8 persen, Perancis dengan minus 5 persen, dan Italia minus 7 persen.
Sejalan dengan prediksi EIU, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga telah memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2020. Dalam skenario berat, ia menyatakan ekonomi Indonesia masih tumbuh 2,3 persen dan bila keadaan masuk skenario “sangat” berat maka pertumbuhan akan kontraksi minus 0,4 persen. (Tirto.id)
Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending