Connect with us

Ekonomi Global

Berdasarkan Laporan Keuangan Semester I/2019, Laba Bersih PGN Terus Turun

Published

on


Finroll.com — Berdasarkan laporan keuangan semester I/2019 PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) membukukan penurunan laba bersih 69,87 persen secara tahunan pada semester I/2019.

Emiten berkode saham PGAS itu membukukan pendapatan US$1,78 miliar pada semester I/2019. Realisasi itu turun 6,80 persen dari US$1,91 miliar periode yang sama tahun lalu.

Dari data tersebut perseroan mengantongi laba bersih US$54,04 juta. Pencapaian tersebut lebih rendah dari US$179,38 juta pada semester I/2018.
Dalam siaran persnya.

Manajemen PGAS menyebut pendapatan yang dikantongi setara dengan Rp25,4 triliun. Jumlah itu menggunakan asumsi kurs rata-rata semester I/2019 sebesar Rp14.195 per 1 dolar Amerika Serikat.

Sementara sumber pendapatan yang dikantongi perseroan berasal dari penjualan gas US$1,33 miliar, penjualan minyak dan gas US$196,2 juta, transmisi gas US$164,3 juta, serta pendapatan usaha lainnya US$97,19 juta.

Perseroan melaporkan laba operasi US$252,03 juta pada semester I/2019. Akan tetapi, kinerja keuangan periode tersebut dibayangi beban non-cashdi antaranyaimpairmentdan selisih kurs.

Sekretaris Perusahaan Perusahaan Gas Negara Rachmat Hutama mengatakan, di tengah tantangan bisnis domestik dan global yang sangat dinamis, perseroan mampu meningkatkan pangsa pasar gas bumi melalui penambahan jumlah pelanggan dan perluasan infrastruktur sebagai sub-holdingGas.” ujarnya.

Rachmat mengungkapkan sepanjang semester I/2019 perseroan menyalurkan gas bumi sebanyak 2.938 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD).

Secara detail, volume gas distribusi 932 BBTUD dan volume transmisi gas bumi 2.006 BBTUD. Jumlah pelanggan yang dilayani perseroan lebih dari 350.000.

Cakupan infrastruktur pipa gas bumi sepanjang lebih dari 10.000 kilometer (km) termasuk jaringan gas untuk melayani sektor rumah tangga sepanjang lebih dari 3.800 km.

Lebih lanjut Dia menyatakan PGN akan terus membangun dan memperluas infrastruktur gas bumi. Hal itu sejalan dengan tingginya kebutuhan energi di dalam negeri yang menjadi peluang bagi perseroan untuk mengoptimalkan penggunaan gas bumi di berbagai daerah.

“Kebutuhan energi di dalam negeri yang semakin besar menjadi tantangan bagi PGN untuk menyediakan gas bumi yang akan menciptakan multiplier effect luas bagi sektor industri dan ekonomi nasional.

Infrastruktur akan tetap menjadi fokus PGN untuk mengalirkan gas bumi dari hulu hingga ke konsumen,” imbuhnya.(red)

Advertisement

Ekonomi Global

Minyak Terus Menguat Didorong Ketakutan Seputar Pasokan Saudi

Published

on

Finroll.com — Karena berlarutnya kekhawatiran atas pasokan global, minyak dunia terus menguat, Senin, setelah melambung hampir 7% pekan lalu, setelah serangan 14 September terhadap fasilitas minyak Saudi mengimbangi prospek untuk pemulihan lebih cepat dari perkiraan output  Kerajaan itu dan tanda-tanda perlambatan ekonomi Eropa.

Menurut sumber, yang memberikan penjelasan singkat tentang perkembangan terbaru dalam serangan terhadap fasilitas minyak Saudi, kepada Reuters. Arab Saudi memulihkan sekitar 75% dari produksi minyak mentah yang hilang dalam serangan yang melumpuhkan 5,7 juta barel per hari, atau lebih dari setengah produksi minyak Kerajaan itu.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 40 sen menjadi USD64,68 per barel, sementara patokan Amerika Serikat, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), meningkat 0,95% untuk menetap di posisi USD58,64 per barel.

Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates mengatakan, “Meski pasar relatif tenang dalam sesi baru-baru ini, kami masih merasa bahwa itu telah melayang ke kisaran perdagangan yang baru dan lebih tinggi mengingat hilangnya produksi Saudi yang telah berkembang, dan kebutuhan untuk premi risiko yang cukup besar untuk memperhitungkan kemungkinan bahwa serangan  drone  lainnya bisa saja terjadi lagi,” katanya di Galena, Illinois.

Survei yang menunjukkan pertumbuhan bisnis zona euro terhenti pada bulan ini, terseret oleh penyusutan aktivitas di Jerman di mana resesi manufaktur di luar dugaan semakin dalam, juga membebani minyak dan pasar lainnya seperti ekuitas.

“Harga minyak mengikuti pasar Eropa yang lebih rendah…dimengerti terpukul oleh data manufaktur menyedihkan dari blok itu dan implikasinya untuk pertumbuhan dan permintaan global,” kata Craig Erlam, analis OANDA.

Namun, Brent masih meningkat lebih dari 19% tahun ini, dibantu oleh pakta pembatasan pasokan yang dipimpin Organisasi Negara Eksportir Minyak, meski kekhawatiran tentang melambatnya pertumbuhan ekonomi membatasi penguatannya.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak serangan terhadap Saudi. Pentagon memerintahkan pasukan tambahan AS untuk dikerahkan ke kawasan Teluk guna memperkuat pertahanan udara dan rudal Arab Saudi.

Inggris yakin Iran bertanggung jawab atas serangan itu dan akan bekerja sama dengan Amerika Serikat dan sekutu Eropa dalam tanggapan bersama, kata Perdana Menteri Boris Johnson. Amerika Serikat dan Arab Saudi juga menyalahkan Iran, yang menyangkal bertanggung jawab.

Serangan Saudi itu memfokuskan kembali perhatian investor pada prospek gangguan pasokan di produsen OPEC lainnya. Investor kurang peduli tentang risiko pasokan karena persediaan yang mencukupi.(red)

Continue Reading

Ekonomi Global

Maaf Pak Jokowi, tapi Pasar Saham Vietnam juga Lebih Seksi!

Published

on

By

Finroll.com – Vietnam menjadi perbincangan hangat di kalangan pemerintah dalam beberapa waktu terakhir. Pasalnya, Indonesia sama sekali tak menjadi tujuan relokasi dari pabrik-pabrik yang sebelumnya beroperasi di China.

Untuk diketahui, belakangan pabrik-pabrik yang sebelumnya beroperasi di China banyak melakukan relokasi guna menghindari bea masuk nan-mencekik yang dikenakan oleh AS. Perang dagang antardua negara dengan nilai perekonomian terbesar di planet bumi ini sudah berlangsung selama lebih dari satu setengah tahun.

Kekesalan terkait hal tersebut diungkapkan sendiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Dari investor-investor yang kita temui, dan catatan yang disampaikan Bank Dunia (World Bank) kepada kita, dua bulan yang lalu ada 33 perusahaan di Tiongkok keluar, 23 memilih Vietnam, 10 lainnya pergi ke Malaysia, Thailand, Kamboja. Nggak ada yang ke kita,” tegas Jokowi belum lama ini di hadapan para menteri Kabinet Kerja kala membuka rapat terbatas mengenai perkembangan ekonomi dunia.

Berbagai faktor menjadi penghambat yang membuat Indonesia harus kalah telak dari Vietnam dalam urusan menarik minat investor asing untuk menanamkan modalnya secara riil (membangun pabrik), seperti tingkat pajak korporasi yang relatif tinggi dan proses perizinan yang memakan waktu sangat lama.

Tak hanya tahun ini, sudah sedari tahun 2017 Indonesia kalah telak dari Vietnam untuk urusan tarik-menarik dana investor asing ke sektor riil.

Pada tahun 2017, Jokowi menyebut bahwa ada sekitar 73 perusahaan Jepang yang akan merelokasi bisnisnya ke sejumlah negara-negara berkembang. Namun, porsi yang bisa diraup oleh Indonesia sangatlah kecil.

“Jadi 73 perusahaan, 43 ke Vietnam, 11 ke Thailand, ke Filipina, berikutnya 10 ke Indonesia. Sekali lagi masalah itu ada di internal kita sendiri. Agar kunci kita keluar dari perlambatan ekonomi global itu ada di situ,” tegasnya.

Ternyata, bukan hanya dalam urusan tarik-menarik investor asing ke sektor riil Indonesia kalah seksi dari Vietnam. Berbicara mengenai pasar saham pun, Indonesia juga kalah seksi dari Vietnam.

Melansir data yang dipublikasikan oleh Ho Chi Minh City Securities Trading Center, sepanjang tahun 2019 (hingga penutupan perdagangan tanggal 5 September), investor asing mencatatkan beli bersih senilai VND 365,4 juta (dong vietnam) di pasar saham Vietnam atau setara dengan Rp 222 juta (asumsi kurs VND = 0,61 rupiah).

Kecil sih, tapi coba tengok dulu dengan yang terjadi di Indonesia. Memang, dalam periode yang sama pasar saham Indonesia berhasil menarik dana investor asing senilai Rp 57,3 triliun, melansir data yang dipublikasikan RTI.

Namun, aksi beli investor asing tersebut banyak didominasi oleh transaksi di pasar negosiasi, seiring dengan aksi akuisisi dengan nilai jumbo yang dilakukan oleh perusahaan asing terhadap perusahaan-perusahaan terbuka di Tanah Air.

Pada awal tahun ini, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) selaku bank kedua terbesar di Jepang merampungkan akuisisi atas saham PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN), yakni dengan mengambil alih 3,33 miliar unit saham BTPN atau setara dengan 56,92% dari total saham BTPN yang tercatat. Nilai dari transaksi yang dieksekusi di pasar negosiasi ini mencapai Rp 14,28 triliun dan kemudian tercatat sebagai beli bersih investor asing di pasar saham Indonesia.

Lebih jumbo lagi, pada April 2019 ada akuisisi PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dan PT Bank Nasional Parahyangan Tbk (BBNP) oleh Mitsubishi UFJ Financial Group selaku bank terbesar di Jepang yang nilainya mencapai lebih dari Rp 52 triliun. Transaksi tersebut kembali dieksekusi di pasar negosiasi dan dicatat sebagai beli bersih investor asing di pasar saham Indonesia.

Nah, guna mengeliminasi transaksi investor asing di pasar negosiasi tersebut, kita bisa menggunakan data transaksi investor asing di pasar reguler. Hasilnya, sepanjang tahun ini investor asing membukukan jual bersih senilai Rp 10,5 triliun.

Lantas, walau hanya mencatatkan beli bersih dari investor asing sekitar Rp 200 juta, pasar saham Vietnam jelas dianggap lebih seksi ketimbang Indonesia.

Ingat, transaksi di pasar negosiasi tak mempengaruhi harga saham yang terlibat dalam transaksi tersebut, sehingga kinerja indeks saham juga tidak akan terpengaruh. Oleh karena itu, walau investor asing mencatatkan beli bersih yang begitu besar di pasar negosiasi, kinerja IHSG cenderung loyo di sepanjang tahun 2019.

Sepanjang tahun 2019, seiring dengan kehadiran aliran modal investor asing yang masuk ke Vietnam, VN-Index selaku indeks saham utama di sana membukukan imbal hasil sebesar 9,44%, kedua tertinggi jika dibandingkan dengan imbal hasil dari indeks saham utama negara-negara kawasan Asia lainnya. VN-Index hanya kalah dari indeks Shanghai yang merupakan indeks saham utama di China.

Sementara itu, seiring dengan aksi jual investor asing di pasar reguler (yang mempengaruhi harga saham), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selaku indeks saham utama di Indonesia hanya membukukan penguatan tipis sebesar 1,81% pada tahun ini.

Bahkan, IHSG sempat memberikan imbal hasil negatif (secara kumulatif) pada tahun 2019, salah satunya dalam periode 13 Mei hingga 30 Mei. Sementara untuk VN-Index, walau sempat tergelincir pada awal tahun, kinerjanya selepas itu terbilang sangat-sangat oke.

Continue Reading

Ekonomi Global

Jokowi : Indonesia Perlu “Payung” Untuk Antisipasi Kemungkinan Dunia Alami Resesi

Published

on

Finroll.com — Indonesia harus menyiapkan “payung” mengantisipasi perkembangan ekonomi global yang telah mengalami perlambatan dan makin besarnya kemungkinan dunia mengalami resesi,” ungkap Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan.

“Kalau hujannya besar, kita nggak kehujanan. Kalau gerimis kita ya nggak kehujanan, syukur nggak ada hujan dan nggak ada gerimis, tapi angka-angka menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi global sudah mengalami perlambatan dan kemungkinan resesi akan semakin besar,” kata Presiden Jokowi saat memimpin rapat terbatas (ratas) membahas antisipasi perkembangan perekonomian dunia di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (4/9/2019).

Jokowi mencontohkan depresiasi mata uang Yuan China dan Peso Philipina sudah terjadi akibat perlambatan ekonomi global.

Seperti dilansir dari Antara, “Tantangan itu harus kita antisipasi, kita hadapi, dan kita harapkan langkah-langkah antisipatif sudah benar-benar secara konkret,” kata Presiden Jokowi.

Presiden berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia terhindar dari resesi yang potensinya semakin besar ini.

Lebih lanjut Presiden Jokowi mengatakan jalan yang paling cepat menghadapi perlambatan ekonomi global adalah investasi. “Kuncinya hanya ada di situ nggak ada yang lain,” katanya.

Untuk itu Presiden Jokowi minta seluruh kementerian yang berkaitan dengan ekonomi menginventarisir regulasi-regulasi yang menghambat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

“Regulasi-regulasi yang membuat kita lamban itu betul-betul mulai diinventarisir dan nanti seminggu lagi kita akan bicara mengenai masalah bagaimana segera menyederhanakan peraturan-peraturan yang menghambat dan memperlambat itu,” katanya.

Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa informasi dari investor-investor yang ditemui dan catatan yang disampaikan oleh Bank dunia ada masalah internal dalam negeri yang menghambat investasi Indonesia.

Presiden mencontohkan pada dua bulan yang lalu ada 33 perusahaan di China keluar dan 23 memilih di Vietnam dan10 lainnya perginya ke Malaysia, Thailand, dan Kamboja.

“Nggak ada yang ke kita, tolong ini digarisbawahi. Ini berarti kita memiliki persoalan yang harus kita selesaikan,” katanya.

Jokowi mengungkapkan kekalahan dari Vietnam karena negara tersebut hanya butuh dua bulan untuk mengurus investasi yang masuk dan ini berbeda dengan di Indonesia yang butuh waktu bertahun-tahun.

“Kalau mau pindah ke Vietnam itu hanya butuh waktu dua bulan rampung semuanya, kita bisa bertahun-tahun. Penyebabnya itu nggak ada yang lain,” jelasnya.

Untuk itu, Presiden meminta mengumpulkan regulasi-regulasi itu arahnya untuk mempersingkat waktu izin investasi masuk.

“Sekali lagi, masalah itu ada di internal kita sendiri, ada kunci kita keluar dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global ada di situ.

Dan itu bisa memayungi kita dari kemungkinan resesi yang global yang semakin besar, itu juga ada di situ,” kata Presiden Jokowi.(red)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending