Connect with us

Entertainment

Berikut Para Pemenang Penghargaan Grammy Awards 2019

Published

on


Grammy Awards 2019 telah usai digelar di Staples Center, Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (10/2/2019) malam waktu setempat.

Finroll.com – Sederet musisi kelas dunia bersaing untuk dapat membawa pulang piala bergengsi itu. Total ada 44 piala yang diperebutkan di ajang Grammy Awards 2019 yang ke-61 itu.

Grammy Awards 2019

Salah satu penyanyi papan atas yang berhasil menyabet lebih dari satu piala, yakni Lady Gaga. Gagapun berhasil menyabet 3 piala sekaligus diajang ini.

Tiga piala yang didapat Lady Gaga yaitu Best song written for visual media untuk singel “Shallow”, Best pop solo performance untuk “Joanne (Where Do You Think You’re Goin’?)”,  dan Best Pop Duo/Group Performance untuk “Shallow”.

Selain Gaga, ada Dua Lipa yang berhasil membawa piala Grammy pertama dalam hidupnya. Dua Lipa memenangkan lewat lagu ‘Electricity’ dalam kategori Best Dance Recording di Grammy Awards 2019.

Sayang, Dua Lipa tak bisa menerima penghormatan secara langsung karena sedang menyiapkan aksinya.

Hal yang manarik lainnya di ajang Grammy Awards 2019 adalah Childish Gambino, ia telah berhasil memenangkan nominasi di kategori ‘Best Music Video’ berkat lagu ‘This is America’.

Lagu yang cukup kontroversial di Amerika Serikat tersebut juga berhasil membawa pemilik nama lengkap Donald Glover itu membawa pulang penghargaan dalam nominasi ‘Best Rap/Sung Performance’.

Tak ketinggalan penyanyi centil nan imut Ariana Grande yang sukses menyabet kemenangan sebagai Album Vokal Pop Terbaik untuk Sweetener.

Ariana berhasil mengalahkan para pesaingnya yang tak biasa dianggap sepele seperti Camila Cabello (Camila), Kelly Clarkson (Meaning Of Life), Shawn Mendes (Shawn Mendes), P1nk (‘Beautiful Trauma) dan Taylor Swift (Reputation).

Lalu, siapa saja musisi yang berhasil meraih penghargaan Grammy Awadrs 2019 ini? Berikut daftar lengkap pemenangnya :

Song of the Year
“This Is America” — Donald Glover and Ludwig Goransson, songwriters (Childish Gambino)

Best Pop Solo Performance
“Joanne (Where Do You Think You’re Goin’?)” — Lady Gaga

Best Pop Duo/Group Performance
“Shallow” — Lady Gaga and Bradley Cooper

Best Pop Vocal Album
“Sweetener” — Ariana Grande

Best Rock Performance
“When Bad Does Good” — Chris Cornell

Best Rock Song
“Masseduction” — Jack Antonoff and Annie Clark, songwriters (St. Vincent)

Best Rock Album
“From the Fires” — Greta Van Fleet

Best Alternative Music Album
“Colors” — Beck

Best R&B Performance
“Best Part” — H.E.R. featuring Daniel Caesar

Best Urban Contemporary Album
“Everything Is Love” — The Carters

Best Rap Performance
“King’s Dead” — Kendrick Lamar, Jay Rock, Future and James Blake and
“Bubblin” — Anderson .Paak

Best Country Solo Performance
“Butterflies” — Kacey Musgraves

Best Jazz Instrumental Album
“Emanon” — The Wayne Shorter Quartet

Best Latin Pop Album
“Sincera” — Claudia Brant

Best Latin Rock, Urban or Alternative Album
“Aztlán” — Zoe

Best Americana Album
“By the Way, I Forgive You” — Brandi Carlile

Best Song Written for Visual Media
“Shallow” — Lady Gaga, Mark Ronson, Anthony Rossomando and Andrew Wyatt, songwriters (Lady Gaga and Bradley Cooper)

Producer of the Year, Non-Classical
Pharrell Williams

Best Music Video
“This Is America” — Childish Gambino

Best Comedy Album
“Equanimity & the Bird Revelation” — Dave Chappelle

Best Musical Theater Album
“The Band’s Visit” — Etai Benson, Adam Kantor, Katrina Lenk and Ari’el Stachel, principal soloists; Dean Sharenow and David Yazbek, producers; David Yazbek, composer and lyricist

Best Instrumental Composition
“Blut Und Boden (Blood and Soil)” — Terence Blanchard

Best Arrangement, Instrumental or A Cappella
“Stars and Stripes Forever” — John Daversa

Best Arrangement, Instruments and Vocals
“Spiderman Theme” — Mark Kibble, Randy Waldman and Justin Wilson, arrangers

Best Recording Package
“Masseduction” — Willo Perron, art director

Best Boxed or Special Limited Edition Package
“Squeeze Box: The Complete Works of ‘Weird Al’ Yankovic” — Meghan Foley, Annie Stoll and Al Yankovic, art directors

Best Album Notes
“Voices of Mississippi: Artists and Musicians Documented by William Ferris” — David Evans, album notes writer

Best Historical Album
“Voices of Mississippi: Artists and Musicians Documented by William Ferris” — William Ferris, April Ledbetter and Steven Lance Ledbetter, compilation producers; Michael Graves, mastering engineer

Best Engineered Album, Non-Classical
“Colors” — Julian Burg, Serban Ghenea, David “Elevator” Greenbaum, John Hanes, Beck Hansen, Greg Kurstin, Florian Lagatta, Cole M.G.N., Alex Pasco, Jesse Shatkin, Darrell Thorp and Cassidy Turbin, engineers; Chris Bellman, Tom Coyne, Emily Lazar and Randy Merrill, mastering engineers

Best Remixed Recording
“Walking Away (Mura Masa remix)” — Alex Crossan, remixer

Best Immersive Audio Album
“Eye in the Sky – 35th Anniversary Edition” — Alan Parsons, surround mix engineer; Dave Donnelly, P.J. Olsson and Alan Parsons, surround mastering engineers; Alan Parsons, surround producer

Best Contemporary Instrumental Album
“Steve Gadd Band” — Steve Gadd

Band Best Gospel Performance/Song
“Never Alone” — Tori Kelly featuring Kirk Franklin; Kirk Franklin and Victoria Kelly, songwriters

Best Contemporary Christian Music Performance/Song
“You Say” — Lauren Daigle; Lauren Daigle, Jason Ingram and Paul Mabury, songwriters

Best Gospel Album
“Hiding Place” — Tori Kelly

Best Contemporary Christian Music Album
“Look Up Child” — Lauren Daigle

Best Roots Gospel Album
“Unexpected” — Jason Crabb

Best World Music Album
“Freedom” — Soweto Gospel Choir

Best Compilation Soundtrack for Visual Media
“The Greatest Showman” — Hugh Jackman (and Various Artists); Alex Lacamoire, Benj Pasek, Justin Paul and Greg Wells, compilation producers

Best Score Soundtrack for Visual Media
“Black Panther” — Ludwig Göransson, composer

Best New Age Album
“Opium Moon” — Opium Moon

Best American Roots Performance
“The Joke” — Brandi Carlile

Best American Roots Song
“The Joke” — Brandi Carlile, Dave Cobb, Phil Hanseroth and Tim Hanseroth, songwriters

Best Bluegrass Album
“The Travelin’ Mccourys” — The Travelin’ Mccourys

Best Traditional Blues Album
“The Blues Is Alive and Well” — Buddy Guy

Best Contemporary Blues Album
“Please Don’t Be Dead” — Fantastic Negrito

Best Folk Album
“All Ashore” — Punch Brothers

Best Children’s Album
“All the Sounds” — Lucy Kalantari & the Jazz Cats

Best Spoken Word Album (Includes Poetry, Audio Books and Storytelling)
“Faith – A Journey for All” — Jimmy Carter

Best Regional Mexican Music Album (Including Tejano)
“¡México Por Siempre!” — Luis Miguel

Best Tropical Latin Album
“Anniversary” — Spanish Harlem Orchestra

Best Regional Roots Music Album
“No ‘Ane’i” — Kalani Pe’a

Best Music Film
“Quincy” — Quincy Jones; Alan Hicks and Rashida Jones, video directors; Paula Dupré Pesmen, video producer

Best Country Duo/Group Performance
“Tequila” — Dan + Shay

Best Country Song
“Space Cowboy” — Luke Laird, Shane Mcanally and Kacey Musgraves, songwriters

Best Traditional Pop Vocal Album
“My Way” — Willie Nelson

Best Engineered Album, Classical
“Shostakovich: Symphonies Nos. 4 & 11” — Shawn Murphy and Nick Squire, engineers; Tim Martyn, mastering engineer

Producer of the Year, Classical
Blanton Alspaugh

Best Orchestral Performance
“Shostakovich: Symphonies Nos. 4 & 11” — Andris Nelsons, conductor

Best Opera Recording
“Bates: The (R)evolution of Steve Jobs” — Michael Christie, conductor; Sasha Cooke, Jessica E. Jones, Edward Parks, Garrett Sorenson and Wei Wu; Elizabeth Ostrow, producer

Best Choral Performance
“Mcloskey: Zealot Canticles” — Donald Nally, conductor

Best Chamber Music/Small Ensemble Performance
“Anderson, Laurie: Landfall” — Laurie Anderson and Kronos Quartet

Best Classical Instrumental Solo
“Kernis: Violin Concerto” — James Ehnes; Ludovic Morlot, conductor

Best Classical Solo Vocal Album
“Songs of Orpheus – Monteverdi, Caccini, D’india & Landi” — Karim Sulayman; Jeannette Sorrell, conductor; Apollo’s Fire, ensembles

Entertainment

Gundala, Era Baru Superhero Tanah Air

Published

on

By

Finroll.com – Bioskop-bioskop di Tanah Air harus mulai bersiap diramaikan dengan film pahlawan super edisi lokal. Setelah sekian lama memampang poster dan film-film adiwira alias superhero rekaan Hollywood, sebentar lagi akan dimulai gelombang serbuan para jagoan dari dalam negeri.

Pada Ahad (18/8), sehari selepas perayaan HUT ke-74 Republik Indonesia, Jagat Sinema Bumilangit Jilid I diluncurkan. Ini seperti satu seri panjang superhero made in Indonesia. Dalam jadwal, mereka bakal dibuat tujuh film adiwira yang akan berada dalam jalinan film yang berada di dalam satu cerita.

Jagat Sinema Bumilangit dibuka dengan Patriot pertama, yaitu Gundala, yang filmnya akan tayang pada 29 Agustus 2019. Film besutan sutradara Joko Anwar ini berdasarkan komik Gundala Putera Petir yang digarap Harya Suraminata (Hasmi).

Ini bukan film Gundala yang pertama. Sebab, pada 1981 pun sudah tayang film serupa dengan judul Gundala Putra Petir. Kala itu film Gundala dibintangi oleh Teddy Purba dan disutradari oleh Lilik Sudijo. Film ini bukan kelanjutan maupun awal dari film tersebut. Djoko Anwar dan timnya membangun Gundala dari awal lagi dengan konteks kekinian.

Film ini diproduksi oleh Screenplay Films, Legacy Pictures, bekerja sama dengan pemilik hak cipta Gundala, Bumilangit Studios. Bumilangit Studios yang berdiri sejak tahun 2003 telah mengelola sekitar 1.000 lebih karakter ciptaan komikus legendaris Indonesia. Filmnya akan bercerita tentang Sancaka (Abimana Aryasatya), anak jalanan yang dikaruniai kekuatan super.

Jagat Bumilangit akan dimulai sejak Letusan Toba ribuan tahun lalu. Jagat itu terbagi atas empat era, yaitu Era Legenda, Era Jawara, Era Patriot, dan Era Revolusi. Era Jawara adalah eranya para pendekar di masa kerajaan nusantara. Jagat Jawara memiliki 500 karakter dengan 50 judul komiknya yang telah diterbitkan, di antaranya Si Buta Dari Gua Hantu dan Mandala.

Sedangkan, Era Patriot adalah eranya para jagoan. Mereka ada pada masa saat ini, terdiri atas 700 karakter dan 110 judul komik yang telah diterbitkan dan dijual. Sepanjang sejarahnya, komik-komik ini telah terjual lebih dari 2 juta eksemplar dan dibaca oleh lebih dari 10 juta orang. Karakter-karakter terkemuka yang termasuk di dalamnya adalah Gundala, Sri Asih (adiwira pertama Indonesia yang diciptakan pada 1954), Godam, Tira, Sembrani, dan masih banyak lagi lainnya.

Aktor dan aktris Indonesia papan dipastikan terlibat di Jagat Sinema Bumilangit. Di antaranya Abimana Aryasatya yang berperan sebagai Gundala dan Pevita Pearce sebagai Sri Asih yang digadang-gadang menjadi film kedua setelah Gundala.

Selain itu, ada Chicco Jerikho sebagai Godam, Chelsea Islan sebagai Tira, Tara Basro sebagai Merpati, Asmara Abigail sebagai Desti Nikita, Hannah Al Rashid sebagai Camar, Kelly Tandiono sebagai Bidadari Mata Elang, Joe Taslim sebagai Mandala, Della Dartyan sebagai Nila Umaya, Ario Bayu sebagai Ghani Zulham, Dian Sastrowardoyo sebagai Dewi Api, Nicholas Saputra sebagai Aquanus, dan lainnya.

“Bila film-film superhero Hollywood berhasil merajai perfilman nasional, maka saya berharap sudah waktunya film-film superhero Indonesia dapat diterima dengan baik di negeri sendiri, bahkan bila memungkinkan di negara lain.” ujar Erick Thohir, salah satu executive producer Jagat Sinema Bumilangit dalam keterangan pers yang diterima Republika, Ahad (18/8).

Menurut dia, film-film Jagat Sinema sudah melalui riset bertahun-tahun, disesuaikan dengan cerita yang sudah lama ada di bumi Indonesia, dipadukan dengan teknologi terkini. “Semoga karya Jagat Sinema Bumilangit dapat diterima, diapresiasi, dan didukung masyarakat Indonesia,” kata Erick.

Saga adiwira

Jagat adiwira dalam perfilman internasional dikapitalisasi oleh perusahaan Disney yang membeli hak untuk banyak tokoh komik Marvel belakangan, seperti Iron Man, Thor, Captain America, Hulk, Black Widow, Hawkeye, Ant Man, dan Black Panther. Sebanyak 23 film yang saling terkait telah diproduksi sejak 2008 hingga 2019. Dengan biaya pembuatan sekitar 4,5 miliar dolar AS, keuntungan dari film-film itu mencapai 22,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 315 triliun.

Film-film adiwira tersebut mengadaptasi tokoh-tokoh komik yang mula-mula muncul di Amerika Serikat pada 1930-an. Fenomena komik adiwira itu dimulai para imigran Yahudi, Joe Shuster dan Jerry Siegel, yang menciptakan tokoh Superman pada 1938 dan kemudian memulai DC Comics. Menyusul kemudian Stan Lee dan Jack Kirby, keduanya juga merupakan pemuda-pemuda imigran Yahudi yang menciptakan Fantastic Four, Iron Man, X-Men, dan banyak lagi adiwira Marvel Comic lainnya.

Di Indonesia, tren komik-komik adiwira dipelopori RA Kosasih yang menggambar tokoh komik Sri Asih pada 1954. Film adiwira pertama juga menampilkan Sri Asih yang diperankan Mimi Mariani dan disutradarai Turino Djunaedy pada tahun yang sama. Film adiwira Indonesia selanjutnya adalah Rama: Superman Indonesia yang dilansir pada 1974.

Komik adiwira Tanah Air mulai kencang berkibar pada 1968, dipelopori Hasmi dan Widodo NS yang menggambar para adiwira, seperti Gundala Putra Petir, Godam, Aquanus, Merpati, dan Kalong. Para adiwira itu sekilas mirip dengan adiwira Amerika Serikat. Gundala, misalnya, punya kemiripan dengan the Flash dan Shazam dari DC Comics, sedangkan Godam mirip dengan Thor dari Marvel Comics. Selain adiwira-adiwira modern, kala itu populer juga tokoh komik silat seperti si Buta dari Gua Hantu.

Beberapa dari tokoh-tokoh tersebut sempat juga difilmkan. Di antaranya Gundala Putra Petir (1981) dan Si Buta dari Gua Hantu (1970). Selepas itu, pada pertengahan 1980-an hingga akhir 1990-an, film-film adiwira dan film-film berkualitas secara umum kian jarang diproduksi di Tanah Air.

Terlepas dari komiknya, sempat muncul film Darna Ajaib (1980) diperankan Lydia Kandaw yang mirip dengan adiwira Wonder Woman di AS. Trio komedian Dono, Kasino, dan Indro pun tak ketinggalan dalam film adiwira kocak Manusia Enam Juta Dollar (1981) yang juga merupakan bikin ulang dari serial Hollywood The Six Million Dollar Man.

Pada pergantian abad, di layar kaca televisi sempat populer “Panji Manusia Milenium” dan “Saras 008” dengan kualitas sinema yang bisa dibilang pas-pasan. Masuk ke dekade kedua tahun 2000, beberapa sineas muda mulai berani bereksperimen dengan tema adiwira ini. Pada 2015 muncul film Garuda Superhero yang merupakan hasil kerja sama Indonesia-India.

Kemudian, tahun lalu muncul film adiwira hawa Valentine yang napasnya hanya sejenak di layar bioskop. Valentine berusaha mengikuti jejak film Hollywood Kickass 1 dan Kickass 2 yang berupaya mereformulasi adiwira anak muda di sana.

Jagoan lokal

Creative Producer Jagat Sinema Bumilangit Jilid I sekaligus sutradara Gundala Joko Anwar menekankan, ia tidak sedang membuat film adiwira layaknya Marvel Cinematic Universe (MCU) dan DC Extended Universe (DCEU). “Kita bikin film jagoan dari komik Indonesia dan tahun 1954. Kalau Marvel, baru-baru ini saja. Kita sudah lama, sebetulnya,” ujar Joko Anwar di Plaza Senayan, kemarin.

Film-film yang masuk dalam Jagat Sinema Bumilangit nantinya, seperti Gundala, Sri Asih, Godam dan Tira, Si Buta dari Gua Hantu, Patriot Taruna, Mandala, Gundala Putra Petir, dan Patriot, kata dia, akan memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan adiwira mancanegara.

Latar belakang cerita akan sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini, kegelisahan, dan topik yang sedang dihadapi oleh rakyat Indonesia. “Di luar, Marvel sama DC enggak ada (ciri khas itu), berantem (terus). Makan mi ayam enggak ada,” kata dia.

Selain itu, pria kelahiran Medan, 3 Januari 1976, ini mengaku ingin menjadikan Jagat Sinema Bumilangit ini sebagai showcase untuk talenta-talenta terbaik Indonesia, baik di depan maupun di belakang kamera. “Jadi, selain harus cocok dengan karakternya, juga harus punya skill yang tinggi,” ujar Joko.

Production Manager Bumilangit Studios Imansyah Lubis sebelumnya mengatakan, memang masih terlalu awal untuk bisa menandingi film garapan Marvel Studio. “Masih terlalu dini kalau bilang bisa menyaingi pendapatan Avengers: Endgame, tapi kita sudah berusaha bikin film sebaik-baiknya. Semoga Gundala disukai dan ini baru awalnya,” kata Imansyah.

Continue Reading

Entertainment

Makna Foto Emily Ratajkowski Pamer Bulu Ketiak

Published

on

By

Finroll.com –  Ada yang berbeda dalam tampilan Emily Ratajkowski di majalah Harper’s Bazaar AS edisi September mendatang. Dengan berani, ia berpose mengenakan bra berenda hitam dengan tangan di belakang kepala sambil memamerkan bulu ketiaknya.

Pose tersebut bukanlah sembarang pose. Tampilannya ini disertai dengan esai pribadi Emily yang membahas perlakuan masyarakat tentang seksualitas perempuan dan makna menjadi perempuan feminin. Model berusia 28 tahun itu ingin perempuan bisa menjadi apa yang dipilihnya tanpa mendapat penghakiman dari masyarakat.

“Apa artinya menjadi seorang perempuan yang dipengaruhi budaya misoginis? Saya yakin, cara saya untuk menjadi seksi masih dipengaruhi budaya misoginis. Tapi rasanya menyenangkan bagi saya dan ini pilihan saya, kan?” tulisnya di Harper’s Bazaar.

Salah satu alasan Emily tak ingin mencukur bulu ketiaknya adalah karena ia merasa seksi. Meskipun banyak pemikiran yang menganggap bahwa perempuan lebih seksi ketika tidak ada bulu ketiak, tetapi pemeran serial tv ‘Easy’ ini justru merasa nyaman dan percaya diri. Menurutnya, mencukur bulu ketiak atau tidak itu adalah hak siapapun dan tidak perlu ada orang yang mengomentari pilihannya.

“Bagi saya, perempuan punya kesempatan memilih untuk mempunyai rambut halus di tubuhnya atau tidak, berdasarkan keinginan mereka sendiri. Pada hari tertentu, saya suka mencukur. Namun terkadang membiarkan bulu di tubuh saya tumbuh membuat saya merasa seksi,” lanjutnya lagi.

Bahkan Emily Ratajkowski tidak peduli jika ia akan dianggap contoh feminis yang buruk karena pilihannya itu. Ia pun meminjam kata dari Roxane Gray, seorang penulis Amerika Serikat dengan penjualan novel terbaik berjudul ‘Bad Feminist’.
“Selama keputusan itu adalah pilihan saya, maka itu adalah pilihan yang tepat. Pada akhirnya, identitas dan seksualitas seseorang tergantung pada mereka dan bukan orang lain.”

Dalam tulisan esai untuk Harper’s Bazaar ini, Emily ingin menegaskan bahwa perempuan bisa memakai apa saja yang menjadi dirinya sendiri seperti yang mereka inginkan, entah itu dalam balutan burqa atau bikini.

“Saya merasa kuat ketika menjadi diri sendiri, terkadang merasa ingin mengenakan rok mini. Terkadang pula ingin mengenakan hoodie besar dan celana training. Terkadang saya merasa sangat kuat dan bebas ketika saya memakai bra dan tank top,” katanya lagi.

Emily menambahkan, “Di era selfie dan media sosial, perempuan cenderung mendapat umpan balik dan kritik langsung. Mereka menjadi ragu dan mempertanyakan identitas mereka. Satu hal yang dapat mereka miliki adalah pilihan mereka sendiri. Berikan perempuan kesempatan untuk menjadi apapun yang mereka inginkan sebanyak mungkin,” tutupnya.

Ladies, setuju dengan pernyataan Emily Ratajkowski?

Continue Reading

Entertainment

Usir Singa Gunung dengan Lagu Metallica

Published

on

By

Finroll.com –  Akhir Juli lalu, seorang wanita bernama Dee Galant dikabarkan berhasil mengusir seekor singa gunung, atau puma, dengan memutar lagu Metallica. Berita unik ini rupanya sampai ke telinga sang vokalis, James Hetfield.

Untuk diketahui, Galant pada 28 Juli lalu diadang oleh seekor puma saat ia sedang berjalan-jalan bersama anjingnya di sebuah kawasan kota Vancouver, Kanada. Ketimbang kabur melarikan diri, Galant malah memutar lagu Metallica yang berjudul ‘Don’t Tread on Me’ lewat ponselnya. Lucunya, sang puma langsung minggat setelah mendengar lagu itu.

Kejadian tersebut pun tentunya sangat berkesan buat Galant. Kepada para wartawan yang mewawancarainya, Galant berharap bahwa satu saat ia bisa berterima kasih langsung kepada Metallica, khususnya Hetfield. “Aku ingin bilang bahwa lagu mereka sudah menyelamatkan nyawa saya,” kata Galant kala itu.

Keinginan Galant terjawab. Hetfield menghubunginya secara langsung.

Dilansir dari Loudwire, Galant tiba-tiba mendapatkan telepon dari seorang yang mengaku pihak manajemen Metallica. Galant diberi tahu bahwa ia akan dihubungi langsung oleh Metallica pada hari itu.

Benar saja, telepon Galant kembali berbunyi setelah ia mengakhiri pembicaraannya dengan manajemen Metallica. Bisa ditebak, bulu kuduknya langsung bergidik ketika mendengar suara Hetfield di ujung sambungan telepon.

Ia kegirangan bukan main.

“Rasanya seperti mimpi. Aku lebih kaget lagi karena Hetfield ternyata seorang yang sangat baik dan rendah hati. Aku tentu sangat bahagia,” kata Galant.

Kejutan tidak berakhir di situ. Tak lama setelah pembicaraan keduanya berakhir, Galant menerima kiriman foto selfie dari Hetfield.

“Hanya untuk meyakinkanmu bahwa yang menelpon barusan betul-betul aku,” tulis Hetfield setelah mengirim foto tersebut.

Aku betul-betul tidak bisa memercayai hal ini. Aku betul-betul girang sekali. Andai saja ada yang meramalkan hal ini kepadaku ketika aku masih berusia 18 tahun dulu, mungkin aku juga tidak akan percaya,” ujar Galant.

Continue Reading
Advertisement

Trending