Connect with us

Traveling

Bukit Santiong, Destinasi Wisata Baru Pemicu Adrenalin

Published

on


Ada panorama indah di Bukit Santiong. Di sini, wisatawan juga bisa menjalani aktivitas olahraga udara yang memicu adrenalin seperti paralayang dan gantole.

Bukit Santiong terletak di desa Cicadas, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang. Berada di ketinggian 150 meter dan angin terpaan angin, lokasi ini sudah dilirik penggemar aero sport nasional bahkan internasional dalam beberapa bulan terakhir.

“Lokasi ini mulai naik daun sebagai destinasi wisata khususnya bagi pencari sensasi adrenalin dengan olah raga paralayang dan gantole,” kata Kadisparbud Jabar Dedi Taufik saat dihubungi, Senin (7/10/2019).

Dedi, yang sudah mengunjungi langsung Bukit Santiong, menilai bahwa kawasan itu layak digenjot jadi destinasi wisata baru. Bukit Santiong bisa menjadi alternatif penggemar Paralayang selain daerah Buah Dua Sumedang dan Majalengka.

“Saat saya ke sana wisatawan mancanegara nampak menikmati suasana di Bukit Santiong dan menyampaikan bahwa mereka sangat menikmati keindahan alam di sana,” tutur dia.

Menurutnya, Bukit Santiong harus diperkenalkan secara luas ke publik demi memberikan pilihan destinasi wisata bagi turis. Terkait itu, Disparbud Jabar juga akan terus mendorong dan menggali tempat-tempat baru tersebut.

“Kita akan gali terus potensi di daerah selain mengoptimalkan obyek wisata yang sudah ada, kita harus terus memaksimalkan destinasi-destinasi wisata baru yang ada di daerah, sekaligus bukti bahwa Jabar memiliki potensi wisata yang melimpah,” ujar Dedi.

Advertisement

Kuliner

Buat Makan Siang, Ini 5 Tempat Makan Legendaris Jakarta yang Hits

Published

on

By

Bicara tempat makan legendaris, hampir semua orang pasti percaya kalau kulinernya memiliki citarasa lezat yang enggak perlu dipertanyakan lagi. Puluhan tahun didirikan secara turun-temurun, membuat menu makanannya memiliki rasa yang otentik.

Jadi, enggak salah jika makanan legendaris selalu diburu banyak pembeli. Jika kamu juga sedang ngidam makanan legendaris di sekitaran Jakarta, VIVA.co.id sudah merangkum lima di antaranya buat kamu. Intip yuk!

Bubur Kwang Tung

Kuliner legendaris ini terletak di sekitaran Pecenongan. Di sini, kamu bisa mencicipi bubur ala Hong Kong. Buat kamu yang muslim enggak perlu takut, meski berlabel kuliner Tionghoa, restoran ini memberikan jaminan makanan halal. Ditambah, restoran ini buka 24 jam penuh. Kalau mau ke sini jangan sendirian ya, karena dalam setiap penyajiannya, bubur ini bisa dimakan untuk 3-5 orang.

Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih
Jangan ngaku pecinta kuliner kalau belum mencicipi nasi goreng satu ini. Nasi goreng Kebon Sirih sudah jadi langganan orang-orang Jakarta sejak 1958. Meski terletak di pinggir jalan, warung nasi goreng ini enggak pernah sepi pengunjung.

Nasi goreng di sini disajikan secara spesial menggunakan resep turun-temurun. Potongan daging menjadi ciri khas dari setiap sajian nasi goreng di sini. Sebagai tambahan, ada juga menu sate kambing, ayam, dan sate hati kambing. Sesuai namanya, warung nasi goreng ini terletak di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Soto Betawi H. Husein
Ingin makan yang kuah-kuah, coba mampir ke Soto Betawi H. Husein. Tempat makan yang berada di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, ini sudah ada sejak 1988. Warung soto ini sudah terkenal akan kelezatannya, enggak heran kalau tempat ini selalu ramai pengunjung. Uniknya, kuah soto Betawi yang terkenal dibuat dengan santan dicampur dengan susu, sehingga terasa gurih. Ada berbagai menu yang disajikan, antara lain soto daging, soto paru, atau soto campuran daging dan jeroan.

Alamat: Jl. Padang Panjang No. 6C Pasar Manggis Setiabudi Jakarta Selatan DKI Jakarta 8 8, RT.8/RW.8, Ps. Manggis, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12850

Restoran Trio

Restoran Trio berdiri sejak 1957. Bangunannya identik dengan cat berwarna hijau. Menu di sini sangat beragam, total ada 200 makanan. Namun yang paling banyak dipesan pengunjung ada sekitar 40-an makanan. Sebagian besar menu-menunya adalah makanan ala Tiongkok, seperti lumpia udang ala Shanghai, sapi cah kalian, ayam nanking, dan lain-lain.

Warung Tinggi Coffee

Kalau makan beratnya sudah, sekarang giliran ngopi biar enggak ngantuk. Tinggi Coffee dikenal sebagai warung kopi tertua di Jakarta yang didirikan pada 1878. Untuk menemani secangkir kopimu, kamu bisa memesan kue cubit atau kue tradisional lainnya. Tinggi Coffee berada di Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat.

Continue Reading

Traveling

4 Wisata Sejarah Bengkulu yang Perlu Dikunjungi

Published

on

By

Buat Anda yang gemar melancong ke tempat-tempat sejarah, Bengkulu bisa jadi alternatif pilihan Anda. Selain terkenal dengan bunga bangkai Amorphophallus titanum, Bengkulu juga punya ragam wisata sejarah, kelas nasional bahkan internasional.

Obyek-obyek wisata sejarah di Bengkulu sangat potensial dan menarik hati. Sejarah bukan berarti menjadi hal yang harus dilupakan, Anda bisa berwisata sembari mengenal cerita masa lampau di beberapa tempat di Bengkulu ini.

Berikut empat destinasi wisata sejarah di Bengkulu.

Benteng Marlborough

Selama 140 tahun menjajah, Inggris membangun benteng yang disebut terbesar di Asia Tenggara ini guna mengamankan perdagangan rempah-rempah dan kepentingan politik selama di Bengkulu.

Menurut catatan sejarah, benteng Marlborough Bengkulu dibangun pada tahun 1714 sampai dengan 1719 oleh Kerajaan Inggris Raya ketika era pemerintahan Gubernur Jenderal Joseph Collet. Lokasinya berada di tepi Samudera Hindia menghadap ke selatan.

Rumah Bung Karno

Disinilah tempat presiden pertama Indonesia diasingkan, di sebuah rumah di Kelurahan Anggut, Kecamatan Ratu Samban, Bengkulu. Bung Karno diasingkan ke Bengkulu pada 1938-1942, setelah dipindah dari Ende, Flores. Sebuah rumah bergaya lama yang dulunya milik saudagar Tionghoa bernama Tjang Tjeng Kwat itu, kini telah menjelma menjadi wisata sejarah.

Anda bisa menelusuri sejarahnya dari barang-barangnya yang masih terjaga apik, mulai dari kasur, meja dan kursi, hingga sepeda onthelnya. Rumah ini menjadi saksi bisu, romansa kisah cinta segitiga Bung Karno, Ibu Inggit Garnasih dan Ibu Fatmawati.

Rumah Ibu Fatmawati

Rumah ini berbentuk layaknya rumah panggung khas Bengkulu dengan sentuhan ukiran khas Melayu.

Ukurannya tidak terlalu besar, hanya terdiri dari beranda, ruang tamu, dua kamar tidur dan sebuah kamar mandi.

Di ruang tamu terpajang foto-foto Fatmawati bersama Bung Karno dan anak-anak mereka. Di sini juga masih terdapat alat-alat peninggalan Fatmawati, salah satunya mesin jahit yang dipakai menjahit Sang Saka Merah Putih dari dua helai selendang.

Makam Inggris Jitra

Kompleks makam keluarga Inggris ini tidak begitu jauh dari Benteng Marlborough maupun Lapangan Merdeka, tepatnya di Kelurahan Jitra, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Menurut Plt Bupati Bengkulu Rohidin Mersyah, makam ini masih ada kaitannya dengan Benteng Marlborough.

Menurut catatan sejarah, makam Inggris Bengkulu sudah ada sejak tahun 1775. Pengelolaannya di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi. Dulunya, ada lebih dari 100 nisan di sini, namun, sekarang tinggal tersisa 53 nisan saja karena adanya pembangunan di sekitar kompleks makam.

Continue Reading

Traveling

Traveling ke Wenara Wana, Hutan Suci Suaka Bagi Monyet

Published

on

By

Wenara Wana dianggap sebagai hutan suci bagi ratusan monyet. Kala monyet dianggap hama di wilayah lain di Bali, mereka justru sangat aman di hutan suci itu. Di rerimbunan Wenara Wana, monyet datang dan pergi sesuka hatinya.

Ratusan monyet itu sangat bebas, tak ada sekat maupun kandang. Juga dinding untuk menampung mereka. Sehingga pengunjung yang datang ke Wenaea Wana bisa berinteraksi dengan monyet. Kala monyet dianggap hama di luar Wenara Wana, di hutan itu monyet dihormati dan dirawat. Mereka menjadi bagian spiritual dari pura. Mereka juga dianggap manifestasi dari Hanoman.

Wenara Wana berdiri di atas lahan 27 hektar tanah berwujud hutan lebat, jalan berliku, patung sakral, dan tiga pura yang berbeda. Lebih dari 80 spesies pohon yang berbeda telah diidentifikasi di dalam hutan. Pepohonan ini menawarkan perlindungan bagi sejumlah besar burung, kadal, tupai dan rusa, selain monyet.

Hutan suci ini juga meruakan pekuburan warga Bali sebelum menjalani ritual ngaben. Keluarga yang belum memiliki uang yang cukup untuk menggelar ngaben, menguburkan kerabat mereka di Wenara Wana. Setelah biaya ngaben cukup, jenazah itu digali kemudian diadakan kremasi secara tradisional, melalui tahapan-tahapan upacara. Selanjutnya abu kenazah didistribusikan ke tempat pemujaan keluarga.

Selain monyet, hutan yang asri, dan pemakaman, Wenara Wana merupakan lokasi pura yang berasal dari pertengahan abad ke-13: Pura Dalem Agung Padangtegal, Pura Beji dan Pura Prajapati. Tempat ini berlokasi di desa Padangtegal dan diatur oleh warga desa yang langsung bekerja di Monkey Forest Ubud.

Hutan yang menjadi cagar alam untuk monyet ini, dikelola Manajemen Mandala Suci Wenara Wena. Tugas mereka menjaga kesucian dan untuk mempromosikan Monkey Forest Ubud sebagai destinasi wisata. Pura-pura yang berusia ratusan tahun itu, memang bukan dalam bentuk aslinya karena mengalami renovasi berkali-kali. Namun fungsinya tak berubah sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa.

Ruang paling suci di Wenara Wana adalah Lingga Yoni dan pemandian — yang aliran sungainya berasal dari hutan. Dalam beberapa tahun terakhir para peneliti dari seluruh dunia, memanfaatkan kesempatan untuk mengamati monyet di Wenara Wana.

Bagian luar pura atau di pinggiran hutan, para penjaja makanan untuk monyet berderet panjang. Mereka menjual pisang yang jadi makanan favorit monyet. Tetapi pengunjung harus ingat bahwa monyet adalah hewan liar, yang dapat menggigit dan juga mungkin membawa penyakit. Jadi, pasrahkan kepada penjaga Wenara Wana untuk memberi makan mereka.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending