Connect with us

Hukum & Kriminal

Bule Penghina Jokowi Ternyata Bekas Tentara Amerika Serikat

Published

on


Bule Penghina Jokowi Ternyata Bekas Tentara Amerika Serikat

Finroll.com – Bule kelahiran Jerman, Jerry D Gray (59) ditangkap karena diduga menyebarkan ujaran kebencian terhadap Presiden Jokowi melalui video YouTube.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono mengatakan, dari hasil pemeriksaan diketahui jika Jerry D Gray merupakan mantan tentara Amerika Serikat (AS). Ia pernah bertugas di Angkatan Udara AS selama empat tahun.

“Angkatan udara, dia sempat selama 4 tahun jadi Angkatan Udara di Amerika Serikat,” ujar Argo Yuwono kepada wartawan di Mapolres Metro Jakarta Barat, Selasa (28/52019).

Jerry lahir di Jerman, tetapi besar di Amerika Serikat. Selain pernah menjadi tentara AS, Jerry juga pernah bekerja di Arab Saudi sebelum masuk ke Indonesia pada tahun 1985.

“Yang bersangkutan besar di Amerika dan kemudian menjadi warga negara Amerika. Setelah itu kemudian yang bersangkutan bekerja di Arab Saudi dan dari Arab Saudi masuk ke Indonesia tahun 1985,” ucap Argo.

Pada tahun 2010, Jerry mengajukan diri menjadi warga negara Indonesia (WNI).

Argo memastikan bahwa Jerry telah berstatus WNI, bukan warga negara asing (WNA).

Jerry ditangkap di kawasan Kembangan, Jakarta Barat pada Selasa (28/5) sekitar sekira pukul 09.00 WIB.

Kepada polisi, Jerry mengaku hadir di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat saat massa pendukung Prabowo Subianto menggelar aksi di gedung Bawaslu, Jakarta Pusat.

“Kemudian, setelah kita interogasi kembali bahwa yang diamankan ini pada saat kegiatan unjuk rasa yang bersangkutan hadir di sana ada di dekat toko Sarinah. Lalu ke sana kemari melihat situasi di sana,” ujar Argo.

Dikatakan Argo, video yang diduga berisi ujaran kebencian kepada Presiden Jokowi dibuat setelah Jerry mengikuti aksi 22 Mei di depan Bawaslu.

Dalam video yang beredar, Jerry menyebut bahwa kondisi Indonesia saat ini sangat parah. Terlalu banyak kecurangan sama rezim yang ada sekarang.

“Sudah jelas ada instruksi komunis dan lain-lain masuk ke Indonesia untuk mengambil negara ini untuk dia sendiri,” kata Jerry dalam video tersebut.

“Rakyat Indonesia bukan Muslim saja, kita semua harus bersatu, harus maju sampai negara ini kembali jujur lagi, sampai Presiden Republik Indonesia nama Prabowo, bukan nama yang sekarang,” tambahnya.

Jerry meminta Presiden Jokowi turun dari jabatannya paling lambat Oktober 2019 karena tidak jujur.

“Yang sekarang sudah jujur tidak benar dia harus mundur dan juga harus kena hukum, dia tidak ikut konstitusi Indonesia. Dia enggak bener. Dia harus turun cepat jangan sampai Oktober terlalu lambat,” pungkasnya.

Akibat video tersebut, Jerry dijerat pasal 45 ayat 3 Jo pasal 27 ayat 3 Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas undang-undang 11 tahun 2008 tentang ITE.

Jerry juga disangka melanggar pasal 14 ayat 1 san ayat 2 pasal dan atau 15 uu 1 tahun 46 tentang peraturan pemidanaan dan juga kita kenakan pasal 27 KUHP dengan ancaman hukuman 10 tahun.

source: Pojoksatu

Advertisement

Hukum & Kriminal

Yasonna Copot Dirjen Imigrasi Ronny Sompie

Published

on

Jakarta – Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mencopot Direktur Jenderal Imigrasi Ronny Sompie dari posisinya.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan Ronny difungsionalkan agar tak ada konflik kepentinganan. “Per siang ini,” kata Yasonna.

Ronny dilantik oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly pada medio Agustus 2015.

Beberapa hari ini, Ditjen Imigrasi sedang menjadi sorotan dalam kasus yang menyeret Calon Anggota Legislatif PDIP, Harun Masiku dalam perkara suap mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan.

Imigrasi sempat menyebut Harun berada di Singapura saat KPK menggelar rangkaian operasi tangkap tangan yang menyeret Wahyu Setiawan.

Sementara itu, Tempo menemukan fakta bahwa Harun sudah pulang ke Indonesia ketika KPK menggelar OTT tersebut pada 8 Januari 2020. Istri Harun pun membenarkan bahwa sang suami sudah pulang.

Belakangan, Imigrasi pun mengakui Harun sudah pulang. Mereka beralasan ada kesalahan sistem sehingga terlambat mengetahui kepulangan Harun. (TEMPO)

Continue Reading

Hukum & Kriminal

FPPI Ingatkan Ancaman Serius Korupsi Sistemik Pelindo II

Published

on

Finroll.com — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa tersangka dugaan korupsi pengadaan 3 unit Quay Container Crane (QCC) di PT Pelindo II, RJ Lino, Kamis (23/1/2020). RJ Lino ditetapkan sebagai tersangka sejak Desember tahun 2015.

Ketua Umum Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia (FPPI) Nova Sofyan Hakim berpendapat, pemeriksaan yang dilakukan KPK terhadap RJ Lino akan membuka kotak pandora dugaan korupsi lainnya di Pelindo II.

“Jika terbukti, RJ Lino menjadi ancaman berat bangsa atas warisan korupsi Pelindo II. Padahal, pelabuhan merupakan gerbang ekonomi nasional,” ungkap Nova dalam siaran pers.

Karena itu, Nova meminta aparat penegak hukum lebih serius mengusut berbagai dugaan korupsi di Pelindo II dan masyarakat tidak terkecoh pernyataan menyesatkan yang disampaikan RJ Lino setelah pemeriksaan.

“Pernyataan RJ Lino bahwa ketika diangkat sebagai Dirut pada 2009, PT Pelindo II hanya memiliki asset Rp. 6,4 Triliun jelas menyesatkan. Faktanya, aset Pelindo II di Tanjung Priok saja lebih dari Rp. 25 Triliun dan Aset Pelindo II di 12 Cabang nilainya lebih dari Rp. 40 Triliun. Jumlah asset ini akan lebih besar jika ditambah dengan JICT dan KSO TPK Koja,” kata Nova.

Nova menambahkan, sebelum RJ Lino menjadi Dirut, Pelindo II memiliki uang kas setara Rp. 1,5 Triliun dan ketika ditinggalkan RJ Lino, Pelindo II malah memiliki utang global bond yang bermasalah secara hukum senilai Rp. 21 Triliun. Adanya dana global bond menyebabkan perseroan harus menanggung beban bunga sebesar hingga Rp 150 miliar setiap bulan.

Selain itu, sampai saat ini dana global bond masih mengendap 50% sehingga Pelindo II harus berjibaku agar tidak gagal bayar yang bisa berakibat lepasnya pengelolaan pelabuhan karena jerat hutang tersebut.

Selain itu, sebelumnya Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyebut, ada empat proyek di PT Pelindo II yang menyebabkan kerugian negara mencapai Rp 6 triliun. Empat proyek tersebut proyek pengadaan 3 QCC dan pengadaan 10 unit mobile crane yang kasusnya masing-masing ditangani Bareskrim Polri.

Keempat proyek tersebut meliputi: Perpanjangan kontrak JICT ( indikasi kerugian keuangan negara Rp. 4,08 Triliun), perpanjangan kontrak KSO TPK Koja ( Rp. 1,86 Triliun), penerbitan global bond (Rp. 744 Miliar) dan pembanguan terminal Petikemas Kalibaru (Rp. 1,4 Triliun).

“Kesimpulan dari audit investigasi BPK jelas menyebut indikasi bukan potensi, sehingga kerugian negara secara hitungan keuangan sudah terjadi, aparat penegak hukum tinggal melakukan pembuktian terhadap bukti dan pihak terlibat yang sudah tercantum dalam audit investigatif tersebut,” urai Nova.

Nova menekankan pentingnya dukungan semua pihak untuk membantu KPK dan pemerintah dalam menangani dugaan korupsi sistemik di Pelindo II. Jika tidak, rakyat akan menerima dampak dan beban dalam bentuk peningkatan biaya jasa pelabuhan. Selain itu, aset negara berpotensi lepas ke tangan asing jika Pelindo II mengalami gagal bayar global bond.

Nova berharap KPK bisa menuntaskan kasus-kasus dugaan korupsi di Pelindo II. Apalagi, menurutnya, rangkaian skema kasus-kasus tersebut dibangun dengan modus rekayasa keuangan yang kompleks.

“Tapi kita yakin, publik sudah jauh lebih pintar. Semua pihak akan turut mengawasi, dan tidak akan percaya begitu saja terhadap narasi-narasi tersangka korupsi.

Bagaimanapun, penuntasan kasus Pelindo II akan menjadi bukti komitmen KPK dan pemerintah dalam memberantas korupsi yang selama ini menjadi beban ekonomi negara,” pungkas Nova.(red)

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Soal Harun Masiku, KPK Bicara soal Dugaan OTT Bocor

Published

on

By

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan tak ada kebocoran dalam operasi tangkap tangan terhadap komisioner Komisi Pemilihan Umum Wahyu Setiawan. Pelaksana tugas juru bicara KPK Ali Fikri mengatakan itu untuk menanggapi dugaan tersangka penyuap, Harun Masiku, yang juga caleg PDIP berada di luar negeri dua hari sebelum OTT.

“Kami tidak melihatnya dari sisi adanya kebocoran atau tidak, informasi bisa kita dapatkan dengan cara yang merupakan strategi penyelidikan,” kata dia di kantornya, Jakarta, Senin, 13 Januari 2020.

Ali mengatakan KPK akan berkoordinasi lebih lanjut dengan Ditjen Imigrasi mengenai keberadaan Harun. Selain itu, KPK juga akan memastikan terlebih dahulu keberadaan dari Harun.

“Jika memang benar di luar negeri tentu kami akan kerja sama dengan seperti interpol dan Kemenlu,” kata dia.

Sebelumnya, pihak imigrasi mengatakan Harun Masiku disebut pergi ke Singapura dua hari sebelum operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi. Direktorat Jenderal Imigrasi Kemenkumham menyebut caleg PDIP ini pergi ke luar negeri sejak 6 Januari 2020.

“Tercatat saat berangkat ke Singapura. Setelahnya kami tidak bisa mengetahui,” kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Ditjen Imigrasi, Arvin Gumilang saat dihubungi, Senin, 13 Januari 2020.

Arvin mengatakan Imigrasi tak dapat mengetahui keberadaan Harun setelah dari Singapura. Namun, ia memastikan sampai sekarang Harun belum kembali ke tanah air. “Belum ada catatan perjalanan masuk kembali ke indonesia dalam database kami,” kata dia.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending