Connect with us

Citizen Journalism

Buntut Panjang Celoteh Rudiantara: Dari Pilpres ke Gaji sampai PKS

Published

on


Viral Tagar "yang Gaji Kamu Siapa" ke ASN, Begini Klarifikasi Menkominfo

Buntut omongan Menkominfo, Rudiantara  yang bertanya kepada seorang ASN “Yang Gaji Ibu Siapa?” ternyata bukan hanya menjadi bahan pembicaraan dan eyel-eyelan di tanah air, tapi juga berhasil menjadi trending topic dunia.

Berdasarkan video yang beredar, kejadian diawali dari pertanyaan atas 2 buah gambar yang diberi nama gambar 01 dan gambar 02. Rudiantara meminta bawahannya yang hadir untuk memilih salah satu dari kedua gambar tersebut. Gambar 01 secara kasat mata terlihat lebih menarik dengan warna-warni yang indah dibandingkan dengan gambar 02. Mungkin hal tersebutlah yang membuat Pak menteri tak menyangka bahwa ada anak buahnya yang memilih gambar 02.

 

Yup, seorang perempuan Aparatur Sipil Negara (ASN) menjelaskan ketika ditanya, ia memilih 02 karena visi misi 02 yang dianggap sesuai dengan dirinya. Setelah mengatakan hal tersebut, beliau turun panggung dan disitulah dengan nada tinggi, Rudiantara memanggil kembali ibu tersebut dengan kalimat: “Bu, Ibu yang gaji siapa?! Kita ini siapa?!

 

Sebenarnya saya memahami kejengkelan Rudiantara tersebut. Rudiantara adalah seorang profesional, bukan menteri yang diangkat karena “jatah kue” partai koalisi pemenang pilpres. Makanya beliau merasa gerah ketika Ibu tersebut menerangkan bahwa pilihannya terhadap gambar 02 dilandaskan terhadap kesamaan visi misi. Padahal yang ditanya hanyalah sebuah gambar. Kenapa koq jadi dikaitkan dengn kontestasi pemilihan presiden?! Ya gak masoook…😅

 

Tapi menurut saya, Pak Rudiantara juga harus menyadari bahwa kita memang sedang berada di tahun politik yang membuat orang berpikir apapun bisa dikaitkan dengan pilihan politik. Seharusnya kejadian seperti ini tak perlu terjadi sendainya penyelenggara acara Kominfo Next di Hall Basket Senayan, Jakarta dapat berkreasi lebih bijak.

Kenapa juga harus menamakan kedua gambar yang sangat kontras tersebut dengan nama 01 dan 02? Bukankah itu memang penomoran kandidat pilpres yang sedang hangat dibicarakan oleh seluruh lapisan masyarakat! Kenapa tidak menamakan dengan gambar A dan B. Atau jika ingin memakai nomor, cukup dengan nomor 1 dan 2 tanpa embel-embel angka 0 didepannya.

 

Jadi wajar juga sekiranya jika sebagian masyarakat, terlebih para pendukung oposisi yng berpikir bahwa ada kampanye terselubung yang sangat halus di acara tersebut yang dimaksudkan untuk memberikan dukungan kepada pasangan kandidat 01 yang dicerminkan melalui gambar yang bagus dan menarik dibanding gambar 02 yang sengaja dibuat buram hampir tanpa warna.

Ditambah dengan pernyataan “Ibu digaji siapa” maka lengkaplah kecurigaan khalayak.

 

Jika alasan dari jawaban sang Ibu terhadap pilihan gambarnya bersifat OOT (out of topic), maka omongan Rudiantara mengenai siapa yang menggaji ASN juga lebih OOT. Apa tujuan beliau mempertanyakan hal tersebut? Apakah beliau ingin mengingatkan Ibu tersebut agar sadar diri bahwa ia adalah seorang abdi negara yang digaji oleh negara makanya tak boleh melawan negara? Hal ini bisa dianggap benar jika negara yang dimaksud oleh Rudiantara bukanlah pihak petahana yang sedang memimpin pemerintahan.

 

Karena negara bersifat tetap dan tak tergantikan, berbeda dengan pemerintahan. Dan pemerintah tidak pernah menggaji dirinya sendiri. Meski menteri adalah pembantu Presiden, namun bukan Presiden yang menggaji menteri, begitupun dengan orang-orang yang bekerja di bawah kementerian.

 

Presiden, Menteri, ASN dan mereka yang berada di legislatif adalah pegawai negara yang digaji oleh RAKYAT. Rakyat yang menggaji mereka lewat pembayaran iuran pajak yang berlapis. Dan sampai saat ini, pajaklah yang menjadi sumber utama penghasilan negara karena banyak BUMN yang belum berhasil menopang dirinya sendiri tanpa urunan subsidi.

 

Jadi meski dalam aktivitas pekerjaannya ASN harus bersikap netral, namun mereka masih memiliki hak berpolitik untuk memilih yang dilindungi Undang-Undang dan tidak boleh dikekang ataupun diatur-atur sesuai kemauan atasannya. Mereka berhak mencoblos pilihannya sendiri meski tak boleh ikut berkampanye mencari dukungan untuk pilihannya. Jangankan berkampanye, berfoto saja tidak boleh. Keep silent sampai di bilik suara pokoknya. Kecuali jika kelak negara mencabut hak politik mereka tersebut sehingga mereka tidak diperbolehkan memilih.

 

Lebih jauh para pendukung petahana malah mengeluarkan opini yang lucu dan kontroversial demi membela dan membenarkan kelakuan Rudiantara. Sosok Ibu yang memilih gambar 02 dituduh sebagai hasil buah karya pencucian otak salah satu partai koalisi. Siapa lagi kalau bukan Partai Keadilan Sejahtera a.k.a PKS yang menjadi pihak tertuduh.

 

PKS dituduh melakukan pencucian otak terhadap para ASN Kominfo saat kadernya menjabat sebagai Menkominfo. Semua pegawai dicuci otaknya untuk membenci petahana dengan segenap kroninya. Saya perkirakan pencucian otak besar-besaran harus dilakukan PKS dengan bantuan tenaga ahli. Bisa jadi saat itu PKS menggandeng para member Go Clean dari Go Jek yang terkenal tangguh dalam hal mencuci dan menyikat benda apapun sampai bersih tuntas. Dan demi kesempurnaan hasil, saya menuduh PKS menggandeng perusahaan yang memproduksi deterjen jenis Rinso. Sesuai slogannya Rinso anti noda, yang bisa mencuci dan membersihkan segalanya bahkan pihak yang paling bersih sekalipun.

 

Tentu saja kerjasama ini juga dalam rangka agar mendapatkan potongan harga khusus. Bayangkan mencuci ribuan otak, berapa banyak tenaga dan deterjen yang dibutuhkan? Butuh dana yang tidak sedikit untuk proses cuci mencuci ini.

Saya sendiri menggunakan kurang lebih 3 Kg deterjen untuk aktivitas mencuci sebulan penuh. Karena nggota keluarga saya berjumlah 3 orang, jadi masing-masing rata-rata butuh sekilo deterjen. Harga sekilo deterjen jenis rinso Rp 28,00,00. Nah, coba saja kamu kalikan dengan total 5 tahun saja kader PKS memimpin kominfo, berarti 12 bulan x 28,000 x jumlah ASN Kominfo. Ditambah ongkos Go Clean. Harga yang sangat besar yang harus dibayar untuk mencuci otak pegawai. Kira-kira cukuplah untuk membeli cilok dalam setahun lalu disumbangkan ke warga Palu.

Beruntung yang dipakai rinso, deterjen yang bisa mencuci sendiri tanpa bantuan bahan pembersih pendukung lainnya. Jadi lebih irit. Karena dengar-dengar si rinso ini kalau dicampur dengan bahan pembersih lainnya kerjanya jadi tidak optimal. Harusnya ia bisa mencuci sendiri, pas dicampur sama yang lain malah asik ngobrol. Payah deh 😑

 

Jadi, menyalahkan PKS atas gagalnya program “berkampanye” para pendukung petahana itu jelas merupakan hal yang spektakuler yang tidak mungkin bisa ada dalam pemikiran manusia pendukung manusia biasa.

PKS itu partai kecil menengah, daripada duitnya buat nyuci-nyuci mendingin dipakai buat piknik bersama kader-kadernya yang terkenal tangguh dan militan menghabisi lumbung suara petahana di kota-kota besar. 😎

Gak percaya?! Lihat ajah nanti…😛

 

Tiffatul Sembiring, mantan menkominfo, selaku yang dituduh memimpin program pencucian otak ASN Kominfo ini juga sudah bersuara. Beliau menantang kubu penuduh untuk membuktikan adanya satu orang saja ASN Kominfo yang diajak beliau masuk PKS saat beliau menjadi Menkominfo. Yang mampu membuktikan dapat 10 juta lohhhh. Lumayan banget kan buat jajan sempol sebulan. Ayo ikutan! 😇

 

Tapi ya seharusnya Tiffatul tak perlu baper seperti ini. Kan sudah biasa juga mendengar dan melihat PKS selalu dikait-salahkan terhadap kegaduhan apapun yang timbul di negeri ini. Mungkin menyalahkan PKS merupakan puncak dari ke-kaffah-an militansi dan eksistensi setiap pendukung petahana. Jadi ya harusnya sudah benar-benar terasa biasa seperti ini.

 

Termasuk kalau kedepan nanti ada yang bilang bahwa udang yang matil tangan presiden sampai betdarah-darah adalah hasil budidaya kader PKS. PKS lewat retorika dan propaganda licinnya berhasil mencuci OTAK UDANG agar langsung ngamuk dan mematil tangan Jokowi saat tersentuh. Baik tersentuh dengan sengaja maupun tidak, pokoknya hajar!

Padahal jika kita mau berpikir sebelum menyalahkan orang lain, cobalah kasih tahu dulu khalayak:

“Dimanakah letak patil pada Udang?”

 

Citizen Journalism

Balada Kader Tarbiyah Kurang Ilmu Tapi Giat Menebar Ilmu. Patutkah?!

Published

on

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman mengajak saya untuk mengikuti sekolah tahsin bergenre (baca: rasmul) Ustmani. Tujuannya tentu saja untuk memperbaiki bacaan dan khat Alqur’an kami.

Beliau mendahului saya mengikuti test masuk yang dipandu langsung oleh salah satu Qiyadah kami. Hasil test menunjukan beliau bisa memulai kelas dari level 4. Ustadzah penguji memujinya dengan mengatakan:

“kamu pasti rajin liqo yaaa, bacaannya sudah bagus, tapi butuh perbaikan lagi di bla..bla…bla.”

Saya pun tak sabar ingin mengikuti test. Saya ingin tahu kira-kira saya dapat level berapa. Kawan-kawan yang saya kenal di tarbiyah hampir semuanya masuk level 4. Saya tambah penasaran. Hehehe.

Fyi, waktu itu saya sudah memegang beberapa gerbong kajian non partisan. Satu grup pengajian ibu-ibu, satu grup pengajian remaja dan satu grup pengajian anak-anak. Semuanya free tanpa iuran. Dan tak pernah sekalipun saya masukin unsur-unsur politik dalam pengajian kami. Meski mereka tahu saya orang Partai Kesayangan Semua, tak sekalipun saya ajak mereka masuk partai tersebut.

Kata “belum waktunya” menjadi alasan saya ketika struktur menanyakan mengapa mereka belum kunjung saya “tarik” ke dalam. Namun dalam hati, saya memang ingin semua berjalan alami. Mengalir apa adanya. (Piss, bos!)

Dalam hati saya menyakini. Mereka kan sudah tahu kalau saya kader partai keren sekali itu. Jika mereka lihat ada kebaikan dari menjadi kader partai seperti saya bagi diri mereka, saya yakin mereka akan mengikuti tanpa diminta. Kenapa? Karena saya yakin sekali bahwa menjadi PKS (yah kesebut. Maafin yaa. Capek nyari singkatan 😅) adalah sebuah jalan kebaikan yang menebar kebaikan. Jadi tinggal tunggu Allah yang membukakan pintu hati dan jalan bagi mereka untuk bergabung.

Begitu pula dengan kawan sepermainan. Di dunia nyata, tak satupun ada yang secara frontal saya ajak masuk PKS. Kalo pilih PKS sih iya. Hahaha. Biarlah semua mengalir, apa adanya. Mereka punya mata, punya hati. Bisa menilai sendiri betapa bocor, ceroboh, cekakakan dan awut-awutannya saya. Loh koq?! 😅

Oke, kembali ke masalah tahsin.

Sebenarnya pendaftaran kelas sudah ditutup, namun lewat rekomendasi seorang teman, saya masih diperbolehkan untuk mengikuti ujian masuk. Saya diuji langsung oleh Ustadzah kabir yang namanya sudah sering sekali saya dengar bahkan pernah saya ikuti beberapa kajiannya. Beliau rupanya juga pemilik lembaga pendidikan tahsin yang mau saya ikuti. Ada perasaan grogi saat berkenalan. Merindingggg. Tapi saya mencoba santai. Hingga keluarlah hasil test saya.

Masya Allah. Ustadzah bilang saya harus mengulang dari level 1. 😱 Bacaan saya banyak salah, berantakan. Mengucap “Basmallah” pun belum benar. Tentu saya cukup kaget dan terpukul mendengarnya. Kawan-kawan yang saya beritahu pun merasa heran. “Koq bisa, Ra?!” Yaaa, manaa ku tahu 😥.

Saya pun mulai menimbang-nimbang untuk jadi mengikuti kelas atau tidak. Saya kesal, namun kebesaran nama sang Ustadzah disamping beliau pemegang sertifikat rasm Ustmani yang menjadi pemilik rumah tahsin tersebut membuat saya gentar untuk meragukan penilaian beliau.

Akhirnya saya mendapat kelas yang dimulai pukul 6 pagi. Tak boleh terlambat. Ada denda yang harus dibayar setiap menit jika datang terlambat. Sabtu pagi ba’da shubuh saya langsung menggeber sepeda motor saya ke arah Rawajati. Saya ingin datang lebih awal, selain karena tak ingin terlambat saya juga tak mau kelas lambat memulai yang akhirnya lambat juga selesai. Karena setelah tahsin, saya masih berkewajiban untuk hadir di liqo-an. Sungguh embuhhh. Kadang bantal di hari libur lebih menggoda…😓

Hal yang tak saya duga dari penghuni kelas tersebut rata-rata bacaannya sudah bagus-bagus. Khat-nya juga Masya Allah. Rata-rata dapat nilai sempurna dalam menulis. Banyak juga yang seumuran dengan saya waktu itu. Bahkan ada juga yang lebih muda. Saya yang tadinya mau songong jadi minder. Kalau kayak mereka-mereka ini dapat level 1. Apalah saya ini.😵

Dari 12x pertemuan yang diwajibkan, kami hanya boleh izin 3x. Lebih dari itu tak diperkenankan untuk ikut ujian kenaikan tingkat. Saya sukses hanya hadir 6x. Hahaha. Ada acara dan tugas-tugas lain yang tidak bisa (baca: mau) saya hindari. Saya pun pasrah. Saya yakin tak boleh ikut ujian dan harus mengulang kelas dari awal lagi. Biarlah.

H-1, saya pastikan ke guru kelas kalau saya tak akan hadir di ujian. Beliau bilang akan coba ditanyakan dulu ke Ustadzah. Saya bilang: “Gak usah repot-repot, Mbak. Palingan suruh ngulang. Tapi boleh juga deh ditanyain dulu, saya tunggu kabarnya. Hehehe.” *masih ngarep.

Dan ternyata saya boleh hadir ujiaaannnn. Padahal di kelas lain yang 4x izin aja sudah dapat ketetapan gak boleh ikut ujian. Saya yang 6x koq bolehhh. Canggih kannn. Saya pun senyum-senyum.

Saya datang ke tempat ujian dengan cengengesan karena yakin tak akan diluluskan. Wong, jarang masuk. Banyak materi yang ketinggalan dan guru kelas pun geleng-geleng setiap kali datang, saya bilang “maaf, aku belum ngerjain PR, Mbak. Boleh ngerjain disini gak?” Hehe.

Kami diuji satu per satu. Saya perhatikan wajah-wajah kawan yang keluar dari ruangan ujian rata-rata pingin nangis. Mengeluh susah banget soalnya dan menebak score berapa. Karena score tertinggi itu 80 dan untuk dinyatakan lulus butuh 77. Edan kata saya. Salah 3 ajah gak lulus. Pliss deh 😑

Saya masuk ruang ujian dengan gontai. Soal pertama, salah… soal kedua dan ketiga saya yakin juga salah. Ke empat dan kelima saya sudah gak pake mikir bacanya. Sama seperti saya baca sehari-hari saja. Bodo amatlah. Soal keenam, ketujuh dan seterusnya sampai soal ke 15, kepala saya sudah muter-muter. Saya putus asa karena yang saya dengar dari mulut Ustadzah hanya kata “ulang, ulang, dan ulang”. Oh iya, di masing-masing soal kami diberi kesempatan 3x untuk mengulang bacaan sampai benar. Jika sudah 3x mengulang dan tetap salah, maka score hilang.

Selesai ujian, saya keluar ruangan dan langsung tancap gas. Pulanggggg. Minum air segelas, ambil napas panjang dan cabut lagi ke tempat liqo. Disana kawan-kawan liqoan yang dari semalam rame doain saya biar lulus langsung nanya-nanya hasil ujian. Saya ceritakan “kebodohan” saya dan mereka semua tertawa. Eman benar. Bukannya dihibur malah pada ngetawain. Sungguh terlalu. Huh! 😥

Beberapa hari kemudian saya diminta datang untuk mengambil hasil ujian. Waktu itu sekalian ada kajian dari Ustadzah yang sudah melanglang buana ke luar negeri karena bacaan Alqur’annya yang bagus banget. Hafizah 30 juz. Masya Allah….

Saya buka lembar hasil ujian saya. Saya pun bingung. Saya hubungi guru kelas, mungkin hasilnya tertukar sama si anu. Dia bilang dia gak lulus, harusnya saya yang gak lulus. Bu guru bilang, itu sudah betul hasilnya. Saya ngotot ini salah. Beliau lebih ngotot lagi bilang kalau itu sudah benar. Saya pun bengong, nilai yang tertera di lembaran nyaris sempurna. Apa iya?!

Saya pun gamang. Dulu pertama kali datang kesini, saya merasa sudah jago bener mengaji dan ternyata dapat pukulan telak ditempatkan di level 1. Sekarang saat saya merasa paling “bodoh” dan malas koq malah dapat nilai sangat bagus kayak gini. Ah, duniaaa…. oh, prasangkaaaa….

Kemudian saya mendengarkan ceramah Ustadzah keren nan jelita di hadapan saya. Beliau mengatakan tentang pentingnya menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu-ilmu yang kita peroleh di rumah tahsin ini ke masyarakat sekitar. Saat tiba waktu sesi tanya jawab. Saya pun bertanya dan mengeluarkan uneg-uneg saya selama ini.

” Assalammualaikum, Ya, Ustadzah. Perkenalkan saya, bla..bls..bla… Sungguh selama ini saya galau dan tertekan. Selama ini saya diminta oleh kawan-kawan dan pejabat masyarakat untuk mengajar ngaji. Ada grup Ibu-ibu, remaja dan anak-anak yang tinggal di pinggiran kali ciliwung. Saya malu Ustadzah, saya mulai berpikir bahwa tak cukup ilmu saya untuk mengajari mereka ini-itu. Tak pantas saya menjadi guru mereka. Ustadzah tahu sendiri, saya baru level 1. Ini naik ke level 2 juga atas belas kasihan kayaknya. Hahaha. Jadi bagaimana Ustadzah? Apakah tindakan saya membubarkan pengajian yang saya pegang tersebut dapat dibenarkan? Sungguh saya tak enak hati, saya mencari berbagai alasan kayak band malaysia exist untuk berhenti mengajar. Saya pun berusaha mencari pengganti yang sekiranya lebih pantas dan lebih berilmu dari saya. Tapi belum juga dapat. Akhirnya ya kelas gak jalan-jalan. Sekalian juga saya bilang disini kalau ada kawan-kawan dan para guru yang berkenan mengajar di lingkungan saya, sungguh saya sangat berterimakasih. Tapi mohon maaf kalau belum ada kompensasinya. Bagaimana menurut Ustadzah?”

Sang Ustadzah pun menjawab:

“Saya panggil kamu “Mbak” saja ya bukan “Ibu” karena sepertinya masih muda sekali. (*uhuyyy dalam hatiku).

Begini ya, Mbak. Kamu harus banyak-banyak bersyukur karena diperkenalkan dengan rumah tahsin disini. Tempat dimana kamu bisa menempa ilmu yang selama ini kamu dipandang lemah. Dari sekian banyak akhwat dan guru, Allah memilih kamu, Mbak. Kamu yang dipilih Allah untuk hadir ditengah-tengah masyarakat, mengajar kalam-Nya. Adalah sebuah kesalahan besar ketika kamu malah memutuskan untuk berhenti lalu membubarkan pengajian yang kamu bina. Hayoo istighfar duluuu.

Ilmu bisa dicari sambil diamalkan. Kamu dapat dan pahami sedikit dari sini, kamu bisa langsung sampaikan disana. Begitu seterusnya. Sampaikanlah walau hanya satu ayat. Artinya sampaikanlah apa-apa saja yang sudah kamu bisa dan pahami.

Kalau makhroj hurufmu baru sempurna sampai huruf “kho” ya ajarkan saja sampai huruf “kho”. Sambil kamu terus belajar disini. Jangan pernah melepaskan kesempatan ini atau memberikannya kepada orang lain. Allah itu sudah memilih kamu.

Mungkin banyak yang lebih pintar dari kamu, tapi karena satu atau lain hal Allah urung memilihnya. Mungkin karena ia sudah sibuk mengajar di tempat lain, mungkin tak mau mengajar di tempat-tempat yang kamu ceritakan, atau mungkin banyak kerjaan lain atau apalah. Maka dari itu, tetaplah kamu genggam kesempatan untuk beramal baik yang datang kepadamu. Terus asah dirimu untuk menjadi lebih baik di tempat ini. Dan berbagilah pengetahuan dengan mereka-mereka yag sudah Allah pilihkan ada dalam hidupmu.

Mbak, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang brlajar dan mengajarkan Alqur’an.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Jangan karena merasa kurang ilmu, lalu kamu lepaskan kesempatan untuk beramal baik, kamu berhenti untuk menyampaikan kebaikan, dan menunggu orang lain melakukannya dengan bersembunyi dibalik alasan keterbatasan diri bahkan dalil fardhu kifayah.

Jangan juga merasa inferior melihat orang yang ilmunya banyak dan lebih pantas dijadikan guru dibanding kamu sehingga kamu melipir. Berhenti menebar manfaat dengan alasan mau nyari ilmu dulu yang banyak. Padahal yang banyak ilmunya belum tentu juga mau mengamalkan. Dan belum tentu juga kamu punya kesempatan untuk mengamalkan ilmu nanti disaat kamu sudah merasa berilmu. Lah, kalau umurmu tak panjang bagaimana? Jangan sampai di akhirat kamu malah menyesal nantinya.”

Habislah saya disadarkan (baca: diomelin) oleh sang Ustadzah dengan logat jawanya yang kental sekali.

Tuh yaa, dengerinnn. Jangan sampai harus diomelin dulu kayak saya baru sadar. Jangan sampe nyesel deh kawan-kawan. Berbuat kebaikan ke orang laen jangan diberhentiin sampe bab niat doang. Belajar mah kudu. Seumur hidup kalo bisa. Nah menyebarkan ilmu juga harus. Biar sedikit asal manfaat kan gak masalah. Gak harus nungguin gelar, nanti malah bendera kuning yang duluan berkibar. Ih, ngeriiii 😭

Continue Reading

Citizen Journalism

Kisah Cinta Presiden RI yang Bikin Meleleh

Published

on

By

Kisah cinta presiden RI dengan pasangannya selalu saja jadi topik yang menarik. Di balik sepak terjangnya menjadi pemimpin negara, kita tahu ada sosok yang mendampingi dari belum jadi siapa-siapa, jatuh bangun, dan akhirnya menjadi presiden.

Dari 7 Presiden Republik Indonesia setidak ada 3 orang jalinan asmaranya menjadi sorotan nasional. Yang pertama adalah Soekarno dengan Fatmawati.

Soekarno bertemu Fatmawati saat dibuang ke Bengkulu di tahun 1938. Kala itu, ia memiliki Inggit Garnasih sebagai istri dan dua orang anak angkat.

Suatu saat, ia bertemu ayah Fatma yang merupakan salah satu tokoh di Bengkulu. Fatma diajaknya serta.

Soekarno langsung jatuh hati. Mengetahui Fatma putus sekolah, ia menyekolahkan Fatma yang dekat dengan anak angkatnya. Fatma pun dititipkan ayahnya di rumah Soekarno.

Lama-kelamaan, Inggit dan anak angkatnya mulai curiga dengan kedekatan Fatma dan Soekarno. Pertengkaran kerap terjadi sampai Fatma pindah ke rumah neneknya.

Namun, Soekarno masih curi waktu menjadi guru Bahasa Inggris Fatma. Sempat berpisah sewaktu Soekarno dipulangkan ke Jawa, Soekarno curi waktu untuk bertemu lagi. Tekadnya sudah bulat untuk memiliki anak dari Fatmawati.

Setelah bercerai dengan Inggit pasca rumah tangga yang kian tidak kondusif, ia pun meminang Fatmawati.

Lalu ada B.J Habibie dan Ainun. Kisah lama Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie dengan sang istri, Ainun, masih memikat untuk disimak.

Siapa sih yang tak tahu kisah cinta Habibie dan Ainun?

Hasri Ainun Besari atau yang akrab disapa Ainun merupakan istri dari mantan Presiden Indonesia, B.J. Habibie. Eyang Habibie, yang merupakan ahli dalam bidang pesawat terbang ini, dikenal sangat romantis dan mencintai istrinya yang juga merupakan seorang dokter

Selama lebih dari 40 tahun, keduanya hidup bersama dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Tak heran, kisah cinta keduanya juga diabadikan dalam sebuah film berjudul “Habibie dan Ainun”.

Pada tahun 2010, saat Ainun meninggal dunia karena kanker ovarium yang dideritanya, Habibie begitu berduka karena kehilangan orang yang sangat dikasihinya tersebut. Kisah cinta mereka tentu memberikan beberapa pelajaran berharga bagi kita semua.

Terakhir ada SBY dan Ani Yudhoyono. Sudah kurang lebih satu bulan, Ani Yudhoyono menjalani perawatan di Singapura. Ya, sejak awal bulan Februari silam, istri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu mendapat pengobatan di rumah sakit National University Singapura lantaran penyakit kanker darah yang dideritanya.

Kesetiaan Susilo Bambang Yudhoyono pada istrinya, Ani Yudhoyono yang sedang sakit menjadi sorotan.Pasalnya, SBY terlihat selalu menemani istrinya yang saat ini tengah berjuang melawan penyakit kanker.Ia pun juga rela meninggalkan segudang aktivitasnya demi untuk selalu berada di sisi sang istri tercinta.

Menilik kembali kisah asmara Susilo Bambang Yudhoyono dan Ani Yudhoyono rupanya ada cerita menarik. Susilo Bambang Yudhoyono dan Kristiani Herrawati (nama muda Ani Yudhoyono) pertama kali bertemu di awal tahun 1973 di Magelang, Jawa Tengah.

Keduanya bertemu di lingkungan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Kristiani Herrawati adalah putri ke-3 Sarwo Edhie Wibowo yang merupakan gubernur AKABRI pada masa itu. Sedangkan SBY merupakan pemuda asal Pacitan, Jawa Timur yang dikenal sebagai taruna cerdas dan berprestasi.

Continue Reading

Citizen Journalism

Mensyukuri Cuka Menerbitkan Suka Cita

Published

on

Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah hadis riwayat Imam Muslim yang terdapat dalam Kitab Riyadhus Shalihin Bab 101 tentang Larangan Mencela Makanan dan Sunnah Memujinya.

Dari Jabir Ra, Rasulullah Saw menanyakan lauk pauk kepada keluarganya dan mereka menjawab: “Tidak ada lauk pauk kita kecuali cuka”. Maka Nabi Saw meminta cuka itu untuk dimakan bersama roti yang disajikan sambil berkata: “Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka, sebaik-baik lauk pauk adalah cuka”.

Ada banyak pelajaran yang dapat kita gali dari sepenggal kisah singkat di atas. Umpamanya kita mulai dengan menyodorkan pertanyaan pembuka: Manakah yang sejatinya Sunnah Rasul itu? Apakah kita memahaminya hanya secara tekstual-literal sehinga sunnah makan dengan cuka itu hanya menyentuh tataran teknis aplikatif berupa makan dengan cuka? Atau kita memahaminya secara substantif-kontekstual berupa moral ethic menerima apapun karunia Allah dengan penuh rasa syukur walaupun hanya beberapa tetes cuka?

Lalu, manakah yang sejatinya disebut perbuatan menyelisihi sunnah itu? Makan tidak dengan cuka atau makan tidak dengan rasa syukur?

Sampai di sini, kita dapat membuat semacam komparasi sederhana untuk menarik mana yang lebih seiring-senafas dengan ajaran Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi moralitas: Makan dengan penuh rasa syukur sekalipun bukan dengan cuka atau gak apa-apa tidak bersyukur yang penting tetap makan dengan cuka?

Itu satu.

Yang kedua, Nabi Muhammad Saw sedang mengajarkan kepada kita suatu kemampuan yang disebut oleh pakar psikologi modern ini dengan istilah reframing skill, yaitu kemampuan untuk dapat menata ulang sudut pandang kita dalam menyikapi persoalan hidup yang tengah dihadapi, terutama persoalan-persoalan yang tidak sesuai dengan selera hati kita. Reframing ini tidak otomatis mengubah nasib buruk manjadi baik, tapi jelas menata suasana hati agar tetap adem, tenang, dan gembira dalam menyikapi nasib buruk itu.

Cuka tidak lantas berubah menjadi kari kambing dengan mengatakan “Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka. Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka”. Cuka tetap saja cuka. Akan tetapi, dengan mengatakan demikian, Nabi Saw tengah mengatur suasana hatinya dan menata ulang sudut pandang dirinya terhadap cuka. Karena yang ada hanya cuka, ya sudah… disyukuri, dinikmati dan dibuat indah saja cuka itu. Tokh, mencaci maki cuka juga tidak otomatis mambuat cuka menjadi rendang.

Selain itu, Nabi Saw sedang memberi kita pengajaran untuk menemukan rasa syukur dalam keadaan apapun yang kita terima dari kehidupan. Ada roti, syukuri roti; ada cuka, syukuri cuka; ada rendang, ya syukuri; yang ada hanya bakwan, ya tetap juga disyukuri. Dapat gaji 10 juta, ya syukuri 10 juta itu, dapatnya hanya satu juta, syukuri juga. Temukan kebahagiaan dalam berapapun nominal uang yang Allah berikan. Jangan dikasih satu juta, hati kita terus menerus melamunkan 10 juta. Akhirnya satu juta tak nikmat, yang 10 juta tak didapat.

“Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka” adalah ungkapan yang membuktikan bahwa Nabi Saw memiliki kemerdekaan seutuhnya untuk meraih kebahagiaan tanpa terpengaruh hal-hal lain di luar dirinya. Seperti kita, Nabi Saw juga tidak bisa mengendalikan pagi ini atau sore ini makan dengan apa dan rasanya bagaimana, tapi beliau berdaulat sepenuhnya untuk tetap bersyukur menerima apapun yang Allah karunikan. Intinya, apapun yang dialami, beliau tidak membiarkannya berlalu begitu saja tanpa disyukuri. Karena rasa syukur itu menerbitkan kegembiraan yang sejati di dalam hati.

Hal ini terdengar sederhana, tapi banyak orang menderita dalam hidupnya karena tidak memiliki kemampuan reframing ini. Ketika dilahirkan dengan memiliki hidung pesek, dia terus saja mengutuki hidung itu, kenapa tidak mancung seperti orang lain. Setiap kali menatap cermin, dia kecewa. Setiap melihat hidung orang lain yang mancung, dia nelangsa.

Sesungguhnya, kita menderita bukan karena hidung yang pesek, tapi karena letih menjangkau-jangkau alam khayal berisi fragmen hidung mancung yang terus menerus diekspektasikan. Kita tidak memiliki kemandirian untuk menentukan perasasan hati. Kita tidak mempunyai kedaulatan untuk sesegera mungkin menukar, mengganti atau menghijrahkan selera hati dari alam khayali ke wilayah nyata yang ada di depan mata.

Kita tidak memiliki kemampuan itu, karena memang sekolah-sekolah juga tidak pernah mengajarkannya. Di sekolah kita dijejali ilmu aritmatika adiluhung 2 ditambah 8 sama dengan 10. Tapi matematika itu tidak mengajari kita untuk tetap bersyukur ketika hanya mendapat dua padahal yang diinginkan adalah delapan.

Tapi sudahlah, syukuri saja apa yang ada. Tinggal kita reframing hati, membuat formulasi dalam hati bahwa sekolah paling ideal itu, ya memang begitu.

Kesimpulannya, kita harus memiliki kedaulatan untuk menciptakan kegembiraan dalam hati. Mandiri dalam kebahagiaan. Jika tidak bisa, maka marahlah pada diri sendiri kenapa tidak mempunyai independensi dalam menentukan suasana hati!

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending