Connect with us
[adrotate group="1"]

Pasar Modal

Bursa Saham Asia Rontok, Semua karena AS-China

Published

on


Bursa Saham Kawasan Asia di Buka Zona Hijau Pada Perdagangan Hari Ini

Finroll.com – Bursa saham utama kawasan Asia kompak berguguran pada awal pekan. Pada pembukaan perdagangan hari ini, indeks Nikkei jatuh 1,86%, indeks Shanghai ambruk 1,6%, indeks Hang Seng merosot 3,27%, indeks Straits Times melemah 1,41%, dan indeks Kospi berkurang 1,69%.

Eskalasi perang dagang AS-China menjelang akhir pekan memantik aksi jual dengan intensitas yang begitu besar di bursa saham Benua Kuning. Eskalasi pertama dari pengumuman China bahwa pihaknya akan membebankan bea masuk bagi produk impor asal AS senilai US$ 75 miliar. Pembebanan bea masuk tersebut akan mulai berlaku efektif dalam dua waktu, yakni 1 September dan 15 Desember. Bea masuk yang dikenakan China berkisar antara 5%-10%.

Lebih lanjut, China juga mengumumkan pengenaan bea masuk senilai 25% terhadap mobil asal pabrikan AS, serta bea masuk sebesar 5% atas komponen mobil, berlaku efektif pada 15 Desember. Untuk diketahui, China sebelumnya telah berhenti membebankan bea masuk tersebut pada bulan April, sebelum kini kembali mengaktifkannya.

“Sebagai respons terhadap tindakan AS, China terpaksa mengambil langkah balasan,” tulis pernyataan resmi pemerintah China, dilansir dari CNBC International.

Eskalasi berikutnya datang dari langkah AS yang merespons bea masuk balasan dari China dengan bea masuk versinya sendiri. Melalui cuitan di Twitter, Trump mengumumkan bahwa per tanggal 1 Oktober, pihaknya akan menaikkan bea masuk bagi US$ 250 miliar produk impor asal China, dari yang saat ini sebesar 25% menjadi 30%.

Sementara itu, bea masuk bagi produk impor asal China lainnya senilai US$ 300 miliar yang akan mulai berlaku pada 1 September (ada beberapa produk yang pengenaan bea masuknya diundur hingga 15 Desember), akan dinaikkan menjadi 15% dari rencana sebelumnya yang hanya sebesar 10%.

“…Yang menyedihkan, pemerintahan-pemerintahan terdahulu telah membiarkan China lolos dari praktek perdagangan yang curang dan tidak berimbang, yang mana itu telah menjadi beban yang sangat berat yang harus ditanggung oleh masyarakat AS. Sebagai seorang Presiden, saya tak lagi bisa mengizinkan hal ini terjadi!….” cuit Trump melalui akun @realDonaldTrump.

Kala dua negara dengan nilai perekonomian terbesar di planet bumi terus saling balas mengenakan bea masuk untuk produk impor dari masing-masing negara, memang aktivitas konsumsi dan investasi akan terpengaruh yang pada akhirnya membuat aktivitas perdagangan dunia menjadi lesu.

Pada tahun 2017, International Monetary Fund (IMF) mencatat pertumbuhan ekonomi global melonjak menjadi 3,789%, dari yang sebelumnya 3,372% pada tahun 2016, sekaligus menandai laju pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2011.

Pada tahun 2018, pertumbuhan ekonomi global melandai menjadi 3,598%. Untuk tahun 2019, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan kembali melandai menjadi 3,328%. Jika terealisasi, maka akan menandai laju pertumbuhan ekonomi terburuk sejak tahun 2009 kala perekonomian global justru terkontraksi sebesar 0,107% akibat krisis keuangan global.

Di sisi lain, tekanan yang begitu besar yang menerpa bursa saham Hong Kong juga dimotori oleh aksi demonstrasi yang terus saja terjadi di sana. Kemarin (25/8/2019), aksi demonstrasi kembali digelar di Hong Kong dan berakhir dengan ricuh, di mana polisi sampai menembakkan senjata api ke langit. Lebih lanjut, aparat kepolisian Hong Kong untuk kali pertama menembakkan water cannon ke arah demonstran.

Aksi demonstrasi ini dilakukan untuk menuntut pemerintah Hong Kong melakukan reformasi, pasca sebelumnya pemerintahan Carrie Lam mengajukan rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi yang mendapatkan kecaman dari berbagai elemen masyarakat Hong Kong. RUU ini pada akhirnya dimatikan sendiri oleh Lam.

RUU ini sebelumnya dipandang sebagai masalah besar oleh masyrakat Hong Kong, beserta juga kalangan internasional. Pasalnya, kebebasan berpendapat yang selama ini menjadi salah satu pembeda utama antara China dan Hong Kong bisa musnah karenanya.

Simpelnya, bisa saja orang di Hong Kong (baik itu warga negara maupun bukan) ditangkap dan kemudian dikirim ke China untuk diadili hanya karena postingan di sosial media yang dianggap merendahkan pemerintah China.

Pasar Modal

Karena Fluktuasi Rupiah IHSG Diproyeksi Kurang Bertenaga

Published

on

Finroll – Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melaju di zona merah pada perdagangan Senin (20/7). Hal ini dikarenakan nilai tukar rupiah yang bergerak fluktuatif pekan lalu.

Director Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan mayoritas investor asing juga masih melakukan transaksi jual. Dengan demikian, asing tercatat jual bersih (net sell) beberapa waktu terakhir.

Mengutip RTI Infokom, rupiah ditutup melemah 0,77 persen ke level Rp14.725 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu. Jika dilihat dalam satu pekan terakhir, rupiah terkoreksi 2,08 persen.

Sementara, investor asing di seluruh pasar (all market) tercatat jual bersih (net sell) sebesar Rp400,68 miliar dan pasar reguler net sell Rp519,14 miliar pada Jumat lalu. Asing juga terlihat net sell sepanjang pekan lalu mencapai Rp1,13 triliun dan pasar reguler Rp1,18 triliun.

“Pergerakan IHSG terlihat masih betah berada dalam rentang konsolidasi wajar. Hari ini IHSG berpotensi bergerak melemah,” ungkap William dalam risetnya.

Ia bilang IHSG masih sulit menembus area 5.200. Diproyeksikan, indeks bergerak dalam rentang support 4.988 dan resistance 5.123.

Senada, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee memprediksi IHSG bergerak di teritori negatif pada hari ini hingga empat hari ke depan. Menurutnya, indeks akan berada dalam rentang support 4.985-5.069 dan resistance 5.116-5.139 pada pekan ini.

“Pekan ini kami perkirakan IHSG berpeluang konsolidasi melemah,” ucap Hans dalam risetnya.

“Pasar saham masih akan dipengaruhi peningkatan kasus infeksi virus corona di berbagai negara bagian AS, potensi semi-lockdown, dan penundaan pembukaan ekonomi,” terang Hans.

Hans menjelaskan terdapat beberapa sentimen negatif yang berasal dari eksternal. Salah satunya soal peningkatan kasus virus corona di dunia.

Selain itu, pelaku pasar juga menanti keputusan pemerintah AS terkait stimulus fiskal baru yang akan dikucurkan di tengah pandemi virus corona. Hal ini dibutuhkan untuk memompa perekonomian di AS.

Kemudian, memanasnya hubungan AS dan China juga masih menjadi sentimen negatif untuk pasar saham. Hubungan kedua negara kembali memburuk karena AS mempermasalahkan klaim kepemilikan China terhadap sumber daya di Laut China Selatan.

“Pembahasan stimulus baru di AS akan menjadi perhatian pelaku pasar menyusul berakhirnya beberapa stimulus fiskal di AS pada 31 Juli 2020,” terang Hans.

Dari internal, Hans menambahkan pelaku pasar sedang menunggu laporan keuangan emiten periode kuartal II 2020. Jika mayoritas hasilnya negatif, maka pasar saham akan semakin melemah.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Pasar Modal

Karena Kekhawatiran Kasus Covid-19 IHSG Berpotensi Lesu

Published

on

Finroll – Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melemah pada perdagangan Senin (29/6). Hal ini dikarenakan jumlah kasus infeksi covid-19 masih mengkhawatirkan.

Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan menyebut jumlah kasus harian virus corona yang masih tinggi menekan optimisme investor akan pemulihan perekonomian global dan dalam negeri.

“IHSG diprediksi melemah. Jumlah kasus harian covid-19 secara global yang semakin tinggi masih cukup mengkhawatirkan, sehingga perekonomian tidak akan bisa pulih dengan cepat,” katanya.

Senada, Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya menyebut pergerakan IHSG dibayangi sentimen negatif pasar global. Namun demikian, koreksi diprediksi terbatas.

Ia memproyeksi indeks saham bergerak di rentang support 4.850-4.877 dan resistance 4.936-4.968.

“Sentimen negatif dari pergerakan pasar dunia yang berada dalam tekanan masih membayangi pergerakan IHSG hingga saat ini,” jelasnya.

Ia memperkirakan IHSG melaju di rentang 4.789-4.971.

Dari bursa luar negeri, saham-saham utama Wall Street kompak ditutup melemah. Indeks Dow Jones terkoreksi 2,84 persen ke level 25.015, S&P 500 terjun 2,42 persen ke level 3.009, dan Nasdaq Composite turun 2,59 persen menjadi 9.757.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Pasar Modal

Jelang Rilis Suku Bunga BI IHSG Diramal Hijau

Published

on

Finroll – Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramal menguat pada perdagangan Kamis (18/6) jelang rilis suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya menyebut investor akan mencermati rilis suku bunga acuan BI sebagai sinyal stabilitas perekonomian Indonesia. Suku bunga acuan yang diperkirakan tetap memberi sentimen positif akan stabilnya fundamental perekonomian dalam negeri.

“Kestabilan perekonomian yang terlihat dari data yang telah dilansir menunjukkan fundamental perekonomian yang cukup kuat,” katanya seperti dikutip dari risetnya, Kamis (18/6).

Ia memprediksi IHSG melaju di rentang 4.837 – 5.021.

Sepaham, analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan memperkirakan IHSG menguat didorong sentimen stimulus The Fed yang menyatakan akan meneruskan pembelian obligasi korporasi.

Namun, penguatan masih cukup terbatas dikarenakan masih ada kekhawatiran akan kelanjutan gelombang kedua wabah virus corona.

“IHSG diprediksi menguat. Pergerakan masih akan didorong sentimen atas stimulus The Fed,” katanya.

Menurut dia, indeks saham akan bergerak di rentang support 4.941-4.964 dan resistance 5.014-5.041.

Di sisi lain, saham-saham utama Wall Street ditutup bervariasi. Indeks Dow Jones merah 0,65 persen ke level 26.119, S&P 500 melemah 0,36 persen ke level 3.113, dan Nasdaq Composite menguat 0,15 persen menjadi 9.910.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending