Connect with us

Traveling

Candi Sumber Tetek, Situs Kuno yang Dipercaya Bisa Bikin Awey Muda

Published

on


Bicara tentang destinasi wisata Jawa Timur, kamu pastinya akan dengan mudah merujuk pada Kota Malang yang populer sebagai tujuan liburan. Padahal sebenarnya, ada banyak destinasi menarik yang bisa kamu temukan di sekitarnya.

Candi Sumber Tetek di Pasuruan adalah salah satu di antaranya. Dilansir dari berbagai sumber, Candi Sumber Tetek berlokasi di Desa Belahan Jowo, Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan. Candi ini merupakan salah satu peninggalan Majapahit yang dibangun pada 1049, tepatnya pada abad 11 masa Kerajaan Kahuripan.

Candi yang dikenal pula sebagai Candi Belahan itu terletak di kawasan hutan yang dikelola Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan. Menurut situs yang ada di sekitarnya, hadirnya Candi Sumber Tetek didahului oleh Candi Patirtan Jolotundo.

Candi Patirtan Jolotundo merupakan situs kuno yang didirikan oleh Sang Ratu Maruhani Sri Dharmodayana Warmadewa, seorang raja penguasa Pulau Bali dari Wangsa Warmadewa yang lebih populer dikenal sebagai Udayana. Candi Patirtan Jolotundo atau Petirtaan Jolotundo berlokasi di Gunung Bekal, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Udayana mendirikan Petirtaan Jolotundo ketika permaisurinya, Mahendratta, putri Raja Sri Makutawangsawardhana dari Kerajaan Medang melahirkan Airlangga pada 997 Masehi. Ketika Airlangga telah dewasa dan menjadi raja, ia kemudian mendirikan Candi Sumber Tetek sebagai lokasi pemandian bagi para permaisuri dan juga selir-selirnya.

Kisah sejarah inilah yang menjadi alasan, bahwa walaupun kini kedua situs tersebut berada di kabupaten yang berbeda, tapi masih sama-sama berada di kawasan Gunung Penanggungan. Candi Patirtan Jolotundi di sebelah selatan, sementara Candi Sumber Tetek berada di lereng utaranya.

Di dalam kompleks Candi Sumber Tetek, kamu akan menemukan dua buah patung wanita, yakni Dewi Laksmi dan Dewi Sri yang dipahat menggunakan batu andesit. Kedua patung ini ditempatkan bersampingan dan menempel pada dinding candi yang terbuat dari batu merah. Kedua dewi ini dipilih karena melambangkan kesuburan serta kemakmuran.

Di dinding candi, kamu akan menemukan ukiran relief yang eksotik dan berbagai pesan moral. Sementara di bagian bawah patung, kamu akan menemukan sebuah kolam berukuran 4×5 meter yang memiliki kedalaman sekitar selutut orang dewasa.

Kolam tersebut dialiri air pegunungan melalui pipa kecil yang berada di sisi kanan kolam dan juga payudara (dalam bahasa Jawa dikenal sebagai (“Tetek”) patung Dewi Laksmi. Konon, air yang mengalir dari Candi Sumber Tetek atau yang dikenal pula sebagai Petirtaan Belahan ini dapat membuat kamu menjadi awet muda.

Karenanya, jangan heran jika banyak pengunjung yang datang ke tempat ini untuk mandi, membasuh wajah, hingga minum dari sumber air tersebut. Sebelum pulang, mereka bahkan mengisi wadah yang sebelumnya telah disiapkan untuk dibawa ke rumah masing-masing.

Selain digunakan sebagai tempat pemandian, Candi Sumber Tetek juga diyakini menjadi lokasi pertapaan Prabu Airlangga. Masyarakat sekitar juga percaya bahwa Airlangga merupakan perwujudan Dewa Wisnu. Karena ia merupakan salah satu pengikut Dewa Wisnu yang setia dan semasa hidup dikenal taat dalam menjalankan ajaran Dewa Wisnu.

Salah satu buktinya adalah keberadaan arca Dewa Wisnu yang digambarkan menurut rupa Airlangga yang tengah mengendarai Garuda di dalam komplek candi ini. Namun kini, kamu tidak dapat menemukan arca prasasti tersebut karena telah dipindahkan ke Museum Purba Trowulan di Mojokerto.

Menurut cerita dari masyarakat sekitar, dahulu di Candi Sumber Tetek juga terdapat patung Wisnu menunggangi burung garuda, Wisnu merupakan perwujudan Airlangga, karena semasa hidupnya menganut ajaran Dewa Wisnu. Saat ini patung tersebut tersimpan di museum Purbakala Trowulan Mojokerto, Jawa Timur.

Situs kuno yang telah berusia lebih dari 1000 tahun tersebut sejauh ini belum pernah disentuh oleh proyek pemugaran, sehingga masih membawa bentuk aslinya. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah biasanya dilakukan di sekitar candi, seperti di kawasan pagar pembatas.

Bagi kamu yang berencana datang ke kawasan Candi Sumber Tetek, ada satu aturan yang mesti diketahui, pahami, dan taati. Yaitu tidak datang ketika tengah berhalangan atau saat menstruasi, karena bisa menimbulkan kesialan bagi dirimu sendiri.

Menarik sekali, ya. Berminat memasukkan Candi Sumber Tetek dalam daftar destinasi wisatamu saat berlibur di Jawa Timur?

Kuliner

Korean Garlic Bread, dari Kaki Lima sampai Viral di Indonesia

Published

on

Finroll – Jakarta, Setelah kopi dalgona, kini muncul kuliner Korea Selatan lainnya yang viral di Indonesia yakni Korean garlic cheese bread atau cream cheese garlic bread.

Jangan salah, Korean garlic cheese bread berbeda dengan garlic bread ala Eropa. Garlic bread Korea memiliki tekstur yang empuk dan creamy sedangkan garlic bread Eropa punya tekstur yang renyah dan gurih.

Sejumlah sumber menyebut Korean cheese garlic berawal dari Kota Gangneung yang berada di Provinsi Gangwon. Makanan ini awalnya merupakan kuliner kaki lima Korea atau street food.

Toko roti Pain Famille membuat olahan roti menyerupai bawang putih yang terdiri dari enam siung, dikenal juga dengan bawang putih enam sisi. Ada juga yang mengirisnya melintang seperti sosis dengan menggunakan roti yang agak panjang. Namun yang populer saat ini adalah roti bulat dengan irisan yang seperti bintang.

Dari Kota Gangneung, roti krim keju bawang putih itu dibawa ke pusat kuliner Gangnam, sebuah distrik hype dan terkenal di Seoul. Dari situ cheese garlic bread semakin diminati orang Korea dan masuk dalam daftar menu baru di banyak cafe.

“Dari tahun lalu sudah tren dan ada toko yang sampai jualan di mal-mal besar Korea. Sampai sekarang masih tren, di cafe-cafe lain juga mulai jualan,” kata salah seorang warga Korea Selatan Ryu Hanna kepada CNNIndonesia.com, Kamis (16/7).

Cream cheese garlic bread merupakan olahan roti, seperti roti burger, tapi dipotong enam sisi yang saling menyilang menyerupai siung bawang putih yang diberi keju dan dilumuri bumbu dan dipanggang. Krim keju yang meleleh dengan sensasi rasa bawang putih yang gurih memberikan sensasi yang berbeda dengan jenis roti lainnya.

Alasan Korean Garlic Cheese Bread jadi tren

Sebagai warga Korea, Hanna mengungkapkan ada beberapa alasan mengapa roti ini jadi tren di negaranya.

Alasan pertama adalah karena berbagai varian roti merupakan panganan yang sudah lama akrab dengan orang Korea Selatan. Sedangkan bawang putih adalah bumbu wajib yang tak pernah absen dalam setiap makanan baik dimakan mentah atau dipanggang.

“Roti sudah lama disukai orang Korea. Bawang putih banyak digunakan di masakan Korea jadi sudah sangat akrab, apalagi kalau panggang daging selalu ada entah dimakan mentah atau dipanggang juga.”

Begitu pula dengan keju yang kerap ditambahkan pada setiap makanan, seperti tteokbokki, ramen, dan ayam. Perpaduan roti, bawang putih, dan keju ini menciptakan rasa gurih yang nikmat.

Selain rasa yang nikmat dan bentuk yang unik, pemasaran yang tepat membuat kuliner ini semakin populer. Pemasaran yang mengandalkan media sosial seperti Instagram juga membuat panganan ini viral bahkan sampai ke Indonesia. Apalagi kini Korea tengah menjadi sorotan di dunia hiburan lewat K-Pop.

Di Indonesia, Korean cream cheese garlic banyak dijajakan di media sosial dan semakin diminati banyak orang. Selain itu Anda juga bisa membuatnya sendiri di rumah.

Proses membuatnya tak rumit, Anda hanya butuh butter, saus keju, roti bun, dan bawang putih.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Traveling

Kepulauan Togean Direncanakan Buka Kembali Agustus

Published

on

Finroll – Jakarta, Bagi yang sudah tak sabar ingin snorkeling atau diving di Kepulauan Togean, Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (BTNKT) berencana membuka kembali destinasi wisata bahari di Kabupaten Tojo Unauna, Sulawesi Tengah, itu pada pertengahan Agustus 2020.

“Rencana kami seperti itu sebagaimana usulan para pihak, sebab banyak hal yang perlu dipertimbangkan jika objek wisata ini beroperasi kembali,” kata Kepala BTNKT Bustang saat dihubungi dari Palu, Sulteng, Minggu (19/7), seperti yang dikutip dari Antara.

Dia menjelaskan saat ini pihaknya sedang menyusun berbagai kebijakan adaptasi baru COVID-19 yang nantinya akan menjadi pedoman bagi setiap wisatawan berkunjung di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean.

Destinasi wisata Kepulauan Togean berskala internasional, sehingga dipandang perlu menyusun kebijakan yang ketat agar wisatawan berkunjung betul-betul terbebas dari virus corona.

Dikemukakannya, sejumlah objek wisata di Kabupaten Tojo Unauna sudah mulai dibuka kembali berdasarkan surat edaran bupati setempat termasuk objek wisata di darat.

Kunjungan baru dibolehkan untuk wisatawan lokal.

Destinasi taman nasional yang menjadi wilayah pengawasan Taman Nasional Kepulauan Togean hingga kini belum beraktivitas, sesuai aturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), yang menyebutkan jika membuka kembali objek wisata di kawasan lindung, maka perlu dipersiapkan prosedur kunjungan sesuai protokoler kesehatan, sebab kondisi dalam negeri belum kondusif dari wabah COVID-19.

“Atas dasar itu, kami perlu koordinasi dengan pemerintah setempat, pelaku industri pariwisata, TNI/Polri hingga pemangku kepentingan agar sektor pariwisata tidak menjadi klaster baru penularan virus corona,” papar Bustang.

Menurutnya, destinasi wisata bahari Kepulauan Togean sudah tidak asing bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara, apa lagi Kepulauan Togean saat ini sudah ditetapkan sebagai cagar biosfer oleh UNESCO, yang semakin mempertegas kedudukan Togean sebagai salah satu objek wisata unggulan di Tanah Air.

Maka, aturan baku yang diterapkan pun harus ketat dengan melibatkan sejumlah unsur terkait, termasuk Tim Gugus Tugas COVID-19 bertugas memeriksa setiap pengunjung masuk di kawasan tersebut.

“Penyusunan prosedur cukup memakan waktu. Saat ini, kami masih dalam tahap persiapan, jika semua sudah mantap baru baru kami buat satu acara seremonial pengoperasian kembali destinasi ini,” demikian Bustang.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Kuliner

Kenangan akan Mbah Lindu Penjual Gudeg Legendaris Yogyakarta

Published

on

Finroll – Jakarta, Penjual gudeg legendaris di Yogyakarta, Setyo Utomo atau dikenal dengan Mbah Lindu berpulang pada Minggu (12/7). Mbah Lindu meninggal di usia 100 tahun.

Terhitung puluhan tahun sudah ia menjual gudeg di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Pakar kuliner, William Wongso kagum akan konsistensi Mbah Lindu menekuni kuliner gudeg.

“Aku ini sampai bilang, apa yang dilakoni Mbah Lindu itu mestinya sudah masuk ke Guinness World Records. Berarti kan kalau dia meninggal sekarang, 100 tahun, dia berarti kan sudah kira-kira 85 tahun itu masak gudeg. Nggak ada itu di dunia itu begitu, nggak pernah ada,” ungkap William kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (13/7).

Saat masih berjualan di kawasan Malioboro, Mbah Lindu memulai lapak sejak pagi. Dalam film dokumenter produksi Lumix Indonesia pada 2017, Mbah Lindu bercerita mulai berangkat dari rumah sekitar pukul 05.00 WIB.

Dagangan akan ditutup sekitar pukul 9 hingga 10 pagi. Siang harinya, ia akan mulai memasak lagi untuk keesokannya. Gudeg yang biasanya sudah matang sekitar pukul 7 malam itu lantas ditutup dan didiamkan.

“Pukul dua dini hari saya mulai bangun, menanak nasi dan membuat bubur,” tutur Mbah Lindu yang saat itu ketika diwawancara berusia 97 tahun.

Dalam film dokumenter itu pula Mbah Lindu mengungkapkan, alasan mengapa ia betah berjualan gudeg hingga puluhan tahun.

“Menerima. Nerima, ya seadanya, nggak ada [keinginan] apa-apa, enggak macam-macam, nggak ada yang pengen yang gimana. Menerima milik sendiri, dan melihat anak dan cucu sehat,” kata Mbah Lindu saat diwawancara pada usia 97 tahun.

William Wongso mengaku takjub terhadap kegigihan Mbah Lindu melakoni hidup. Mbah Lindu bagi William, merupakan sosok perempuan yang mencurahkan hidup untuk keluarga.

“Aku melihat ibu itu, perempuan Jawa banget, yang menurutku prigel, tabah dan, pede. Yang memikirkan hidupnya itu bukan untuk diri sendiri, tapi selalu untuk anak dan cucu. Itu tampak ketika ngobrol, dari cerita,” kata William.

Ia pun mengingat kesempatannya bertandang ke rumah Mbah Lindu. Setiap kali mampir, William tak absen memesan bubur gudeg sebagai menu langganan.

“Kan dia bukanya pagi. Kalau aku itu, selalu beli bubur gudeg itu racikannya nggak mau pakai ayam. Hanya gudeg, sama krecek sama tahu,” William mengenang.

Makanan khas Yogyakarta bikinan Mbah Lindu menurut William, tak bisa dibandingkan dengan gudeg lain. Kata dia, masing-masing gudeg memiliki karakter dan khas sendiri-sendiri.

“Kalau Yu Djum itu kan kering, kalau Mbah Lindu itu nggak terlalu kering dan nggak terlalu basah. … Gudeg di Yogya itu tidak bisa dibandingkan satu sama lain karena masing-masing itu punya rasa,” tutur dia.

William yakin seraya berharap, usaha kuliner gudeg ini kelak diteruskan oleh anak Mbah Lindu. “Pasti ada yang meneruskan anaknya, yang perempuan itu,” sambung dia.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending