Connect with us

Komoditi

Cara Pertamina Bertahan Hidup dari Tekanan Virus Corona

Published

on


PT Pertamina (Persero) melakukan berbagai upaya untuk menjaga kondisi perusahaan dari tekanan pandemi virus corona (Covid-19). Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan salah satu upaya yang dilakukan adalah memangkas belanja operasional (operational expenditure/opex) secara signifikan.

Upaya ini dilakukan guna menyeimbangi pemasukan yang anjlok akibat berkurangnya permintaan.

“Opex kami potong 30 persen untuk grup, baik anak, cucu, hingga cicit perusahaan. Investasi juga lebih selektif kami potong 25 persen sehingga banyak investasi baru di hulu tidak dulu,” jelasnya dalam video conference, Kamis (30/4).

Ia mengungkapkan kebijakan dilakukan karena secara nasional, permintaan BBM jatuh 25 persen. Bahkan di kota-kota besar permintaan BBM morosot di atas 50 persen. Kota tersebut antara lain, DKI Jakarta yang turun 50 persen dan Bandung 57 persen.

“Ini penjualan terendah sepanjang sejarah PT Pertamina, baru kali ini Pertamina mengalami kondisi luar bisa,” ucapnya.

Selain itu, perseroan juga memutuskan untuk mengurangi kapasitas produksi pada sejumlah kilang pada periode April-Mei. Kesempatan tersebut, digunakan perseroan untuk melakukan pemeliharaan kilang.

Lebih lanjut, Pertamina memanfaatkan harga minyak mentah yang murah untuk memenuhi kapasitas penyimpanan (storage). Ia menuturkan perseroan telah memborong 10 juta barel minyak mentah, 9,3 juta barela BBM, dan 2,2 juta metrik ton elpiji.

Bahkan, lanjutnya, persediaan Pertamina mencukupi untuk dua bulan dari biasanya 16-18 hari. “Kami beli sekitar 2-3 minggu lalu, tapi kami tidak bisa tambah lagi karena sudah penuh storagenya,” paparnya.

Guna menggenjot pembelian, Pertamina juga memberikan layanan pengiriman kepada konsumen bekerja sama dengan ojek online. Ia mengaku Pertamina juga tengah melirik pasar ekspor baru untuk solar di tengah pandemi.

Sebab, beberapa perusahaan yang biasanya memasok solar mengalami kebangkrutan akibat pandemi tersebut.

Nicke menuturkan Pertamina mengalami tiga tekanan sekaligus. Selain anjloknya permintaan, pelemahan nilai tukar rupiah juga ikut membebani kinerja perseroan.

Sebab, 93 persen pengeluaran Pertamina dalam denominasi dolar AS. Tapi, di sisi lain, pendapatan perusahaan justru berbentuk rupiah. Imbasnya, ia memprediksi pendapatan perseroan turun 38 persen hingga 40 persen tahun ini.

“Sehingga ini timbulkan mismatch, baik dalam laporan keuangan maupun arus kas,” ujarnya.

Selanjutnya, anjloknya harga minyak dunia juga membebani perseroan. Pasalnya, meskipun harga minyak jatuh namun aktivitas di sektor hulu Pertamina tetap berjalan.

“Triple shock ini jalan bersamaan, dalam kondisi normal kalau ICP turun ini menurunkan Harga Pokok Produksi (HPP), tapi dengan catatan demand (permintaan) sama, tapi ketika demand turun ini jadi tidak imbang,” jelasnya. (ulf/agt)

Advertisement Valbury

Komoditi

Jumat 10 Juli, Harga Emas Turun ke Rp 937 Ribu per Gram

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga jual emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam berada di posisi Rp937 ribu per gram pada perdagangan Jumat (10/7) pagi. Harga emas turun Rp3.000 dari Rp940 ribu per gram dibandingkan kemarin.

Begitu juga dengan harga pembelian kembali (buyback) turun Rp3.000 per gram dari Rp838 ribu menjadi Rp835 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp498,5 ribu, 2 gram Rp1,81 juta, 3 gram Rp2,69 juta, 5 gram Rp4,46 juta, 10 gram Rp8,86 juta, 25 gram Rp22,03 juta, dan 50 gram Rp43,99 juta.

Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp88,91 juta, 250 gram Rp219,51 juta, 500 gram Rp440,32 juta, dan 1 kilogram Rp877,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara, harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.808,8 per troy ons atau tumbuh 0,28 persen. Sedangkan harga emas di perdagangan spot melemah 0,04 persen ke US$1.802,87 per troy ons pada pagi ini.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan harga emas di pasar internasional kemungkinan masih akan menguat di kisaran US$1.785 sampai US$1.820 per troy ons pada hari ini, meski rentangnya sedikit turun dari hari-hari sebelumnya.

“Harga emas bisa bertahan di atas kisaran US$1.800 per troy ons dengan kekhawatiran pasar terhadap penularan covid-19 yang masih terus meninggi,” terang Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Hanya saja, sambungnya, harga emas agak dibayangi oleh penguatan dolar AS pada hari ini, sehingga rentang pergerakannya tidak setinggi yang lalu.

Selain itu, ada sentimen dari faktor teknikal karena emas mencapai kisaran tinggi secara terus menerus sepanjang pekan ini.

“Penguatan dolar AS ini bisa menekan harga emas,” pungkasnya.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Komoditi

Hari Ini 7 Juli, Harga Emas Menguat ke Rp 934 Ribu per Gram

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga jual emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam berada di posisi Rp 934 ribu per gram pada Selasa (7/7). Posisi itu naik Rp3.000 dari Rp931 ribu per gram pada Senin (6/7).

Begitu juga dengan harga pembelian kembali (buyback) naik Rp3.000 per gram dari Rp829 ribu menjadi Rp831 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp497 ribu, 2 gram Rp1,8 juta, 3 gram Rp2,68 juta, 5 gram Rp4,45 juta, 10 gram Rp8,83 juta, 25 gram Rp21,96 juta, dan 50 gram Rp43,84 juta. Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp87,61 juta, 250 gram Rp218,76 juta, 500 gram Rp437,32 juta, dan 1 kilogram Rp874,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.794,8 per troy ons atau naik0,07 persen. Sedangkan harga emas di perdagangan spot turun 0,02 persen ke US$1.784,4 per troy ons pada pagi ini.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra melihat harga emas di pasar internasional akan menguat lagi hari ini karena masih ada sentimen positif untuk aset safe haven ini. Proyeksinya, harga emas berada di rentang US$1.765 sampai tembus US$1.800 per troy ons pada hari ini.

“Penguatan harga emas masih didukung oleh kekhawatiran pasar terhadap peningkatan laju penularan covid-19 di dunia yang melambatkan pertumbuhan ekonomi,” ungkap Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organizations/WHO) mencatat ada 202 ribu kasus corona baru di dunia pada Senin (6/7). Saat ini, jumlah kasus positif mencapai 11,32 juta orang dengan kasus kematian mencapai 532 ribu orang.

Namun, data ekonomi di berbagai negara belum cukup meningkat signifikan sejak pelonggaran kebijakan penguncian wilayah (lockdown) dilakukan. Begitu pula dengan aktivitas ekonomi yang sudah berlangsung di banyak negara.

Di sisi lain, pergerakan harga emas juga terpengaruh oleh semakin besarnya stimulus dari bank sentral AS, The Federal Reserve. The Fed memberi stimulus sebagai bantalan ekonomi karena aktivitas belum memberi pengaruh pada dunia usaha dan masyarakat.

“Stimulus besar bank sentral AS yang memperbesar likuiditas dolar AS sehingga emas menjadi lebih menarik untuk dibeli,” katanya.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Business

Data Ekonomi Asia dan Eropa Cungkil Harga Minyak Dunia

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia naik hingga 3,1 persen pada penutupan perdagangan Senin (30/6). Penguatan harga minyak ini ditopang oleh data ekonomi di Asia dan Eropa.
Mengutip Antara, Selasa (30/6), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus naik 69 sen atau 1,7 persen menjadi US$41,71 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus menguat US$1,21 atau 3,1 persen menjadi US$39,7 per barel di New York Mercantile Exchange.

Data Komisi Eropa menunjukkan ada perbaikan di seluruh sektor pada Juni 2020. Dari segi sentimen, posisinya naik dari 67,5 pada Mei 2020 menjadi 75,7 pada Juni 2020.

Sementara, keuntungan industri di China meningkat untuk pertama kalinya setelah enam bulan terus menurun. Realisasi ini menunjukkan pemulihan ekonomi sedang terjadi di China.

Ditambah, bursa saham Amerika Serikat (AS) juga menguat pada Senin (29/6). Hal itu menambah sentimen positif bagi harga minyak mentah dunia.

Namun demikian, kenaikan harga minyak mentah dunia terbilang tipis karena pasar masih khawatir dengan gelombang kedua pandemi virus corona. Pasalnya, pasien yang meninggal akibat pandemi itu telah melampaui setengah juta orang di dunia.

Oleh karena itu, beberapa negara bagian di AS memutuskan untuk kembali menerapkan pembatasan di ruang publik setelah ada lonjakan kasus. Salah satunya adalah Pemerintah California yang menutup operasional bar mulai Minggu (28/6).

Hal yang sama juga dilakukan Texas dan Florida usai pemerintah Texas mengeluarkan kebijakan penutupan bar pada akhir pekan lalu. Lalu, Washington dan San Fransisco telah menghentikan rencana pelonggaran pembatasan di ruang publik.

 

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending