Connect with us

Automotive

Catatan Test Drive All New Livina

Published

on


Finroll.com – Nissan Livina generasi kedua lahir berkat kerjasama pabrikan dengan Mitsubishi. Menggunakan platform yang sama seperti Xpander, Nissan coba penetrasi pasar lagi dengan model MPV-nya itu.

Kalau bicara diferensiasinya sebenarnya hanya sedikit yang bisa diulas. Secara spesifikasi tidak jauh berbeda dengan Xpander, jantung mekanis pun tidak ada bedanya.

Perbedaan kentara paling dari kosmetika, fitur, dan beberapa sentuhan kecil di interiornya.

Lalu seperti apa rasa mengemudikan Livina yang berubah drastis ini? Berikut ulasan test drive Nissan Livina tipe VL A/T selama dua hari pada 24-25 Juni 2019 yang menyusuri kota Semarang, Solo, dan Yogyakarta.

Posisi mengemudi

Oke seperti biasa kami bahas dari posisi mengemudinya dulu. Karena merupakan varian paling tinggi, ini punya pengaturan ketinggian jok secara manual dengan kenop putar.

Kemudian dari segi visibilitas, cukup baik. Dalam artian pilar A tidak begitu mengintimidasi dan tampilan spion tengah juga mampu mengakomodasi seluruh area jendela belakang.

Tapi tetap saja, lingkar kemudi yang menyerupai Xpander membuat feeling berkendara tidak begitu berbeda dengan kembarannya itu.

Performa

Perjalanan test drive diawali dengan menyusuri kawasan kota tua Semarang dari kelenteng Sam Poo Kong. Sayangnya kondisi masih padat lalu lintas, jadinya belum bisa rasakan performa mesin 1.500 cc-nya ini.

Namun, impresi soal kekedapan kabin Nissan Livina ini jempolan. Menarik, saat bermacet-macet ria di kawasan kota tua, cuma sayup-sayup hembusan blower AC yang terdengar.

Tapi beda cerita ketika memasuki ruas tol Ungaran-Solo. Meskipun dalam keadaan beriringan dan dalam kecepatan rata-rata 80 sampai 100 km/jam, sudah cukup sih merasakan tenaganya.

Rasanya, seperti mobil bermesin 1.500 cc lainnya, tenaga mesin naik secara linear. Perpindahan gigi satu sampai empat terjadi pada putaran di bawah 2.000 rpm.

Nah, kalau langsung bejek gas, perpindahan napasnya lebih panjang lagi, pergantian gigi ada di atas 2.000-an rpm.

Handling dan bantingan suspensi

Ada yang lebih menarik soal impresi tenaganya. Profil suspensinya ketika berjalan di tol yang mayoritasnya berupa jalanan beton, sangat halus, juga minim gejala limbung.

Puncaknya saat overdrive dimatikan, hingga lama-lama tidak sadar sudah menggeber pada kecepatan yang terbilang tinggi, ayunan suspensi masih terasa lembut. Getaran ketika putaran mesin sampai 6.500 rpm juga sama sekali tidak terasa. Untuk hal ini kami akui di luar ekspektasi.

Impresi penumpang tengah, kenyamanan, dan konsumsi bensin

Puas mengemudikan mobil, saatnya berpindah ke baris tengah. Soal akomodasinya, kursi bisa diatur reclining ataupun sliding.

Sayangnya tidak tersedia dermaga USB guna pengisian gawai. Ada sebenarnya di dalam konsol boks tengah, tapi masih harus dihubungkan dulu dengan adaptor. Karena adaptor hanya dipasangkan pada power outlet di dashboard, jadinya untuk mengisi ponsel melalui power bank.

Kekurangan lainnya adalah absennya head rest tengah pada jok baris tengahnya ini. Untung saja pengetesan dilakukan oleh empat awak media setiap mobilnya, jadi setiap kepala bisa bersandar.

Oh iya, tidak lupa masih berkaitan soal kenyamanan dan bantingan suspensinya yang lembut, kami terbuai hingga beberapa kali tertidur.

Masuk hari kedua, pengetesan tidak lagi di jalan tol, perjalanan dilanjutkan menyusuri jalur ring road Yogyakarta yang cukup padat kendaraan dan mengakhiri etape di diler Nissan Mlati. Pada kesempatan ini, kumparan coba tes soal kualitas audionya.

Bermodal aplikasi Spotify pada smartphone dan lagu Sinaran dari Sheila Majid yang didominasi alunan bass, kualitas audionya patut diacungi jempol. Bukan cuma bass, suara treble juga mampu mengimbangi musik.

Bisa jadi karena penyematan tweeter pada pilar A yang membuat suaranya jadi seimbang dan nyaman didengar.

Secara keseluruhan, perjalanan ini memakan jarak tempuh 223 km berdasarkan odometer pada panel instrumen. Sementara konsumsi bahan bakarnya mencapai 7,4 km/liter.

Jangan katakan boros dulu guys, sebelumnya MID Nissan Livina juga menunjukkan 12,9 km/liter. Perolehan angka tersebut mengecil karena pada menit-menit akhir perjalanan harus ditempuh lebih cepat guna mengejar agenda berikutnya, membuat pedal gas diinjak sedikit dalam.

Advertisement

Automotive

Head to Head dengan Toyota Rush, Berapa Harga Mitsubishi Xpander Crossover?

Published

on

By

PT Mitsubishi Motors Indonesia Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) akan meluncurkan model terbaru yang disebut sebagai MPV Crossover. Dari siluet yang disebar, besar kemungkinan model terbaru itu adalah Mitsubishi Xpander Crossover.

Model ini akan bermain di segmen Low SUV dan berhadapan langsung dengan sejumlah model seperti Toyota Rush, Daihatsu Terios, Honda BR-V, dan Suzuki Ertiga Sport. Lantas berapa harga ideal untuk Mitsubishi Xpander Crossover?

Mitsubishi Xpander saat ini dipasarkan dalam delapan varian. Termurah adalah Rp 210,3 juta dan termahal Rp 265,1 juta. Sedangkan Toyota Rush dijual mulai dari Rp 244,25 juta hingga Rp 265,65 juta.

Daihatsu Terios dipasarkan mulai dari Rp 202,3 juta hingga Rp 256,9 juta. Honda BR-V dibanderol mulai dari Rp 243,8 juta hingga Rp 286,2 juta. Suzuki Ertiga Sport ditawarkan dalam dua varian dengan harga Rp 246 juta dan Rp 256,5 juta.

Melihat daftar harga di atas, Tempo memperkirakan harga Xpander Crossover akan berada di antara Rp 240 juta hingga di bawah Rp 265 jutaan.

Continue Reading

Automotive

Motocross Klasik Honda XL500, Reborn?

Published

on

By

Kecintaan Deus dalam dunia modifikasi motor sudah tidak diragukan. Seperti halnya yang mereka lakukan untuk motorcross klasik Honda XL500.

“Monster 2-stroke di eranya sangat menarik perhatian dan banyak orang menghindarinya, tapi Honda membuat anda dapat tersenyum mengendarainya,” terang Director of Motorcycle Operations Deus Japan, Matthew Roberts, seperti dikutip dari Bikeexif.

Deus menggarap XL500 dengan konsep motor yang mudah dikendarai namun tetap memiliki bertenaga. Sehingga mereka lebih banyak melakukan perubahan di sektor suspensi dan berat motor, sehingga nyaman digunakan di medan onroad dan offroad.

Di bagian suspensi depan, mereka menggunakan fork milik XR600, yang dikawinkan dengan stem, steering bearing, dan headstock standar. Kemudian hub-nya mengadopsi milik Kawasaki KX250 yang dipasangkan di pelek 21 inci.

Agar berat motor dan riding position lebih nyaman, Deus menggarap ulang frame XL500. Kemudian swingarm pun di custom namun dengan memperhatikan standar kendaraan di Jepang.

Di bagian buritan, geometrinya mengadopsi ukuran milik Suzuki RM. Suspensi custom pun disematkan agar dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan geometri belakang motor.

Sedangkan sektor dapur pacu tidak banyak mengalami perubahan, mesin 500cc berdaya 32 daya kuda masih dipertahankan. Hanya saja karburatornya kini mengadopsi K&N dan knalpot custom.

Sebagai sentuhan akhir, motor ini di cat dengan warna hitam dan logo Deus dibagian tanki. Agar semakin manis, joknya diubah ulang di markas Deus.

Saat ini motor tersebut sudah siap untuk dibawa berjalan-jalan di jalanan Tokyo di malam musim panas.

Continue Reading

Automotive

Mengenal Toyota LQ, Mobil Masa Depan yang Memiliki Hati

Published

on

By

Mobil berteknologi autonomous nampaknya telah dilirik pabrikan otomotif dan gencar diperkenalan sebagai teknologi berkendara masa depan. Teknologi swakemudi ternyata mendapat sambutan cukup baik oleh para pecinta otomotif.

Hal tersebut mendorong Toyota untuk melahirkan mobil konsep terbarunya yang dberi nama Toyota LQ. Uniknya tak hanya sekadar bersistem kemudi autonomous alias dapat beroperasi dengan aman dan nyaman tanpa bantuan manusia, namun mobil ini juga dapat menciptakan hubungan dengan pengemudinya.

Hal itu dimungkinkan karena Toyota LQ memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) bernama “YUI” yang bisa membangun perasaan emosional yang sama seperti halnya saat pengguna mengemudikan langsung mobilnya, meski mobil ini beroperasi secara otonom.

Lewat Yui, pengemudi LQ Concept bisa berkomunikasi dengan mobil itu sendiri. Saat hendak melakukan pengaturan pada beberapa sistemnya, pengemudi hanya cukup melakukan perintah suara.

“Dalam sebuah era yang terfokus pada angka penjualan, produktivitas menjadi hal terpenting. Yang kita butuhkan sebelumnya adalah iQ. Berikutnya adalah era indera emosional . Yang kita butuhkan kemudian adalah eQ,” kata Akio Toyoda, Presiden Toyota Motor Corporation.

Toyota LQ merupakan konsep turunan dari Toyota Concept-i yang dikembangkan dengan konsep “Learn, Grow, Love”, yang memungkinkan pengguna dan mobil dapat berinteraksi lewat suara demi menjaga suasana kabin agar sesuai dengan mood pengemudi.

Kode nama LQ sendiri berasal dari singkatan L yang adalah Love, lalu Q dari kata Cue yang berarti isyarat atau keadaan hati.

Fitur sistem mengemudi otonom level 4 yang terdapat pada mobil ini pun seolah menegaskan bahwa mobil ini memang dilengkapi dengan fitur canggih yang sangat futuristik,yang mana fitur tersebut memungkinkan mobil untuk mencari tempat parkirnya sendiri. Augmented Reality Head Up Display (ARHUD) dalam memberikan informasi lengkap kepada pengemudi, yang sekaligus mengurangi pergerakan mata saat mengemudi.

Fitur pendukung kenyamanan lainnya seperti fitur pijat dan sistem pendingin yang terdapat pada setiap kursi LQ Concept akan membuat pengemudi betah berlama-lama di mobil ini. Bahkan, demi memberikan rasa aman, setiap kursi mobil ini juga dilengkapi dengan airbag.

Tak hanya sekadar tampilan fisik yang merepresentasikan masa depan, Toyota LQ juga amat ramah lingkungan berkat diaplikasikannya coating katalis khusus yang dapat mengurai gas ozon menjadi oksigen melalui kipas radiator. Hebatnya, berdasarkan penelitian tim Toyota menjalankan moil ini selama satu jam mampu mempurifikasi 60 persen ozon dari 1.000 liter udara.

Penasaran dengan kecanggihan mobil masa depan ini? Rencananya, Toyota LQ Concept akan diperkenalkan pertama kali pada ajang Tokyo Motor Show 2019.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending