Connect with us

International

Cerita Ngeri Pembantaian Etnis di Papua Nugini

Published

on


Finroll.com – Warga Desa Munima dan Karida di Papua Nugini (PNG) tentu merasakan suasana mencekam saat pembantaian terjadi di tempat tinggal mereka. Terlebih, anak-anak dan perempuan seolah menjadi sasaran para pelaku pembantaian.

Ya, pembantaian memang terjadi di Desa Munima dan Karida, yang masuk wilayah Tagali, Provinsi Hela, pada 7-8 Juli, beberapa hari lalu. Total korban yang dibantai tak sedikit, yakni 23 orang.

Pembantaian pertama kali terjadi di Desa Munima. Sebanyak tujuh orang warga Desa Munima yang terdiri dari empat pria dan tiga perempuan dibunuh.

Sehari berselang, pembantaian terjadi di Desa Karida. Pembantaian di desa yang dikenal dengan nama Highlands ini bisa dibilang paling mengerikan.

Para pembantai warga Desa Karida seperti benar-benar kehilangan hati nurani. Pasalnya, dari total 16 warga yang dibunuh, dua di antaranya merupakan perempuan yang sedang hamil.

Peristiwa pembantaian di dua desa tersebut diyakini sebagai bagian perang antaretnis yang telah berlangsung sejak 20 tahun. Perang tersebut melibatkan banyak klan.

Seorang pejabat lokal di Provinsi Hela, Papua Nugini, menceritakan detik-detik pembantaian etnis yang menewaskan 23 orang, termasuk wanita hamil dan anak-anak. Pejabat itu menyebut para korban diserang dengan senjata api dan pisau, bahkan beberapa korban dimutilasi.

Seperti dilansir The Guardian, Kamis (11/7/2019), pembantaian ini terjadi di sebuah desa bernama Karida yang ditinggali 800 orang pada Senin (8/7) pagi waktu setempat. Kasus ini menyoroti tindak kekerasan antar suku yang marak terjadi di Papua Nugini selama bertahun-tahun.

Philip Pimua yang merupakan pejabat pada Dinas Kesehatan Karida sedang berada di lokasi saat penyerangan terjadi. Pimua menyebut bahwa serangan terjadi sekitar pukul 06.00 pagi, dengan para korban langsung dibunuh setelah membuka pintu rumah mereka ketika didatangi para pelaku pembantaian.

“Saya bangun di pagi hari, lalu pergi menyalakan api di dapur saya, pada saat bersamaan saya mendengar suara tembakan, kemudian saya melihat beberapa rumah terbakar, jadi saya tahu musuh-musuh sudah ada di dalam desa,” tutur Pimua kepada The Guardian.

“Jadi saya langsung berlari menjauh dan bersembunyi di semak-semak, kemudian, sekitar pukul 09.00 atau 10.00 waktu setempat, saya kembali dan melihat mayat-mayat dimutilasi menjadi beberapa bagian dan rumah-rumah hangus terbakar,” imbuhnya.

Selain menggunakan senjata api, ujar Pimua, pisau-pisau juga dipakai dalam serangan itu. Lebih lanjut, Pimua menyebut para pelaku pembantaian sebagai ‘musuh’ dan mungkin terkait dengan aksi kekerasan antar suku etnis. “Mereka sudah sejak lama berkelahi di sana,” kata Pimua dalam pernyataannya.

Dari 23 korban tewas, sebanyak 16 orang tewas dalam pembantaian di desa Karida dan tujuh orang lainnya tewas dibunuh di desa Munima pada Minggu (7/7) lalu. Puima menyebut 16 korban tewas di desa Karida terdiri dari delapan anak-anak yang berusia 1-15 tahun dan delapan wanita yang dua di antaranya sedang hamil.

Pimua mengatakan bahwa dirinya mengenal seluruh korban di desa Karida. “Mereka semua orang-orang saya, saya kenal mereka,” tuturnya.

Disebutkan Pimua bahwa beberapa korban dimutilasi sangat parah sehingga dirinya dan warga desa lainnya susah mengidentifikasi mayat-mayat tersebut. “Mereka dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Beberapa potongan tubuh susah kami kenali, hanya wajahnya saja yang bisa kami kenali, tapi kaki, tangan…” ucapnya.

Ditambahkan Pimua bahwa mayat-mayat itu ditutup dengan jaring antinyamuk sebelum dirinya dan beberapa warga desa yang selamat, melarikan diri karena khawatir pelaku akan menyerang lagi. Pimua berharap untuk bisa segera kembali ke Karida guna menguburkan jasad-jasad itu, namun dia menunggu polisi bertindak dan memberikan pengawalan.

Kepolisian Papua Nugini dalam pernyataan kepada media Post Courier menyebut serangan ini terjadi setelah terjadi serangan penyergapan pada Sabtu (6/7) lalu yang menewaskan 6 orang. Pimua menyebut serangan di desanya ini sebagai yang terburuk. “Ini yang terburuk, sangat buruk, dalam sejarah negara ini juga,” sebutnya.

Gubernur Provinsi Hela, Philip Undialu sudah menyampaikan bela sungkawa atas peristiwa tersebut. Undialu menyebut bahwa tindakan kekerasan antaretnis sebetulnya jarang terjadi di kawasan tersebut.

“Kami belum pernah mendengar adanya bentrokan antarsuku terjadi di daerah ini. Ini bentrokan yang terjadi di tempat lain, sesuatu yang tidak terduga sebelumnya,” kata Undialu.

Perdana Menteri Papua Nugini, James Marape — yang berasal dari daerah itu — mengatakan pembantaian ini dipimpin oleh sekelompok pria bersenjata dari suku Haguai, Okiru dan Liwi. Marape menegaskan pihaknya akan menghukum orang-orang yang bertanggung jawab atas pembantaian ini, dengan menggunakan ‘langkah terkuat dalam hukum’.

Secara terpisah, Pimua menyampaikan keraguan bahwa pihak yang bertanggung jawab akan bisa ditangkap. “Jika Perdana Menteri menggunakan pasukan khusus dari beberapa negara lainnya dan menemukan orang-orang ini, maka dia akan bisa melakukannya, OK, tapi dengan pasukan keamanan kami, saya pikir tidak bisa,” tandasnya.

Advertisement

International

Serangan Roket Israel Tewaskan 10 Orang di Gaza

Published

on

By

Saling serang terjadi antara militer Israel dan milisi Gaza terjadi usai terbunuhnya komandan Jihad Islam. Serangan Israel dilaporkan telah menewaskan total 10 orang di Gaza, puluhan lainnya terluka.

Serangan demi serangan dilancarkan Israel ke Gaza pada Selasa (12/11). Sebelumnya, Israel membunuh dengan roket komandan Jihad Islam Baha Abu Al-Atta dan istrinya. Israel juga melancarkan serangan ke Damaskus, Suriah, mengincar tokoh Jihad Islam Akram Ajouri. Akram selamat, namun putranya tewas.

Serangan Israel dibalas dengan hujan roket oleh Jihad Islam dari Gaza. Kedua kubu bertukar serangan. Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip AFP mengatakan 10 orang tewas dalam tembakan Israel, termasuk Al-Atta.  Lebih dari 40 orang terluka di Gaza.

Israel berdalih, berbagai serangan mereka mengincar persembunyian milisi Gaza dan peluncur roket Jihad Islam.

Tidak diketahui apakah serangan dari Gaza menyebabkan korban tewas di Israel. Namun tim medis Israel menyebut ada 46 orang terluka, 21 di antaranya mengalami gejala stres akibat roket.

Roket milisi Gaza juga hampir mengenai sebuah mobil di jalan tol. Pabrik di kota Sderot juga tertembak, menyebabkan kebakaran.

Militer Israel mengatakan ada 190 roket yang ditembakkan dari Gaza ke wilayah mereka, puluhan di antaranya diintersepsi sistem anti rudal Iron Dome. Lebih dari setengah roket Gaza, kata Israel, jatuh di lapangan terbuka.

Dalam pernyataan bersama seluruh kelompok militan Gaza, Israel telah melampaui batas dengan membunuh Al-Atta. Mereka akan menuntut balas dengan melakukan serangan.

Pemimpin Hamas Ismail Haniya mengatakan serangan Israel adalah sebuah kejahatan yang bertujuan untuk menghentikan perjuangan Palestina menuju kemerdekaan.

Continue Reading

International

Donald Trump Digugat Akibat Lakukan Pelecehan Seksual

Published

on

By

Presiden AS Donald Trump (REUTERS/David Becker)

Finroll.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump digugat oleh seorang wanita bernama E. Jean Carroll pada Senin (4/11/2019). Alasannya adalah karena Trump pada bulan Juni lalu telah menyangkal tuduhan bahwa ia pernah memperkosa wanita itu sekitar 23 tahun yang lalu di sebuah department store New York.

Trump pada kesempatan itu juga menyebut wanita itu berbohong. Carroll merupakan kolumnis di majalah Elle.

Dari laporan, pengaduan yang diajukan Carroll di pengadilan negara bagian New York di Manhattan, menyatakan bahwa Trump berbohong pernah menyerangnya, dan Trump telah mencoreng integritas, kejujuran, dan martabatnya dengan menyusun berbagai kebohongan yang membuatnya dianggap mengarang insiden itu.

Sebelumnya, berita mengenai Carroll yang menuduh Trump memperkosanya di Bergdorf Goodman di Fifth Avenue, yang katanya terjadi antara musim gugur 1995 hingga musim semi 1996, telah diterbitkan di majalah New York pada Juni, seperti dikutip dari memoarnya yang dirilis bulan berikutnya.

Dalam gugatannya, Carroll mengatakan serangan itu berlangsung dua hingga tiga menit, sebelum dia berlari keluar dari ruang ganti dan menuju ke Fifth Avenue.

Carroll mengatakan dalam gugatan itu ia segera menceritakan kepada dua temannya, penulis Lisa Birnbach dan mantan pembawa berita WCBS Carol Martin, tentang dugaan serangan itu, tetapi tidak melaporkan Trump ke pihak berwenang karena ia takut akan mendapat balasan Trump.

Gugatan Carroll itu disampaikan setelah Trump mengatakan dia tidak memperkosa Carroll dan tidak pernah bertemu dengannya dan mengatakan bahwa semua kebohongan itu diciptakan Carroll untuk dapat meningkatkan penjualan bukunya.

“Saya akan mengatakannya dengan sangat hormat: Nomor satu, dia bukan tipeku. Nomor dua, itu tidak pernah terjadi. Itu tidak pernah terjadi, oke?” Kata Trump kepada koran The Hill di Washington.

Pihak Gedung Putih juga telah menyangkal tuduhan itu.

“Gugatan itu tidak masuk akal dan ceritanya adalah kebohongan belaka, seperti penulisnya,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Stephanie Grisham dalam sebuah pernyataan. “Cerita yang dia gunakan untuk mencoba dan menjual buku sampahnya tidak pernah terjadi, titik.”
Sebagai informasi, Trump telah mendapat tuntutan dari sejumlah wanita terkait hal pelecehan seksual sebelum Trump terjun ke dunia politik.

Trump juga pernah menerima gugatan pencemaran nama baik dari Summer Zervos, seorang mantan kontestan di acara televisi “The Apprentice”. Zervos mengatakan Trump menciumnya di luar kehendaknya pada 2007 di New York dan kemudian meraba-raba dia di sebuah hotel di Beverly Hills.

Zervos mengajukan gugatan terhadap presiden kontroversial itu setelah Trump menyebut tuduhan itu sebagai suatu kebohongan di Twitternya.(cnbcindonesia.com)

Continue Reading

International

Temukan Retakan, Qantas Periksa Boeing 737

Published

on

By

Qantas akan melakukan pemeriksaan segera terhadap 33 unit pesawat Boeing 737 mereka menyusul temuan retakan atau celah struktural di satu unit pesawat 737 mereka selama pemeriksaan pemeliharaan terjadwal.

Pemeriksaan retakan di pesawat Boeing 737 Qantas:

– Retakan ditemukan di salah satu Boeing 737 yang memicu peninjauan
– Qantas mengatakan retakan itu tidak menimbulkan risiko langsung terhadap keselamatan di atas kapal
– Maskapai sekarang akan memeriksa 33 pesawat dari armadanya

Inspeksi total terhadap pesawat Boeing 737 ini dilakukan Qantas setelah munculnya kekhawatiran global tentang retakan pada beberapa pesawat Boeing 737 yang telah menyelesaikan lebih dari 30.000 kali lepas landas dan pendaratan.

Qantas mengatakan tidak ada satu pun pesawatnya yang telah menyelesaikan siklus penerbangan sebanyak itu, tetapi pihaknya telah menemukan celah atau retakan di salah satu pesawatnya selama pemeriksaan pemeliharaan rutin.

Atas temuan ini Qantas akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap 33 armada Boeing 737 mereka pada akhir minggu ini.

“Kami telah menemukan satu contoh retakan di pesawat yang memiliki siklus lepas landas dan pendaratan kurang dari 27.000, dan pesawat ini telah dihentikan pengoperasiannya dari layanan untuk perbaikan,” kata maskapai itu dalam sebuah pernyataan kepada ABC.

“Tidak satu pun pesawat Boeing 737 Qantas yang memiliki siklus mencapai 30.000 lepas landas dan pendaratan. Namun, karena sangat prinsip kehati-hatian, kami akan melakukan pemeriksaan terhadap 33 unit pesawat Boeing 737 kami yang memiliki lebih dari 22.600 siklus pada akhir minggu ini ketimbang menunggu periode waktu tujuh bulan sebagaimana ketentuan.”

Maskapai Qantas juga menegaskan bahwa tidak ada risiko keamanan langsung yang terkait dengan retakan itu.

“Qantas tidak akan pernah mengoperasikan pesawat kecuali jika benar-benar aman untuk melakukannya,” kata pernyataan itu.

“Analisis terperinci oleh Boeing menunjukkan bahwa meskipun ada retakan, namun itu tidak serta merta membahayakan keselamatan pesawat, seperti tercermin dalam jangka waktu yang diberikan oleh regulator untuk melakukan pemeriksaan.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending