Connect with us

Ekonomi Global

China Tampik Tudingan AS Manipulasi Yuan

Published

on


Donald Trump

Finroll.com –  Pemerintah China menampik tudingan Amerika Serikat (AS) yang menyebut lawannya itu memanipulasi mata uang yuan. Menurut China, volatilitas yuan justru dikarenakan tensi perang dagang dengan AS yang kian hari kian buruk.

People’s Bank of China (PBoC), bank sentral China, mengatakan naik turunnya nilai tukar yuan secara drastis beberapa waktu belakangan merupakan reaksi normal menanggapi ancaman tarif impor ‘selangit’ yang digaungkan Presiden AS Donald Trump.

“Pelabelan melanggar hukum dasar ekonomi dan konsensus internasional tidak meyakinkan. Ekonomi China memang tangguh dan mampu mengatasi berbagai situasi,” tutur Direktur Jenderal Departemen Internasional PBoC Zhu Jun di Heilongjiang, China, seperti dikutip Reuters, Minggu (11/8).

Sebelumnya, AS menuding China sengaja melemahkan mata uang yuan. Tudingan tersebut dikemukakan Gedung Putih setelah Pemerintahan Xi Jinping membiarkan nilai tukar yuan rontok ke level 7,126 per dolar AS, terendah dalam satu dekade terakhir.

Keruntuhan yuan terjadi tepat setelah Trump mematok tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap US$300 miliar produk impor dari China yang akan berlaku mulai 1 September 2019 nanti.

Secara teori, ketika mata uang suatu negara melemah, maka harga produk yang dihasilkan negara tersebut menjadi relatif lebih murah di pasar internasional. Nah, dengan yuan yang lemah, China dapat mengkompensasi kenaikan harga produknya akibat pengenaan tarif tersebut.

Di pasar spot valuta asing China, selama ini yuan hanya diperbolehkan naik atau turun hingga dua persen dari tingkat paritas tengah perdagangan setiap harinya.

Sementara itu, kurs tengah yuan terhadap dolar AS didasarkan pada rata-rata tertimbang harga yang ditawarkan oleh pelaku pasar, sebelum pembukaan pasar uang antarbank pada setiap hari kerja.

Ekonomi Global

Perang Minyak : Trump Sebut Rusia & Arab Saudi Gila

Published

on

By

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut perang minyak yang terjadi sekarang memukul AS. Bahkan ia tak segan menyebut Rusia dan Arab Saudi gila karena pertarungan minyak yang dilakukan keduanya.

FINROLL.COM — Dalam wawancara dengan Fox, Trump mengatakan keberatannya atas perang harga minyak Rusia dan Arab Saudi. “Benar-benar melukai industri energi AS,” tegasnya dikutip dari AFP, Selasa (31/3/2020).

“Ini adalah pertarungan antara Arab Saudi dan Rusia … dan mereka berdua menjadi gila,” kata Trump lagi.

Meski demikian, selang beberapa waktu setelahnya Trump pun dikabarkan menelepon langsung Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam perbincangan itu, keduanya membahas beberapa hal, di antaranya soal harga minyak.

Dalam pernyataan pers, Gedung Putih menyampaikan pentingnya stabilitas harga minyak di pasar energi global. Trump juga mengatakan akan mengkaji sanksi yang sebelumnya diberikan ke Rusia, yang sebelumnya diberikan pada sejumlah perusahaan asal negeri Beruang Putih itu.

Sementara itu, perang harga minyak antara Rusia dan Arab Saudi diperkirakan masih akan berlangsung lama. Mengutip dari AFP, Arab Saudi mengumumkan bakal menggenjot ekspor minyak mereka menjadi 10,6 juta barel sehari mulai Mei mendatang.

“Pihak kerajaan berencana menaikkan ekspor minyak sebanyak 600 ribu barel sehari mulai Mei, sehingga total ekspor menjadi 10,6 juta barel sehari,” ujar seorang pejabat kementerian Arab Saudi.

Hal ini menunjukkan Arab Saudi bakal menjadi eksportir minyak teratas karena tak setop menggenjot ekspor mereka yang semula berlaku di April, lalu ditambah lagi untuk Mei.

Total tambahan sejak mereka mengumumkan rencana tersebut kini menjadi 3,6 juta barel sehari. Angka yang sangat signifikan mengingat kondisi pasar global saat ini dan turunnya harga minyak dunia.

Harga minyak tengah menghadapi ujian. Mengutip dari Reuters, harga minyak dunia kini berada di level terendahnya sejak 2002 lalu.

Merosot hampir 8%, dipicu oleh kebijakan shutdown atau lockdown beberapa negara. Di mana kebijakan ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Minyak Brent kini berada di level US$ 22,5 per barel atau merosot 65% dalam setahun ini. Turunnya harga minyak ini pun menghantam beberapa mata uang negara seperti rubel Rusia, peso Meksiko, dan rupiah Indonesia sampai 2%.

Continue Reading

Ekonomi Global

Data Ekonomi Tiongkok Membaik, Rupiah Menguat

Indeks manufaktur Tiongkok mulai meningkat dan mengindikasikan adanya ekspansi, meski ada pandemi corona. Hal ini membuat rupiah menguat terhadap dolar AS.

Published

on

By

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,09% ke level Rp 16.155 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. Salah satu faktor pendorongnya yakni data ekonomi Tiongkok yang membaik.
FINROLL.COM — Vice President Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, pasar merespons positif perbaikan ekonomi Tiongkok di tengah pandemi corona. “Terutama dari data indeks aktivitas manufaktur dan non-manufaktur Tiongkok versi pemerintah untuk Maret,” katanya kepada Katadata.co.id, Selasa (31/3).
Data tersebut melebihi ekspektasi pasar. Indeks aktivitas manufaktur Negeri Panda misalnya, mencapai 52 atau melebihi prediksi 44,9 dan meningkat dibanding Februari 35,7. Begitu juga indeks non-manufaktur melampaui perkiraan pasar 42,1 yakni mencapai 52,3.
Dikutip dari Xinhua, angka di atas 50 mengindikasikan adanya ekspansi. Angka di bawah 50 mencerminkan kontraksi. Pencapaian itu menunjukkan ekonomi Tiongkok mulai pulih, setelah berhasil mengatasi pandemi corona.
“Pulihnya ekonomi Tiongkok bisa membantu perekonomian negara partnernya yang membutuhkan material dan pasar Tiongkok,” ujar Ariston. Selain karena data ekonomi Tiongkok, indeks saham AS menguat. Kedua data itu memberikan sentimen positif terhadap rupiah hari ini.
Meski begitu, menurut Tjendra, meluasnya penyebaran virus corona masih bisa menjadi sentimen negatif. Ia pun memperkiran rupiah akan bergerak ke level support Rp 16.200 dengan resisten di Rp 16.400 per dolar AS.
Selain rupiah, dolar Singapura naik 0,06%, dolar Taiwan 0,14%, dan won Korea Selatan 0,12% berdasarkan data Bloomberg. Peso Filipina dan yuan Tiongkok masing-masing menguat 0,15%, ringgit Malaysia 0,01%, dan baht Thailand 0,05%. Ada beberapa mata uang Asia lainnya yang melemah. Di antaranya yen Jepang turun 0,71%, dolar Hong Kong 0,01%, dan rupee India 0,98%. (GPH)
Sumber Berita : Katadata.co.id
Continue Reading

Ekonomi Global

Trump Akan Gelontorkan Stimulus US$1 T Redam Efek Corona

Published

on

Presiden Amerika Serikat (ASDonald Trump tengah menyusun paket stimulus darurat pandemi virus corona. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menyebut paket ekonomi kemungkinan berbentuk gelontoran dana tunai.

FINROLL.COM — Total paket yang dipersiapkan kemungkinan menembus US$1 triliun. Paket stimulus tersebut belum termasuk penangguhan pajak sebesar US$300 miliar.

Secara rinci, paket US$500 miliar akan diberikan dalam bentuk tunai dan US$500 sisanya akan diberikan kepada UKM. Tak ketinggalan industri penerbangan juga akan menerima suntikan dana sebesar US$50 miliar.

Kalau dihitung secara jumlah, bantuan tersebut jauh melampaui paket yang dikeluarkan saat krisis keuangan global 2008 lalu. Paket tunai rencananya dikirimkan dalam bentuk cek 2 minggu ke depan.

Paket digunakan untuk membantu usaha yang bangkrut akibat penyebaran pandemi corona. Trump menyatakan paket digelontorkan karena ia tidak ingin masyarakat AS menderita karena virus corona.

“Kami tak ingin masyarakat kehilangan pekerjaan dan tak punya uang untuk hidup, dana yang digelontorkan akan sangat besar,” sebut Trump seperti dikutip dari AFP, Rabu (18/3).

Langkah menyelamatkan ekonomi Negeri Paman Sam tidak hanya dilakukan pemerintahan Trump. Kebijakan sama juga dilakukan bank sentral AS The Fed.

Untuk meredam dampak virus corona, mereka telah memangkas bungan pinjaman menjadi 0 persen. Selain itu, mereka juga meningkatkan pembelian surat utang negara dan menyuntikkan dana tunai besar-besaran kepada pasar uang.

Tak ketinggalan, The Fed meluncurkan dua fasilitas kredit untuk memastikan rumah tangga dan bisnis dapat bertahan. “Dengan memastikan kelancaran fungsi pasar, khususnya di saat genting, bank sentral memberikan kredit untuk mendukung keluarga, bisnis, dan pekerjaan lintas ekonomi,” tulis The Fed dalam surat resmi.

Ekonom Berenberg Capital Markets Mickey Levy memuji langkah The Fed tersebut. Menurutnya langkah itu penting untuk memastikan perusahaan dapat membayar tagihan dan gaji pekerja.

“Kali ini tampaknya akan berbeda, aksi agresif The Fed akan mencapai hasil cepat, bahkan di saat pandemi menekan ekonomi,” pujinya.

Sumber Berita : CNN INDONESIA

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending